
Hera mengerjapkan matanya yang masih sedikit bengkak ketika kesadarannya mulai kembali. Kepalanya berat, badannya ngilu, dan perasaan panas juga dingin kini dia rasakan, Hera ingin bergerak tapi tidak memiliki tenaga sedikitpun.
Hera menolehkan kepalanya ke kanan, dia melihat Alex sedang duduk tertidur sambil menggenggam tangannya. Hera ingin menarik tangan itu tapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat Alex yang tidur begitu pulas. Hera tidak ingin Alex terbangun karena pergerakan yang dia buat.
Alex mulai membuka mata dan mengangkat kepalanya ketika merasakan tangan Hera yang dalam genggamannya bergerak.
"Hera!" Kau sudah bangun? gumam Alex bangkit dari kursi yang dini hari tadi dia gunakan untuk menyangga tubuhnya. Alex duduk di tepi ranjang kemudian menempelkan tangannya di kening Hera.
"Kau masih demam. Mau ke rumah sakit?" tawar Alex. Hera menggeleng.
"Baiklah, kita tidak akan ke rumah sakit, tapi aku akan memanggil dokter ke sini," Alex mengusap wajah Hera yang masih pucat itu dengan lembut.
"Aku akan membuatkan mu bubur," Alex melirik jam yang ada di atas nakas. Jam menunjukan pukul delapan pagi. "Bibi Lim akan datang sebentar lagi," aku akan membuatkan mu bubur sambil kita menunggu Wohyun membawa dokter ke sini. Alex Hendak berdiri, namun tangan Hera menahan pergelangan tangannya.
"Ada apa? kau membutuhkan sesuatu?" tanya Alex menatap Hera.
"Aku ingin ke kamar mandi," gumam Hera lemah. Hera sebenarnya sangat malu meminta bantuan seperti ini kepada Alex, namun tubuhnya benar-benar tidak membutuhkan rasa malu itu saat ini.
Alex tersenyum. Dia menyibak selimut yang ada di tubuh Hera. Hera mengerutkan keningnya ketika melihat baju yang saat ini dia kenakan sama sekali bukan baju yang kemarin malam. Kaos oblong putih yang jelas-jelas kebesaran itu melekat di tubuhnya saat ini, "siapa yang mengganti bajuku," gumam Hera dalam hati.
Alex yang melihat kebingungan di wajah Hera mengikuti arah pandang wanita yang di cintainya itu. Alex gelalapan, dia takut Hera akan marah jika tau Alex yang mengganti bajunya dini hari tadi.
"Ekheeemmm," Alex memberanikan dirinya untuk berbicara. "Aku panik tadi malam, aku takut demam mu akan semakin tinggi dan kamu menjadi tidak nyaman karena pakaian yang kamu kenakan semalam terlalu tebal. Aku gak ada pilihan lain selain menggantinya sendiri karena kamu tidak bangun saat aku menggoyang-goyangkan tubuhmu," Alex menantikan reaksi apa yang akan Hera berikan padanya.
"Huuuftt"... Hera menghela nafasnya. Apa yang harus dia lakukan di saat seperti ini, bahkan untuk marahpun dia tidak punya tenaga, lagipula Hera percaya kalau Alex benar-benar terpaksa melakukannya Alex tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak. Hera tau itu.
"Hei.. Kau tidak marah?" tanya Alex ketika melihat Hera hanya menghela nafas tanpa memaki atau meneriakinya. Alex melihat Hera menggelengkan kepalanya membuat Alex sedikit lega.
"Aku akan kembali lagi nanti," jangan berusaha untuk berjalan kalau memang kamu gak ada tenaga," Alex berbicara setelah menggendong Hera dan mendudukkannya di atas closet di kamar mandi.
Hera mengangguk, Alex tersenyum lalu pergi keluar kamar untuk mencuci muka dan gosok gigi di kamar mandi yang ada di ruang tengah.
Ting Tong. Suara bel terdengar ketika Alex sedang mengambil air hangat di pantry .
Cklek.. Alex membuka pintu dan terlihat bibi Lim yang membawa kantong berisi sayuran segar di sana...
__ADS_1
"Ah Bi, Alex pikir siapa, kenapa gak langsung masuk aja. Kan bibi tau sandi pintunya berapa," ucap Alex setelah mempersilahkan bibi Lim masuk.
"Kan Tuan lagi ada di disini. Gak mungkin bibi langsung masuk gitu aja. Gak boleh Tuan," ucap bibi Lim.
Alex hendak kembali ke pantry untuk mengambil air yang tadi hendak di berikannya kepada Hera. Namun.......
Prang.... Suara benda jatuh terdengar dari kamar Alex... Alex buru-buru lari untuk melihat apa yang terjadi di kamarnya. Alex sangat takut terjadi sesuatu kepada Hera saat ini.
Bibi Lim ikut berlari ke kamar Alex setelah menyimpan belanjaannya di atas meja dapur.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Alex memegang kedua bahu Hera lalu menggendongnya , takut Hera menginjak pecahan vas yang sudah berserakan.
"Aku tidak sengaja menyenggolnya," ucap Hera merasa bersalah karena tadi dia berusaha untuk berjalan keluar sendiri dari kamar mandi. Hera limbung begitu melewati pintu dan tubuhnya tidak sengaja menyenggol meja dan membuat vas yang ada di atasnya jatuh begitu saja.
"Aku sudah bilang untuk menungguku bukan?" Alex menurunkan Hera di tempat tidur membantunya duduk dan bersandar di kepala ranjang..
"Bagaimana Jika kamu terluka!" Alex menggenggam tangan Hera, dia menelisiknya takut Hera terluka karena tadi Alex melihat Hera ingin memungut pecahan vas yang berserakan di lantai.
"Bi, tolong bawakan air hangat ke sini," dan nanti tolong bersihkan pecahan vasnya," ucap Alex sambil menyelimuti kaki Hera.
Bibi Lim mengangguk, dia keluar lalu menyerahkan segelas air hangat kepada Alex setelah kembali lagi ke kamar itu.
Bibi Lim sedikit termangu ketika melihat Alex yang tidak pernah membawa seorang perempuan ke apartemennya kini sedang merawat Hera dengan telaten, bahkan memperlakukannya dengan sangat lembut.
Bibi Lim sudah lama bekerja dengan Alex. Alex memang jarang pulang ke apartemen, namun setiap dua hari sekali bibi Lim akan datang untuk bersih-bersih dan mengganti beberapa makanan yang ada di kulkas, bibi Lim sangat hapal dengan kebiasaan tuannya, pernah bibi Lim melihat Angela adiknya Alex menginap di sini, tapi jangankan di biarkan tidur di kamar Alex, Angela mau pakai kamar mandinya tuannya aja tidak di perbolehkan. Jadi siapa perempuan ini. Pikir bibi Lim.
"Bi!" ucap Alex ketika melihat bibi Lim malah terbengong di dekatnya.
"Ahh iya Tuan," bibi Lim langsung keluar untuk mengambil sapu dan membereskan pecahan vas yang masih berserakan di lantai.
Alex membaringkan Hera kembali, menarik selimut lalu menyelimuti Hera sampai ke perut.
Ting Tong.... Suara bel kembali terdengar.
"Biar saya saja Bi!" ucap Alex ketika melihat bibi Lim hendak keluar untuk membukakan pintu. "Bibi bereskan itu aja dulu, nanti tolong siapkan bahan untuk membuat bubur, biar saya yang buat nanti!" Alex kembali menatap Hera. "Mungkin itu Wohyun dan Dokter Kang. Aku akan membuka pintu dan segera kembali," Hera mengangguk.
__ADS_1
"Dia hanya demam, aku tidak harus menyuntikan antibiotik karena demamnya tidak terlalu tinggi, aku hanya akan memberikan obat penurun panas dan pereda nyeri untuk saat ini, Tapi kalau tiga hari demamnya naik turun, aku sarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit," Dr. Kang berbicara setelah memeriksa keadaan Hera.
Alex yang sedang berdiri di dekat ranjang terlihat menganggukkan kepalanya.
Dr.Kang dan Alex keluar dari kamar setelah selesai memeriksa Hera dan memberi resep obat kepada Alex.
"Wohyun, tolong antar Dr. Kang dan belikan obat ini!" Alex menyerahkan kertas yang tadi di berikan Dr. kang kepada Wohyun.
"Baiklah," tapi nanti siang kau ada meeting dengan klien penting Lex. Aku harap kau bisa menghadiri meeting itu," ucap Wohyun setelah menerima kertas yang di berikan Alex.
"Aku tidak bisa Wohyun, bagaimana dengan Hera? tidak ada yang menjaganya kalau aku pergi," Alex benar-benar tidak ingin meninggalkan Hera saat ini.
"Ada bibi Lim yang akan menjaganya," ucap Wohyun, namun Alex masih diam dan tidak mengatakan apapun.
"Kalau perlu, aku akan menyuruh Sara untuk datang ke sini, kau tau kan Hera hanya dekat dengan Sara selama ini," ucap Wohyun lagi meyakinkan.
Alex terlihat berpikir untuk sesaat ,"Baiklah, aku akan pergi, tapi hanya menghadiri meeting itu saja , setelah itu aku akan kembali," ucap Alex akhirnya mengalah.
"Sure!" Wohyun tersenyum kemudian keluar bersama Dr. Kang.
"Bi, bahannya sudah siap semua?" tanya Alex menghampiri bibi Lim di pantry.
"Sudah Tuan. Bibi juga sudah merendam berasnya. Wortel sama abalonnya juga sudah bibi bersihkan dan sudah di potong-potong," ucap bibi Lim.
Alex mengangguk kemudian mulai memasak bubur abalonnya. "Bi, nanti siang saya mau keluar sebentar , tolong jaga Hera dulu ya sebelum saya pulang! Saya usahakan saya gak lama keluarnya," ucap Alex di sela-sela kegiatan memasaknya.
"Baik Tuan, tapi Tuan, Nona Hera itu calon istrinya Tuan ya? kok bibi baru kali ini liat Tuan membawa perempuan ke sini," tanya bibi Lim penasaran.
Alex tersenyum."saya memang mencintainya Bi, tapi saya masih berusaha sekarang. Bibi doakan saja semoga Hera benar-benar akan menjadi nyonya muda di keluarga Kim ya!"
"Pasti Tuan, Nona Hera sangat cantik, cocok jika jadi nyonya muda," ucap bibi Lim yang membuat Alex menyunggingkan senyum lebar di bibirnya.
"Ah iya Bi, Nanti akan ada teman Nona Hera ke sini."
"Baik Tuan," ucap bibi Lim kemudian meninggalkan Alex untuk melakukan pekerjaan yang lain.
__ADS_1
To Be Continued...
Hai Readers.. Jangan lupa Like , komen, vote, dan Hadiah nya ya.. favoritkan juga novel nya... Thank you...😘😘