TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 30. FITRI


__ADS_3

Aku nggak tau dimana Novi……


Sudahlah… dari awal aku sudah merasa itu bukan Novi… stop memikirkan Novi…


Aku sudah pasrah… aku pasrah apa yang akan terjadi dengan aku…. Semua temanku hilang! Aku pasrah kalau hilang juga, dari pada terperangkap disini!


“Nggak hahahahah aku gak boleh pasrah Hahahahaha… mosok gini aja aku harus pasrah  janc*k!...matamu!.... Asyu!. Nggateli c*k!”


“TAEEEK!.. TAEEEEK!.. WILDAN HARUS KUAT C***K JANC*K!”


“Hiiksss.. Hikssss… tapi apa yang bisa aku perbuat dini huh…  asyuuuu asyuuu!...aku wis gak kuat….”


“C*k.. gak boleh lemat taek!.. Ayo gak boleh lemah!... gendeng boleh tapi lemah jangan c*k!”


Aku terduduk di lantai…. Entah apa yang harus aku lakukan disini…


Tapi aku penasaran dengan suara krak yang ada di bawah tumpukan baju…


Jangan… jangan sampai aku penasaran dengan yang ada disini, jangan penasaran dengan apapun yang ada disini, aku harus cari jalan keluar dari sini dan mencari bala bantuan untuk mencari teman-temanku!


Aku tetap duduk di lantai.. Rasanya tidak nyaman, Kadang aku bersila.. Sejenak kemudian aku berbaring…tapi ndak tenang, karena rasanya ada sesuatu yang harus aku lihat di luar.


Diluar masih ada hujan rintik rintik karena tetesan air hujan itu terdengar sampai di dalam rumah.. Sunyi senyap yang ada hanya suara tetesan air hujan saja………. Tapi sebentar… rasanya aku dengar sesuatu yang lain.


Iya… aku dengar suara yang pernah aku dengar sebelumnya… sebentar aku ingat-ingatnya!


Suara itu… suara orang yang sedang mencangkul.. Seperti suara orang yang sedang mencangkul ketika aku bersama Tifano pagi hari sebelum Tifano hilang.


Tapi ini kan tengah malam… apa tengah malam ada orang yang mencangkul juga?


Apakah ini tanda bahwa sesuatu?


Aku berdiri dan berjalan pelan ke arah jendela.. Aku akan membuka jendela rumah untuk melihat apa yang terjadi di luar sana…


Jendela kayu yang tertutup rapat dan ada slot kayu kecil untuk menguncinya.


“Jangan buka jendela itu mas Wildan” kata suara perempuan yang terdengar di belakangku… suara itu mirip suara Novi.

__ADS_1


Aku menoleh ke belakang ke arah suara itu datang… tapi tidak ada siapapun disini…. Rumah ini tetap kosong seperti sebelumnya. Tidak ada penampakan apapun, hanya nyala api dari tungku saja yang ada.


“Siapa kamu!...ayo tunjukan wajahmu….! Aku gak peduli kamu itu siapa, mau kamu demit, kuntilanak,pocong, genderuwo, wewe gombel. Banci berkontila besar atau homo dengan lubang selet menganga… aku gak peduli!”


“Jangan buka jendela atau pintu itu kalau mas WIldan mau selamat” kata suara itu lagi


“Heh… demit.. Ayo tampakan wajahmu, jangan bisanya kamu pakai suara Novi dan dengan wujud Novi saja yang kamu bisa lakukan… ayo tampakan wujudmu, aku sudah tidak peduli.. Mau mati disinipun aku pasrah.. AKU WIIS PASRAAAH!”


Janc*k suara itu gak jawab omong aku lagi\, c*k.. Saiki malah diem ae!.... Terus aku harus apa\, aku harus gimana.


Suara cangkul yang mengenai tanah itu terus menerus berbunyi, dan dari suara itu letaknya tidak jauh dari sini. Aku yakin yang mencangkul itu pasti manusia, mana ada demit yang bisa memegang cangkul.


“Ada mas!” kata suara itu lagi


“Ada alusan yang bisa mencangkul mas”


“Heh… aku kan tidak bicara, bagaimana kamu tau apa yang sedang aku batin c*k!.... Kamu siapa, wis gini ae, kita berteman saja… aku gak peduli bentuknya kayak apa”


“Jangan mas…” untuk kali ini suara itu tidak bersuara atau berbicara, tetapi aku bisa mendengar suara itu dalam hatiku, apa aku ini wis gendeng


“Saya Fitri… saya dulu penghuni rumah ini… Fitri akan muncul di hadapan mas Wildan dengan meniru bentuknya Novi, jangan tanya kenapa dan apa mas”


“Ya sudah Fitri.. Kamu muncul aja sekarang, aku wis tekat tekatan iki Fit…. mau kamu setan atau apa.. Dari pada aku gendeng ngomong dewe disini Fit”


“Eiiittt… stop dulu Fitri, eh.. Kamu bisa gak muncul dengan bentuk  Novi sesuai  permintaanku. Terus terang aku akan merasa nyaman dengan bentuk Novi yang aku pikirkan sekarang…”


“Ayo cepat  berubahlah sesuai dengan yang aku pikirkan” aku memikirkan bentuk Novi yang dulu, yang bahenol dengan rambut panjang, Novi ketika pertama kali aku lihat ketika aku adalah sebuah hantu di vila putih.


Tepat di depanku, ada sebuah cahaya yang awalnya hanya sebesar bola tenis, tetapi semakin lama cahaya itu semakin besar.. Semakin membesar seukuran tubuh manusia, dan akhirnya cahaya itu berubah menjadi wujud dari Novi.


Wujud samar.. Bukan solid.. Hanya penampakan mirip hantu  saja.


“Wah jangan gitu dong, jadinya aku ngeri Fit….”


Wujud bayangan perempuan mirip bayangan itu lambat laun menjadi nyata dan akhirnya menjadi solid. Wujud Novi yang sesungguhnya. Novi yang  dulu ketika aku ada di vila putih


“Heh Fit.. kamu ini kan hantu yang bisa berubah wujud sesuai yang aku pikirkan, jadi kalau seumpama aku mikir bentuk lain bisa  berubah kan.. Aku mau jadi temanmu Fit”

__ADS_1


“Bisa mas, pokoknya mas Wildan mau jadi teman Novi, maka Novi akan berubah bentuk sesuai yang mas Wildan inginkan”


“Hemboook… nek gitu kamu jadi istriku saja Fit.. enak kalau aku bisa bentuk yang satu, nanti kamu bisa berubah bentuk lainnya hehehe.. Nggak-nggak Fit.. aku cuma bercanda kok”


“Sekarang gini saja Fit… aku mau tanya dimana teman-temanku saat ini?”


“Fitri nggak bisa katakan mas, Fitri hanya bisa kasih mas Wildan petunjuk untuk mencari teman mas Wildan atau pulang dari lembah setan ini, dan jangan tanya kenapa dan apa alasanya”


“Waduh Fit… sebenarnya yang benar itu gimana, aku cari teman atau aku pergi dari sini?”


“Pilih salah satu mas….nanti Fitri akan kasih mas Wildan petunjuk” jawab Fitri yang sekarang berwujud Novi, tetapi wajahnya itu lho yang gimana gitu, nggak ada ekspresinya, kaku dan pucat


“Mana yang termudah mencari teman aku atau aku pulang dan mencari bala bantuan Fit?”


“Pulang saja mas…. Dan jangan kembali ke sini, relakan kelima teman mas Agus itu”


“Kalau aku nekat mencari kelima temanku bagaimana Fit, dan kenapa kamu baik sekali mau memberitahu?”


“Silahkan mas, Fitri  akan kasih petunjuk juga… tapi jangan tanya bagaimana keadaan teman mas Wildan, karena Fitri gak akan bicara tentang teman mas Wildan”


“Fitri mau membantu mas Wildan karena kasihan sama mas WIldan yang akan jadi gila karena terperangkap disini”


“Saran Fitri.. Pulang dulu saja, cari bantuan, karena mas Wildan tidak akan bisa bertahan disini”


“Bukanya disini ada Sapudi dan pak Wid?”


“Fitri gak bisa jelaskan mas…. Nanti mas WIldan akan tau sendiri siapa mereka dan apa yang mereka lakukan disini”


“Fit, aku penasaran dengan suara yang sedang mencangkul itu”


“Jangan mas.. Sangat bahaya…jangan ikuti rasa penasaran itu”


“Besok pagi sebelum matahari terbit mas Wildan sudah harus ada di sisi sungai pinggir barongan bambu. Nanti ketika air sungai surut segera mas Wildan seberangi sungai itu, dan carilah bantuan untuk menemukan teman mas Wildan”


“Jangan berpikir aneh-aneh mas… Fitri tau mas Wildan kepingin agar Fitri buka baju kan?”


“Hehehe iya Fit.. mumpung dingin-dingin Fit…”

__ADS_1


“Otak mas Wildan sudah mulai kacau mas… jangan turuti pikiran kacau itu mas… Fitri tau keadaan mas Wildan sudah kacau”


__ADS_2