TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 20. RASANYA BANYAK AKTIVITAS DISINI


__ADS_3

kuanggukkan kepala tanda aku setuju Ivon membuka pintu sekarang.


Hujan  rintik-rintik masih turun, tapi aku jelas sekali mendengar suara langkah kaki…


Perlahan-lahan Ivon membuka pintu rumah sedikit , perlahan lahan dia memiringkan kepalanya untuk mengintip apa yang ada di luar sana.


Tapi hanya sebentar, karena sebentar kemudian dia menutup pintu, kemudian dia menoleh ke arahku dan arah Novi sambil menutup mulutnya….


“Ada apa Von?” tanya Novi


Ivon tidak langsung menjawab…. Dia berjalan pelan ke arahku dan Novi berada.


“Di luar kosong, gelap, dan hujan. Tidak ada siapapun di luar sana!”


“Tidak ada seorangpun yang ada di luar yang sedang jalan baik sendirian maupun ramai-ramai” bisik Ivon dengan suara agak gemetar


“Yah anggap saja kita tadi  salah dengar saja Von, yang kita dengar suara air hujan yang mengenai atap rumah atau apa apapun yang ada di luar sana” kata Novi yang berusaha menetralisir keadaan


“Iya Von…. betul Novi… mungkin yang kita dengar itu tetesan air hujan yang mengenai bidang sesuatu dan mengakibatkan mirip dengan suara orang yang sedang berjalan.


Aku membenarkan perkataan Novi agar keadaan tidak bertambah runyam, tapi aku tadi tau persis apabila yang aku dengar itu benar-benar suara orang yang sedang berjalan, bukan tetesan air hujan yang mengenai sesuatu disini.


Saat ini suara itu sudah tidak terdengar lagi, mulai ketika Ivon membuka pintu rumah, suara itu mulai menghilang, dan sekarang yang bisa aku dengar hanya suara air hujan yang terus turun di desa ini.


“Suara itu sekarang sudah tidak ada mas Wil” kata Ivon lagi


“Yah mungkin pendengaran kita yang mengoreksi otak kita agar otak kita berpikir lebih logis lagi Von, jadi sebenarnya apa yang kita dengar itu kadang diartikan berbeda oleh otak kita”


“Sudah kamu tidur sana lagi Von, saya dan Novi yang akan berjaga disini”


“Nggak mas, Ivon sudah ndak ngantuk, Ivon juga akan jaga disini” jawab Ivon


Suasana sepi lagi, kami bertiga tidak bicara satu sama lain lagi, kami hanya berusaha menajamkan pendengaran agar kami bisa mendengar sesuatu dengan jelas.


“Novi lapar mas…”

__ADS_1


“Iya Nov, gak kamu saja yang lapar, kita semua juga pasti lapar, apalagi dalam keadaan kedinginan begini


Posisi dudukku dari tadi menghadap ke pintu yang tertutup, pintu itu tertutup rapat, tetap sela-sela antara pintu dan lantai tanah itu cukup untuk mengetahui apa yang ada di luar, karena celah pintu dan lantai itu tidak presisi, mungkin celah itu ada sekitar dua centimeter


Nggak tau kenapa, aku tertarik untuk tetap melihat celah pintu dengan lantai tanah itu terus menerus, nggak tau kenapa kok rasanya ada yang menarik di celah itu.


Ternyata benar…


Aku melihat ada pantulan cahaya dari celah pintu… ada pantulan nyala api obor yang aku lihat dari celah pintu, kulirik Novi yang duduk di sebelahku dan menghadap ke jendela juga.


Ternyata mata dia juga tertuju ke celah pintu yang ada di depak kami berdua. Novi menoleh kepadaku dengan pandangan bingung, dan tanpa berkata apapun.


Aku, menoleh ke arah Ivon yang ada di sebelah Novi. Ivon ternyata  tertidur dalam posisi duduk, jadi hanya ada aku dan Novi saja yang melihat pantulan bayangan cahaya api obor yang terlihat dari sini.


“Mas…” bisik Novi sambil memegang pahaku perlahan lahan


“Iya Nov… aku tau..” jawabku sambil berbisik juga


Pantulan nyala api obor itu tidak diam.. Melainkan berjalan dari arah kanan menuju ke kiri, dan itu tidak satu obor saja.. Aku sudah melihat ada sekitar tiga obor yang lewat di depan rumah, karena pantulan nyala apinya bisa terlihat di celah pintu rumah


“Tapi mas…..”


“Sudahlah, gak usah pakek tapi-tapian, besok pagi kita sudah pergi dari tempat ini secepatnya”


Aku sebenarnya penasaran dengan yang ada di luar sana, tetapi aku tidak punya keberanian untuk mengintip dari dalam sini, aku takut apabila seperti Ivon bahwa tidak ada siapapun di luar.


Pantulan cahaya api obor tetap terlihat dari sini, api obor itu bergerak dari posisi jembatan menuju ke tengah desa… dan bergerak tanpa ada suara langkah kaki sama sekali.


“Nov… kamu penasaran nggak dengan pantulan cahaya obor itu?”


“Jelas Novi penasaran mas, tapi Novi nggak punya keberanian untuk mengintip mas”


“Ya sudah tidak usah mengintip Nov, semoga kita bisa bertahan disini untuk malam ini, dan besok kita pergi dari sini untuk mencari bantuan”


Aku tetap duduk menghadap ke arah pintu…. Dan akhirnya seelah beberapa kali aku melihat cahanya api obor, akhirnya pantulan cahaya itu sudah tidak nampak lagi.

__ADS_1


Sekarang suasana sepi, hanya ada rintik hujan saja yang masih terdengar dari sini, gerimis itu kayaknya awet hingga pagi.


Aku sudah mulai ngantuk, kulirik Novi ternyata sudah tidur duluan….


BUUGH…!


Suara seperti benda dijatuhkan di depan pintu membuat aku terjaga..


“Itu tadi suara eh sesuatu yang berat dan  kemudian dijatuhkan begitu saja..”


“Kalau dari suaranya mirip seperti suara karung beras yang ditaruh dan dijatuhkan begitu saja di depan pintu rumah”


Apa itu, aduuuh apa lagi yang akan terjadi berikutnya….


Ternyata setelah kejadian sesuatu yang dijatuhkan di depan pintu, aku sama sekali tidak mendengar apapun, baik suara langkah kaki maupun  cahaya api obor.


Hingga akhirnya aku tertidur….


*****


“Mas Wil…. bangun mas…!” bisik Ivon yang menggoyang goyangkan tanganku


“Ada apa Von!” kataku sambil berbisik


“Mas… di kamar itu… ada suara sesuatu” bisik Ivon


Kumiringkan kepalaku hingga aku bisa mendengar suara seperti orang yang sedang memotong rambut dengan menggunakan gunting.


Jelas sekali suara itu terdengar dari ruang tamu, karena kami berada di rumah ini, dan kamar itu hanya dipisahkan oleh kelambu saja.


“Sstttt diam Von, kayaknya ada orang di dalam kamar itu, kalau memang orang, bagaimana orang itu bisa masuk ke rumah ini, sedangkan dari tadi aku gak dengar suara pintu rumah yang terbuka“ bisikku kepada Ivon


Suara itu tetap terdengar.. Seperti seseorang yang sedang memotong rambut, hingga beberapa menit kedepan suara itu tetap ada, hingga sekitar lima menit kemudian tidak terdengar lagi.


“Mas.. apa yang harus kita lakukan?”  bisik Ivon

__ADS_1


“Udahah, tetap tunggu dan berharap pagi cepat datang Von.


__ADS_2