
“Kita sekarang mau ke mana mas?”
“Jalan aja ke arah lapangan, telaga dan rumah pak Dikan, tiga tempat itu yang aku curigai Nov”
“Tapi apakah yang mas Wildan katakan itu emang bener?”
“Udahlah Nov, kita lihat saja bener atau nggaknya, karena aku kan hanya nebak nebak aja Nov”
Nggak tau kenapa aku yakin sekali kalau aku dan Novi ini ada di sebuah permainan, atau entahlah, pokoknya ada yang kurang pas kalau keadaan ini dipikir secara logika..
Kami melewati rumah yang kami tinggali, bentuk, cat dan kayu rumah itu sama sekali tidak berbeda ketika kami melihat banyak mayat, ketika ada yang namanya Sokran, kemudian ketika ada mayat yang sedang duduk di depan rumah.
Rumah ini tidak berubah sama sekali bentuk dan wujudnya tetap sama, harusnya kalau yang membuat permainan ini pintar, rumah ini harus mereka cat ketika kami ada di jaman pak Sokran, atau mereka sedikit rusak ketika banyak mayat disini, atau gimana lah.
Suasana desa ini sepi, dan tetap ada kabut yang menyelimuti, suhu udara dingin juga tidak pernah berkurang atau hilang sama sekali.
Untuk masa ini sama sekali tidak ada mayat yang bergelimpangan dan atau berjalan menuju ke arah lapangan. Suasana sepi, sangat sepi hingga aku bisa mendengar suara nafas Novi dan nafasku sendiri.
“Mas di depan kan sudah pertigaan, kalau terus kita ke rumah pak Dikan dan rumah yang kita tempati pertama kali kita kesini mas”
“Iya Nov, tapi untuk saat ini aku mau ke rumah Dikan dulu, aku kepingin tau apa yang ada di dalam rumah itu, setelah itu ke rumah yang kita rumah pak Dikan yang kita tempati ketika itu”
“Nanti disana kita lihat kamar mandi yang ada di belakang rumah, pokoknya semua harus kita lihat dan kita perhatikan dengan teliti”
“Setelah itu kita ke arah telaga, kita masuki rumah ketika kita bersama anak-anak itu”
“Mas, Tapi Novi rasa kita ini bukan sedang dipermainkan manusia mas, tetapi kita sedang dipermainkan makhluk jahat yang tidak berwujud manusia”
“Hehehe itu nanti akan kita lihat Nov, apakah memang seperti itu atau tidak, intinya aku yakin kalau kita sedang ada di sebuah permainan yang kita tidak ketahui”
__ADS_1
Aku sangat yakin dengan apa yang aku pikirkan, pokoknya kita ada di sebuah permainan yang mengasah panca indera kita sehingga apa yang kita pikirkan itu sesuai dengan yang diinginkan oleh orang yang mempermainkan kita
Rumah pak Dikan ada di depan, kuperhatikan tanah yang ada di sekitar rumah itu, tanah yang berbeda ketika kita ke sini, tanah itu keras dan padat, bukan tanah yang gembur karena ada sesuatunya di dalam tanah itu.
Aku dan Novi sudah ada di depan rumah pak Dikan. Pintu rumah tertutup rapat, tetapi aku nekat harus bisa membuka pintu yang tertutup rapat itu.
“Ayo kita buka pintu ini mas”
Aku dorong perlahan, ternyata bisa….pintu rumah pak Dikan tidak terkunci….
Tetapi ketika pintu itu terbuka sedikit, bau anyir menyeruak keluar dari celah pintu yang aku buka. Bau anyir darah yang sangat tajan menyeruak dari celah pintu rumah pak Dikan.
“Nov, kamu tau bau ini apa nggak, kira-kira ini bau apa?”
“I… ini bau darah mas!”
“Hehehe ingat kita sedang dalam permainan, jangan sampai hidung kita dimanipulasi oleh mereka ini”
Aku dorong dengan keras pintu yang masih terbuka sedikit ini….
Kudorong dengan keras hingga menimbulkan suara berdebam karena daun pintu itu menghantam dinding kayu yang yang ada di baliknya.
Aku dan Novi tidak buru-buru masuk ke dalam rumah itu, karena bau anyir dan busuk kembali menerpa hidung kami, sebenarnya kata hatiku berkata bahwa di dalam rumah ini pasti ada sesuatu yang mengerikan, hanya saja akal sehatku mengalahkan segalanya.
“Mas..ini bau anyir darah mas… apakah di dalam sana ada sesuatu mas”
“Hilangkan pikiran burukmu Nov, ini bukan beneran, semua yang ada disini itu palsu semua, ingat kita sedang dipermainkan seseorang”
Rumah ini gelap, karena di luar rumah ini banyak pohon besar, karena rumah ini kan letaknya ada di pinggir hutan, beda dengan rumah yang lainnya yang hanya ada satu pohon besar di tiap rumahnya.
__ADS_1
Bagian dalam rumah ini sangat gelap, tapi aku penasaran dengan bau yang menyengat yang berasal dari dalam rumah.
“Kamu tunggu disini dulu Nov, aku mau masuk ke dalam, pokoknya kamu harus ingat bahwa kita sekarang sedang ada di sebuah permainan. Dan semua yang ada di dalam permainan ini sifatnya tidak nyata dan hanya berusaha menakut takuti kita saja”
Aku masuk ke dalam rumah, Novi ada di belakangku… langkah kakiku mengikuti dimana bau anyir itu tercium paling kuat, langkah kakiku menuju ke kamar yang ada di samping kiri rumah.
Dengan berjingkat aku dan Novi sudah ada di salah satu pintu kamar yang hanya dibatasi dengan gorden lusuh dan tipis.
“Nov sentermu mana?”
“Ya ketinggalan di rumah sana itu mas, semua tas tas kita kan juga ada disana”
“Oh bentar Nov, aku kan bawa korek api, bentar aku nyalakan korek api yang aku bawa ini”
“Cepet mas…”
“Iya ya Nov, ya sudahlah kita buka saja gorden ini Nov… kamu berdiri agak jauh dari aku aja Nov”
Aku dengan santainya maju untuk membuka gorden kamar.
Setelah kunyalakan korek api dan kemudian kupegang sisi gorden kemudian aku sibakkan gorden yang ada di depanku.
“HOEEEGHH!... janc*k baunya!”
“MAS WIIIIL… ITU APAAAA” tunjuk Novi pada sesuatu yang ada didalam kamar
Aku terpaku di tempatku berdiri ketika melihat hal yang tidak biasa di depanku..
Tubuh manusia yang digantung dalam posisi terbalik, kedua kaki diikat kemudian digantung dengan menggunakan tali, perut mayat itu sudah terbuka lebar, sedangkan isi perutnya kosong.
__ADS_1
Tetapi yang mengerikan adalah tubuh tergantung terbalik itu tanpa kepala, lehernya putus, darah kental masih mengucur dari lehernya yang putus.