TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 27. KE RUMAH SAPUDI


__ADS_3

“Itu ada singkong bakar Nov, makan dulu sana”


Novi sudah berganti pakaian, terus terang aku dan Tifano berusaha tidak melihat tubuh Novi, aku tidak mau melihat sesuatu yang dulunya ada menjadi tidak ada atau yang dulunya tidak ada sekarang menjadi ada.


Buatan Tuhan seyogyanya tidak dimodifikasi seenak udelnya.. Maka dari itu lebih baik tidak tau apa yang sudah berubah dengan yang ada di tubuh Novi.


Tifano tadi mengambilkan pakaian yang kering dari tumpukan pakaian dan celana yang ada di kamar rumah ini, dan memberikannya kepada Novi yang sudah berkumis dan berbrewok itu


“Novi gak lapar mas Wil…. Novi hanya kepingin duduk disini saja” kata Novi duduk di sebelah tungku api


Mungkin dia dalam keadaan kedinginan setelah kehujanan dan setelah perjalanan menuju ke rumah ini.


“Tif.. obor-obor yang ada di sana itu sudah kamu lihat, apakah di dalamnya masih ada isinya?”


“Sebagian masih ada, sebagian sudah kering Wil… apa yang mau kamu gunakan untuk obor itu WIl?”


“Gak papa Tif, aku hanya penasaran sama rumah pak Sapudi, aku kepingin kesana…. Aku yakin desa ini ada manusianya, selain demit tentunya hehehehe…..hanya saja mereka tidak menampakan diri”


“Nov…. Senter punyaknya Ivon dibawa Ivon atau kamu, Ingatku ketika kalian akan turun ke jurang senter itu kan diberikan Ivon ke kamu Nov?”


“Ngga ada sama Novi mas, senter itu jatuh ketika Novi berusaha ke rumah ini”


“Nov, wajahmu kok masih pucat sih…kamu masih kedinginan?” tanya Tifano


“Iya mas TIf, tapi nggak papa kok, bentar lagi Novi juga akan hangat” jawab Novi dengan santai..


Iya santai, suara Novi terdengar santai, dia tidak menampakan kekhawatiran bahwa teman dia sudah tidak ada alias hilang, mungkin dia sudah ikhlas dengan hilangnya Bondet dan Ivon.


Gerimis diluar sudah berhenti, sekarang pukul tujuh malam…. Nggak tau aku kok rasa nya punya keberanian untuk melakukan sesuatu, aku ingin tau rumah Sapudi dulu.


“Tif.. ikut aku ke rumah Sapudi sekarang, Novi kami ikut kami tidak?”


“Novi disini saja mas….”


“Ayo Tif…Novi biarkan disini dulu aja Tif… dia kan kedinginan”


“Sik bentar Wil.. aku mau  cari obor yang minyaknya paling banyak dulu” jawab Tifano

__ADS_1


Malam ini gerimis sudah berhenti, tetapi kabut masih saja melingkupi desa aneh ini, aku dan Tifano nekat ke rumah Sapudi karena aku penasaran, dan aku yakin rumah itu tidak kosong seperti rumah yang lainnya.


Malam yang dingin, dengan kabut tipis yang masih terus mengambang disini, aku dan Tifano bergerak ke rumah pak Sapudi yang jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah yang kami tempati.


Tetapi jangan salah sangka, beberapa rumah artinya itu beberapa puluh meter jauhnya, bayangkan saja satu rumah dengan pekarangan yang luas dan satu pohon yang besar bisa mungkin sekitar lebar lima belas meter, bahkan bisa saja lebih.


Aku dan TIfano masing masing membawa obor, hanya saja tidak lama  kemudian aku mematikan api obor yang kubawa.


“Kenapa kamu matikan obormu Wil?”


“Ngirit Tif.. lagi pula satu obor kan sudah cukup untuk menerangi sekitar kita saja Tif”


“Bukan Gitu Wil.. keadaan disini serem c*k… rasane sangar pol disini Wil”


“Hehehe rasa takutku sudah hilang ketika kita lolos dari  vila putih dan semua urusan yang ada disana Tif….”


“Eh Stop Tif.. matikan api orbormu”


Barusan secara tidak sengaja aku dengar bunyi daun yang terinjak kaki manusia…. Suara daun yang terinjak kaki itu tidak jauh dari posisi kami berdua berdiri…


Tifano mematikan api obor yang dia bawa secepatnya..


“Ssssttt….Merunduk dulu Tif kita coba ke sana,  Ke pagar yang ada semak belukarnya.. Kita sembunyi disana dulu aja Tif”


“Ada apa Wiiiiiiiil!” bisik Tifano  lagi


“Ssst diam!... ada orang yang jalan di sekitar sini c*k!”


Di sebelah kami adalah sebuah rumah dengan pagar yang penuh dengan semak belukar, aku  dan Tifano berjalan sambil merunduk ke pagar rumah itu…


Hening… sepi.. berkabut….Tidak ada suara langkah kaki lagi, yang ada hanya suara aneh seperti suara orang yang sedang mencangkul.. Dan suara itu terdengar berulang kali.


“Kamu dengar suara itu Tif?”


“Iya Wil”


“Tapi itu kan suara cangkul yang menghujam ke tanah Wil” bisik Tifano

__ADS_1


“Iyaaaah.. Ayo kita cari suara itu Tif… aku yakin disini pasti ada manusianya”


“Suara itu kayaknya  dari depan kita Wil” kata Tifano sambil berbisik


“Iyaaa. Di depan kita itu kan sudah rumah Sapudi dan rumah kosong milik Sapudi yang pernah kita tinggali itu Tif”


“Aneh.. gelap-gelap gini ada orang yang sedang mencangkul…. Eh Wil.. eh kamu ingat tanah yang ada disi….”


“Ssstttt diam dulu Tif…. jangan berisik!”


Aku berjalan dengan merunduk mengikuti arah suara cangkul yang mengenai tanah, dan suara itu masih terjadi berulang kali.


Tanah yang becek karena hujan menyulitkan kami bergerak, apalagi di sekitar rumah Sapudi, kadang tanah yang kita injak itu amblas ke bawah.


Semakin kami dekat, semakin suara cangkul itu terdengar dengan jelas…


Dan kayaknya suara itu ada di belakang rumah Sapudi atau rumah kosong, rumah yang kami tempati ketika pertama kali kami ke desa ini.


Tidak terasa kabut semakin tebal dan gerimis mulai turun lagi….


“Will.. hujan lagi.. Apa nggak sebaiknya kita balik ke rumah saja?”


“Sssttt tanggung Tif… aku yakin itu sapudi dan pak Min.. ayo kita ke sana”


Perlahan lahan kami sudah masuk pekarangan rumah Sapudi dengan tanah yang kemungkinan besar penuh dengan orang yang dikuburkan.


Kami berjalan ke arah belakang rumah, aku harus sangat hati-hati berjalan di sini, karena aku tau di bawah tanah ini banyak sesuatu yang dikuburkan!


“Tif ikuti di belakangku aja, dan ikuti langkahku, jangan berjalan di sampingku” kataku sambil berbisik


Di gelapnya malam, gerimis yang datang, dan kabut tipis yang tetap mengambang akhirnya aku ada di belakang rumah Sapudi..


Ternyata bunyi suara orang yang yang sedang mencangkul itu berhenti. Kini tidak ada suara apapun selain suara gerimis yang mengenai daun dan tanah.


Aku berhenti melangkah dan merunduk serendah mungkin, begitu juga seharusnya yang dilakukan Tifano, kami terus merunduk dan berharap bisa mendengar suara aneh sekecil apapun.


Aku berusaha memandang jauh, tetapi sayangnya karena adanya kabut dan keadaan yang gelap menyebabkan pandanganku sangat terbatas. Hanya sejauh lima meter saja yang bisa aku lihat dengan jelas.

__ADS_1


Ketika keadaan sunyi senyap dalam beberapa menit, maka aku putuskan lagi untuk berjalan mengendap endap… satu… dua.. Tiga meter aku berhenti…!


Di depan, sekitar lima meter atau kurang, samar-samar aku lihat ada gundukan tanah yang kayaknya baru saja dibuat!


__ADS_2