
“STOOOP BRON… JANGAN MASUK KE SUNGAI!” teriak Bondet
Broni dan Gilank langsung mundur.. Padahal mereka tadi sudah hampir masuk ke air…
Malam hari gelap gelapan kok ya tetap gak punya otak untuk masuk ke dalam sungai yang tidak tau bagaimana keadaan sungai itu.
Untung tadi ada Ivon yang menyuruh mereka berdua menjauhi sungai
“Rek.. kalok goblok mbok ya dibagi bagi… liaten sungai itu c*k” kata Tifano
“Untung mbak Ivon suruh Bondet teriak agar kalian tidak masuk ke sungai itu… coba arahkan senter yang kamu pegang, cari bambu untuk ukur kedalaman pinggiran sungai yang akan kalian masuki itu” kata Tifano lagi
“Hehehe untung ada Ivon..coba kalau kalian langsung cebur di udara yang sangat dingin dan sungai yang dalam…. “ kata Novi
Broni menemukan sebuah bilah bambu kecil yang mungkin berukuran panjang sekitar tiga meteran, kemudian dia dan Gilank mencelupkan bambu itu ke sungai … ternyata dari ujung ke ujung bambu itu tenggelam.
“Janc*k Lank… bisa lebih dari tiga meter iki asyuuuu!” kata Broni
“Hehehe untung onok (ada) Ivon.. kita gak sido dadi setan ( kita gak jadi seta) hihihi” balas Gilank
“Gundulmu Lank hihihi…. Ayo mundur alon alon (pelan pelan) Lank” kata Broni
“Kalian berdua itu harus hati-hati … belum tentu sungai yang banyak batunya itu dangkal..” teriak Ivon dengan nada sinis seperti biasanya
“Nov.. coba lihat disana.. Eh bukanya itu jembatan ya.. Tapi aku gak jelas juga sih”
“Hmmm kayaknya memang jembatan mas Wildan…. Mas Bron, coba arahkan senternya ke sana… itu mungkin disana ada jembatan” kata Novi
Ternyata memang benar, yang tadi aku lihat itu adalah sebuah jembatan yang terbuat dari bambu, dan tentu saja nyala obor yang tadi itu lewat jembatan itu. Mereka menyeberang sungai melewati jembatan.
Kami berjalan menuju ke arah jembatan bambu yang memisahkan bagian hutan dengan kemungkinan bagian kampung.
Di ujung jembatan kayu ini ada barongan bambu yang tinggi dan dengan ukuran bambu yang lebar. Barongan ini mungkin artinya sekumpulan bambu yang banyak akar dan durinya. Biasanya ada di pinggir sungai
Yang aku tau biasanya di barongan bambu seperti ini ada saja mahluk halusnya, tapi nggak tau lagi barongan yang ini.
__ADS_1
“Harusnya tadi kita lebih teliti mas Bondet, padahal disana ada jembatan yang bisa kita lewati, kok malah mas Gilank dan mas Broni mau lewat sungai” kata Ivon yang makin dekat dengan Bondet
“Iya sih Ivon, yah namanya juga kita ini telat mikir, maklum otak kami agak kurang karena akibat dari jaman dulu kami sering minum oba-obatan yang bikin enak hehehe”
“Kami ini dulunya anak punk yang sudah insyaf, karena tidak ada gunanya juga menjadi anak Punk yang protes tentang keadilan di negara yang penuh dengan lawakan ini hihihi” kata Bondet
Aku dan Novi yang ada di belakang Bondet dan Ivon cuma bisa mesam mesem aja, aku biarkan si Bondet bercengkrama dengan Ivon yang sampai sekarang aku belum tau apa gendernya hihihi.
Novi pun kayaknya membiarkan situasi yang begini, apa mungkin Ivon ini perempuan yang sedang mencari pasangan ya, sehingga si Novi membiarkan Ivon bercengkrama dengan Bondet.
Kami menyeberangi sungai dengan was was, karena di ujung jembatan ada barongan bambu yang cukup banyak dan besar ukurannya.
Setelah menyeberang jembatan bambu akhirnya di depan kami ada sebuah pemukiman penduduk yang malam ini tidak terlihat dengan jelas rumah rumahnya.
Jalan desa yang mungkin lebarnya hanya sekitar lima meter dan terbuat dari tanah dan batu… rumah penduduk yang terbuat dari kayu dengan penerangan obor yang diletakan di pagar rumah tertutup rapat.
Yang unik disini, rumah penduduk disini jaraknya jauh jauh… dan dipisahkan oleh pekarangan yang luas, dimana pekarangan luas itu selalu ada pohon besarnya.
“Bron… inikah desa yang dikatakan orang yang kamu pernah temui itu?”
“Kayake iya Wil… tapi ini jelas terlalu terbelakang Wil, disini gak ada listrik pula… terus gimana aku bisa cas Hpku rek” jawab Broni
“Gini ae lho Lho Wil, biar gak mengganggu penduduk disini, aku sama Broni aja yang cari penduduk disini yang masih bangun, kalian tunggu ae disini, di pinggir desa iki ya rek” kata Gilank
“Hah gak Lank.. ambumu ( baumu) malah bikin penduduk disini ketakutan c*k” kata Broni
“Wis gini ae lho, biar aku dan Broni ae yang cari pertolongan, kalian disini aja gimana?”
“Hehehe Wil… seumpama kamu dan Broni pergi, kemudian tiba-tiba gak balik lagi… terus gimana kita hehehe” kata Tifano
“Jangan sampai mimpiku jadi kenyataan Wil” lanjut Tifano
“Gini saja.. Kita semua yang jalan, jangan meninggalkan kawan hanya untuk urusan sepele di daerah yang kita tidak kenal sama sekali” kata Ivon dengan nada suara yang tegas
“Ok Von.. kita jalan bareng!” jawab Broni
__ADS_1
Gelap, sangat sederhana, belum tersentuh pembaharuan modernisasi, dan tanpa listrik … itu yang aku lihat dari rumah yang ada di desa ini.
Rumah yang mempunyai pekarangan lebar dan jarak rumah yang tidak dekat… semakin menampakan suasana desa yang sebenarnya, apalagi ditambah dengan kabut tipis yang masih menggantung di sekitar kami.
Kabut ini tidak pernah hilang selama perjalanan kami dari tempat mobil berada hingga ada disini.. Sungguh aneh!!
Model rumah jawa dengan atap molo yang unik dan sederhana, dinding yang hanya terbuat dari kayu, tidak ada jendela kaca, hanya jendela dari kayu yang tertutup rapat, pintu yang tertutup rapat juga, dan ada obor menyala di tiap pagar yang terbuat dari bambu.
Tentu saja ini bukan perkara yang mudah bagi seorang Broni untuk melakukan kampanye di desa ini. Karena desa ini terdapat di pelosok yang kemungkinan kecil mereka ikut pemilu hehehe.
Tapi aku juga gak mudeng (nggak paham) tentang apa yang dilakukan Broni, sebenarnya Broni itu sebagai apa. Apakah dia hanya sebagai tim sukses, kalau Broni itu adalah tim sukses, dia sebagai tim sukses apa dan mewakili apa dari partai nya.
Kalau hanya tim sukses anggota DPR kan harusnya di daerah dia saja, di Jawa Timur saja. Kenapa dia sampai ke Jawa Tengah hingga pelosok desa seperti ini?
Kami jalan terus perlahan lahan dengan harapan kami akan bertemu dengan orang yang sedang patroli atau sedang nongkrong di sekitar sini.
“Didepan sana itu ada pertigaan rek… kita ke arah mana ini?” kata Broni yang ada di depan bersama Gilank
“Jangan kemana-mana dulu.. Lihat di depan sana itu… seperti ada orang yang sedang berdiri dan merokok” tunjuk Tifano
“Bron, datangi orang itu dulu saja, kita minta diantar ke rumah tetua disini atau pengurus desa ini dulu saja” lanjut Tifano
“Ya sudah kita kesana saja dulu” kata Broni
Aku biarkan Broni untuk mengurus apa yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu mencarikan kami tempat tinggal selama ada di desa, karena acara seperti ini kan sudah didanai partai dimana dia menjilat.
Novi yang dari tadi diam juga hanya memperhatikan Broni dan Gilank yang kayaknya sibuk sendiri. Sedangkan Ivon tetap bersama Bondet.
“Bron… kita ke sana bersama sama saja, takutnya yang kamu datangi itu bukan manusia yang bener, maksudku takutnya itu garong ata preman disini”
Aku hanya bisa mengarahkan Broni agar menjadi bener saja, karena takutnya yang didatangi itu adalah preman disini, jadi yah gimana-gimana Broni itu teman aku juga kan, jadi harus saling melindungi.
“Mas Wil.. dengaren mas Wil kok ngasih tau mas Broni?” tanya Novi
“Gak papa Nov, jelek-jelek gitu kita pernah bersama sama dalam masalah yang besar juga kan hehehehe”
__ADS_1
“Iya sih mas Wil… di masalah itu kan Novi kenal sama kalian juga hehehe” jawab Novi
Kami bertujuh berjalan lurus untuk menemui sesuatu yang mirip orang yang sedang berdiri dan merokok, tapi aku kok gak yakin yang ada di depan kami itu benar-benar manusia hehehe.