
Sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat besar. Hera turun dengan segera. Dia sama sekali tidak memperdulikan Alex yang sejak tadi meneriakinya dan menyuruhnya untuk hati-hati.
Hera di buat panik ketika Bibi Lim menelponnya dan mengatakan kalau di rumah sedang ada keributan. Sebenarnya saat itu Hera dan Alex sedang menemui klien mereka. "Ada apa ini?" tanya Hera ketika dia sudah sampai di dalam rumah. Angela menoleh.
"Kak. Kenapa anak pelakor ini ada di sini?" tanya Angela sambil menunjuk Min Ji dengan jari telunjuknya.
Hera menghela nafas panjang. Kini dia tahu keributan apa yang sedang terjadi di rumahnya.
"Dia memang menginap di sini untuk sementara Angela," ucap Hera. Hera berjalan melewati Angel dan Min Ji.
"Kalian ini. Aku pikir ada keributan apa. Kalian membuatku panik saja," ucap Hera lagi. Dia duduk di atas sofa lalu menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Hera memijat pelipisnya karena pusing melihat tingkah Angela dan Min Ji.
Alex masuk ke dalam rumah. Dia mengambil gelas berisi air hangat dari tangan Bibi Lim. Setelah dia duduk di samping istrinya, dia menyerahkan gelas itu kepada Hera dan menyuruh istrinya untuk minum. Hera menurut dia mengambil gelas itu kemudian meminumnya. Namun, airnya tidak habis, alhasil Alex lah yang menghabiskan air itu.
"Aku gak suka dia tinggal di sini Kak," ucap Angela. Dia duduk di sofa yang ada di depan kakaknya sambil menyilangkan tangan di depan dada. Tatapan nya kembali fokus pada Min Ji yang kini sedang berdiri di dekat mereka sambil menunduk dalam.
"Duduklah Min Ji!" titah Hera. Min Ji-pun ikut duduk masih dengan kepala yang di tekuk dalam.
"Angel. Dia sedang kesulitan. Apa salahnya kita membantunya hmm? yang salah itu Ibunya Min Ji. Min Ji tidak ada hubungannya dengan itu. Dia hanya korban Angel."
"Kakak mu benar Angel," ucap Alex. "Lagipula dia juga adiknya Hera. Sama kayak kamu. Kenapa kamu sangat cemburuan sekali. Hera tidak akan meninggalkan mu hanya karena ada orang baru di rumah ini."
Angela mendengus. Dia tidak terima dengan apa yang baru saja di katakan kedua kakaknya kepadanya. Angel bukan cemburu. Tapi dia hanya tidak suka saja jika orang yang sebelumnya menjadi penyebab Hera tidak bahagia kini berada satu atap dengan kakaknya itu.
Aku tetap tidak suka," ucap Angel. Dia beranjak kemudian berjalan dan naik ke lantai atas.
Lagi-lagi Hera menghela nafasnya. "Min Ji! kau sudah makan malam?" tanya Hera.
Min Ji mengangguk. Tadi Bibi Lim memang menyuruhnya untuk makan malam lebih dulu karena Hera dan Alex akan makan malam di luar.
__ADS_1
"Kalau begitu masuklah ke kamar mu! istirahatlah, maafkan sikap Angela yang seperti itu. Dia sebenarnya baik. Hanya saja dia mungkin marah untuk beberapa alasan. Aku harap kau tidak tersinggung."
"Baik Kak. Terimakasih, aku akan ke kamarku sekarang," ucap Min Ji yang langsung pergi ke kamarnya.
Alex merangkul pinggang Hera kemudian meraih tangannya dan mengusapnya lembut. "Jangan marah. Angela memang kadang-kadang tidak bisa mengontrol emosi nya."
"Aku tidak mempermasalahkan sikap Angela Alex. Wajar jika dia marah. Berarti selama ini dia memang sangat menyayangiku," ucap Hera sambil tersenyum.
"Bi!"... Panggil Hera pada Bibi Lim.
"Iya Nyonya."
"Bi, lain kali kalau memberikan informasi yang lengkap ya. Saya sudah panik tadi. Saya pikir ada masalah apa. Ternyata cuma hal kecil."
"Baik Nyonya. Maafkan saya!" Bibi Lim membungkukkan badannya di depan Hera dan Alex.
"Sudah Bi. Bibi istirahat saja! kita juga sudah makan kok, kita akan ke atas sekarang," ucap Alex. Dia berdiri kemudian mengulurkan tangannya kepada Hera.
"Aku mandi dulu ya!" ujar Alex kepada istrinya. Hera hanya mengangguk.
Dia kembali memfokuskan dirinya kepada Angela. "Kamu marah?" tanya Hera.
Angel tidak menjawab. Dia masih berbaring memunggungi kakak iparnya itu.
"Jangan merajuk. Kau itu sudah besar. Bukankah kau sudah lebih dewasa dariku," tanya Hera lagi. Angela mendengus. Dia langsung duduk dan menatap Hera sambil cemberut.
"Kak Hera itu terlalu baik. Aku takut dia memiliki niat tidak baik di sini."
"Jangan berburuk sangka. Aku akan hati-hati. Kau tidak perlu khawatir. Ada perlu apa ke sini? tumben? biasanya juga aku yang harus ke rumah Mama untuk menemui mu."
__ADS_1
Angel semakin murung saat Hera menanyakan alasan kenapa dia bisa ada di rumahnya Hera. Angela memang ingin curhat perihal hubungannya dengan Erick. Dia ingin serius tapi Erick tidak menunjukan hal yang sama.
Dua jam Angela bercerita panjang lebar kepada Hera dan Alex. Akhirnya dia mau pulang karena Alex memaksanya untuk segera pergi. Bukannya Alex jahat dan tidak pengertian, dia hanya takut kalau Angel ada di sana, dia akan kembali menyerang Min Ji dengan mulut pahitnya.
"Aku tidak mengerti dengan hubungan yang mereka jalani Alex. Selain karena mereka saling berjauhan terus, aku juga tidak yakin kalau mereka sudah menikah Angela akan bisa jauh dari Mama dan Papa. Dia masih sangat manja Alex." Hera berbicara sambil memeluk suaminya . Dia memang butuh dada suaminya untuk bersandar saat ini. Hari ini harinya sungguh sangat melelahkan.
****
Matahari kian meninggi menampakan sinarnya dan memberikan kehangatan pada seluruh penghuni bumi. Suara burung berkicau kian terdengar seiring dengan berjatuhannya embun dari ujung dedaunan yang ada di halaman rumah Hera dan Alex.
Saat ini keluarga kecil itu sedang sarapan. Tidak ada yang istimewa, Hera sedang menginginkan roti lapis dengan susu hangat sebagai pelumas tenggorokannya.
Setelah selesai dia bergegas keluar untuk pergi ke kantor seperti bisa. Namun, Hera merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia merasa seluruh permukaan kulitnya menjadi sangat panas. Hidungnya bahkan terasa sangat gatal.
"Haciwwww...."
"Haciwwwww..." Hera terus menggosok hidungnya yang gatal. Nafasnya semakin sesak.
Alex yang kala itu baru keluar dari dalam rumah langsung berlari ketika melihat Hera sedang membungkuk sambil memegangi dadanya.
"Kau kenapa?" tanya Alex...
Hera mengeleng. "Aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasa kulitku serasa terbakar. Hidungku gatal dan aku juga kesulitan untuk bernafas," ucap Hera dengan susah payah.
"Astaga.... Hidung mu mengeluarkan darah Hera," Alex mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jas yang dia kenakan. Belum sempat Alex menyeka darah yang keluar dari hidung istrinya, Hera sudah ambruk dan tidak sadarkan diri. Beruntung karena Alex langsung menyangga tubuh Hera jadi Hera tidak sampai jatuh ke bawah.
"Hera! kau kenapa Sayang?" tanya Alex panik.
"Pak Song!" teriak Alex pada sopirnya. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
__ADS_1
...To Be Continued....
...Hai reader, jangan lupa like dan komentar nya ya.. Thank You.....