
“Kita ke truk itu sebentar pak, itu truk milik pak Tejo dan anaknya Tedi pak. Kami pernah ketemu mereka ketika kami keluar dari hutan itu pak”
“Ayo kita cari pemiliknya mas”
Disini banyak sekali truk yang terparkir berjajar, tapi aku tau itu truk milik pak Tejo karena stiker ada tulisan yang khas di belakang bak truk itu
AN3DIS PEMBURU JANDA
Kami sudah ada di samping truk, sayangnya tidak ada seorangpun di sekitar truk itu.
“Supir truk biasaya ada disana mas, di warung kopi yang akan kita tuju itu, sebelum mereka istirahat mereka ke sana dulu untuk sekedar ngobrol sesama driver”
“Ya udah pak, kita ke sana saja, karena saya yakin itu truk milik pak Tejo pak”
Warkop yang kami tuju ini lumayan luas, menjorok ke dalam, bukan ke samping sejajar dengan jalan, tetapi ke arah sawah yang ada di sana.
Ramai juga warkop ini dengan driver truk yang sedang istirahat. Hmm dimana ya pak Tejo dan anaknya
“Sepanjang saya lihat disini tidak ada Tejo dan anaknya mas, eh mungkin dia sedang ada dimana gitu, lebih baik kita pesan kopi kita, kemudian kita balik saja ke truk itu. Siapa tau ada Tejo dan anaknya disana”
Aku setuju dengan usul pak Kus, kami memesan kopi dan teh hanya serta beberapa gorengan. Setelah itu kami kembali ke pom bensin.
“Kita amati saja dari jauh mas, soalnya kalau dekat-dekat dengan truk itu dipikir kita ini maling heheheh”
“Iya pak, kita duduk agak jauh saja, semoga pak Tejo kembali ke truknya pak”
Kami duduk di teras kantor SPBU. disana ada beberapa driver yang sedang tiduran dan duduk juga. Tetapi di antara mereka yang ada tidak ada wajah pak Tejo dan anaknya.
Hingga sekitar tiga puluh menit kami ada disini tidak ada seorangpun yang menuju ke truk yang sedang diparkir disana. Memang sih para driver sedang istirahat atau ngopi di luar truk.
“Mas, itu ada yang berjalan menuju ke truk Tejo, kayaknya dia mau ke truk yang mas Wildan maksud itu mas”
“Oh iya pak, ayo kita datangi pak, kita tanya dimana pak Tejo dan Tedi”
__ADS_1
Dengan sedikit berlari aku dan pak Kus mendatangi orang yang sedang berdiri di samping truk, orang itu kemudian mengecek keadaan roda-roda truk.
“Selamat malam mas….” sapa pak Kus
“Inggih pak, eh ada apa ya pak?” kata orang yang ada di samping truk
“Maaf mas, apa benar ini truk milik pak Tejo?”
“Iya benar pak, eh memangnya kenapa ya pak?”
“Saya temannya Tejo mas, kebetulan saya juga sedang istirahat disini, Tejonya dimana ya mas?”
“Lho, njenengan ini gimana to pak, pak Tejo sampun sedo (meninggal), sudah lama pak Tejo meninggal pak” kata driver itu sambil tersenyum
“Ah yang bener mas. Saya beberapa hari lalu ketemu dia dan Tedi anaknya di desa sana menggunakan truk ini untuk mengantar kalau gak salah pisang atau apa gitu mas” aku kaget mendengar jawaban orang ini
“Bapak dan mas… pak Tejo dan Tedi anaknya sudah meninggal lama sekali, mungkin sekitar empat bulan lalu. Saya adalah kerabatnya, saya yang menjalankan truk ini sekarang”
Aku hanya bisa diam mendengar apa yang dikatakan orang yang sedang berdiri bersama kami, jelas aku nggak percaya, karena sebelumnya aku ketemu dengan pak Tejo di pasar itu.
“Hhuuff… saya tidak tau kenapa mas, saudara saya dan anaknya itu tiba-tiba ditemukan sudah meninggal di samping truk di pasar lama desa sana itu” jawab saudara pak Tejo
“Eh pasar lama yang sekarang kosong itu ya mas, yang ke arah kuburan balung?”
“Iya itu mas, kok masnya tau?” kata saudara pak Tejo keheranan
“Ya disana itu pak tejo dan anaknya Tedi ditemukan meninggal di samping truk”
“Tidak ada tidak kekerasan di tubuh mereka berdua, mereka meninggal dalam posisi duduk dan di sebelahnya masih ada segelas kopi yang masih utuh” jawab driver ini lagi
Ya Tuhan, berarti yang aku dan Novi temui itu bukan pak Tejo…aduuh semakin pusing kepalaku, teka teki ini semakin membuat aku tidak bisa berpikir mana yang real dan mana yang hanya ilusi saja.
Pak Kus hanya diam saja, dia kayaknya merasakan bahwa kejadian pak Tejo bisa saja terjadi dengan dirinya.
__ADS_1
Aduuh bagaimana mungkin yang kami temui di bekas pasar lama itu bukan pak Tejo yang sebenarnya
“Eh ya sudah mas, terimakasih atas infonya” aku ajak pak Kus untuk kembali ke tempat Novi dan Ivon
“Sebentar mas Wil… sebentar, ada yang mau saya tanyakan ke saudara pak Tejo ini”
“Ya ada yang mau ditanyakan lagi pak hehehe?” kata driver truk itu
“Begini mas, saya mau tanya apakah keluarga pak Tejo masih di desa sana?”
“Hahaha disana sudah tidak ada keluarga pak Tejo lagi, mereka sudah pindah ke desa sebelah pak. Setelah kematian beruntung hehehe, untung saya tidak ikut mati pak, mereka pindah ke desa sebelah” jawabnya tanpa ada rasa bersalah sama sekali
“Oh ya sudah kalau begitu mas, eh boleh tau mas ini namanya siapa?”
“Saya Wibowo pak, panggil saja Bowo. saya anak dari kakak pak Tejo”
“Ya sudah kalau begitu mas Bowo kami akan istirahat dulu saja”
“Kalau boleh tau bapak dan mas ini tujuanya ke mana to?” tanya si Bowo
“Kami mau ke desa sana mas, ada keperluan disana hehehe” jawab pak Kus
“Oh gitu, ya sudah, hati-hati pak”
Aku bingung dengan percakapan barusan, semua yang aku temui menjadi aneh, atau jangan-jangan pak Kuspun juga bukan yang sebenarnya.
Semua terjadi secara kebetulan, dan sepertinya sudah diatur sedemikian rupa. Lalu apa yang harus aku lakukan, sekarang aku sudah hampir sampai ke desa itu.
“Mas WIldan…. Saya tau yang mas WIldan pikirkan, saya bisa menebak kalau mas Wildan curiga dengan saya juga, kejadian seperti ini juga pernah saya rasakan juga mas”
“Saya yakin Tejo masih punya tanggungan disana, sehingga dia akhirnya mati juga”
“I..iya pak”
__ADS_1
Aku semakin tidak percaya dengan pak Kus. seperti sebuah pola yang sudah direncanakan, aku dan Novi bertemu pak Kus, kemudian bertemu Ivon.
Setelah itu kami ke sini dalam keadaan yang aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan kami. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang kami sengaja di bawa kesini untuk sesuatu hal?