
"Mama!" ucap Hera saat terlintas ide yang lebih memungkinkan untuk dia lakukan.
Hera meraih ponselnya lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo Ma. Mama lagi apa?" tanya Hera kepada Jessica.
"Mama sedang bosan di rumah. Kamu lagi apa? sudah mulai kerja di perusahaan lagi?"
"Iya Ma, baru hari ini Hera dan Alex masuk kerja. Ma! Hera boleh minta tolong gak?"
"Ada apa sayang? katakan saja! Mama pasti akan bantu kalau memang mama bisa. Kalau tidak pun akan mama usahakan sayang."
Hera tersenyum. Sebenarnya dia merasa tidak enak karena harus meminta bantuan pada mama mertuanya. Tapi apa boleh di kata, dia tidak memiliki pilihan lain. Dia harus membuat ke putusan yang bijak agar semua pihak tidak merasa di rugikan.
"Jadi begini Ma, Hera punya beberapa client yang ingin membuat gaun pernikahan dan pertunangan. Tapi mereka maunya Hera yang langsung turun tangan. Gak boleh ada campur tangan dari desainer lain. Menurut Mama bagiamana? Hera tidak mungkin menerima semuanya. Tapi kalau Hera tolak beberapa juga pasti mereka kecewa. Di tambah, mereka adalah client VVIP di perusahaan ini Ma."
"Kamu ada waktu gak siang ini? datang aja ke rumah mama, nanti kita cari solusinya bareng-bareng."
"Baiklah Ma, nanti Hera ke sana. Hera tutup dulu telponnya ya."
"Hmmm... Baik-baik lah di kantor Sayang."
"Iya Ma."
Tut... Panggilan telepon pun akhirnya Hera tutup. Hera tersenyum. Dia merapikan dokumen yang tadi di berikan Sara padanya. Dia tidak jadi memeriksa dokumen-dokumen itu sekarang karena dia akan memeriksanya bersama Jessica.
__ADS_1
Hera melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Gaun yang di pesan Juliet teramat sangat berharga. Dia tidak boleh melewatkan detail terkecil pada gaun pernikahan tersebut. Kepuasan pelanggan nomor satu. Dia tidak boleh membuat Juliet kecewa.
Sementara di sisi lain. Di kediaman keluarga Go. Annya sedang membujuk Myung Jin untuk membiarkannya terjun ke dunia bisnis yang saat ini sedang di geluti ayah nya. Dia mengatakan kalau dia ingin belajar dan ingin membantu Myung Jin supaya Myung Jin tidak kelelahan .
"Ayah! Annya ingin belajar mengelola perusahaan Yah... Kalau tidak sekarang, kapan Ayah akan membiarkan Annya terjun ke dunia bisnis? Annya ingin membantu Ayah." Annya menahan lengan Myung Jin. Saat ini Myung Jin baru akan memasuki mobil untuk pergi ke perusahaan. Namun, sejak pagi-pagi buta Annya terus mengekorinya dan meminta Myung Jin untuk memenuhi setiap keinginan yang keluar dari mulut Annya.
"Ayah akan pikirkan ini dulu Annya. Nanti kalau sudah ada posisi yang pas untuk mu, ayah akan memberi tahu mu dan kau boleh ikut Ayah ke kantor."
Annya tersenyum. "Baiklah Ayah. Aku mengerti. Terimakasih karena Ayah selalu mendengar semua yang Annya inginkan." Myung Jin tersenyum. Dia mengusap pucuk kepala Annya lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan area rumahnya segera.
"Aku senang karena kau selalu termakan ucapan manis ku Ayah. Aku harap kau akan selalu seperti ini."
Annya memutar badannya lalu kembali masuk ke dalam rumah. "Bi! Bibi Han!...." Teriak Annya. Dia tidak memperdulikan Hye Mi dan Ye-Seul yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Ini rumah Ayah, yang berarti adalah rumahku juga. Jadi kenapa aku harus menuruti perkataan mu." Annya berjalan melewati Hye Mi dan Ye-Seul dengan wajah sombongnya. Dia bahkan mengibaskan rambutnya di depan wajah Hye Mi.
"Ibu! lihatlah! dia semakin kurang ajar Bu. Kenapa kita tidak melaporkannya kepada Ayah?" tanya Hye Mi pada Ye-Seul. Ibunya itu hanya tersenyum. Dia mengusap kepala Hye Mi lembut. "Sabar sayang! kau juga tahu bagaimana Ayahmu sangat menyayangi Annya. Dia tidak akan mempercayai kita Nak. Dia akan lebih percaya pada Annya. Kau juga tahu bukan bagaimana liciknya wanita ular itu."
"Iya Bu. Hye Mi mengerti. Kalau gitu Hye Mi ke kampus dulu ya... Ibu baik-baik di rumah. Jangan biarkan wanita itu menindas mu," ucap Hye Mi. Dia melirik Lee Annya yang sedang berlagak seperti nyonya. Wanita itu sedang menonton Tv. Namun yang membuat Hye Mi muak adalah, dia menyuruh beberapa pelayan untuk memijat tangan dan juga kakinya. Sungguh pemandangan yang menjijikan.
Ye-Seul mengantarkan Hye Mi ke depan rumah mereka. "Hye Mi! kenapa kamu di jemput Han Bin? memang kemana mobilmu?" tanya Ye-Seul ketika dia melihat mobil Han Bin memasuki halaman rumah mereka.
"Aku lupa memberitahu mu Ibu, Ayah sudah mengambil mobil ku dan memberikannya kepada anak kesayangannya. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa Ayah bisa berbuat seperti ini. Apa dia tidak bisa melihat niat asli Annya . Hye Mi kecewa kepada Ayah Bu."
__ADS_1
Ye-Seul mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Dia di buat kesal hanya dengan mendengar apa yang baru saja di katakan Hye Mi padanya. Apalagi Hye Mi yang mengalami ini langsung. Pantas saja Hye Mi marah dan kecewa pada ayahnya.
"Ibu akan bicara pada Ayahmu," ucap Ye-Seul dengan wajah marahnya.
"Sudah lah Bu. Ibu juga sudah bilang kalau ini tidak ada gunanya. Lebih baik Ibu jaga kesehatan Ibu. Jangan sampai terpancing dengan masalah seperti ini. Cukup Hye Mi yang marah kepada Ayah. Ibu jangan."
Ye-Seul tersenyum. Dia kembali mengusap pucuk kepala Hye Mi. Dia sangat bangga kepada Hye Mi yang selalu mengutamakan logika daripada ego. Ini mungkin memang siasat yang di lakukan Annya supaya keluarga mereka saling membenci satu sama lain.
"Pergilah! Han Bin sudah menunggumu. Ingat! jangan pulang terlalu malam," ucap Ye-Seul yang di balas anggukan oleh Hye Mi.
Blamm... Han Bin menutup pintu mobil di samping kemudi, dia menolehkan kepalanya lalu membungkukkan kepalanya kepada Ye-Seul. Ye-Seul tersenyum. Dia kembali masuk ke rumah setelah mobil yang di kendarai Han Bin sudah keluar dari halaman rumahnya.
Sementara di dalam mobil Han Bin, Hye Mi menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia menutup mata sambil menghembuskan nafas perlahan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Han Bin. Dia memang sudah mengetahui perihal mobil Hye Mi yang di ambil oleh Lee Annya.
Hye Mi menolehkan kepalanya." Aku baik-baik saja," ucapnya sambil tersenyum. Han Bin mengulurkan tangannya lalu mengelus pipi Hye Mi lembut. "Jangan memendam semuanya sendiri. Ada aku di sampingmu. Kau bebas bercerita apapun padaku."
Hye Mi mengangguk sambil tersenyum. Dia tahu dan dia pasti akan mengeluarkan semua isi hatinya kalau penyimpanan di hatinya sudah overload.
...To Be Continued....
...Hai reader jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank You....
__ADS_1