THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Rahasia di Balik Cincin Berlian Hera


__ADS_3

Kak!" panggil Angela dengan sura yang sangat pelan. Dia terlalu malu untuk memanggil kakak iparnya saat ini. Namun saat dia melihat keadaan Hera yang begitu menyedihkan, dia merasa dia harus meminta pengampunan dari Hera.


Hera mendongakkan kepalanya menatap Angela dengan tatapan yang sendu. Dia tersenyum namun air matanya kembali menetes saat melihat wajah adik iparnya itu.


"Pakailah ini!" ucap Angel melepas sepatu kets yang dia kenakan lalu berjongkok dan memakaikannya di kaki Hera.


Hera hanya menatap Angel sekilas lalu mengusap air matanya kasar. Hati nya sakit jika mengingat alasan awal kenapa tragedi seperti ini bisa terjadi adalah karena Angel yang begitu keras kepala. Hera sudah mencoba agar dia tidak mengingat alasan ini. Tapi semakin lama, dia semakin kesal ketika melihat adik iparnya itu.


"Maafkan aku Kak!" ucap Angel lirih. Dia tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Hera memalingkan wajahnya. Angel pasrah kalau memang Hera membencinya.


Kriietttt... Pintu ruang operasi terbuka setelah hampir 6 jam tertutup. Semua orang yang sedang menunggu beranjak dari duduk mereka dan berjalan mendekati dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Jessica. Dia sangat cemas saat ini. Operasi yang di lakukan para medis sangat lama. Hal itu semakin membuat semua orang gelisah.


"Semuanya berjalan lancar Nyonya. Tapi kita belum bisa memastikan keadaan nya. Pasien masih kritis. Kita akan mengetahui operasinya berhasil atau tidak ketika pasien sudah melewati masa kritisnya. Saya permisi," ucap dokter itu lalu pergi.


Hera menghela napas panjang ketika mendengar penuturan dari dokter yang menangani suaminya. Dia sudah menunggu selama enam jam. Tapi dia masih harus menunggu lebih lama lagi. Hatinya sakit tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Jessica memeluk menantunya ketika melihat Hera kembali menangis. Sungguh dia sangat tidak tega melihat Hera ada dalam kondisi seperti ini. Wajahnya pucat dan penampilannya sangat berantakan. Ini sama sekali tidak terlihat seperti Hera. Siapa saja yang melihat keadaan wanita cantik itu saat ini, mereka pasti akan sangat iba dan kasihan.


"Aku capek Ma!" ucap Hera sebelum kehilangan kesadarannya.


"Hera!"


"Kak Hera!" teriak Angel ikut panik saat melihat tubuh kakak iparnya ambruk.

__ADS_1


Tae Jun yang melihat itu langsung mengendong menantunya dan membawanya ke UGD.


"Angel! Mama harus menemani Hera dulu! kau pergilah ke ruang observasi Kakak mu. Tanyakan pada dokter, apa kita sudah bisa menjenguknya atau tidak!"


"Baik Ma," ucap Angel mengangguk.


Jessica langsung berlari menyusul Tae Jun dan Hera. Dia tahu Alex sedang dalam keadaan tidak baik. Tapi Hera juga sedang membutuhkannya saat ini. Dia harus bisa menjadi ibu dan juga mertua yang baik. Meskipun Alex terluka sangat parah, tapi ada kemungkinan kalau dia masih belum bisa menemui anak sulungnya.


"Bagaimana Pa?"


Tae Jun menoleh lalu memeluk pinggang istrinya. "Dia kelelahan sayang. Dokter mengatakan kalau dia harus di rawat untuk beberapa hari. Ada hal lain yang harus mereka periksa. Hera terlalu syok," tutur Tae Jun. Jessica mengangguk sambil menatap menantu kesayangannya yang sedang terbaring lemah. Hera sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, jadi kalau dia terluka Jessica juga akan ikut merasakannya.


"Aku harap mereka akan baik-baik saja. Mama tahu mereka sudah saling mencintai. Sangat. Kita mungkin tidak akan bisa menjabarkan seberapa besar cinta yang mereka miliki. Alex, anak kita itu anak yang kuat kan Pa! Mama yakin dia tidak akan membiarkan istrinya terpuruk dan menderita lebih lama lagi."


Tae Jun mengelus punggung istrinya lembut.


"Ma, Pa," ucap Hera. Dia ingin bangun namun dengan cepat Jessica dan Tae Jun menahan bahunya."Kau harus istirahat dulu Hera! kondisimu sedang tidak baik. Kau masih harus di rawat di rumah sakit ini. Mama sudah menerima kabar dari Angel. Untuk sekarang kita belum bisa menjenguknya."


Hera menunduk pasrah saat mendengar kata-kata Jessica. Dia sangat ingin menemui suaminya saat ini. Terlebih dia masih berhutang maaf pada Alex, dia tahu, seharusnya sejak awal dia memberitahu Alex tentang masalah ini.


"Pa, kenapa Alex bisa ada di sana? Papa tidak memberitahunya bukan?"


Tae Jun menghela napas panjang. Papa juga tidak tahu sayang, saat itu Wuhyun menelpon papa dan mengatakan kalau Alex sangat marah ketika mengetahui kalau Hera tidak ada di kantor maupun di rumah. Dia juga sudah menanyakan keberadaan Hera pada semua orang termasuk pada Ayahmu. Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba dia datang ke vila itu dan mengacaukan semua rencana kita."


"Cincin," ucap Hera, tatapannya tertuju pada cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. Tae Jun dan Jessica menatap ke arah yang sama.

__ADS_1


"Cincin?" tanya Tae Jun dengan kening yang berkerut.


"Hmmm.. Alex menanam sebuah chip di dalam cincin ini Pa. Dia mengatakan , kalau dia akan tenang jika dia bisa memantau setiap pergerakan ku."


"Maksudmu, Alex menjadikan cincin ini sebagai GPS tracker ?" tanya Jessica.


Hera mengangguk. Dia menarik tangannya, lalu menyentuh dan memutar-mutar cincin berlian itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat dia memikirkan betapa Alex sangat perduli dan sangat mencintainya.


Tae Jun menatap lekat menantunya. Dia sangat bahagia begitu mengetahui Alex yang sangat mencintai dan juga sangat memperhatikan Hera. Dulu dia juga pernah melakukan hal yang sama kepada Jessica. Bedanya, dia menanam chip nya di kalung berlian bukan pada cincin. Dia sangat bangga, karena ternyata Alex mengikuti semua jejaknya. Anak laki-laki nya itu bukan cuma tampan, dia hampir menguasai semua bidang yang menjadi tanggung jawabnya. Perusahaan, ilmu bela diri, kesehatan dan juga cinta.


"Sayang! apa kau mau mengabari keluargamu?" tanya Tae Jun hati-hati.


Hera mendongak, dia menggelengkan kepalanya. "Keluargaku adalah kalian. Siapa yang harus aku hubungi," jawab Hera dengan wajah dinginnya.


Jessica berjalan mendekati Hera. Dia memeluk menantunya dan mengusap kepala Hera lembut. "Baik, tidak perlu menghubungi siapapun. Kami saja sudah cukup bukan? jangan memikirkan hal yang tidak perlu!"


"Maaf Tuan, Nyonya." tegur seorang perawat wanita dan seorang perawat pria yang mengekor di belakangnya. "Kami sudah menyiapkan kamar VVIP untuk Nona Hera. Jika boleh, saya akan membawanya ke sana sekarang," ucap perawat wanita. Sedangkan perawat pria itu mendorong sebuah kursi roda dan berdiri tepat di samping ranjang Hera.


"Saya akan membantunya," ucap Tae Jun ketika melihat perawat pria hendak menggendong menantunya. Ternyata bukan hanya Alex yang begitu melindungi Hera. Tae Jun juga tidak suka jika menantunya itu di sentuh pria lain. Alex akan sangat marah padanya jika dia membiarkan itu terjadi.


Jessica tersenyum melihat Tae Jun yang begitu perhatian terhadap Hera.


"Aku tidak salah memilih suami," ujarnya.


...Be Continued....

__ADS_1


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank you 🤗🤗...


__ADS_2