TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 48. AKU ADA DI MANA!


__ADS_3

“Bron, coba kamu kesini sebentar…”


“Sudahlah WIl.. bawa aja apa yang ada disana.. Gak usah banyak bicara c*k!


Wah omongan Broni makin gak enak, dia sudah mulai jadi raja disini… aku gak bisa nuruti perintah dia… !


Lagipula di depanku ini banyak tumpukan baju. Tumpukan baju yang mirip dengan mimpiku, aku tau kelanjutan dari pola yang aku ikuti ini.


Lebih baik aku bicara dengan Tifano atau Novi  saja…..


Aku keluar dari kamar yang penuh dengan pakaian bekas, Broni yang sekarang sudah main perintah melebarkan matanya  ketika melihat aku keluar dari kamar ini.


“Heh.. apa di dalam kamar itu gak ada tikar atau sejenisnya WI!” kata Broni dengan suara yang keras


“Liatan dewe ae Bron.. kamu sekarang sudah mulai bentak-bentak dan main perintah c*k!... aku mau cari GIlank dan Bondet!”


“Gak usah dicari.. Mereka berdua pasti sedang berteduh di suatau tempat, gak usah cari mereka berdua c*k!” teriak Broni


Aku tidak pedulikan omongan Broni, aku berjalan menuju ke pintu keluar…. Di luar rumah tinggal rintik rintik hujan saja, tetapi kabut masih cukup tebal.


Aku sudah gak peduli lagi dengan omongan Broni lagi…


“Wil.. kamu mau ke mana?” tanya TIfano


“Cari Gilank dan Bondet Tif… jangan sampai ada apa-apa dengan mereka berdua. Lagi pula semenjak kemarin aku dapat masalah dengan urusan kamar mandi, aku wis gak diharapkan Broni disini hihihihi”


“Tif..! gak usah ikut campur masalah Wildan, dia itu sumber kesialan kita disini!” kata Broni lagi


Aku tidak menjawab perkataan Broni, aku makin mantap untuk keluar  mencari Gilank dan Bondet.


“Mas Wil.. Novi ikut mas”


“Gak usah Nov, kamu disini sama Broni aja, biar aku yang cari sendiri, lagi pula aku kan sudah gak dianggap sama Broni lagi Nov”


“Biarin mas Wil, ayo kita cari mas Gilang dan mas Bondet”

__ADS_1


Broni hanya diam saja ketika aku dan Novi pergi meninggalkan rumah, Broni bersama Tifano dan Ivon. Sekarang kami terpecah menjadi tiga bagian…


Aku dan Novi, Gilank dan Bondet yang entah ada dimana, dan Broni, Ivon, dan Tifano yang masih ada di dalam rumah.


Di luar masih gerimis dan berkabut dingin, untungnya Novi selalu membawa dan memakai topi kesayangannya sehingga kepala dia terhindar  dari hujan.


“Kita kemana mas Wil.. kabut disini pekat sekali.. Rumah di depan kita aja gak keliatan mas?”


“Aku gak tau Nov, tapi sepertinya ada yang menuntun langkahku.. Kayak ada sesuatu yang menyuruhku untuk berjalan mendekati batu bertumpuk yang ada di tengah lahan mirip lapangan itu”


Novi menggandeng tanganku…


Janc*k  tentu saja aku risih\, kalau dia waktu dulu masih berbentuk perempuan\, mungkin aku gak risih sama sekali\, lha sekarang dia sudah berkumis dan berjanggut tipis c*k.


Aku berjalan terus… kakiku sepertinya ada yang menyuruh untuk tetap berjalan mendekati lahan  yang tengahnya ada batunya itu.


Ketika kami sudah dekat dengan tempat yang dimaksud… kabut tebal berangsur-angsur menghilang, dan menyisakan kabut yang tidak terlalu tipis.


Tetapi anehnya ketika kabut ini mulai pudar, suhu udara disini semakin dingin, aku bisa merasakan adanya perubahan suhu udara ketika tadi hujan dengan keadaan sekarang


Tetapi….


“I..iya Nov…”


Aku dan Novi mematung di depan tanah lapang yang di tengahnya ada  batu batu yang bertumpuk…di sana ada sesuatu yang mengerikan.


Tanah itu penuh dengan mayat-mayat yang sebagian besar sudah membusuk… mayat itu dalam keadaan thelanjang…


Mayat yang sangat banyak dan ada beberapa yang ditumpuk begitu saja di bawah mayat yang lainya.


Novi memegang erat pergelangan tanganku.. Dan dia tidak berkata apa-apa sama sekali.


Anehnya meskipun di tanah lapang itu banyak mayat, tapi aku belum mencium bau busuk sama sekali.


“K..kita ada dimana mas?”

__ADS_1


“A..aku juga gak tau Nov, tapi disini dingin sekali Nov.. a..ayo kita balik ke Broni dan yang lainya Nov”


Ketika aku balikan badan….


Kabut tebal ada di belakang kami.. Sangat tebal, sehingga siang  menjelang sore  hari ini sama sekali tidak terlihat apapun di balik kabut.


Sepertinya kabut itu mengepung kami berdua agar tidak pergi dari tempat ini.


Suhu udara semakin dingin, jaket berbahan parasut bagian luar dan kain tebal bagian dalamnya tidak mampu menahan dingin  sama sekali.


“Mas.. kenapa makin dingin disini?” bisik Novi’


“Aku juga nggak tau Nov, tapi untungnya hujan sudah berhenti, tapi… tapi kita ada di lapangan mayat Nov.. apa yang harus aku lakukan Nov?”


“Kita terjang kabut itu saja mas… kita harus pergi dari lapangan mayat ini mas.


Aku dan Novi menatap kabut yang masih menggumpal pekat di depan kami… kugandeng Novi untuk menembus kabut.


Kami berdua sudah satu langkah di dalam kabut….


Janc*k..kurang ajar….dingin sekali…..


Tiba-tiba aku sesak nafas… aku tidak bisa bernafas sama sekali…!


“Mas.. Novi gak bisa bernafas… disini gak ada udaranya mas!” bisik Novi setengah berteriak


Asyuuuu!.. Gila benar….!


Di dalam kabut ini gak ada oksigen atau memang kabut ini terlalu pekat sehingga paru-paruku kami tidak mampu memproses oksigen yang ada di dalam kabut.


Dengan sisa udara yang ada di paru-paru, kutahan nafas selama mungkin, kemudian kutarik mundur Novi agar keluar dari kabut!


“Wuiih…. untung kita tidak masuk terlalu dalam Nov, bisa bisa kita tersesat dan gak bisa keluar dari sana dan kita akan mati di dalam kabut ini”


“Kita harus ke mana mas?”

__ADS_1


“Embuh Nov.. coba kamu perhatikan daerah yang tidak ada kabutnya.. Hanya lapangan di depan kita dan disana itu yang tertutup ilalang dan pohon”


“Yang disana itu kan danau mas.. Danau yang tidak boleh didatangi siapapun”


__ADS_2