
"Mama!" teriak Hera saat melihat Jessica sedang asik menata makanan di atas meja makan.
Jessica menoleh, dia langsung merentangkan kedua tangannya dan Hera pun langsung menghambur ke pelukan sang mama mertua. "Kamu sudah datang? mana Alex?" Hera melepaskan pelukannya . Dia menatap Jessica dengan wajah yang dia tekuk. "Alex sibuk Ma. Dia tadi bilang kalau Hera harus makan siang dengan nya. Tapi buktinya dia malah pergi bersama Wohyun karena ada meeting di luar kantor."
Jessica tersenyum. "Tidak apa-apa, mungkin karena dia baru kembali jadi banyak pekerjaan yang mendesak Sayang."
"Tapi Ma, kalau Hera yang ingkar janji pasti Alex akan sangat marah. Tapi kalau dia yang ingkar janji, Hera gak boleh berkomentar dan hanya boleh merajuk sebentar," cicit Hera membuat Jessica gemas.
"Kau itu sangat lucu Hera," ucap Jessica. "Lha ada Sara juga ya?" tanya Jessica ketika melihat Sara sedang berdiri sambil memperhatikan mereka.
"Halo Tante," ucap Sara membungkuk sopan.
"Kemarilah! kalian belum makan siang kan? mama sengaja menyiapkan ini semua. Angel masih belum pulang. Papa juga masih di kantor. Jadi kita makan bertiga saja siang ini."
Jessica menuntun Hera untuk segera duduk di meja makan. Sara pun mengikuti mereka, dia duduk di samping Hera. Sedangkan Jessica duduk di sebrang Hera dan Sara.
Obrolan demi obrolan terus berlanjut. Setelah mereka selesai makan siang, mereka langsung membahas masalah pekerjaan yang memang sejak awal sudah menjadi niat mereka untuk bertemu dan berkumpul di kediaman keluarga Kim.
"Jadi bagaimana Ma?" tanya Hera. Dia menatap lekat ibu mertuanya yang sedang fokus melihat-lihat isi dokumen yang tadi di bawa Hera dan Sara.
"Begini Hera. Kau susun dulu semua dokumennya. Siapa yang mendaftar lebih dulu, nah itu yang kau ambil. Dan untuk yang lain, jika waktunya bentrok, coba kamu ajak meeting para klien itu, kamu bicarakan semuanya sesuai dengan prosedur yang sudah di tetapkan oleh perusahaan. Dan kamu bisa menyarankan hal yang mungkin mereka sukai, contohnya, kalau mereka mau mengalah, mama akan membantu mereka merancang gaun seperti apa yang mereka inginkan."
Hera dan Sara tersenyum. Memang inilah yang mereka harapkan. Para client VVIP nya mungkin akan menolak jika desainer lain yang membantu Hera. Tapi kalau Jessica sendiri yang turun tangan, mereka yakin bahwa client mereka tidak akan menolak.
"Mama yakin mau membantu kami?" tanya Hera dengan wajah berbinarnya..
Jessica mengangguk." Tentu saja, kau adalah memantu mama. Di tambah lagi ini juga perusahaan milik Papa mertuamu dan juga Alex , sudah sewajarnya mama membantu."
"Akhhhh... Makasih Mama! Mama Jessica memang yang terbaik," ucap Hera sambil menghambur ke pelukan Jessica.
"Kamu itu terlalu berlebihan Sayang." Hera menggeleng, apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. Tidak ada yang salah dengan itu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Hera dan Sara pamit. Jessica sudah mewanti-wanti Hera untuk makan malam dengannya. Namun, Hera mengatakan kalau dia harus mengantar Sara pulang. Alex juga menyuruhnya untuk langsung pulang karena dia akan pulang malam.
"Maafkan Hera Ma!... Hera tidak bisa pulang terlalu malam, anak sulung Mama itu akan ngomel-ngomel kalau sampai Hera telat sampai di rumah. Mama baik-baik lah di rumah. Kabari Hera kalau Mama butuh sesuatu."
Jessica tersenyum. Dia juga tidak bisa menahan Hera lebih lama. Apa yang Hera katakan memang benar, tidak baik juga jika seorang perempuan berkendara seorang diri di tengah malam.
Akhirnya Hera pulang.. Setelah mengantarkan Sara, dia langsung pulang ke rumahnya sesuai dengan perintah sang suami.
***
"Tuan belum pulang ya Bi?" tanya Hera pada Bibi Lim..
"Belum Nyonya."
"Makan malam sudah siap?" Bibi Lim mengangguk. " Saya ke kamar dulu ya Bi. Tolong bilang kepada Tuan kalau saya pulang tepat waktu."
"Baik Nyonya."
"Terimakasih Nyonya," ucap Bibi Lim sambil membungkuk.
"Bibi tidak perlu sungkan , saya yang harusnya berterimakasih karena Bibi dan yang lain sudah merawat Saya dan Tuan dengan sangat baik."
Hera tersenyum. Dia naik ke lantai atas lalu masuk ke kamarnya dan mulai membersihkan diri. Setelah memakai piyama tidurnya, sayup-sayup dia mendengar suara mobil Alex. Hera buru-buru turun untuk menyambut sang suami. Menjadi istri yang baik tidak berpatok harus pintar masak dan pintar mengurus rumah, memperlakukan suami dengan baik adalah hal yang paling penting bukan.
"Sayang!" panggil Alex ketika dia keluar dari mobil dan melihat istrinya sudah menunggu di depan pintu.
"Kenapa menunggu di sini? kau bisa masuk angin. Ini sudah malam. Kenapa tidak menunggu di dalam saja."
Bukannya menjawab,Hera malah langsung memeluk suaminya. Menurutnya pertanyaan sang suami itu tidak membutuhkan jawaban. Alex memang sangat protektif, dia tahu itu.
"Kau mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Hera . Dia mendongakkan wajahnya menatap Alex yang kini sedang menatapnya.
__ADS_1
Cup... Alex mengecup bibir istrinya sekilas. Dia tersenyum. Senyuman manis yang sangat Hera sukai, apalagi gigi gingsul yang membuat suaminya semakin tampan dan menggemaskan. "Aku mau mandi dulu, badan ku sudah lengket," ucap Alex.. Dia merangkul pinggang Hera hendak mengajaknya ke lantai atas.
"Aku akan membuatkan mu teh jasmine. Kau pergilah lebih dulu," ucap Hera sambil mendorong punggung suaminya. Alex sebenarnya tidak rela, tapi dia tetap pergi karena tidak mau membuat istrinya bad mood.
"Pergilah!" ucap Hera sambil mengibaskan tangannya di depan Alex..
Sepuluh menit kemudian, Hera masuk ke dalam kamarnya dengan membawa secangkir teh hangat untuk sang suami. Dia meletakan cangkir teh nya di atas nakas. Setelah itu Hera masuk ke walk in closed untuk menyiapkan baju yang akan di pakai suaminya.
Tap Tap Tap ....
Grebbbb..... Alex memeluk Hera dari belakang. Istri cantiknya itu sedang berdiri di samping ranjang mereka .
Hera tersenyum. Setelah menaruh pakaian suaminya di atas ranjang, Hera memutar badannya lalu menatap Alex yang kini sedang menatapnya penuh minat.
"Minumlah teh nya lebih dulu! nanti ke buru dingin," ucap Hera. Dia menggeser tubuhnya yang masih di tempeli Alex. Saat Hera mengambil cangkir teh nya, Alex melepas pelukan di pinggang Hera kemudian mengambil cangkir tehnya dan duduk di tepian ranjang.
"Wahh... Teh mu sangat enak sayang," ucap Alex. Dia menyesap kembali teh nya kemudian menyimpan nya kembali di atas nakas.
Hera mendengus. Apanya yang enak. Itu hanya sebuah teh bukan.
Setttt... Alex menarik pinggang Hera tiba-tiba. Hera terkesiap. Detik berikutnya dia sudah duduk di pangkuan sang suami yang masih bertelanjang dada.
"Alex!" panggil Hera lembut. "Kau belum makan sayang." Hera merasa geli karena Alex terus menci umi tengkuk dan pundaknya tanpa Henti.
"Aku sedang menikmati makan malam ku Sayang," ucap Alex. Tangannya sudah cekatan menurunkan bagian luar piyama istrinya.
Hera terkikik geli. Tentu dia tahu makan malam apa yang sedang di maksud suami tampannya itu .
...To Be Continued....
...Hai reader jangan lupa like dan komentar nya ya... Thank You.....
__ADS_1