TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 108. MASUK KE DALAM DESA


__ADS_3

Sampai sekarang aku belum bisa melihat sungai yang dimaksud pak Kus, aku belum tahu apa yang ada didepan kami karena di depan kami penuh dengan semak belukar dan gelap.


Perasaanku pun semakin tidak enak dengan apa yang ada di sekitar sini, pak Kus selalu mengajak kami ke arah yang tidak pernah aku alami ketika aku dan temanku ada disini.. Semua rasanya berbeda dan tidak sama dengan ketika kami ada disini sebelumnya.


Pak Kus berjalan ke dalam semak belukar, aku bingung apakah aku ikut atau tidak, karena di depan kami ini adalah semak belukar, aku belum melihat keberadaan sungai disana.


Suara aliran sungai saja aku tidak mendengarnya hingga sekarang..


“Mas Wil, kita nggak ikuti pak Kus?” tanya Novi


“Eh aku kok ragu ya Nov, aku nggak berani masuk ke semak belukar itu, takutnya disana ada apa-apa Nov”


Pak Kus tidak menoleh atau mengajak kami lagi, dia berjalan sendirian menembus semak semak yang ada di depan kami. Dia berjalan tanpa menoleh sama sekali.


Aneh, aku bahkan tidak mendengar suara kresek kresek daun semak belukar yang dinjak dan terkena tubuh pak kusno.


“Stop Nov Von… ada yang gak beres ini…”


“Ada apa mas?”


“Nggak tau kenapa aku kok merasa bahwa kita masuk ke dalam jebakan”


“Jebakan apa mas Wil?”tanya Ivon


“Aku nggak tau, kalian apa tidak merasakan sesuatu yang mulai aneh disini?”


“Novi nggak merasakan apa-apa mas, nggak tau Ivon” jawab Novi


“Saya tidak merasakan apapun juga mas Wil. tapi apa mas WIldan nggak mau lihat apa yang ada di balik semak belukar itu?” tanya Ivon

__ADS_1


“Aku nggak berani, aku nggak punya nyali untuk masuk ke sana Von, aku takut kalau di dalam sana ada sesuatu yang diluar perkiraanku”


“Aku kok curiga dengan pak Kus, dia tidak menunggu kita, dia begitu saja masuk ke dalam semak belukar itu”


“Jangan buruk sangka dulu mas, kita sudah ada disini mas, dan kita sudah terlanjur datang bersama pak Kus, dan bisa saja pak Kus sedang mencari jalan yang terbaik untuk kita” ujar Ivon


“Terus kamu ada ide apa Von?”


“Ya kita tetap jalan kedepan mas, eh kita tunggu beberapa menit dulu aja mas, tunggu pak Kus datang, setelah dia mungkin  menyadari kalau kita tidak ikut bersama dia mas”


Benar apa ya yang dikatakan Ivon, apakah karena aku terlalu takut sehingga aku selalu berpikiran buruk tentang apa yang ada disini, jadi lebih baik menunggu pak Kus datang dulu saja.


Setelah beberapa menit menunggu, ternyata benar yang diucapkan Ivon, pak Kus muncul dari semak-semak dimana dia pergi tadi.


“Kalian ternyata masih disini, kenapa tadi tidak ikuti saya dari belakang?” kata pak Kus  agak kesal


“Eh tadi kami ragu untuk masuk ke dalam sana pak, karena bapak tiba-tiba meninggalkan kami tanpa bilang apa-apa”


“Sekarang kita masuk ke semak-semak itu, dibalik semak itu keadaan sungai sedang surut, jadi kita bisa lewati bebatuan yang ada disana, ayo cepat keburu sungainya meluap lagi”


“Ok pak…, ayo Nov, Von. kita ikuti pak Kus”


Ternyata apa yang aku pikirkan ini salah, ketika kami masuk ke dalam semak belukar, di baliknya sudah lahan kosong yang berupa rumput pendek.


Pantas saja tadi aku tidak mendengar suara langkah kaki pak Kus yang menginjak semak belukar, lha wong ternyata semak ini tidak sebanyak yang aku bayangkan sebelumnya.


Tapi tetap ada yang aneh bagiku. Langit di atas kami, di atas sungai ini mendung gelap,  seakan akan bakal terjadi hujan deras, padahal tadi waktu kami datang dengan mobil, sama sekali tidak ada awan.


“Ayo cepat, saya rasa di hulu sana sedang hujan deras, sebentar lagi pasti sungai ini akan meluap” kata pak Kus yang sudah berjalan ditengah sungai yang sedang surut

__ADS_1


Ya cukup aneh bagiku, sungai ini begitu surutnya sehingga batu batu yang ada di dasarnya terlihat semua, mungkin air yang ada disini hanya setinggi mata kaki saja.


Aku Ivon dan Novi mengikuti jalan yang dilalui pak Kus, setelah kami sampai di seberang dengan selamat, hujan pun turun, dan debit air sungai mulai berdatangan dari arah hulu.


Tidak perlu waktu lama sungai yang awalnya hampir tidak ada airnya ini mulai penuh, air bah yang datang dari arah hulu membawa berbagi material seperti batang pohon, ranting dll.


“Sungai itu sudah melupa, kita tidak bisa kembali kesana lagi, kita harus cari tempat untuk berteduh” kata pak Kus


“Di sana tidak jauh dari sini ada tempat untuk berteduh, kaliah harus tahan udara yang sangat dingin, nanti di rumah yang akan kita datangi ada  tungku apinya” ujar pak Kus lagi


Aku ingat ketika aku dan Novi ada disini, sungai itu selalu meluap, aku tidak bisa pergi dari sini karena sungai itu tidak bisa surut.


Tetapi aneh juga hari ini sungai itu dalam keadaan surut, sangat surut hingga kita bisa melewatinya dengan tenang, tapi tidak ada sepuluh menit, sungai itu sudah meluap lagi.


Sangat aneh bagiku.


Jalan yang kami tempuh ini berupa jalan setapak yang sangat licin, dan kayaknya jalan ini tidak pernah atau sangat jarang digunakan oleh orang.


Tapi pak Kus seolah paham dengan jalan setapak ini, dia jalan dengan tenang dalam keadaan guyuran hujan yang sekarang hanya rintik rintik saja.


“Di depan mulai muncul kabut tebal, kita harus bergandengan tangan” ujar pak Kus


Kami saling mendekat dan bergandengan tangan. Pak Kus, Ivon, Novi , dan terakhir aku. Kemudian kami berjalan menembus kabut tebal yang kayaknya pernah kami alami sebelumnya.


“Dimana letak rumah itu pak?” tanya Ivon


“Tidak jauh dari sini mbak. Nanti kita akan gabung dengan jalan utama desa mbak. Tadi kita memang sengaja tidak lewat jembatan yang membawa sial!”


“Apabila ada orang asing yang lewat jembatan itu, maka selanjutnya dipastikan dia  tidak akan bisa pergi meninggalkan desa ini. Makanya tadi saya cari jalan yang  tidak melewati jembatan itu” jawab pak Kus

__ADS_1


Aku bisa mengira rumah yang akan dituju adalah rumah ketika aku dan Novi sedang berteduh, rumah yang di depannya ada mayat yang sedang duduk, tapi itu kan dulu, mungkin beda dengan sekarang.


__ADS_2