
Aku nggak tau apakah tujuan kami ini benar atau tidak, tetapi dengan melihat adanya kabut, apa yang dikatakan Novi ada benarnya juga.
Lebih baik menghindari kabut, meskipun itu hanya tipis saja.
Kami berjalan ke arah kiri, memang tidak ada kabut sama sekali, tetapi keadaanya sangat sepi dan sama sekali tidak ada kehidupan.
Semakin jauh dari area kuburan semakin gelap, karena lampu penerangan hanya ada di depan pintu masuk kuburan saja.
Lepas dari area kuburan, aku nggak tau apa yang ada di kiri dan kanan kami, karena semua sangat gelap, meskipun ada sinar bulan yang menerangi di sekitar jalan yang kami tempuh, tetapi di kiri kanan keadaanya gelap.
Sempat aku lihat di kiri dan kanan hanya ada semak belukar saja.
“Nov sentermu mana?”
“Sebentar mas Wil. semoga senter Novi masih bisa digunakan mas”
Novi mengambil senter yang ada di tas ranselnya, kemudian dia menyerahkan senter itu kepadaku. Tetapi aku agak takut menyalakan senter ini.
“Kok nggak dinyalakan mas?” tanya Novi
“Nggak Nov, aku takut apabila yang aku lihat ini tidak sesuai dengan yang aku pikirkan”
“Iya Wil bener… gak usah nyalakan senter dulu, kita ikuti saja jalan ini, dan semoga kita sampai di tempat yang kita harapkan”
Gelap dan lengang…… semakin lama mataku bisa menyesuaikan dengan keadaan yang gelap gulita. Semakin aku bisa melihat meskipun tidak jelas sama sekali apa yang ada di sekeliling kami.
Aku semakin yakin jalan yang kami lalui ini sudah benar, karena tekstur jalan dan lebar jalan, dan semak belukar yang diselingi dengan pohon di kiri kanan jalan hampir sama dengan ketika aku, Ivon dan Gilank jalan kaki menuju ke pos.
“Wil…. kayaknya jalan yang kita tuju ini benar, tapi kita ke arah sebaliknya, kita sekarang ke arah desa”
“Iya Lank… aku juga rasa ini jalan yang benar, tapi kenapa tadi ada kuburan ya Lank, waktu itu kita jalan di sini kan tidak ada kuburan sama sekali”
“Nggak tau Wil, tak rasa waktu itu kayaknya kita sudah ada di dalam pengaruh sesuatu yang mengerikan” jawab Gilank
Jawaban GIlank sama dengan yang aku pikirkan, mungkin waktu itu kami dalam pengaruh sesuatu, tapi kenapa dan bagaimana bisa kami terpengaruh sesuatu itu.
__ADS_1
Sudahlah aku nggak akan berpikir ke sesuatu yang tidak bisa dipikir, nanti aja mikirnya dibagi bersama Gilank dan Novi. yang sedang aku pikir sekarang adalah apa yang harus kami lakukan setelah bertemu dengan pemukiman.
“Mas WIl, lihat di kejauhan itu kayaknya ada lampu-lampu rumah penduduk, semoga apa yang Novi lihat itu tidak salah mas”
“Iya… disana kayaknya ada lampu rumah penduduk, tapi aku kok rasanya agak gimana gitu kalau lihat ada pemukiman”
“Santai ae WIl, yang penting kita nggak masuk ke lembah mayit dan juga bukan di tempat tinggal pak Djati yang istrinya ada tiga…”.
“Eh kamu mosok gak mau sama pak Djati Nov… dia kayaknya kuat perkasa lho Nov heheheh” kata Gilank
“Iya mas Gilank, pak Djati memang kuat perkasa, tapi kan kalau sama perempuan dia kuat. Kalau sama Novi apa dia ya kuat mas…huf”
“Heh rek, jangan ngerasani pak Djati, aku jadi ingat apa yang dikatakan penjual rawon ghaib itu rek. Kita harus ke tempat pak Djati kalau ada apa-apa dengan teman kita atau kita, kita harus kembali ke tempat pakde Djati lho rek”
“Tapi gimana cara kembali ke sana mas WIl, sedangkan tempat pak Djati saja kita nggak tau, apakah itu ada di dunia yang sedang kita jalani atau ada di alam lain”
“Ngene ae lho Wil, gak usah pedulikan apa yang dikatakan mbah-mbah penjual rawon itu, pokoke yang penting kita bisa pulang dengan selamat dan tanpa ada kekurangan apapun” kata Gilank
Sebenarnya apa yang dikatakan GIlank itu ada benarnya, kita tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan penjual rawon itu, tetapi yang harus dilakukan adalah pulang dengan selamat saja.
Apakah aku harus menyelamatkan diriku sendiri dan pergi jauh dari kedua temanku. Tapi aku nggak tau harus kemana, karena pikiranku sudah dirusak, aku nggak tau mana yang nyata dan yang tidak nyata.
“Mas WIl sedang mikir apa, kita kan sebentar lagi sudah sampai di pemukiman penduduk mas”
“Nggak tau Nov, aku nggak bisa berpikir jernih, karena yang ada di kepalaku ini adalah keraguan, penuh dengan keraguan”
“Keraguan tentang dimana aku berada, keraguan tentang kamu dan Gilank, keraguan tentang diriku sendiri. Siapa aku, dan apakah aku ini nyata”
“Ingat apa yang dikatakan oleh penjual rawon itu Nov, dia berkata kita ini sudah mati, bau bangkai!”
“WIl gak usah mikir itu lagi Wil, sekali lagi aku dengar kamu ngomong kayak gitu, tak hajar kamu wil, biar bisa merasakan bahwa rasa sakit itu nyata!” sahut Gilank
“Lihat disana, lampu-lampu jalan dan rumah penduduk sudah mulai terlihat dengan jelas, yakinlah tujuan kita ini sudah benar Wil” lanjut Gilank lagi
Gilank yang sekarang beda dengan yang sebelumnya, dia sekarang lebih serius dan gak asal karepe dewe seperti biasanya.
__ADS_1
Tapi perubahan dia mungkin dikarenakan kita ada di tempat yang aneh seperti ini.
Semakin lama kami semakin dekat dengan pemukiman penduduk, lampu-penerangan jalan sudah jelas kelihatan, rumah penduduk juga sudah kelihatan atapnya.
Tapi semakin dekat dengan pemukiman aku semakin ragu, apakah benar itu pemukiman penduduk. Aku selalu takut kalau ada perkampungan aneh lagi.
Tapi yang di depan itu kayaknya nggak deh, karena sudah ada lampu penerangan jalan, yang artinya sudah ada aliran listrik disana.
Kami sudah semakin dekat dengan perkampungan penduduk, dan ternyata yang ada di depanku itu pemukiman mirip desa yang maju, tempat kami datang dan menginap di salah satu rumah penduduk yang merupakan kawan dari Broni.
“Itu desa tempat kita pertama kali datang mas Wil”
“Iya Nov benar apa yang kamu katakan, tapi apa ya sesepi ini Nov? Aku rasanya takut kalau liat pemukiman ada desa yang sepi seperti ini”
“Ini kan sudah malam Wil, penduduk desa jam segini ya sudah pada tidur lah hehehe” jawab Gilank
“Kita kemana ini mas Wil?”
“Gimana kalau kita lewati rumah yang waktu itu kita pernah nginap disini, aku penasaran dengan mobil yang kita sewa, masih ada disana atau nggak Nov”
Kami bertiga masih belum sepenuhnya masuk ke kawasan desa, tapi kalau disebut desa ya terlalu besar karena sudah modern, atau kita sebut kota kecil saja.
Kira-kira di depan kami dua puluh meter sudah ada lampu penerangan jalan. Yang mana artinya kami sudah ada di kawasan pemukiman penduduk.
“Mas, kita masuk dan cari orang yang jaga malam mas, kita tanya saja bagaimana caranya menuju ke terminal bus terdekat, Novi rasanya udah plong kalau bisa melihat bus dan kendaraan antar kota antar propinsi mas”
“Iya Nov, kita cari orang yang biasanya jaga malam dulu, semoga kita ketemu orang yang baik Nov”
Kami berjalan dengan semangat menuju ke arah pemukiman yang terang, karena lampu jalan yang ada di pemukiman penduduk itu.
Setelah berjalan beberapa puluh meter kedepan akhirnya kami sudah ada di pemukiman penduduk dengan rumah-rumah penduduk yang berjajar…
Sekarang aku dan kedua temanku mencari penjaga malam, agar kami tidak dianggap penyusup maupun maling.
“Mas…. seingat Novi di sana, dekat pasar ada pos yang dibangun oleh sebuah partai mas, apa mungkin disana itu juga pos penjagaan mas”
__ADS_1
“Oh iya Nov, aku baru ingat, ayo kita ke sana saja, pasti disana ada saja orang yang sedang berjaga”