
"Ada Kim junior di dalam rahim istrimu."
Deg..
"What? Kim Junior? for real? jadi maksud mu?"
"Yeah... Exactly. Hera hamil Bung," ucap Pedrik dengan senyum di wajahnya.
Brakkkkk... Alex menggebrak meja kerja Pedrik dan langsung berdiri, dia membekap mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kehamilan yang sudah sangat dia tunggu-tunggu. Hera yang sudah sejak lama menginginkan seorang bayi kini harapannya akan segera terwujud. Tujuh bulan dia menanti kabar ini datang. Alex sungguh sangat bersyukur.
"Ya Tuhan.. Apa ini sungguhan Pedrik?" tanya Alex lagi. Dia kembali duduk di kursinya.
"Kau beruntung karena kejadian ini tidak membuat janin di dalam rahim istrimu kenapa-napa. Aku harap kau bisa lebih memperhatikan nya lagi. Aku belum bisa memastikan berapa usia kehamilan istrimu. Aku hanya mengetahui kalau istrimu sedang mengandung karena tadi aku sempat membaca hasil lab darah istrimu. Setelah dia sembuh, bawalah dia ke Dokter kandungan Alex."
Alex mengangguk. "Lalu bagaimana hasil yang lainnya?"
"Masih belum keluar. Bersabarlah, aku yakin dia akan lekas sembuh."
"Terimakasih Pedrik. Dan ya, ternyata dia seperti ini karena ada bulu-bulu persik yang masuk ke dalam tubuhnya. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Aku ingin menemui istriku." Alex tersenyum kemudian berdiri dan langsung berjalan menuju pintu.
"Alex!" panggil Pedrik. Alex menoleh saat namanya di panggil.
"Selamat!" ucap Pedrik kemudian. Alex mengangguk. Seulas senyum tercetak di bibirnya. Setelah itu dia keluar dari ruangan Pedrik. Alex sangat bahagia karena Hera kini akan menjadi seorang ibu. Dan dia juga akan menjadi seorang ayah. Tanpa ba bi bu Alex langsung masuk ke dalam ruang rawat istrinya.
"Alex!" panggil Jessica saat anaknya masuk ke dalam kamar inap Hera. Laki-laki itu berjalan mendekati ranjang istrinya. Hera masih belum menunjukan tanda-tanda kalau dia akan bangun. Alex merasa sedih tapi dia juga merasa senang akan sesuatu. Jessica berdiri dari kursinya dan membiarkan Alex untuk menggantikan posisinya tadi.
"Apa Hera masih belum menunjukan tanda-tanda kalau dia akan bangun Ma?" tanya Alex akhirnya.
Jessica memegang kedua bahu anak laki-laki nya lalu mengusapnya perlahan. "Biarkan dia istirahat sayang! Hera pasti sangat lelah, kau harus yakin kalau Hera akan baik-baik saja. Tidak apa kalau dia memerlukan waktu untuk bangun. Kita akan selalu ada di sini untuknya."
__ADS_1
Alex meraih tangan istrinya lalu mengecupnya lembut. Dia melirik perut Hera yang masih sangat rata itu. Kebahagiaan yang ada di dalam hatinya membuatnya ingin menangis dan memeluk Hera dengan erat saat ini. Namun sayang, istri cantiknya itu masih tidak merespon setiap sentuhan yang dia berikan.
Alex mengedarkan pandangannya. Di sana hanya ada Angel yang sedang tidur di sofa. Ayahnya dan Sara sudah tidak ada di sana. "Papa dan Sara kemana Ma?" tanya Alex . Dia menoleh ke arah Jessica yang kini sudah duduk di sofa.
"Papa harus ke perusahan mu. Wohyun tadi menelpon kalau ada rapat darurat di sana. Kamu tidak mungkin bisa menghadiri rapat itu bukan, jadi Papa menggantikan mu. Dan Sara, mama sengaja menyuruhnya untuk pulang. Mama tidak tega kalau harus melihatnya menangis terus. Gadis itu sangat menyayangi istrimu Alex."
Alex melirik tangannya saat dia merasakan gerakan halus dari tangan mungil yang sedang dia genggam. "Hera!" gumamnya sambil menatap lekat istrinya. Apa Alex hanya berhalusinasi saja? apa karena dia terlalu khawatir sampai dia merasakan sesuatu hal yang tidak nyata.
****
"Ibu!" panggil Hera dengan wajah yang berseri-seri. Seorang wanita yang dia panggil menoleh lalu tersenyum ke arahnya.
"Ibu, Ibu baik-baik saja?" tanya Hera. "Ibu sudah bahagia ya di sini? Hera boleh gak ikut bersama Ibu? Hera lelah Bu. Hera capek," ucapnya dengan wajah sendu. Wanita cantik yang tadi Hera panggil ibu lagi-lagi hanya tersenyum. Hera menggenggam tangan itu dengan erat. Namun, wanita itu berusaha untuk melepaskan tangannya. Perlahan dia pergi menjauhi Hera. Hera ingin menyusulnya tapi kakinya tidak bisa dia gerakan. Dia benar-benar ingin menangis saat ini. Kenapa ibunya mengabaikannya?
"Ibu!" panggil Hera dengan suara yang lirih. Dia tertunduk dan ambruk ke atas rerumputan hijau saat sosok ibunya hilang bersama kabut putih. Hera melihat ibunya tersenyum dengan senyuman yang sangat dia rindukan.
"Mommy."
"Mommy."
****
"Hera Sayang!" panggil Alex saat melihat Hera bergerak gelisah sambil terus menggumamkan kata ibu.
Perlahan kelopak mata Hera terbuka. Buliran air bening menetes dari sudut matanya. Dia menolehkan kepalanya saat mendengar suara Alex yang memanggil namanya. Dia tersenyum. Apa tadi dia hanya bermimpi? tapi kenapa mimpinya terasa sangat nyata. Dia melirik tangannya dan menggerakannya. Rasa hangat dan lembutnya tangan In Ha masih bisa dia rasakan.
"Alex! aku bertemu dengan Ibu."
Alex mematung. Jantungnya seakan terhempas tatkala dia mendengar kalimat pertama yang keluar dari dalam mulut istri cantiknya. Sudah lama dia menemani Hera yang koma, dan kalimat pertama yang dia dengar adalah Hera yang mengatakan kalau dia bertemu dengan ibunya. Apa mungkin Hera merasa putus asa sampai dia menyerah dengan hidupnya. Dan berencana untuk meninggalkan Alex.
__ADS_1
"Aku akan memanggil Dokter sayang," ucap Alex setelah menatap istrinya dan memberikan sebuah kecupan di kening Hera.
"Alex!"
Alex kembali menoleh. "Ada apa Sayang? aku tidak akan ke mana-mana. Aku hanya ingin memencet tombol itu," tunjuk Alex pada sebuah tombol yang ada di samping ranjang rumah sakit istrinya.
"Peluk," ucap Hera yang membuat Alex mengerutkan keningnya. Dia tersenyum lalu memeluk Hera cukup lama. Alex tidak mungkin menolaknya bukan. Dia juga sudah sangat merindukan istrinya. Merindukan suaranya, senyumannya dan juga sikap manjanya. Setelah beberapa saat Hera baru mau melepas pelukannya. Alex tersenyum lalu mengacak rambut istrinya gemas.
"Kita akan melakukannya lagi nanti hmmm. Sekarang kita panggil Dokter dulu."
Tidak membutuhkan waktu lama, dokter Pedrik dan seorang perawat masuk ke ruangan Hera. Dia memeriksa Hera dengan sangat teliti. Hera terus menatap suaminya selama dia masih di periksa dokter. Suaminya terlihat sangat tampan meskipun wajahnya lebih tirus. Apa Alex sakit, kenapa dia terlihat lebih kurus dari biasanya. Mata pandanya juga sangat terlihat. Alex pasti tidak tidur dengan benar.
"Istrimu sudah baik-baik saja Alex. Mungkin selama ini dia hanya tidak mau berusaha untuk sadar. Dalam kata lain, alam bawah sadarnya menolaknya untuk bangun. Dia akan baik-baik saja sekarang. Namun karena dia koma cukup lama, sekujur tubuhnya pasti akan sangat kaku. Kau masih harus berjuang untuk membuatnya bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya."
Alex mengangguk. Dia melirik Hera yang sedang menunggu perawat melepas selang oksigen dari hidungnya.
"Terimakasih Pedrik," ucap Alex tulus. Pedrik mengangguk kemudian keluar dari ruang rawat Hera.
Kini Hera sudah di pindahkan ke ruang rawat inap biasa. Dia memang masih harus melewati masa pemulihan. Senyum cerah tidak lepas dari wajah cantiknya. Alex sebenarnya merasa agak aneh. Tapi di banding itu semua, kebahagiaan yang dia rasakan saat ini sudah melebihi apapun. Dia adalah orang paling beruntung di dunia karena masih di beri kesempatan untuk menjaga dan membahagiakan sang istri.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Alex ketika melihat Hera terus menatap wajahnya.
Hera menggeleng. "Kau sangat tampan. Tapi kenapa wajahmu menjadi lebih tirus dari sebelumnya? apa selama beberapa hari ini kau tidak makan dan tidur dengan baik?" tanya Hera sambil mengelus wajah suaminya. Alex yang kala itu sedang membantu Hera untuk duduk dengan nyaman di ranjangnya menghentikan kegiatannya dan langsung menatap mata Hera lekat.
"Bagaimana mungkin kau mengatakan beberapa hari Hera? kau koma selama hampir tiga bulan."
"Apa?" pekik Hera dengan mata yang membulat sempurna.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank u and i love u all......