THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Sebuah Kejutan


__ADS_3

Happy reading semuanya....


.


.


Sebuah helikopter terbang di atas lautan lepas. Seorang wanita cantik masih menatap kagum hamparan rumput hijau yang ada di sebuah pulau kecil yang ada di tengah-tengah lautan itu.


"Wah... Ini sangat indah Alex," puji Hera. Matanya masih tetap fokus melihat keindahan alam yang ada di bawahnya. Dia menempelkan kedua tangannya di kaca supaya dia bisa lebih leluasa melihat pemandangan yang ada di bawahnya.


"Aku senang kalau kau menyukainya," ucap Alex. Dia mengeluarkan sebuah kain menyerupai pita besar berwarna merah lalu menutupi mata Hera dengan kain panjang tersebut.


"Apa ini Alex?" tanya Hera sambil meraba kain yang menutupi kedua matanya. Dia sedang asyik melihat pemandangan, tapi Alex malah menutup matanya. Aneh bukan.


"Tunggulah sebentar! aku sudah menyiapkan ini sejak lama, tapi karena kondisimu yang masih hamil muda saat itu, aku baru bisa menunjukannya sekarang."


Hera mengangguk mengerti. Dia duduk diam sambil menggenggam tangan suaminya erat. Karena matanya di tutup, dia malah merasa kalau dia sedang di ayun ambing di udara. Keadaan ini membuatnya agak sedikit takut.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya capung besar itu mendarat di sebuah pulau kecil yang sangat indah. Alex turun lebih dulu, dia memegang tangan Hera lalu memangku tubuh Hera dan membawanya ke tempat yang memang sudah dia siapkan.


Hera menginjakan kakinya di atas rerumputan hijau saat Alex menurunkan Hera dari pangkuannya. Perlahan tapi pasti, Alex membuka ikatan pada kain yang menutupi mata istrinya.


"Surprise," teriak semua orang yang ada di sana di iringi suara ledakan kembang api yang membuat Hera sedikit terperanjat.

__ADS_1


"Kalian," ucap Hera ketika matanya menangkap sosok-sosok manusia yang selama ini selalu ada di sisinya.


Jessica, Tae Jun, Sara, Wohyun, Hye Mi, Han Bin, bahkan Angela dan Erick juga ada di sana. Mereka tersenyum hangat ke arah Hera. Ibu hamil itu sampai di buat matanya sudah berkaca-kaca, namun Alex yang memang tahu kalau akhir-akhir ini Hera sedikit sensitif langsung memeluk dan mengusap punggung istrinya perlahan.


"Apa ini Alex? apa yang kalian lakukan?" tanya Hera sambil terisak di pelukan suaminya.


"Ini adalah kejutan untukmu. Aku sengaja membeli pulau ini dan juga membangun sebuah vila supaya kita bisa berlibur dengan tenang," ucap Alex. Hera semakin terisak. Bagaimana mungkin Alex memberikan nya hal sebesar ini. Bahkan Hera tidak pernah mengharapkan apapun. Baginya, Alex saja sudah cukup.


"Selamat utuk mu Kak, kau menjadi wanita yang sangat kaya sekarang. Bahkan Kak Alex sudah mengalihkan semua aset dan juga sahamnya atas namamu," ucap Angela. Hera melepaskan pelukan Alex. Dia menatap Alex lekat, namun suaminya itu hanya mengangguk. Itu tandanya apa yang di katakan Angela adalah sebuah kebenaran.


"Kenapa kau melakukan ini Alex," ucap Hera sambil memukul dada suaminya berkali-kali.


Alex menangkup wajah Hera dan mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya itu perlahan. "Aku melakukan ini supaya kau bisa percaya padaku seutuhnya. Kalau sampai aku meninggalkan mu atau melirik wanita lain, kau boleh meninggalkan ku dan mengambil semua aset yang telah aku berikan padamu."


Semua orang bergantian memeluk Hera dan memberinya selamat. Sore itu mereka mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan di sebuah vila yang sudah Alex bangun. Mereka bercanda, tertawa, bahkan menangis bersama-sama.. Bukan menangis karena sedih, tapi menangis karena mereka terus-terusan tertawa.


"Kita akan melakukan baby moon di sini sayang," ucap Alex. Mereka sekarang sedang ada di teras luar vila, angin kencang sore itu tidak membuat mereka kedinginan atau ingin masuk kembali ke dalam vila. Mereka sangat menikmati suasana di pulau itu. Udaranya sangat bersih. Di tambah pemandangannya sangat indah. Hera maupun Alex sangat betah berada di sini.


"Aku belum melakukan persiapan apapun Alex."


"Kau tidak perlu khawatir sayang. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku bahakan membawa perawat dan juga seorang dokter pribadi ke sini. Aku harap semuanya berjalan seperti apa yang kita harapkan," ucap Alex sambil mengecupi pipi istrinya dari samping.


"Terimakasih Alex."

__ADS_1


"Hmmmm, aku harap Baby Twin akan menyukai ini."


Hari sudah semakin sore. Cuaca hari ini sangat bagus, bahkan langit jingganya mampu membuat mata siapa saja yang melihatnya kagum. Alex dan Hera melambaikan tangan mereka pada orang-orang yang sudah duduk di dalam helikopter. Mereka semua memutuskan untuk segera pulang karena tidak mau menganggu suasana damai yang alex persiapkan untuk membuat Hera lebih rileks dan lebih tenang menjelang kelahiran nya. Meskipun usia kandungan Hera baru berusia tujuh bulan lebih, mereka harus sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk mental dan juga rasa percaya diri seorang ibu yang akan melahirkan.


Sementara di tempat lain, Myung Jin sedang menyumburkan amarahnya pada karyawan-karyawan yang saat ini sedang berdiri namun menunduk dalam di depan Myung Jin..


Brakkkk... Myung Jin menggebrak meja dengan kekuatan penuh. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan hah? kalian mau membuat perusahaan saya bangkrut?" geram Myung Jin yang sedang di landa amarah yang luar biasa. Hari ini dia berniat untuk melakukan investasi di sebuah perusahaan yang sedang di rintis oleh teman karibnya. Tapi saat dia membicarakan hal ini kepada para petinggi, mereka tidak setuju karena keuangan perusahaan akhir-akhir ini semakin menurun.


Mereka juga tidak tahu alasannya karena apa. Mereka yang ada di bagian penjualan dan pemasaran jelas-jelas tahu kalau produk mereka masih laris manis di pasaran.


"Maaf kalau saya lancang Pak. Apa tidak sebaiknya Bapak tanyakan masalah ini kepada Direktur keuangan?" tanya salah seorang karyawan Myung Jin.


"Kau pikir anakku melakukan penyelewengan bukan? itu maksudmu?" teriak Myung Jin.


Plakkkkk... Sebuah tamparan mendarat di pipi karyawan yang Myung Jin anggap sangat lancang. "Kau pikir anakku akan melakukan hal memalukan seperti itu hah?"


"Maaf Pak, saya tidak bermaksud," ucap karyawan tersebut.


"Keluar!" teriak Myung Jin sambil menunjuk pintu ruangannya.


"Dasar orang-orang bodoh! mereka benar-benar tidak berguna."


Myung Jin masih tidak sadar kalau ternyata dirinya memang sedang di bodoh i oleh anaknya sendiri. Rasa bersalahnya kepada Annya membuatnya buta dan menutup mata dari sebuah kebenaran yang memang sudah tergambar jelas di depan matanya. Dia bahkan sudah tidak mempercayai Ye-Seul karena dia sudah termakan rayuan dan juga kata-kata manis Annya padanya.

__ADS_1


...To Be Continued....


__ADS_2