THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Andrew Garfield


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Alex membawa Hera ke sebuah rumah yang pernah dia janjikan.



Hera keluar dari dalam mobil suaminya. Dia berjalan kemudian berhenti tepat di depan mobil yang tadi dia tumpangi.


Alex berjalan mendekati Hera kemudian meraih pinggang sang istri dan menariknya perlahan supaya Hera bisa lebih menempel padanya.


"Alex, aku tahu kau sangat kaya, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan? kita hanya berdua sekarang, rumah sebesar ini siapa yang akan menempatinya."


"Aku tahu, meskipun kita hanya berdua sekarang, tapi aku yakin kelak rumah ini akan ramai dengan Kim junior," Alex memang sangat mengharapkan buah hati saat ini, tapi, dia hanya manusia biasa, hanya tuhan yang bisa mewujudkan segalanya.


"Maafkan aku Alex, aku juga sangat mengharapkan kehadiran anak di dalam rumah tangga kita, tapi sampai sekarang aku belum hamil juga, padahal kita sudah sangat berusaha selama ini," Hera berucap dengan suara lirih. Dia sedih karena sudah dua bulan sejak dia melakukan hubungan suami istri dengan Alex, tapi dia masih belum hamil.


"Hei, dengarkan aku sayang!" Alex memegang bahu Hera dan menatap wajah istrinya sambil tersenyum. "Aku yakin semuanya akan datang di waktu yang tepat sayang, jangan sedih, jangan putus asa, kita nikmati saja waktu berdua kita sebelum Kim junior hadir. Aku sengaja membuat rumah yang besar supaya kita bisa mempekerjakan orang banyak di sini. Apa salahnya jika kita membantu orang-orang untuk mendapatkan pekerjaan."


Alex merengkuh istri tercintanya dengan lembut. Dia sadar dia salah. Seharusnya tadi dia tidak perlu membahas masalah anak dengan Hera. Istrinya itu sangat sensitif jika di singgung masalah keturunan. Alex seharusnya lebih peka dan lebih bisa menjaga perasaan istrinya.


"Maafkan aku sayang, aku malah membuat mood mu tidak baik, aku janji, setelah kita melihat rumah ini, kita akan pergi membeli es krim dan juga macaroon kesukaanmu.


Hera tersenyum, dia tahu tidak seharusnya dia bersikap egois seperti ini. Alex juga pasti sangat menginginkan seroang anak. Tapi dia harus berusaha tegar supaya Hera tidak terpuruk.


"Aku akan membeli banyak. Kita harus ke rumah mama, aku ingin bertemu Angel, dia juga sangat menyukai macaron."


Alex mengangguk kemudian menuntun Hera untuk segera masuk ke dalam rumah baru mereka. Rumahnya benar-benar sangat besar, pasilitas yang ada di dalamnya sangat lengkap, mulai dari kolam renang, ruang karoke, ruang olahraga, meja bilyard , ruang baca tempat Hera dan Alex bekerja, bahkan di halaman belakang ada lapangan untuk bermain basket.


"Alex, kau sungguh luar biasa," ucap Hera ketika mereka memasuki kamar utama. Kamarnya sangat luas, bahkan ruang ganti pun memiliki pintu sendiri, belum lagi kamar mandi yang sama luasnya dengan ruang tamu di apartemen Hera yang dulu.



"Kau boleh mengganti interior nya jika ini tidak cocok denganmu."


"Tidak perlu, kita akan segera membereskan semua barang yang ada di apartemen lalu membawanya ke sini. Kita juga boleh membawa bibi Lim bukan?"


"Tentu saja, dia pasti akan sangat senang. Apalagi jika tahu kalau kita akan merekrut banyak pelayan." Alex mengacak rambut istrinya gemas.

__ADS_1


Dua jam kemudian, Alex dan Hera sudah berada di kediaman keluarga Kim. Hera membungkukkan badannya ketika para pelayan melakukan hal itu saat menyambutnya yang baru akan memasuki rumah. Alex mengekori Hera dari belakang karena istrinya itu berjalan dengan tergesa meninggalkan Alex yang membawa es krim dan juga macaroon yang tadi dia janjikan.


"Mama!" teriak Hera berlari dan langsung memeluk Jessica.


"Apa kabar sayang? mama pikir kamu tidak akan ke sini," Jessica meraih tangan menantunya dan menuntunnya untuk duduk di sofa di ruang keluarga.


"Hera baru aja pergi liat rumah baru ma, rumahnya sangat bagus. Hera suka."


"Bagus kalau begitu, memang sudah seharusnya kalian tinggal di rumah yang lebih besar daripada tinggal di apartemen."


"Bi, tolong ambilkan air dan camilan yang sudah saya buat di dalam kulkas ya!" teriak Jessica pada pelayannya.


"Mama bikin apa?" tanya Alex yang ikut duduk di dekat kedua wanita yang di cintainya.


Alex tersenyum. Dia sangat bahagia saat ini. Istrinya sangat menyayangi keluarganya, begitupun dengan keluarga Alex yang memperlakukan Hera seperti anak mereka sendiri.


"Mama bikin puding cokelat kesukaan Hera."


"Wahhhh, mama yang terbaik," ucap Hera mengacungkan kedua jempolnya.


"Terimakasih Bi," ucap Jessica.


"Bi, tolong simpan es krim ini kedalam kulkas ya!" Alex menyerahkan sebuah paper bag kepada bibi Jung.


"Baik Tuan."


"Terimakasih Bi."


Bibi Jung mengangguk kemudian kembali ke dapur. Sementara Hera sudah asyik memakan puding buatan mama mertuanya.


"Ini sangat enak ma," ucap Hera dengan mulut penuhnya.


"Makan pelan-pelan sayang, tidak akan ada yang merebutnya darimu," ucap Alex sambil menyapu sudut bibir Hera dengan ibu jarinya.


"Angela mana ma?" tanya Alex pada Jessica. Biasanya adiknya itu akan turun dengan tergesa ketika mendengar Hera datang. Tapi kenapa kali ini dia tidak muncul juga.

__ADS_1


"Angela ada meeting bersama calon kliennya. Satu jam yang lalu dia pergi bersama sopir dan juga managernya ke hotel xxx," ucap Jessica sambil memperhatikan Hera yang sedang asyik memakan puding buatannya. Dia sangat bahagia karena Hera tidak pernah menolak apapun yang dia berikan. Semua makanan yang dimasak olehnya akan di lahap habis oleh menantu kesayangannya itu.


"Tumben meeting di hotel, biasanya juga datang langsung ke kantornya." ulang Alex.


"Kliennya datang dari Paris Lex, kalau tidak salah namanya itu Andrew Garfield," ucap Jessica setelah berusaha untuk berpikir.


Brakkk....


Hera menaruh gelas bowl berisi puding yang sedang di makannya di atas meja. Tubuhnya membeku, lidahnya kelu dan jantungnya sudah berdegup tak karuan.


"Andrew Garfield jangan bilang dia adalah....


"Ada apa sayang? tanya Jessica ketika melihat Hera berhenti makan dan malah melamun.


"Ma, apa mama tahu, Andrew Garfield menawarkan pekerjaan apa pada Angel, dan perusahaan apa yang ada di belakangnya?" Hera memberanikan diri untuk bertanya.


"Kalau tidak salah, dia menawarkan Angela untuk jadi model pakaiannya di Paris fashion week, dan untuk perusahannya yang mama dengar adalah perusahaan xxxx."


Deg.


Deg.


Deg.


Detak jantung Hera semakin berpacu setelah mendengar penuturan mama mertuanya. Hera sudah berharap bahwa apa yang dia pikirkan tidak benar. Tapi jika sudah seperti ini dia harus segera menyusul Angela. Dia tidak boleh hanya duduk dan menunggu adiknya pulang. Tidak, tidak boleh.


"Ada apa? kau kenapa sayang?" tanya Alex melihat Hera melamun dengan wajah yang kian memucat.


"Kita harus segera pergi Alex. Ma, kita lupa ada meeting bersama klien penting sore ini. Kita pulang untuk menyiapkan berkasnya dulu ya?" ucap Hera sedikit tergesa, dia memeluk Jessica lalu menyambar tasnya dan menarik tangan Alex.


"Ma, kita pulang dulu," teriak Alex yang tidak sempat memeluk mamanya.


"Hati-hati sayang," teriak Jessica.


To Be Continued.

__ADS_1


Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank You..


__ADS_2