
Tubuhku lemas seketika setelah aku tau bahwa aku ada di pinggir telaga dengan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Aku tidak tau Novi ada dimana, dan apakah dia selamat atau tidak
Kini aku sendirian di pinggir telaga yang berdekatan dengan air, masih untung aku dalam keadaan hidup dan tidak tenggelam di telaga kecil yang katanya kedalamannya belum ada yang mengukur.
Kabut tipis dan suhu udara yang dingin masih menyelimuti daerah pinggir telaga ini.
Kuseret tubuhku menjauh dari pinggir air..
Aku tidak peduli lagi dengan banyaknya mayat yang berserakan dan menimbulkan bau yang sangat busuk, aku tidak peduli lagi dengan bau bangkai yang meracuni paru-paruku.
Yang aku harus lakukan adalah pergi keluar dari telaga mengerikan ini, dan menyeberang sungai hingga kutemui penduduk di sekitar sana
Entah kenapa tubuhku rasanya lemas sekali, untuk berdiri saja dengkulku rasanya gak kuat, keadaan yang gini ini kayak habis ngocok sehari semalam tanpa henti, dengkul rasanya gak kuat menahan berat tubuh.
Ngesot… lebih tepatnya ngesot yang sekarang aku lakukan, aku ngesot hingga dekat dengan jalan setapak yang menuju ke arah lapangan kecil yang keramat.
Setelah agak jauh dari telaga kecil, aku mencoba berdiri….
Perlahan lahan aku topang tubuhku dengan satu tanganku hingga aku bisa benar-benar berdiri dengan menggunakan dua kakiku.
Kutunggu hingga tenagaku terkumpul dan aku mulai berjalan.
Gelap tetapi tidak terlalu gelap karena sinar bulan yang saat ini purnama cukup untuk menerangi desa, tetapi tetap saja kabut tipis membuat aku sulit untuk melihat di kejauhan.
Aku berjalan menuju ke arah lapangan kecil….
Ternyata dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat banyak mayat yang bergelimpangan… lama-lama aku bisa gendeng dewe kalau gini..
Gimana gak gendeng, yang tak liat cuma mayat aja, sepanjang mata memandang hanya ada mayat yang entah bagaimana caranya bisa ada disini, di desa yang tidak berpenghuni sama sekali ini.
Lalu bagaimana dengan keadaan yang tadi, ketika aku bertemu dengan yang namanya pak Sokran, dimana waktu itu desa ini seperti desa yang sesungguhnya, dengan penduduk yang berjalan kesana kemari.
Hahahah aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan yang berubah ubah…aku wis gak ngurus lagi, saat ini aku harus menentukan Novi dulu.
Lapangan sudah terlihat di depanku.. Tumpukan mayat sudah terlihat meskipun kabut tipis masih menyamarkan penglihatanku.
“MAYIT TAEEEK!... MAYIT JHANCOK!... KAPOK KAMU JADI MAYIT!”
Aku teriak kegirangan ketika aku sudah melewati lapangan yang penuh dengan mayat. Yah mayat yang sebelumnya aku lihat berjalan menuju ke sini dan berbaring sesuai tempatnya heheheh.
Desa taek ini lama-lama membuat aku kerasan juga hahahah… aku berjalan terus hingga sampai di sebuah rumah yang paling dekat dengan sungai.
Rumah yang sebelumnya aku bersama Novi sebelum tiba-tiba aku terbangun dan ada pak Sokran disana.
“NOV… KAMU ADA DI DALAM?” aku teriak sekencang kencangnya, aku gak ngurus seandainya mayat-mayat itu bangun dan mendatangi aku
“NOV.. INI AKU WILDAN… KALAU KAMU ADA DI DALAM KASIH TANDA AKU CEPAT!”
__ADS_1
Beberapa belas detik tidak ada jawaban dari dalam, tetapi tidak lama kemudian aku mendengar palang pintu rumah diangkat dan kemudian pintu rumah dibuka.
“M… mas Wildan d…dari mana s..saja” kata Novi dengan suara bergetar
“Nanti aku ceritakan, sekarang tutup pintu rapat-rapat”
Di dalam rumah dalam keadaan gelap. Kayu bakar yang ada di tungku pembakaran hanya tinggal abunya saja, tetapi ruangan rumah ini masih terasa hangat.
“Bentar Nov, aku nyalakan kayu bakar dulu”
Setelah selesai dengan kayu bakar, dan setelah ruangan rumah ini terang karena api yang berasal dari tungku, aku mendatangi Novi duduk bersandar pada dinding kayu rumah.
“Apa yang terjadi Nov, kamu ceritakan dulu apa yang terjadi disini?”
“Mas…kita ada di desa yang penuh dengan setan mas…. Novi gak tau apa yang harus Novi ceritakan, karena Novi sendiri mengalami hal yang mengerikan”
“Waktu itu kita kan sedang tidur mas, tau-tau kita dibangunkan sama pemilik rumah ini, namanya pak Sokran, dia itu mayat yang duduk di depan rumah itu mas”
“Hmm terus…”
“Dia disini tinggal bersama istri dan dua anak kembar laki-lakinya yang sudah dewasa mas”
“Novi takut sekali awalnya, dan waktu itu mas Wildan cuma bilang, jangan takut Nov, kita anggap aja ini sedang mimpi”
“Kemudian setelah Novi gak takut, keluarga pak Sokran mengajak kita makan di warung yang sangat ramai.. Disana di dekat lapangan itu mas”
“Dan anehnya lama-lama Novi merasa kerasan ada di desa ini, dan sudah melupakan kalau Sokran itu sudah mati”
“Anehnya lagi, Novi seperti tersihir mas, Novi suka sama kedua anak laki-laki pak Sokran yang sudah dewasa itu, dan Novi kepingin bersama mereka berdua terus”
“Novi kepingin berduaan dengan salah satu dari anak pak Sokran mas”
“Hmm terus heheheh?”
“Ih mas Wildan ini kenapa tertawa sih?”
“Ketika sudah sampai di warung, ternyata dompet pak Sokran ketinggalan, ketika pak Sokran akan pulang untuk mengambil dompet, Novi pikir ini adalah kesempatan untuk berduaan sebentar bersama anak pak Sokran”
“Terus kamu menawarkan diri untuk mengambil dompetnya pak Sokran.. Gitu ya Nov?”
“Iya mas….. Akhirnya Novi yang pulang, sedangkan mas Wildan dan Sokran dan istrinya menunggu di depan warung”
“Novi pulang ke sini, dan ternyata kedua anak kembar pak Sokran itu juga senang ketika Novi sampai disini. Mereka ternyata ada rasa juga sama Novi mas”
“Kok kamu tau mereka ada rasa sama kamu Nov?”
“Keliatan lah mas, Novi kan bukan bantji kemarin sore mas hihihih”
“Terus terus gimana Nov?”
__ADS_1
“Yah ternyata mereka berdua itu perayu ulung dan pintar membuat Novi klepek-klepek jatuh cinta kepada Novi”
“Tapi mereka berdua belum tau kalau Novi punya kuntila…”
“Mereka merayu Novi agar mau berhubungan inthim mas… dan ketika Novi sudah mengiyakan ajakan mendadak mereka, ternyata mengerikan mas”
“Mengerikan apanya Nov, mereka jadi setan?”
“Nggak mas… mas Wildan salah. Tiba-tiba mereka berdua saling meransyang diri mereka berdua”
“Mereka berdua humu Nov?”
“Iya mas.. Kedua anak kembar Sokran itu saling **** kuntilanya, mereka berposisi enak sembilan mas”
“Ya tentu saja Novi kaget dan gak ngira mereka adalah sepasang humu yang ahli”
“Terus kamu ikut ikutan gitu Nov?”
“Mereka belum tau Novi mas.. Mereka cuma bilang, maaf ya mbak Novi kami berdua memang punya kelainan mbak.. Cuma itu yang mereka berdua bilang ke Novi”
“Novi bilang… tenang aja mas, kita bisa main bertiga, tapi gimana dengan dompet bapakmu yang ketinggalan?”
“Mereka jawab, dompet bapak gak ketinggalan kok mbak, bapak sengaja agar mbak Novi ke sini bersama kami. Mereka berkata dengan sedikit tertawa mas”
“Novi jelas senang mas Wil.. Novi udah lama gak gituan sama cowok ganteng heheheh”
“Terus kamu keluarin kuntilamu yang sebesar botol bir itu Nov?”
“Nganu mas, ketika mereka sedang saling **** emutan, Novi buka celana Novi dan Novi keluarin kuntila Novi yang gede itu”
“Mereka jelas kaget mas, mereka gak nyangka Novi ini bantji dan berkuntila besar”
“Awalnya mereka takut ketika melihat kuntila Novi yang luar biasa besar dan berotot, tapi setelah beberapa saat mereka malah berebuatan nyodorkan deborahnya ( dhuburnya ) ke Novi”
“Kamu genjot mereka Nov?”
“Iya mas.. Tapi setelah Novi genjot kedua orang itu, tiba-tiba kepala Novi pusing, dan berputar putar.. Kemudian semua jadi gelap, gak ada dua anak kembar, gak ada siapa-siapa. Novi sendirian di rumah ini”
“Novi ketakutan mas, yang Novi genjot berarti setan humu yang ada disini”
“Novi diam disini hingga pagi, harapan Novi pagi nanti Novi bisa pergi dan menyeberangi sungai kecil yang ada disana itu”
“Yah Nov, ternyata ceritamu itu sedikit banyak hampir sama dengan apa yang aku alami Nov, hanya saja aku tidak melakukan hal begituan, pokoknya aku ternyata ada di pinggir telaga yang mengeirikan dengan puluhan mayat yang sudah busuk”
Aku ceritakan kepada Novi apa yang aku alami ketika aku bersama dengan pak Sokran dan istrinya.
Yang penting aku dan Novi sekarang masih selamat, dan besok ketika ada matahari, kami akan menyeberangi sungai, aku gak ngurus aku dan Novi ada di masa apa, atau ada di jaman apa.
Yang penting bisa keluar dari sini dengan selamat.
__ADS_1