TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 07. DESA?


__ADS_3

Kabut tipis masih saja menggantung, kami jalan diantara pohon hutan yang dihiasi kabut tipis.


“Kalian jangan berisik..” tegur Ivon dari depan


“Kita ini ada di daerah yang asing, kita ini tamu, bisa tidak kalian jaga sopan santun?” kata Ivon lagi


“Tenang Von… kita kan bawa gendruwo juga… itu si Gilank kan sudah gak ada bedanya sama genderuwo, pasti akan aman kok Von” timpal Broni”


“Mas Bron… sampeyan itu tak hormati, jangan sampai Ivon bikin kamu menyesal sudah ngomong yang nggak-nggak untuk mas Gilank” jawab Ivon yang mulai emosi dan mendatangi Broni


“Hoo..hoooo.hoo… sabar Von… kita ini harus kompak.. Biarin Broni ngomong apa saja, yang penting Ivon kan  bukan yang diolok olok Broni” jawab Bondet sambil memegang tangan Ivon


“Eh iya mas Bon… iya mas…maaf” jawab Ivon lemah lembut


Sangar Bondet, deke bisa taklukan Ivon yang emosian, tapi ya hehehe Bondet apa gak sadar kalau Ivon itu juga sejenis sama kayak kita hihihi…tapi eh nggak tau juga sih, mungkin Ivon itu perempuan, beda dengan Novi


Novi dari tadi yang tau bahwa Bondet ada perhatian juga sama Ivon hanya senyum senyum saja. Apa Novi tau sesuatu tentang si Ivon yang begitu perkasa.


Tapi sampai detik ini aku belum yakin si Ivon itu bergender apa, karena beda dengan Novi yang ber brewok dan kumis tipis, sedangkan Ivon kulitnya bersih tanpa ada brewok sama sekali.


Hanya saja alis mereka berdua lancip dengan bibir yang lebih besar dan gemuk hihihi, mungkin dengan bibir gemuk dan lebar gitu untuk urusan **** mengemut akan terasa lebih nikmat saja.


Ivon sekarang di depan bersama Bondet… semoga Bondet gak dibor sama Ivon… kapan-kapan aku akan tanya ke Novi sebetulnya Ivon itu berjenis kelamin apa hihihi.


Dingin luar biasa, padahal aku sudah berjaket… tapi yang namanya di pegunungan dengan ketinggian 1700 an MDPL ya wajar saja kalau dinginnya seperti ini.


“Hey lihat disana ada api… ada beberapa api” teriak Ivon setengah berbisik


“Itu obor Von…” sambung Bondet


“Kita minta bantuan mereka saja… biar aku yang kesana rek, kalian ikuti aku saja” kata Broni yang kemudian maju dan memimpin rombongan


Aku biarkan saja Broni berjalan mendahului kami, aku gak urus apa yang akan dilakukan Broni, dia itu yang membawa kami kesini, dan dia yang harus selesaikan semuanya.


“Mas Wil… coba lihat itu Ivon dan mas Bondet hihihi… mereka jalan berdampingan mas” bisik Novi


“Wis biarin Nov, yang penting hatinya seneng ae wis Jos Nov hehehe”


“Iya mas Wil… terus kalau Ivon sama mas Bondet, eh Novi sama siapa mas?”


“C*k Nov… kamu sama Gilank aja… jijik c*k liat brewokmu!”

__ADS_1


“Eh kalau Novi gak ada brewoknya mas Wildan mau sama Novi gak?”


“Gaaaaakkk… wis sana sama Gilank atau Tifano sana hihihi”


Kami bergerak cepat mengikuti Broni yang mengejar beberapa nyala obor itu… tapi anehnya semakin dikejar obor itu semakin jauh.


Kayaknya nyala obor itu menghindari kami, mungkin mereka takut dengan kedatangan kami ini.


Cukup jauh juga kami berjalan cepat mengikuti beberapa obor yang menyala itu… hingga tidak terasa kami masuk di daerah yang bukan jalan setapak lagi.


Kami lebih jauh dari posisi mobil berada, kami masuk ke hutan yang lebih lebat dari pada tadi.


“Stop… stop Bron!” teriak Tifano yang ada di belakangku bersama Gilank


“Yang kamu kejar itu bukan manusia c*k” tambah Gilank


‘Ndasmu Lank, wong aku dengar langkah kaki mereka kok… kalau demit mana ada suara langkah kakinya Syu asyu!” sahut Tifano


“Maksudku stop dan berhenti itu percuma kita kejar mereka, mereka itu takut sama kita, dipikir kita ini mau merampok mereka” tambah Tifano


Akhirnya kami berhenti mengejar beberapa nyala api yang mirip obor itu,  tapi nyala beberapa api itu terus berjalan menuju ke sebuah tempat, kemudian mereka berbelok ke kiri.


Pandanganku mengikuti saja kemana nyala api obor itu menuju…tetapi tiba-tiba di kejauhan, di arah bawah aku melihat bayangan sebuah atap rumah di sebelah kiri kami.


Di Dalam gelapnya hutan, masih ada cahaya bulan  yang sampai di atap rumah yang ada di sebelah kiri itu. Tapi gak jelas juga sih, apakah itu benar-benar pemukiman atau apa, yang jelas nyala obor itu mengarah ke sana.


“Itu kesana rek… kita kesana saja, disana kayaknya ada perkampungan” kata Bondet yang sekarang sudah berani berpegangan tangan dengan Ivon


“Iya rek, disana ada perkampungan ketoke” tambah Gilank


“Mas Wil… eh apa itu arah yang tepat?” tanya Novi


“Yah apa yang kita lihat itu yang akan kita tuju Nov, dari pada kita di tengah hutan dan tidak tau harus berjalan kemana kan?”


“Iya sih mas, paling aman memang kita harus cari pemukiman dulu.. Tapi jangan-jangan yang disana itu yang akan dituju mas Broni?”


“Iyas bisa jadi Nov… yuk kita ke sana saja, siapa tau itu yang memang dituju Broni”


Aku sebenarnya ragu juga mau ke sana, karena yang aku lihat sebagai perkampungan itu tidak begitu jauh sebenarnya, hanya saja tempatnya sepertinya turun di jurang atau di lembah.


Aku juga bisa lihat disana ada asap tipis yang membumbung…. Mungkin asap tipis itu dari beberapa rumah yang ada disana. Tapi bisa jadi itu hanya kabut.. Bukan asap rumah.

__ADS_1


“Bron… sekarang kamu yang memimpin, cari jalan menuju ke sana, jalan yang tidak mengerikan, karena yang ada didepan kita ini semak belukar”


“Hehehe kita sama sama ae ke sananya rek” jawab Broni


“Gak… itu urusanmu mencari tempat untuk kami Bron!” bentak Gilank


Aku sebenarnya jengkel juga dengan Broni, karena dia seolah lempar tangan, agar ada yang maju dan mencari arah menuju ke perkampungan itu.


“Iyo iyo rek.. Jangan ngegas opoko rek…  Ayo kita ke sana, eh Von.. aku pinjam senternya dulu” kata Broni


“Heheheh Wildan rek..awakmu nekat nyuruh Broni  yang cari jalan ke sana… ojok-ojok jalan yang dicari Broni menuju ke neroko c*k!” sahut Gilank


“Udah Lank, gak usah bacot, ayo di depan sini sama aku cari jalan bareng-bareng” jawab Broni


Akhirnya Broni dan Gilank yang sekarang memimpin… terus terang aku malas untuk komen, karena apa yang aku tau  disini adalah hutan yang mengerikan, dan jangan kita sembarangan apabila ada di dalam hutan seperti ini.


Aku baru ingat… anak-anak kan bawa tenda tadi… tapi kok yang mereka bawa saat ini hanya ransel mereka saja…


“Eh rek… tenda kita ada dimana?”


“Lho bukane tenda itu tugase Gilank yang bawa Wil?” jawab TIfano


“Hehehe.. Aku lali (lupa) rek, tapi mosok rek di desa gak ada rumah yang bisa kita tinggali, pasti penduduk disana pasti nyediakan rumah untuk kita tinggali kan” jawab Gilank dengan santainya


“C*k sembrono kamu Lank…kita kesini ini tanpa ada persiapan blas\, Broni belum hubungan dengan kepala desa atau orang tetua disana C*k!” kata Tifano lagi


“Wis Tif, nanti kita coba bicara dengan tetua disana, sekarang gak usah rame sik!” bentak Broni


Masalah tenda memang tugas Gilank, dan tentu saja dia lupa untuk menurunkan tenda, karena yang dia ingat hanya tas ranselnya saja.


Dan saat ini kami harus berpikir akan tinggal dimana apabila di desa itu memang tidak ada tempat yang bisa kami tinggali.


Kami jalan terus menurun terus hingga di depan kami ada sebuah sungai  yang berbatu batu.. Aku gak tau seberapa lebar sungai itu, karena keadaan disini gelap, lagi pula nggak terdengar suara gemericik airnya juga.


‘’Rek.. Disini gak ada jembatannya dan sungai itu airnya kelihatan dangkal, karena banyak batu yang muncul” teriak Broni


“Ya wis… kamu cek sana dulu Bron, kami tunggu disini dulu saja”


“Mas Bondet, jangan turun ke sungai itu dulu” kata Ivon yang tetap ada di sebelah Bondet


“Kenapa memangnya Von?”

__ADS_1


“Pokoknya tunggu mereka dulu saja mas… Perasaan Ivon gak enak tentang sungai itu mas… memang sih banyak batunya, tapi air yang ada di sungai itu tenang dan tidak bergejolak”


“Bilang ke si Broni dan mas GIlank, jangan masuk ke sungai itu mas” kata Ivon lagi”


__ADS_2