TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 38. APA YANG DILIHAT IVON?


__ADS_3

Aneh, kenapa tadi tiba-tiba pak Dikan berubah ketika aku sebut nama Sapudi… seakan akan dia tidak suka ketika aku sebut nama Sapudi..


Mimpiku… berarti aku bermimpi tempat ini ketika kakek Sudikan hidup dan masih muda, yang berarti itu sudah puluhan tahun lalu.


Tapi kenapa jaman dulu dengan jaman sekarang keadaan rumah disini tidak ada kemajuan yang berarti, yang keliatan maju hanya plester di rumah ini dan rumah Sudikan saja, sedangkan listrik masih tidak ada disini…


Dan yang mengerikan di bawah tanah di sini adalah pemakaman!.... Tapi itu kan mimpiku, semoga tidak menjadi kenyataan.


“Ya wislah Bron, besok aku akan minta maaf kepada pak Sudikan… aku tadi sebut karena melihat foto itu, meskipun yang ada di foto itu terlihat tua, tetapi dari ciri wajahnya aku sangat kenal dengan yang namanya pak Sapudi”


“Terserah kamu Wil.. pokoknya kamu kan tau kita ada disini untuk beberapa hari kan.. Aku sudah bawa banyak spanduk dan bendera yang bisa kita tancapkan disini”


“Besok pagi kita harus sudah melakukan suruhan atasanku, pokoknya bendera dan spanduk sudah terpasang disini”


“Setelah itu kita berfoto foto dengan penduduk sini, dan lakukan sesuatu yang sederhana, pokoknya ada dokumentasi dan foto bahwa kita seolah olah melakukan perbaikan  disini”


“Yang penting besok semoga Gilank sudah sampai disini” sambung Tifano


Udara di luar sangat dingin, tetapi tidak dengan yang di dalam rumah, di dalam rumah memang masih dingin, tetapi tidak sedingin yang ada di luar sana.


Tikar sudah digelar di ruang yang bisa disebut ruang tamu, kami semua memutuskan untuk tidur di sini, dari pada di kamar.


Novi, Ivon, Bondet, dan Broni sudah tertidur, mungkin mereka kekenyangan karena suguhan makanan pak Dikan yang sangat berat untuk kondisi malam hari.


Tifano juga beberapa kali menguap. Tapi aku…. Aku masih terjaga, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Aku merasa bahwa ada yang tidak beres disini. Kenapa semua terlihat normal saja.


“Mas Wil belum tidur?” tanya Novi yang tiba-tiba terbangun


“Belum Nov, perasaanku gak enak, semua nampak normal-normal saja”


“Heheh harusnya gimana mas, bukankah semua seharusnya normal mas?”


“Ya memang seharusnya semua berjalan dengan normal Nov, tapi kenormalan ini jauh berbanding terbalik dengan yang ada di mimpiku”


“Namanya juga mimpi mas, semua bisa saja terjadi dan berubah dengan cepat… lebih baik mas Agus tidur saja saja sekarang mas…Novi juga mulai ngantuk nih”


Novi mulai Tidur, sedangkan aku … semakin segar, semakin waspada dan semakin tidak percaya dengan keadaan normal ini.


Malam ini sangat sunyi dan dingin, tidak ada suara jangkrik dan sejenisnya yang biasanya berbunyi pada malam hari. Keadaan ini yang membuatku semakin terjaga.


Indera pendengaranku secara otomatis  menjadi lebih peka daripada sebelumnya…..


Aku duduk dari posisi rebahan sebelumnya….


Kemudian aku pindah  posisi bersandar pada tembok kayu dan menghadap ke arah dinding dan pintu belakang yang sudah tidak bisa dibuka, karena sudah terpalang dan dipaku rapat.

__ADS_1


Kenapa tadi lupa tanya ke pak Dikan tentang pintu belakang yang dipalang silang dengan rapat…


Dalam posisi duduk, tiba-tiba aku mendengar suara aneh yang kayaknya berasal dari arah belakang…. Aku mendengar suara ..jleg…jleg…jleg secara terus menerus.


“Anc*k… suara opo iku” gumamku pelan


Ternyata gumamku ini terdengar oleh Ivon yang bangun dan kemudian duduk disebelahku, kelihatannya dia juga mendengar suara jleg jleg itu.


“Mas Wil… dengar suara itu juga ya… arahnya kayaknya berasal dari belakang sana mas” kata Ivon dengan berbisik


“Iya Von, aku dengar suara itu, eh kamu apa juga dengar Von?”


“Iya mas…. Suara itu kayaknya gak jauh dari sini, perkiraan Ivon suara itu mungkin sekitar dua puluh meter dari sini mas”


“Eh berarti kamar mandi Von?”


“Iya mas, kayaknya berasal dari kamar mandi mas”


“Suara orang yang sedang mencangkul Von, dan letaknya pasti di belakang rumah kan”


Aduh… kenapa  suara mencangkul pada malam hari ini sama dengan yang ada di mimpiku… apakah kebiasaan penduduk disini adalah mencangkul ada malam hari?


“Mas Wil… suara itu kayaknya semakin dekat mas.. Karena suara yang mirip dengan suara orang yang sedang mencangkul itu sekarang tidak jauh dari sini”


“Eh mas.. Gimana kalau kita lihat siapa dan apa yang sedang ada di belakang rumah ini mas”


“Iya mas.. Ayo  mas, Ivon bawa senter kok mas….”


Aku berdiri dari posisi duduku, begitu juga Ivon yang kemudian mencari senter yang dia simpan di dalam tasnya, ketika kami akan menuju ke pintu depan, tiba-tiba Bondet bangun.


“Mau ke mana kalian?”


“Nang kamar mandi Ndet..ikut yuk Ndet”


“Gak Wil… adem.. Aku nang kene ae heheheh (dingin…aku disini saja)” jawab Bondet


“C*k..ngomongo ae wedi c*k!”


“Wedi matamu Wil…..!”


Ivon sudah siap dengan senternya, ketika kami berjalan menuju pintu depan, tiba-tiba……


….THOK!.....


Sesuatu seperti dilempar ke pintu belakang rumah yang terpalang dari luar…

__ADS_1


Aku dan Novi berpandangan, Bondet duduk dari posisi tidurnya.


Tidak ada suara dari kami bertiga disini.. Kami hanya memandang pintu belakang yang tadi seperti ada yang melempar dari luar.


“Wil…. “ kata Bondet


“Ssst..ojok bersuara Ndet!”


“C*k raimu ae bersuara ngono Wil.. asyu opo koen iku c*k!” jawab Bondet


“Ssssstt!” kata Ivon sambil menempelkan telunjuk di mulutnya.


Tidak ada yang terjadi setelah ada suara yang seperti dilempar batu dari arah luar itu. Kami bertiga menunggu suara berikutnya, tapi tidak terdengar apapun  juga…


Kami tetap menunggu suara yang akan muncul sebentar lagi…


……JBUURR….


Suara yang mirip dengan sesuatu yang baru saja dijatuhkan ke dalam air… tapi kan disini tidak ada semacam kumbangan air…


“Suara dari sumur mas” bisik Ivon sambil terus waspada berusaha mendengarkan sesuatu


Aku hanya mengangguk atas omongan Ivon…. Iya benar aku baru ingat bahwa  di belakang itu ada sumur… pasti ada seseorang yang sedang melakukan kegiatan disini.


Kulihat jam tanganku, ternyata saat ini sudah pukul 23.30 mendekati tengah malam, jatungku serasa deg deg an , tapi Ivon keliatannya santai sekali, dia kemudian melanjutkan untuk membuka pintu depan…


“Von..ngapain! Jangan kamu buka pintu itu” bisikku


“Ssst, Ivon cuma penasaran sama orang yang ada di luar sana mas” jawab Ivon kemudian  membuka  pintu depan rumah dengan santainya


Aku dan Bondet hanya bisa diam karena sudah terlanjur Ivon sudan membuka slot pintu dan sekarang sedang membuka pintu..


Ketika pintu terbuka sedikit, Ivon mengintip keluar…..kabut tebal yang menyerupai asap masuk ke dalam rumah,


Bukan kabut tipis yang sedari pagi hingga siang ada disini, tetapi kabut tebal yang mirip dengan pembakaran gabah yang biasanya dilakukan petani di sawah setelah selesai panen.


“Tutup Von” pekik Bondet reflek


“Sstttt diam Ndet”


Ivon menutup pintu rumah, kemudian memasang slot pintu seperti semula. Kemudian dia berjalan menuju ke arah aku dan Bondet.


Wajah dia pucat seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan di luar sana…


“Kenapa Von?”

__ADS_1


“T..tadi I..ivon liat s….sesuatu yang mengerikan mas…. Ada bayangan….bayangan banyak orang yang ter..tergeletak di luar”


__ADS_2