
"Ibu, apa Kak Hera ada di sini?" tanya Hye Mi ketika memasuki kamar Ye-Seul. Dia baru pulang dari kampus sore ini, tapi ketika hendak masuk ke kamarnya dia melihat Bibi Han dan beberapa pelayan masuk ke dalam kamar Hera sambil membawa makanan.
"Bu!" panggil Hye Mi lagi ketika Ye-Seul tidak menjawabnya. "Ada apa? apa terjadi sesuatu saat aku tidak di rumah?" Hye Mi duduk di pinggiran ranjang sambil memperhatikan Ye-Seul yang sedang menatap keluar jendela kamarnya.
"Dia bukan Hera. Dia Anak Ayahmu yang lahir dari rahim wanita yang berbeda," ucap Ye-Seul dingin.
Hye Mi terperanjat, dia bangun lalu berjalan mendekati ibunya. " Maksud Ibu apa? aku melihat Bibi Han membawa banyak makanan ke kamar Kak Hera. Bukankah dari dulu Ayah tidak pernah membiarkan siapapun untuk mengisi kamar itu? dan kenapa Ibu malah bicara yang tidak-tidak?"
"Dengarkan Ibu Hye Mi!" Ye-Seul membalikan badannya lalu meraih pundak Hye Mi dengan kedua tangannya. "Dia Lee Annya. Kakak dari kalian bertiga. Perempuan licik itu pasti telah mempengaruhi pikiran Ayahmu. Dia sengaja masuk ke rumah ini untuk menghantarkan keluarga kita."
"Dia putri Ayah juga?" tanya Hye Mi memastikan.
Ye-Seul mengangguk. Dia bingung harus menjelaskan semuanya dari mana. Dia hanya bisa memberikan garis besarnya saja pada Hye Mi. "Kau harus hati-hati Nak. Annya itu bukan wanita biasa. Dia berbeda dengan Hera. Ibu bisa melihat gelagat aneh yang selalu dia tunjukan. Dia itu bermuka dua. Bersikap manja kepada Ayahmu dan akan kembali bersikap tidak wajar ketika Ayahmu tidak ada."
"Baiklah Bu, Hye Mi mengerti. Hye Mi mau ke kamar Hye Mi dulu!" ucapnya sambil melenggang pergi meninggalkan kamar Ye-Seul.
Ye-Seul menatap nanar punggung Hye Mi saat putrinya berjalan keluar dari kamarnya. Dia merasa sangat bersalah karena Hye Mi dan Min Ji harus mendapat masalah seperti ini. "Kalian jangan khawatir. Ibu tidak akan membiarkan siapapun merebut posisi kalian di rumah ini. Kalian akan tetap menjadi anak kesayangan ibu dan ayah."
Brakkkkk.... Hye Mi membanting pintu kamarnya dengan kasar. Dia berjalan ke arah ranjang lalu menjatuhkan dirinya begitu saja. "Aku sangat benci karena harus lahir di keluarga berantakan seperti ini. Uang Ayah memang banyak. Tapi kenapa dia juga harus memiliki banyak anak dari perempuan yang berbeda. Aku membencinya," ucap Hye Mi sambil memukul-mukul ranjang empuknya.
"Kak Hera!" gumam Hye Mi saat teringat akan Kakaknya
Hye Mi dengan segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Tut...... Tut......
"Halo Hye Mi, ada apa?"
"Kak! apa Kakak baik-baik saja?" tanya Hye Mi berusaha untuk memastikan bahwa Hera memang sedang dalam keadaan baik.
"Aku baik-baik saja Hye Mi," ujar Hera sambil memainkan rambut suaminya. Ya, Hera memang sedang menonton tayangan televisi bersama Alex. Dia duduk bersandar di sofa, sedangkan Alex tidur di pangkuannya.
__ADS_1
"Kak, apa Kakak tahu kalau Annya sudah bebas?"
"Apa? kapan? kenapa bisa? siapa yang membebaskannya?" pekik Hera membuat Alex menatap istri cantiknya itu dengan seksama.
"Ada apa?" tanya Alex tanpa suara. Hera menaruh telunjuknya di atas bibir lalu kembali mendengarkan Hye Mi yang hendak berbicara.
"Ayah!" ucap Hye Mi singkat padat dan berisi.
Deg... Jantung Hera seakan berhenti saat itu juga. Bagaimana bisa ayahnya membebaskan Annya padahal dia sudah tau kalau kejahatan yang di lakukan Annya adalah berusaha untuk mencelakainya.
"Kak! dia juga tinggal di kamar lamamu sekarang."
Brughhhh.... Alex menggelinding di atas lantai saat Hera tiba-tiba berdiri. Dia meringis sambil menggosok siku nya yang terasa sakit karena berbenturan dengan lantai.
"Maaf!" cicit Hera tanpa suara. Dia berjalan ke arah jendela kaca yang menghadap area samping rumahnya.
Alex mengerucutkan bibirnya merasa dongkol dengan sikap sang istri yang secara tiba-tiba menampakan reaksi yang cukup berlebihan.
"Terimakasih karena sudah memberitahuku Hye Mi. Aku akan menemui Ayah di kantornya besok pagi. Kau cepatlah istirahat!"
"Baiklah Kak. Kakak hati-hati. Sepertinya Annya memiliki rencana lain sekarang."
"Heummmm."
Tutttt..... Hera mengakhiri panggilan teleponnya. Dia memutar badannya lalu menatap lekat mata sang suami. Alex yang melihat istrinya memperlihatkan ekspresi serius langsung tahu jika ada suatu hal tidak baik sedang terjadi. "Ada apa?" tanya Alex.
"Annya ada di rumah Ayah," ucap Hera dengan wajah dinginnya.
"Apa?" kenapa bisa?"
"Ayah membebaskan Annya dengan jaminan. Laki-laki tua bangka itu memang sudah hilang akal. Dia sedang menggali tanah kuburannya sendiri. Dia tidak tahu kalau yang dia bawa pulang itu adalah Kadal busuk yang ucapannya bisa sangat manis."
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa?" tanya Hera ketika melihat Alex terkikik di hadapannya.
"Kau itu sangat lucu. Kenapa kau menamainya Kadal busuk Hmmmm? apa tidak ada nama lain yang lebih jelek dari itu?" tanya Alex sambil memeluk istrinya gemas.
"Dia itu memang sejenis kadal yang bisa hidup di dua alam Alex. Wanita itu tidak bisa di pegang kata-katanya. Dia juga pandai mengelabui musuh. Dia juga bisa melakukan Autotomi jika dalam keadaan terdesak."
"memang dia memiliki ekor?" tanya Alex polos yang membuat Hera malah semakin jengah.
"Ekornya itu ada di urat malunya dia Alex. Dia bisa berkamuflase menjadi dirinya yang lain di setiap keadaan yang berbeda."
"Aku mengerti," ucap Alex sambil menganggukkan kepalanya. Hera mendengus. Dia hendak meninggalkan Alex namun suaminya itu dengan Segera menarik tangan Hera dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Jangan marah! aku hanya tidak ingin kau terlaku khawatir dan tegang. Ingat kata Dokter, kau tidak boleh stres. Kita harus bisa menjaga mood mu supaya hormon estrogen mu tidak kembali menurun."
"Tapi kau sangat menyebalkan Alex," ucap Hera. Dia memukul dada suaminya beberapa kali.
"Akhhhh...." Alex meringis sambil memegang perut bagian bawahnya.
"Kenapa? lukamu terbuka kembali? aku hanya memukul dada mu Alex kenapa perutmu juga ikutan sakit?" Hera memapah Alex dan mendudukkannya di sofa.
"Aku akan memanggil Dokter untukmu."
Srettttt... Alex menarik tangan Hera membuat Hera langsung terduduk di pangkuan sang suami.
"Kau mengerjai ku Alexander?" geram Hera merasa bodoh karena bisa di kelabui dengan mudah oleh suaminya.
Cup... Alex mengecup bibir Hera sekilas. Dia mengelus pipi istrinya lembut. "Jangan marah terus, aku akan benar-benar sakit jika kau terus marah seperti ini."
"Hummmpphhhhhhh." Hera ingin kembali mencecar suaminya, namun dia kalah cepat dengan Alex yang langsung membungkam bibirnya.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank You......