TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 46. SINDIRAN PAK DIKAN“


__ADS_3

“Terserah kamu bohong atau tidak Wil.. tapi apa  yang kamu lakukan itu bahaya bagi kita c*K.. Kamu gak sadar ta kita ini ada dimana, harusnya kamu jaga kelakuan disini” kata Broni dengan emosi


“Sekarang kamu tanya ke Ivon… apakah dia semalam keluar dari kamarnya.. Ayo tanya sana!”  bentak Broni


“Misalnya dia ngajak kamu begituan… kenapa kamu ladeni.. Kamu kan tau kita ada di daerah yang kita tidak kenal keadaanya sama sekali c*k”


Pagi hari sekitar pukul tujuh setelah pencarian teman-temanku, dan akhirnya mereka menmukan aku dalam posisi setengah telanjhang dengan kuntilaku yang basah oleh air ke mhani.


Di dalam rumah teman-temanku memarahiku atas apa yang menimpa diriku.


“Kamu membahayakan kita semua Wil… kamu sudah bersethubuh dengan mahluk ghaib disini. Dan resikonya besar c*k” sahut Bondet


“Pagi ini kita akan sarapan di rumah pak Dikan…. Jangan ada yang membahas masalah ini di hadapan pak DIkan” kata Broni


“Kalau dia tanya-tanya atau mungkin juga tau apa yang terjadi pada Wildan, bilang aja gak ada apa-apa….. Pada intinya ini masalah Wildan dan harus dia sendiri yang menyelesaikanya” kata Broni lagi


Jangkrik… apa  yang aku lakukan semalam…


Kenapa akal sehatku tidak jalan sama sekali, kenapa akal sehatku tertutup oleh nafsu yang mengerikan…


Dan setan apa yang menyamar sebagai Ivon itu!


Sekarang Ivon melihatku dengan tatapan mata jijik, dari tadi dia menjauhi aku..


Dan tentang Gilank yang kemarin coly di kamar mandi itu, kenapa justru dia aman-aman saja, tapi memang dia sempat bilang bahwa kamar mandi itu keadaanya bagus.


Untuk  hari ini aku dan Gilank yang mendapat ganggguan.


“Ayo, kita sarapan di rumah pak Dikan” ajak Broni


“Dan ingat agar tidak ada yang membahas masalah ini ketika kita ada di rumah pak Dikan” kata Broni


“Hehehe tenang Bron… gak bakal ada apa-apa, buktinya aku yang semalam colay disana ae gak ada apa-apa c*k hihihi” kata Gilank dengan santainya


“Ndasmu Lank.. bukan tidak ada apa-apa, tapi belum terjadi apa-apa c*k!” jawab Broni


Kami keluar dari rumah… keadaan disini tetap seperti biasanya, selalu ada kabut, selalu ada kabut yang menyelimuti desa ini.


Entah kenapa pagi ini aku merasa aneh disini, yah sebelumnya juga sudah aneh…. Tapi untuk pagi ini aku merasa ada yang lebih aneh daripada biasanya.


Rumah pek Dikan seperti biasanya… pintu rumah yang sudah terbuka, tetapi tidak seperti biasanya pagi ini tidak ada sambutan di depan pintu…


“Bron, ketuk dulu pintunya” kata Tifano

__ADS_1


“Tapi pintunya kan sudah terbuka Tif, mosok ya harus di ketuk lagi pintunya Tif?”


“Iy Bron, demi menjaga kesopanan c*k, mosok kamu mau nyelonong masuk ke dalam sana?”


Posisi kamu ada di pekarangan rumah pak Dikan, dan beberapa meter dari pintu rumah pak Dikan yang terbuka.


Broni maju mendekati  pintu yang sudah terbuka. Dia kemudian melongok ke dalam rumah, dia melihat apakah di dalam rumah itu ada orangnya sebelum Broni mengetuk pintu rumah ini.


Kemudian Broni menoleh ke arah kami, kayaknya dia ingin memberitahu bahwa rumah ini kosong


Kemudian Broni mulai mengetuk  pintu rumah beberapa kali sambil mengucapkan salam, hanya saja tidak ada yang menjawab salam Broni, keadaan ini tidak seperti biasanya.


“Kosong rek… bahkan sarapane juga gak ada” kata Broni


“Coba kamu masuk ke belakang Bron, mungkin mereka ada di belakang” ujar Bondet


“HEH JANGAN MASUK KE RUMAH ITU C*K.. LEWAT BELAKANG SANA AJA” bentak Tifano


Aku merasa semua sudah seperti yang ada di dalam mimpiku


Mungkin apa yang dikatakan Gilank tentang tempat ini adalah benar…


Tetapi ketika Broni hendak menuju ke belakang…..


“Oh pak.. Maaf. Pintu rumah bapak terbuka, dan gak ada orangnya, tadi saya mau ke belakang, melihat kalau-kalau bapak dan istri bapak ada di belakang sana” ujar Broni


“Hehehe… kami kehabisan persediaan daging untuk sarapan kalian”


“Makanya kami ke rumah tetangga untuk minta daging mentah, untungnya persediaan daging mereka masih banyak”  kata pak Pangat sambil menunjuk ke sesuatu yang cukup besar dan berat yang dibawa istri pak Dika.. sesuatu yang dibungkus dengan menggunakan daun pisang


“Ayo masuk… kita ngobrol di dalam sementara istri saya sedang menyiapkan sarapan  seperti biasanya hehehe”


Ntah kenapa kali ini nada ketawa pak Dikan terasa aneh.. Seperti ada sesuatu yang sedang disembungikan.


Kemudian pak DIkan melihat ke arah Gilank yang memang nyentrik dengan rambut gondrong yang kusut karena gak pernah disisir.


“Eh itu siapa mas Broni, apakah teman kamu lagi?


“Iya pak… dia Gilank, dia teman kami yang ketinggalan itu”


Tatapan mata pak Dikan agak aneh ketika lihat Gilank yang sedang ngobrol kepada Novi dan Ivon


Huuf Novi dan Ivon, mereka sama sekali tidak bicara denganku setelah kejadian yang menimpaku semalam.

__ADS_1


Kami masuk ke rumah pak Dikan yang seperti biasanya… dan duduk di tikar seperti sebelumnya.


Tidak ada pembicaraan yang gayeng seperti sebelumnya… pak Dikan saat ini malah sibuk di belakang rumah, dia bersama istrinya keliatnya sedang masak.


Atau mungkin dia tau keadaanku?.... Ah itu kan pikiran buruk ku saja, siapa tau dia membantu istrinya menyediakan sarapan untuk kami.


“Nah ini sudah siap anak-anak.. Silahkan dimakan..dan maaf karena kami kehabisan beras, maka saya sediakan daging lebih banyak lagi sebagai pengganti beras ya  anak-anak” kata pak Dikan sambil meletakan nampan yang berisi  daging goreng penuh lemak yang sangat banyak


“Waaaah yo iki rek, sultan iki hahahaha” kata Gilank


“Nek menu makanan seperti ini.. Apane kita gak tambah gemuk rek hihihihi” kata Gilank dengan santainya mencomot daging yang ada di depanya.


“Heh.. yang sopan!.....Saya belum suruh kalian makan, malah asal comot saja” kata pak DIkan


“Eh maap pak.. Saya kira sudah boleh makan pak, saya dari kemarin belum makan sama sekali pak heheheh


“Iya saya tau…. Tapi tunggu dulu hingga saya suruh kalian makan!” bentak pak Dikan lagi


*****


Siang hari kami berkeliling desa tanpa diantar pak Dikan……


Seperti sebelum sebelumnya, desa ini sepi… tidak ada aktifitas warga, padahal pintu dan jendela beberapa rumah sudah terbuka.


“Apa yang mau kita benahi Bron?”tanya Tifano


“Mbuh Tif….aku juga bingung c*k… aku juga gak bisa kampanye sisan, wong disini penduduknya pada gak mau keluar rumah semua hehehe”


“Mas Bron.. ada baiknya kita ketuk salah satu rumah disini.. Kemudian kita tawarkan bantuan apa yang bisa kita kerjakan” kata Ivon


“Iya benar Ivon mas” sahut Novi


“Sik rek… tapi kan kata pak Dikan tadi, kita jangan mengganggu penduduk disini”


“Mengganggu gimana Wil… udah kamu gak usah ikut campur WIl.. ingat tadi waktu kita sedang  makan.. Pak Dikan sempat nyindir kita kan WIl…”


“Dia bilang jangan sekali kali melakukan tindakan tidak senonoh dengan apapun yang ada disini dan jangan mengganggu penduduk disini… sambil dia melirik kamu kan Wil.. itu sudah pertanda kita boleh bertamu…!”


“Bukan mengganggu… tapi bertamu c*K!” ucap Broni sambil sok marah kepadaku.


“Satu lagi Wil… ingat tadi kata pak DIkan bahwa apapun yang akan kita kerjakan hanya pagi hingga siang hari saja, sedangkan lewat siang hari kita tidak boleh melakukan sesuatu kan”


“Itu artinya kita tidak boleh kerja apa apa siang ini, tetapi kalau bertamu ke rumah penduduk disini jelas boleh sekali kan!” kata Broni sekali lagi

__ADS_1


__ADS_2