
Satu hari di rumah sakit menjaga Ivon secara bergantian, untung di depan rumah sakit ada losmen, losmen yang memang di peruntukan bagi penjaga pasien yang dari luar kota.
Satu hari ini tidak ada apapun yang mengganggu kami, baik aku, Novi, dan pak Kus merasa aman-aman saja. Kondisi ivon pun berangsur angsur menjadi pulih.
Hahahaha… aku sudah tidak mau menggunakan kamar mandi yang sepi itu, ternyata di dekat kantor rumah sakit ada toilet yang lebih bagus, dan tidak mengerikan seperti toilet yang sebelumnya.
Hari keduapun masih aman-aman saja, tidak ada sesuatu yang mengerikan. Dan hari kedua ini kondisi ivon sudah jauh lebih baik lagi, dia sekarang sudah bisa jalan-jalan keluar dengan santai.
“Mas Wil kayaknya besok Ivon bisa keluar dari rumah sakit ini” kata Novi
“Ya tunggu dokternya dulu Nov, kita kan tidak tau apa kata dokter tentang Ivon, bisa saja memang fisik luarnya sudah sehat, tetapi dalamnya kan kita tidak tau”
“Saya udah sehat kok mas WIldan, sekarang udah siap untuk pergi ke lembah mayit lagi” sahut Ivon yang sedang tiduran
Ivon yang waktu kita temukan dalam keadaan mirip orang gila dan gelandangan, semua kotor dan mengerikan, sekarang dia sudah mulai sehat dan cantik lagi, meskipun tubuhnya masih berupa tulang berbalut kulit saja.
Kulitnya sudah bersih dari semua kotoran, dia sudah tidak pucat lagi. Wajahnya sudah sehat, rambut Ivon yang dulunya dipotong cepak, sekarang sudah sepanjang bahu.
Ivon adalah perempuan yang cantik kalau menurutku.
“Tunggu dokter dulu ya Von, pagi ini dokter kan akan visite ke sini”
“Iya mas Wil, saya cuma udah gak sabar untuk pergi ke sana lagi.. Eh tapi sebelum kita pergi bisa antar aku ke salon Nov?”
“Eh mau ngapain kamu gilak?” tanya Novi
“Mendekin rambut kayak dulu lagi Nov”
“Eeeh jangan .. duh gak usah dipendekin ya Von, lihat si Novi aja udah lepas wignya, masak kamu mau potongan cepak lagi hehehe”
“Mas Wildan memang suka saya kayak gini?”
“Eh jangan pakek kata saya dong Von, kayak kita ini baru kenal aja, ganti jadi aku aja ya biar lebih akrab”
“Iya deh mas Wil, kalau mas Wildan suka aku kayak gini ya nggak papa, aku suka kalau ada yang suka sama apa yang ada di diriku mas”
“Cieeee, cieeee… mas Wildan sama Ivon reeek. Bisa jadian ini huufff”
__ADS_1
“Hehehe ojok gitu ta Nov, aku kan cuma kasih semangat Ivon aja, eh ngomong-ngomong pak Kus kok lama ya beli sarapannya?”
“Heheheh lama gimana mas Wil, baru juga lima menit pak Kus pergi dari sini hehehe, mengalihkan pembicaraan ya hehehe” kata Novi
Yah aku dari awal ketemu Ivon memang sedikit ada hati juga ke dia, tapi waktu itu Ivon itu kayak misterius gitu, lagian waktu itu dia dekat sama Bondet.
Nggak lama kemudian pak Kus datang dengan tiga bungkus nasi, yang ukuranya bisa untuk makan dua orang tiap bungkusnya.
“Wuih pak Kus, hehehe apa ini nggak kurang banyak nasi putihnya hahahah” tanya Novi
“Saya nggak tau juga mba, tadi asal beli aja, ini murah lho mbak harganya”
“Eh saya kok nggak dibeliin sih pak Kus?” kata Ivon
“Lha mbak Ivon kan belum boleh makan makanan luar rumah sakit mbak hehehe”
Sore hari dokter yang menangani Ivon datang memeriksa dan menanyakan apa saja yang sekarang menjadi keluhan Ivon, setelah beberapa pertanyaan yang mudah, akhirnya besok pagi Ivon sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Tentu saja kami sangat gembira dengan kabar ini, yang artinya kami sudah bisa pergi menuju ke lembah mayit untuk menuntaskan kutukan yang kami alami.
*****
“Nanti kita mampir ke toko pakaian dulu ya mas Wil, Novi pengen belikan Ivon pakaian dulu”
Ya selama ini Ivon menggunakan pakaian milik Novi, untungnya ukuran pakaian dua orang itu sama. Jadi sekarang kami akan menuju toko yang berjualan pakaian dulu sebelum berangkat ke lembah mayit yang membutuhkan waktu beberapa belas jam perjalanan.
“Mbak Ivon, kita akan menempuh perjalanan yang tidak sebentar lho ya, kalau seandainya mbak Ivon merasa kurang sehat, bilang saya saja mbak. Nanti kita istirahat sebentar” kata pak Kusno
Start dari toko pakaian yang ada di kota kecil ini sekitar pukul dua belas siang, kemudian langsung joss menuju ke arah provinsi sebelah.
Selama perjalanan kami sempat beberapa kali berhenti, dikarenakan Ivon yang masih kurang sehat, kadang dia merasa mual, kadang pusing. Cukup istirahat beberapa belas menit dan minum obat, kemudian kami joss lagi.
Aku duduk di sebelah pak Kusno, kadang kalau pak Kusno capek, ya aku yang nggantiin nyetir beberapa jam saja.
Sekarang sudah tujuh jam perjalanan, dan baru saja melewati provinsi jawa tengah.
“Pak Kus masih ingat jalan ke sana nggak pak?”
__ADS_1
“Masih ingat mas, saya tidak akan pernah lupa jalan menuju ke sana mas, saya masih punya tanggungan disana”
“Iya sih pak, kita tidak akan pernah lupa dengan tempat itu…”
“Kira-kira masih berapa jam lagi pak?”
“Sekitar lima sampai enam jam lagi mas. Perkiraan saya sampai sana sekitar tengah malam mas. Nanti kita jangan masuk ke lembah mayit dulu, kita tunggu pagi harinya saja dulu mas”
“Kita nanti tidur di mana pak?”
“Di SPBU yang dekat dengan sana saja mas, disana biasanya banyak truk berhenti juga.”
Jam delapan malam kami makan malam di sebuah kota kecil. Kesempatan ini kami gunakan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan lagi.
Makan malam hanya tiga puluh menit saja, kemudian kami lanjutkan perjalanan.
Perjalanan malam hari ini lebih melelahkan, karena harus berhadapan dengan lampu jauh dari mobil yang ada di depan.
Sekitar enam jam kemudian kami sudah masuk ke daerah pegunungan yang sepi, jalan ini menuju ke kota kecil tempat awal mula dari masalah yang ada.
“Itu disana ada pom bensin mas, kita istirahat hingga pagi hari disana saja” kata pak Kusno
“Gimana mbak Novi dan mbak Ivon, kita istirahat di pom bensin saja ya?”
“Nggak papa pak Kusno.. Disana saja kita tidur sementar menunggu pagi” jawab Novi
Benar apa yang dikatakan pak Kus, SPBU yang lahannya cukup besar ini penuh dengan truk yang sedang istirahat juga. Truk besar dan kecil berjajar parkir di area SPBU.
Pak Kus mengarahkan mobil di lahan parkir yang kosong, di sebelah toilet SPBU.
“Disini saja ya mas dan mbak… saya ingin cari kopi dulu di warung sana itu” tunjuk pak Kus pada sebuah warung yang posisinya di luar area SPBU.
“Saya ikut pak Kus, saya soalnya lapar juga pak hehehe”
Kami jalan menuju ke arah luar area SPBU, melewati beberapa truk yang sedang diparkir.
“Sebentar pak Kus, kayaknya saya pernah tau dengan truk yang ini pak” aku tunjuk ke sebuah truk yang sedang mengangkut entah sayuran atau buah buahan
__ADS_1
“Kenapa mas WIldan”
“Truk yang ini pak. Kayaknya saya pernah tau pak”