
“Kita sekarang ada di lembah mayit, sebuah lembah dengan satu desa yang seluruh penduduknya mati karena penyebab yang tidak diketahui” kata pak Kus
“Lembah mayit yang sebenarnya ini tidak diketahui oleh penduduk desa yang disana itu, mereka taunya lembah asri atau desa lembah asri, tetapi mungkin ada beberapa orang yang sudah tua yang tau tentang lebah mayit ini”
Aku semakin gak paham dengan perkataan pak Kus ini, otakku nggak sampai kalau harus mencerna apa yang dikatakan pak Kus ini. Aku juga belum tau pak Kus ini apa dan siapa dia.
“Ck, saya yakin kalian tidak paham apa yang saya katakan, tapi nanti malam kalian akan paham apa yang akan kita lawan, disini saya akan mencari teman saya yang masih ketinggalan , begitu juga dengan kalian”
“Jadi nanti malam kita harus bunuh siapapun yang ada di depan kita, ingat siapapun dan jangan tertipu dengan wajah-wajah dari orang yang kalian sayangi atau teman kalian”
Tidak ada yang merespon omongan pak Kusno, aku bahkan sudah tidak bisa menyimak yang pak Kusno katakan, karena sekarang perutku sangat lapar.
“Mumpung masih siang gini, lebih baik kita cari umbi umbian di hutan sana dulu untuk makan kita, jangan cari umbian di desa ini, karena tanah disini itu penuh dengan mayat!”
“Kita cari umbi umbian dimana pak, hutan mana pak?” tanya Novi
“Ayo ikuti saya, saya tau tempat yang aman untuk mencari makanan yang tidak terinfeksi daging busuk dari mayat yang ada di dalam tanah ini”
“Bapak kok tau dimana tempat yang ada mayatnya dan mana yang tidak ada mayatnya pak”
“Nanti kalian akan tau sendiri mas Wildan, nanti mas WIldan, mbak Novi, dan mbak Ivon akan tau apa yang ada disini, waktu keadaan gelap semua akan terbalik dan kalian akan tau yang sebenarnya”
“Eh gini saja agar aman, kita jangan ada di rumah ini hingga gelap tiba, kita pergi dari sini, cari tempat yang aman, kita tunggu malam tiba disana”
“Ayo kita pergi dari sini saja. Saya tau tempat yang aman dan disana juga ada umbi yang bisa kita makan, kita akan dirikan api unggun disana juga”
Siang hari kami berjalan keluar dari rumah yang mengerikan ini, kami menuju ke arah ketika kami tadi datang, ke arah sungai tempat kami tadi menyeberang.
Tetapi tidak sampai ke sungai sekitar setengah perjalanan kami berhenti, kemudian pak Kus mengajak kami menuju ke pohon-pohon yang ada di sekitar sini.
Kabut siang hari ini masih saja menghambat penglihatan kami, perjalan masuk ke hutan sekitar tiga menit kemudian kami sampai di sebuah tanah lapang.
__ADS_1
Tanah lapang yang tidak terlalu besar mungkin berdiameter sekitar lima meter saja.
“Disini kita tunggu hingga malam tiba, kita cari kayu bakar dulu, saya ingat saya pernah meninggalkan kayu bakar disana, di dekat semak semak sana, semoga masih ada dan tidak hilang”
Aku menuju ke arah tempat yang ditunjuk oleh pak Kus, dan ternyata benar, disana ada beberapa kayu dari dahan yang sebagian kering dan sebagian basah.
Aku nggak tau kenapa pak Kus menyimpan kayu disana, apakah memang dia menyimpan persediaan ketika dia balik ke sini lagi atau gimana entahlah.
Aku sedang malas untuk berpikir yang agak berat!
“Ini pak Kayunya.. Ditaruh mana pak”
“Disini saja mas, dan kemudian buatkan api unggung, saya akan cabut umbi-umbian yang ada di sana dulu, kalian tunggu disini saja buatkan api untuk membakar umbi” kata pak Kus
“Mas Wil..ikut pak Kus sana, Biar Novi dan Ivon aja yang buat apinya” kata Novi yang kelihatan ketakutan
“Ya sudah ayo mas Wildan, kita cari yang banyak sekalian, karena kita tidak tau akan ada disini sampai berapa lama”
Siang hari yang berkabut , dan sinar matahari yang terhalang awan membuat suasana disini makin nggak enak untuk dirasakan. Harusnya suasana gini ini sangat menyenangkan karena hawa dingin berkabut dan sinar matahari yang tidak terlalu panas.
“Kita cabut saja dua pohon mas, karena dua pohon itu sudah cukup untuk beberapa hari disini”
“Memangnya kita akan lama ada disini pak?”
“Saya tidak tau mas, bisa lama bisa tidak, makanya disana saya simpan kayu bakar, karena dulu saya ada disini sampai beberapa hari dengan suhu udara yang sangat dingin”
“Kenapa kita tidak tinggal di rumah yang tadi saja pak?”
“Sebenarnya tidak apa tinggal disana, saya juga tinggal disana ketika tidak kuat dengan udara dingin disini, tapi untuk hari pertama lebih baik disini dulu saja mas”
Sore hari yang sangat dingin dengan api unggung yang sudah nyala, kami menunggu hingga malam hari tiba. Aku sebenarnya takut juga, tapi mau gimana lagi, terpaksa ada disini.
__ADS_1
“Sebentar lagi hari akan gelap, ada baiknya kita ke sana agar kalian bisa tau apa yang terjadi disana ketika hari sudah berubah gelap”
“Pak Kus, kalau seumpama ada sesuatu yang terjadi dengan kita, kita sebaiknya lari ke arah mana?”
“Kembali ke sini, kita berkumpul disini. Saya tidak tau kenapa mereka tidak ada yang berani ke tanah ini”
“Pengalaman saya sebelumnya seperti itu, ketika ada yang mengejar saya, kemudian saya lari ke sini, dan yang mengejar akhirnya kembali ke desa lembah mayit lagi”
Hari makin gelap, dan pak Kus sudah memberi signal untuk mematikan api unggun dan kita kembali lagi ke desa lembah Mayit.
Tidak ada pembicaraan sama sekali ketika kami berjalan di gelapnya malam. Tapi untungnya masih ada cahaya bulan di sekitar sini, sehingga kami masih bisa melihat sekitarnya.
“Stop disini dulu!” bisik pak Kus
“Kita sudah dekat dengan rumah yang tadi kita masuki, perhatikan apa yang berubah disana, dan apa yang berbeda dengan ketika tadi siang kita ke sana”
Aneh, dan jalan yang ke arah desa keadaanya seperti keadaan sawah ketika akan ditanami padi. Seperti sawah yang dibajak sebelum ditanam padi.
Jalan desa yang tadi kami lewati sudah tidak ada, di depan kami hanya tanah yang berantakan, seperti habis dibajak.
“Lihat jalan yang tadi kita lewati itu, tanah disana sudah terbuka semua dan berantakan. Setelah ini kalian akan melihat sesuatu yang mengerikan”
“Dan hal ini akan berualang terus setiap hari, seakan waktu berhenti begitu saja disini apabila malam tiba”
“Perhatikan sebentar lagi, dan nanti setelah semua selesai, kita akan jalan ke sana dan membunuh yang kita temui”
“Bunuhnya gimana caranya pak?” tanya Novi
“Rumah yang kita datangi tadi, disana dulu saya masih simpan beberapa barang yang saya gunakan untuk membunuh mereka”
Ternyata yang dikatakan pak Kus ini ada benarnya, tidak lama kemudian di tanah-tanah yang terbuka itu entah gimana tiba-tiba banyak mayat di atasnya.
__ADS_1
Banyak sekali mayat yang tiba-tiba muncul begitu saja, ya muncul saja bukan dari mana atau jalan kayak zombie atau apa, tiba-tiba muncul saja seperti matahari muncul di pagi hari.
Setelah mayat yang bermunculan dengan tiba-tiba, sekarang bau bangkai mulai tercium juga, perlahan-lahan bau itu semakin tajam.