TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 40. DESA YANG AGAK ANEH


__ADS_3

“Ngawur ae Wil.. mana ada orang yang beraktivitas nyangkul malam-malam gitu, mana dalam suhu udara sangat dingin disini” kata Broni


“Gini ae lho.. Ayo kita lihat ke sana habis ini… gak aku tok yang ihat Bron, Ivon juga lihat c*k”


“Halah Wil…omonganmu koyok silite pitik c*k hahahah” jawab Broni


Pagi ini aku ceritakan apa yang kulihat kepada teman-temanku setelah semalaman aku dan Novi tidak bisa tidur setelah melihat kegiatan orang sini yang malam-malam dingin dan berkabut sedang mencangkul sesuatu..


“Von..benar ta apa yang kamu lihat itu?” tanya Bondet


“Kalian berdua malam-malam gak tidur memangnya ngapain aja?” lanjut Bondet dengan pandangan curiga


“Gathel Ndet!... mbok kira aku sama Ivon ini kenthu kenthuan  c*k Matamu asyu!”


“Yo embuh Wil.. mosok aku ngerti kalian berdua ngapain ae, keadaan dingin, semua pada tidur….mosok cuman ngobrol ae heheheh.. Terus  sampek bisa lihat sesuatu  di luar sana”


“Zumpah mas Ndet.. masak gak percaya sama  Ivon?”


“Bukan gak percaya Von… tapi kan keadaan mendukung hihihihi” jawab Bondet


“Hehehe biar aja mas Wil.. mas Bondet biar aja dengan pikiran yang macam itu… baru tau juga Ivon, ternyata dengan lengan yang penuh tato, anak punk gini bisa baper juga hihihih” kata Ivon


“Sudahlah… Novi itu tau siapa Ivon mas Ndet, Novi juga tau siapa mas Wildan, mas Tifano,  mas Gilank, mas Broni dan  anak Sutopo yang lainya…jadi tubuhan mas Bondet itu gak berlaku di otak Novi!” bentak Novi


“Sudahlah rek… keadaan sudah pagi dan sudah terang, lebih baik kita ke rumah pak Dikan untuk sarapan, dan sekalian ke jembatan nunggu Gilank datang”


“Oh iya siapa yang mau buang air besar dan kecil, kita bisa pergi ke kamar mandi bareng-bareng ae” kata Broni


Akhirnya semua  pergi ke belakang  melalui pintu depan, karena pintu belakang tidak bisa dibuka sama sekali.


Pagi ini sudah ada cahaya matahari, tapi kabut tipis dan suhu udara yang dingin masih kerasan ada di sekitar sini, hanya saja  karena sudah ada sinar matahari, maka dinginya disini tidak sedingin tadi malam.


Kuperhatikan pekarangan belakang yang luas dan hanya ditanami beberapa tanaman saja.. Aku ingat semalam ada juga yang mencangkul di sekitar belakang sini, aku ingat juga ada yang menimba air dari dalam sumur juga.


Setelah aku lihat sekeliling ternyata sama sekali tidak ada tanah bekas cankulan, tanah disini tetap rata seperti ketika kami datang pertama kali.

__ADS_1


Aneh.. harusnya di sekitar sini ada bekas sesuatu yang dicangkul… tapi sekarang sama sekali tidak ada apa-apa.


Akhirnya kami sampai di bangunan yang merupakan kamar mandi dan tempat untuk buang air besar…


Kuperhatikan di sekitar sumur… tidak ada bekas air di lantai dan tanah sekitar sumur.. Bahkan ember untuk mengambil air dari dalam sumurnya pun masih kering dan tergeletak di bibir sumur.


Kesimpulannya tidak ada yang kesini dari semalam atau  bahkan berminggu-minggu atau sekian bulan… karena keadan ember kecil untuk menimba air sumur itu kering dan berdebu tebal.


“Rek ayo kita bersihkan keadaan kamar mandi ini dulu, kemudian kita penuhi bak mandi, agar kamar mandi ini bisa kita gunakan rek” kata Broni


“Wil..awakmu tadi bilang kalau semalam ada yang di sumur ini kan… buktinya mana Wil.. ember sumur ini kering dan berdebu” kata Broni


“Mbuh Bron, pokoknya semalam keadaanya seperti itu.. Aku dengar suara orang yang sedang menimba air dan membersihkan sesuatu disini”


“Hehehe Bron.. mana ada orang salah ngaku salah… mereka berdua wis  melakukan indehoy enyak enyak fu fu fu skidipap sewadikap di sini cuiih!” potong Bondet


Gak aku hiraukan apa yang dikatakan Bondet, aku tau dia suka sama Ivon, tapi ya gak gini juga kan, masak  aku dicurigai ada main sama Ivon ketika keadaan pada tidur semua.


Pintu kamar mandi dibuka.. Keadaan di alam tidak terlalu gelap, karena sebagian seng yang ada di atasnya sudah robek dan lubang lubang.


Letak WC ini tidak satu ruangan dengan kamar mandi, dan juga memiliki bak kecil untuk menampung air… keadaan WC ini sama kotornya dengan kamar mandi.


Kami bersihkan kamar mandi ini hingga benar-benar bersih, dan setelah itu kami isi kedua bak kamar mandi dan bak kecik di WC..


“Yang mau pakek kamar mandi silahkan  bergantian… “ kata Broni setelah semua sudah siap


“Brrrrr.. Mana ada yang mandi di hawa sedingin ini Bron hehehe, gendeng kamu iki Bron” kata Tifano


“Eh Novi mau buang air kecil dulu ya mas….” kata Novi tiba-tiba


“Ya wis sana Nov, sebenarnya aku pingin ngintip kamu Nov, apa bener kuntila kamu yang sebesar botol beer itu masih ada hihihihi”


“Jangan ngintip mas…hihihi lebih baik masuk di dalam sini aja, biar tau sekalian mas hihihi”


“Matamu Nov hehehe.. Sana captain, setelah itu kita ke rumah pak Dikan” kata Broni

__ADS_1


Pak Dikan ternyata orangnya mudah untuk melupakan sesuatu, kemarin ketika aku tanya tentang foto itu dia kan sempat marah, tetapi pagi ini dia sudah biasa lagi, dan tidak nampak emosi sama sekali.


Apa yang kami makan untuk pagi ini sama dengan yang semalam, hanya saja untuk pagi ini  istri pak Dikan membuat semacam sop, tapi isinya daging dan lemak yang besar ukuranya.


“Setelah ini kalian akan saya ajak berkeliling desa, untuk melihat keadaan desa ini… penduduk desa ini hanya sedikit, hanya ada sepuluh kepala keluarga saja, dan ada tiga puluh penduduk…” jelas pak Dikan sambil menggigit lemak yang cukup besar


“Pak…nanti kami harus mencari teman kami Gilank yang ketinggalan”


“Oh iya… eh kalian tunggu saja di jembatan sana, nanti kan dia akan diantar ojek ke desa ini, nanti kalau teman kalian sudah datang, kita bisa keliling desa, dan akan saya tunjukan tempat-tempat di desa ini yang bisa kalian datangi.


Kenyang dan kenyang.. Hanya itu yang bisa dikatakan, makanan daging yang sangat berlemak, tetapi dengan rasa daging yang agak terlalu bau….lebih tepatnya agak hambar meskipun ukuran potongan itu besar-besar.


“Eh rek gini aja.. Aku yang nunggu Gilank di jembatan, sedangkan kalian ikut pak Dikan jalan-jalan” usulku


“Ya sudah  kalau begitu, mas Wildan menunggu temanya di Jembatan…. Kita jalan-jalan di  desa ini”


“Eh Novi ikut nemenin mas WIldan aja boleh kan” kata Novi


“Ya gak papa Nov, ayo kita berangkat sekarang aja ke jembatan  sana”


Ivon melihat ke arahku, aku tau dia pasti ingin ikut bersama aku dan Novi, tapi kayaknya Ivon gak mau kalau Bondet berprasangka yang nggak nggak lagi.


Ivon pasti menjaga situasi kami agar tetap kompak dan kondusif agar tidak ada bentrok diantar kami.


Aku dan Novi pamit menuju ke jembatan untuk menjemput Gilank


Kami berjalan dengan santai di pagi  yang berkabut dan dingin… beberapa rumah warga masih tertutup rapat, tapi ada juga yang sudah dalam keadaan terbuka  baik jendela atau pintunya meskipun masih terlihat kosong.


Aku dan Novo melewati rumah yang kemarin aku lewati dan ada ibu ibu dengan seorang anak di depan rumah, dan sekarang pun sama seperti kemarin, ada ibu dan anak di dalam halaman rumah… mereka tersenyum.. Tapi senyum mereka lebih ke arah menyeringai.


Kemudian kami melewati sebuah rumah yang dalam mimpiku adalah rumah tempat pakaian bekas dan rambut yang aneh… di depan rumah itu juga ada perempuan… dan dia juga tersenyum menyeringai ke arahku juga.


“Mas… penduduk disini kok aneh ya.. Novi serem mas liatnya”


“Udah jangan dilihat Nov, pokoknya jalan biasa saja dan jangan berinteraksi dengan mereka… aku juga merasa ada yang aneh dengan penduduk disini”

__ADS_1


__ADS_2