
“Gini saja mas Wil, kita kan tidak tau daerah disini, ada baiknya kita minta bantuan pak Sokran untuk mengantar kita, dari pada nanti ada apa-apa, bisa susah nantinya” pak Kus menengahi pak Sokran yang mulai mengerikan.
“Eh setelah ini tolong antar kami ke sana ya pak Sokran dan bu Sokran”
“Bailaklah, tapi tolong kalau ada di daerah orang kalian tidak sepantasnya menolak kebaikan tuan rumah” jawab pak Sokran yang mulai nampak tersenyum lagi mulutnya
“Ayo sekarang saja pak, nanti keburu petaninya pada pergi semua, biarkan anak-anak ini melihat petani kentang sedang mengerjakan lahannya pak”
Sisa makanan aneh itu kemudian dia buah ke dalam telaga, dan secara tidak terduga banyak ikan berbentuk aneh yang memakannya, ikan itu berbentuk seperti ikan lele, namun berukuran besar dan mempunyai tangan, tangan itu digunakan untuk memegang daging yang dibuang oleh pak Sokran
Aku tidak tanya ikan apa yang ada di telaga itu, aku nggak mau memperpanjang pembicaraan dengan orang aneh ini, orang yang pernah aku lihat sebagai mayat itu.
Sekarang kami berjalan menuju ke arah perkebunan kentang, arahnya nanti pasti melewati lapangan tempat jual beli dan transaksi itu.
“Mas WIldan, perasaan Novi kok nggak enak ya, perasaan Novi kita akan dapat masalah di sana mas” bisik Novi
“Dan santai aja Nov, kita jalani aja dulu, kalau ada apa-apa kita harus segera bertindak seperti yang dilakukan pak Kus itu
Tidak ada pembicaraan sama sekali, dan kami pun akhirnya melewati lapangan. Di seberang lapangan sekilas aku lihat ada beberapa orang teman kami yang sebelumnya sempat dilihat oleh Novi dan Ivon.
Bruni, Tifano, dan Bondet, mereka sedang sibuk dengan hasil kebunnya, dan mereka sama sekali tidak melihat kehadiran kami.
__ADS_1
Pak Sokran dan Istrinya belok ke kiri menyusuri lapangan, karena setahuku tempat lahan itu ada di hutan dibalik lapangan itu. Artinya nanti kami akan bertemu dengan ketiga teman kami yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
“Novi, Ivon, ingat kita sekarang menuju ke arah teman kita yang sebelumnya kalian sudah bertatap mata dengan mereka, jadi nanti apabila mereka menyapa kalian, diam saja! Jangan bicara sepatah katapun, dan anggaplah mereka itu tidak ada!” kata pak Kus
“Dan tetap waspada, ingat mereka saat ini sedang mengincar kalian, dan segera jauhi mereka apabila mereka mendekati kalian, sisanya biar saya saja yang ngatasi” lanjut pak Kus
Rombongan kami benar semakin dekat dengan ketiga teman kami yang ternyata sedang sibuk dengan membersihkan hasil perkebunan!
Jangan-jangan mereka ini petani yang dikatakan pak Sokran
“Nah, itu adalah tiga orang petani sukses disini, mereka adalah pendatang yang mempunyai ide-ide cemerlang dalam pembudidayaan hasil kebun tempat ini”
“Sebelumnya tempat ini sudah cukup terkenal dengan hasil budidaya kentang yang ukuranya lebih besar dibanding dengan daerah lain, tetapi semenjak kedatangan mereka bertiga, hasil perkebunan disini semakin meningkat”
Waduh, mereka bertiga dianggap orang penting.. Bisa bahaya ini.
“Selamat pagi mas Wahyu, mas Sukir dan mas Hendro… ini saya bawa tamu dari luar kota, katanya mereka ingin melihat hasil kebun kalian” teriak pak Sokran kepada mereka yang ada di tengah hasil kebun
“Pagi pak Sokran, oh begitu. Boleh pak, kami tidak keberatan untuk membagi ilmu dengan yang sangat berminat dengan pertanian dan perkebunan” jawab Broni, tapi aku belum tau nama Broni itu yang mana, apakah Wahyu atau Sukir atau Hendro
Aku bingung apa yang harus kami lakukan, ketiga pemuda yang adalah teman kami itu datang mendekat, sebelumnya mereka ada di tengah hasil perkebunan yang sedang mereka bersihkan dari tanah yang menempel.
__ADS_1
Semakin dekat aku semakin deg deg an, apakah mereka bertiga mengenal kami atau tidak.
Tetapi ketika mereka semakin dekat dengan kami, wajah ketiga orang itu berubah, perlahan wajah ketiga orang yang seharusnya ada adalah temanku itu semakin menua.
Ketika sudah ada di depan kami, wajah ketiga orang itu menjadi seumuran dengan pak Kus. Lebih tua dari kami bertiga
Keadaan sudah terlanjur basah, pak Kus memberi kode agar kami berkenalan dengan mereka bertiga
“Saya Wahyu” kata orang yang seharusnya Broni
“Saya Sukir” kata yang seharusnya Tifano
“Panggil saya Hendro” kata yang seharusnya Bondet
“Mbak mbak cantik ini siapa namanya?” tanya yang bernama Wahyu alias Broni
“Eh ini mbak Novi, dan yang satunya adalah mbak Ivon, eh mereka mungkin terlalu malu untuk menjawab sapaan mas mas yang terkenal ini
“Saya sendiri Kusno, dan yang ini mas Wildan… eh kami bangga bisa bertemu dengan kalian yang hebat ini’
“Ah bisa saja pak Kusno ini, kami disini juga belajar, kita sama sama belajar pak” kata Bondet yang sekarang bernama Hendro
__ADS_1
“Pak Sokran, lebih sopan ngobrolnya nanti saja setelah kami selesai memilah kentang, kami mandi dulu nanti kami tunggu di rumah kami saja, bagaimana pak Sokran?” kata Sukir atau Tifano
“Bagus kalau begitu mas Sukir, saya dan tamu pulang dulu, nanti sore akan saya antar tamu kita ke rumah kalian bertiga”