THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Penipu Ulung


__ADS_3

Suasana di kediaman Myung Jin terlihat sangat ramai karena perseteruan antara dua wanita cantik yang saling sahut dengan mulut berbisa mereka, di satu sisi ada wanita iblis yang masih tangguh, dan di sisi lain adalah wanita pelakor yang sudah hampir tumbang. Tidak ada yang mau melerai percekcokan yang sedang terjadi. Memang pelayan mana yang berani melerai perkelahian yang sedang di lakukan majikan mereka.


"Kau itu wanita jahat Annya, anak tidak bersalah seperti Min Ji harus menerima hukuman yang seharusnya tidak dia dapatkan. Kau ini manusia atau bukan? kenapa kau tega sekali berbuat seperti itu?"


Annya tersenyum menyeringai. Apa tidak salah Ye-Seul menyebutnya wanita jahat, bukankah selama ini Ye-Seul juga menikmati kekayaan yang seharusnya tidak dia miliki, Ye-Seul bisa menikmati ini semua karena dia telah merusak kehidupan orang lain. Apa wanita paruh baya ini senang akan hal itu? dia bangga? apa dia juga pantas di sebut sebagai manusia? bukankah mereka sama-sama tidak memiliki hati nurani? yang lebih jahat dia atau Ye-Seul.


"Kau ini amnesia mendadak atau bagaimana Bibi? setahu ku, kau juga bukan wanita baik-baik. Kau mendapatkan Ayah Myung Jin karena kau menggodanya bukan? kau juga rela melahirkan anak di luar pernikahan hanya demi mendapatkan kekayaan bukan? cihh.. Kau adalah iblis berkedok ibu penyayang Ye-Seul."


Byurrrrrt... Ye-Seul menyiram wajah Annya dengan air yang ada di gelas minumnya. Saat ini mereka memang sedang berada di dapur. Ye-Seul tidak menyangka kalau Annya bisa mengeluarkan kata-kata tidak bermoral seperti itu. Dia memang menyayangi anak-anaknya, tapi kenapa Annya mengatakan kalau itu semua hanyalah sebuah kedok. Apa hak Annya sampai dia bisa mengatakan itu semua.


Byuuurrrrr...... Annya menyiramkan kuah sup yang ada di dalam panci ke wajah Ye-Seul. Enak saja Ye-Seul menyerangnya begitu saja, dia juga bisa melawan. Jangan panggil dia Annya, kalau dia akan membiarkan dirinya di tindas tanpa melakukan perlawanan.


"Akhhhh panas," pekik Ye-Seul, dia segera membasuh wajahnya dengan air dingin di keran wastafel.


"Kau gila hah?" teriak Ye-Seul sambil menatap Annya dengan tatapan membunuhnya.


Settttt.... Ye-Seul menarik rambut Annya dengan sekuat tenaga. Annya mendongakkan kepalanya mengikuti arah tarikan Ye-Seul.

__ADS_1


"Lepaskan rambutku wanita tua!. Kau mati hah?" teriak Annya. Suasana di dapur semakin tidak kondusif. Para pelayan sudah di buat gusar dan khawatir. Mereka ingin menghentikan perkelahian Nyonya dan Nona mereka, tapi mereka juga sangat takut. Belum lagi Myung Jin dan Hye Mi belum pulang. Jadi Bibi Han juga tidak bisa meminta pertolongan kepada siapapun.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Myung Jin yang baru pulang dari kantor. Ya, dia memang ada pertemuan penting dengan klien, jadi dia tidak pulang bersama dengan Annya.


"Ye-Seul," teriak Myung Jin saat melihat Ye-Seul masih menarik rambut Annya. Biji matanya sudah akan keluar saat dia melihat keadaan tidak menyenangkan ini. Sebenarnya apa yang terjadi sampai dua wanita yang ada di rumahnya harus berseteru. Myung Jin sangat tidak suka melihat ini, Min Ji sudah tidak ada di rumahnya, dan kemungkinan dia tidak akan pulang untuk waktu yang sangat lama karena gangguan kejiwaan yang di alami Min Ji.


Ye-Seul ingin menarik tangannya, namun Annya malah mencengkram tangan Ye-Seul dan berpose seolah-olah Ye-Seul masih menarik rambutnya. "Kau ini gila Annya?" teriak Ye-Seul.


Annya malah menjerit dan mulai berpura-pura menangis. Dia bertingkah seolah-olah Ye-Seul masih terus menyakitinya. "Hikssss, Ibu, maafkan aku, tadi aku terpeleset, jadi aku tidak sengaja menumpahkan sup ayamnya. Kenapa kau harus melakukan ini padaku Bu?" Hiksss....


"Berhentilah bertingkah seperti seorang Ibu Ye-Seul. Annya bukan anakmu, kenapa kau harus menyiksanya karena alasan sepele seperti ini. Sup ini juga bukan kau yang buat kan? lalu kenapa kau harus marah?"


"Myung Jin dengar kan aku."


Belum sempat Ye-Seul melanjutkan kalimatnya, Myung Jin sudah melesat pergi sambil memapah Annya. Laki-laki itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan dari Ye-Seul. Tapi kalau di pikir-pikir, Ye-Seul juga harus memberikan alasan seperti apa, toh dia memang menyerang Annya lebih dulu bukan? tapi sikap Annya yang membuat Ye-Seul terlihat buruk di depan Myung Jin membuat Ye-Seul ingin menghajar Annya saat itu juga.


"Sialan kau wanita iblis. Lihat saja, aku akan membuat hidupmu seperti di neraka, kau tidak akan pernah mau kembali ke rumah ini, aku jamin itu." Ye-Seul mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.

__ADS_1


"Nyonya! apa Nyonya tidak apa-apa?" tanya Bibi Han setelah dia mendekat ke arah Ye-Seul. Ye-Seul menggeleng, dia tidak menjawab pertanyaan Bibi Han namun malah langsung pergi ke lantai atas.


Sementara di tempat lain, di kamar Annya. Atau lebih tepatnya di kamar Hera dahulu. Annya sedang menangis tersedu-sedu. Dia memeluk Myung Jin dengan sangat erat, sementara Myung Jin, laki-laki itu membalas pelukan Annya sambil menepuk punggung Annya dan mengusap rambut anak nya itu perlahan.


"Ayah! kenapa Ibu Ye-Seul sangat jahat padaku Ayah? apa salahku? dari dulu aku sudah hidup susah bersama Ibu, dan sekarang, saat aku baru merasakan kehidupan yang lebih baik, Ibu Ye-Seul malah mempersulit keberadaan ku di sini. Apa Annya pergi saja dari sini Ayah?" tanya Annya sambil sesenggukan. Namun, tanpa Myung Jin tahu, sebenarnya Annya sedang menyunggingkan sebuah senyuman licik.


"Jangan seperti itu Sayang! maafkan Ibu Ye-Seul, dia mungkin sedang terguncang karena keadaan Min Ji. Aku yakin, suatu saat dia akan bisa menerimamu dengan baik seperti dia menerima Min Ji seperti anaknya sendiri. Tolong bersabarlah hmmm!" pinta Myung Jin dengan sabar. Dia tidak bisa membiarkan keluarga ini terus terpecah belah, dia harus bisa membuat anggota keluarganya akur dan saling menyayangi satu sama lain.


"Kau beristirahat saja dulu! ayah akan berusaha berbicara dengan Ibu Ye-Seul." Annya mengangguk , dia melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.


"Ayah jangan marah pada Ibu Ye-Seul ya, Annya memang salah Ayah. Annya pantas di pukul." Annya menatap Myung Jin dengan tatapan memohonnnya. Lagi-lagi Myung Jin termakan jebakan Annya. Dia merasa sangat simpati dan bangga karena Annya memiliki hati yang sangat baik dan hangat. Dia rela memohon untuk Ye-Seul padahal Ye-Seul sudah berbuat tidak baik padanya.


Myung Jin mengecup pucuk kepala Annya sekilas, setelah mengusap wajah Annya, Myung Jin keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar Annya perlahan.


"Cihhh... Dasar orang-orang bodoh. Aku bukan seorang aktris, tapi mereka sangat mudah aku tipu daya. Benar-benar otak ayam. Aku pikir orang kaya semuanya memiliki otak yang cerdas, ternyata aku salah." Annya mengusap air matanya kasar sambil tersenyum evil ke arah pintu yang sudah tertutup.


...To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2