TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 09. RUMAH PAK SAPUDI


__ADS_3

Ternyata memang manusia…. Tadi aku sempat berpikiran kalau yang ada di depan itu jadi jadian yang embuhlah, tapi ternyata dia manusia yang mungkin sedang menjaga desa ini.


Untungnya dari jauh aku sigap melihat kaki orang itu, dan ternyata kaki dengan sandal jepit model swallow itu benar-benar manusia.


Orang itu menghadap ke arah kami yang datang ke padanya beramai ramai, tapi dia tidak menghampiri kami, dia hanya berdiri di sebuah bangunan yang mirip dengan pos penjagaan.


Orang yang memakai jaket tebal dan sarung itu hanya diam ketika kami makin mendekat ke arahnya.


“Selamat malam pak…” sapa Broni


“Iya.. kalian siapa dan sedang apa disini?” jawab orang berjaket tebal itu


“Eh kami dari kota S di jawa timur, dan eh mobil kami terjepit di antara pohon-pohon tengah hutan sana…” kata Broni


“Eh tujuan kami kesini sebenarnya  eh …….”


“Maaf pak.. Teman saya sedang kedinginan dan otaknya agak kram karena hawa dingin ini.. Eh saya mau ke rumah kepala desa atau pengurus desa ini dulu pak” kupotong omongan Broni yang bertele tele tadi.


“Apakah bapak bisa menunjukan rumah kepada desa atau yang bertanggung jawab untuk desa ini?”


“Hmmm pak Sapudi….ayo saya antar ke sana….” kata orang itu sambil menghembuskan rokoknya yang baunya agak aneh


Rokok yang dihisap orang itu berbeda dengan rokok yang biasa temanku hisap, eh baunya itu kayak ada aroma kemenyannya gitu.


Tapi setahuku kalau di jawa tengah khususnya di daerah dingin orang-orang menghisap rokok yang namanya rokok klembak menyan, dan baunya kayaknya ya seperti ini.


Dan minum khas mereka yang tinggal di udara dingin, kalau gak salah namanya Purwaceng.. Baunya juga khas. Yang aku tau minuman itu ada di daerah tinggi Dieng, tapi nggak tau lagi disini ada atau nggak minuman itu.


“Panggil saya pak Min… kebetulan saya sedang jaga malam disini”


“Kalian ini dari mana, dan kenapa ada di desa ini?” tanya orang yang bernama pak Min itu


“Kami ini sedang dalam kegiatan rutin partai untuk memberikan sedikit bantuan dan mendata daerah terpencil yang masih tersebar di jawa tengah ini pak” jawab Broni yang mulai menunjukan taringnya sebagai oknum penjilat dari sebuah partai.


“Hehehe desa ini belum pernah mendapat bantuan dari manapun, nanti kalian bisa bicara dengan pak Sapudi saja” kata pak Min


“Pak Sapudi itu siapa pak, kalau saya boleh tau?” tanya Broni yang masih dengan nada bicara seperti nada bicara pejabat-pejabat pemerintahan apabila sedang di sebuah daerah pemukiman


“Sudahlah.. Ikuti saya saja” kata orang yang bernama pak Min tanpa melihat ke arah Broni.

__ADS_1


Ternyata rumah pak Sapudi tidak jauh, hanya saja tidak di pinggir jalan desa, rumah itu agak masuk ke area yang mungkin bisa disebut setengah hutan.


Area yang gelap hanya ada satu obor di pagar bambu yang menerangi depan rumah kayu dengan atap unik dan khas.


“Tunggu dulu, saya panggilnya dulu Sapudi” kata pak Min yang kemudian mengetuk pintu rumah tanpa jendela milik orang yang bernama Sapudi


Beberapa kali pak Min mengetuk pintu dan memanggil nama Sapudi..


Ini kan tengah malam dan jam segini apalagi di desa dengan suhu udara yang sangat dingin mana ada orang yang mau keluar.


Tapi tidak lama kemudian pintu kayu rumah yang tidak ada jendela kaca  itu terbuka….


“Ngopo to pak Min, bengi bengi kok namu ( ada apa sih pak Min, malam malam kok bertamu)?” tanya orang yang berperawakan kurus dan berkumis dengan jaket agak lusuh yang berdiri di ambang pintu


“Ini pak Di.. ada orang dari kota yang tersesat dan mencari tempat tinggal” kata pak Min


Pak Sapudi melihat kami satu persatu yang gemetar kedinginan, kemudian dia ijin masuk sebentar untuk mengambil sesuatu dari dalam rumahnya.


Tidak ada dua menit dia sudah keluar lagi….dengan sebuah obor yang terbuat dari bambu yang masih belum dinyalakan. Kemudian dia menyalakan obor itu sebentar..


“Ayo ikut saya, untuk sementara ini kalian saya tampung di rumah saya yang satunya. Besok kalian harus jelaskan kepada saya maksud kedatangan kalian disini”


Tanpa banyak bicara pak Sapudi mengajak kami ke sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah pak Sapudi, rumah kosong yang letaknya mungkin sekitar  dua puluh meter dari rumah pak Sapudi.


Obor yang dia bawa tadi, dia letakan di depan tempat untuk menaruh obor yang ada di pagar rumah begitu saja.


Sebuah rumah yang modelnya sama saja dengan rumah yang ada disini, terbuat dari kayu yang disusun, tanpa jendela kaca, yang ada hanya jendela dari kayu yang tertutup rapat, dan tentu saja dengan atap yang khas juga.


Setelah dia cek  keadaan dalam rumah, setelah dia rasa rumah ini aman, dia meninggalkan kami, dia pergi begitu saja bersama orang  yang bernama pak Min itu.


Tinggal kami bertujuh yang bingung dengan keadaan rumah yang gelap gulita dengan hanya satu obor di depan rumah di atas pagar bambu.


Kami bertujuh masih ada di depan rumah pak sapudi yang keadaanya gelap, karena di dalam rumah itu sama sekali tidak ada penerangan.


“Eh…ayo masuk rek” ajak Broni


“Kamu dulu ae Bron… kamu cek keadaan di dalam, kamu kan yang bawa senternya Ivon”


“Hehehe iya Wil… Lank ayo temeni aku ke dalam rumah ini”

__ADS_1


“Maap Bron… tiba-tiba kakiku kram hihihi, aku gak bisa bergerak sama sekali hihihi”


“Awas lho yo Lank… kita di daerah asing… omonganmu dijaga lho yo” kata Bondet


Aku tersenyum mendengar omongan Bondet yang mungkin sekarang dalam keadaan takut.


Ketika Broni akan masuk rumah untuk melihat keadaan di dalam rumah…. aku dengar suara tercekat orang yang mengaduh.


“C****k.. Tulung aku argh… kaki kiriku kram c*k..gak bisa digerakan iki” kata Gilank dengan suara lirih


“Heh mas .. dijaga mulutnya!... jangan misah misuh disini” tegur Ivon


“Wis biar aja Von.. biar dia dikutuk jadi taek disini hihihihi” sahut Bondet


“Eh mas Bondet ini gak boleh gitu sama teman mas, meskipun dia itu gak guna dan jadi beban siapapun yang dekat dengan dia, tetapi dia tetap manusia mas”


Broni keluar dari dalam rumah pak Sapudi setelah tadi dia melihat bagian dalam rumah sebelum kita semua masuk ke dalam.


“Ayo masuk rek.. Aman di dalam sini, di dalam jauh lebih hangat dari pada di luar rek” kata Broni setelah masuk ke dalam rumah


“Hmm benar mas Bron… udara yang keluar dari dalam lebih hangat dari pada luar sini,  makanya tiap rumah disini tidak menggunakan jendela dan tidak ada pula ventilasi udaranya… “ kata Novi


“Yang penting kita gak mati kedinginan rek” balas Tifano


“Brooon tulung aku Bron…tadi aku cuma guyonan saja Bron…maaf Bron” kata Gilank memelas


Rumah kosong ini memang sangat membantu kami, tapi aku merasa aneh semenjak menginjakan kaki di  tempat yang katanya desa ini, eh bukan di jalanya…. Tapi ketika masuk ke pekarangan rumah pak Sapudi dan pekarangan rumah kosong ini.


Tiap aku melangkah, tanah yang aku injak ini agak ambles, maksudku tanah di pekarangan ini kurang padat. Jadi agak ambles gitu kalau aku injak.


Gilank perlahan lahan bisa menggerakan kakinya yang tadi sempat kram, mungkin karena dia hanya memakai celana tiga perempat saja, sehingga kakinya kedinginan.


Sebelum aku masuk… aku sempat mengucapkan assalamualaikum kemudian aku lanjutkan dengan membaca al fatihah dalam hati, dan tiba-tiba tubuhku terasa hangat dan dadaku agak gemetar gitu.


Ah masak iya sih kalau mau menghangatkan badan disini cukup dengan mengucapkan kalimat salam  dan surat alfatihah saja hehehe.


Aku masih ada di depan pintu rumah dan mengamati sekeliling rumah… kabut tipis masih saja membayang di sekitar sini… aneh juga sih sebenarnya .. seolah kabut tipis itu tidak bergerak sama sekali.


Tapi… ehhm ada yang sedikit aneh… dari sudut mataku aku seolah melihat sesuatu.. Eh bukan sesuatu tapi sesosok manusia yang berdiri, sosok yang berdiri di antara kabut yang masih menggantung.

__ADS_1


Tapi ketika aku toleh tidak ada siapapun disana… sosok itu hanya terlihat melalui sudut mataku saja.


“Will.. obor yang ada di depan itu bawa sini kalau kamu mau masuk ya” teriak Broni dari dalam rumah


__ADS_2