THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Predator yang Bangkit Dari Kubur


__ADS_3

Alex masuk kedalam rumah dengan langkah gontai. Laki-Laki itu terlihat murung dengan wajah sedihnya saat ini. Dia masih tidak rela karena pulang seorang diri tanpa istrinya.


"Kau sudah pulang kak? kenapa lesu? masih enggan untuk berpisah dengan kak Hera? denger kodok burik! kak Hera pasti akan menemukan pria lain di sana. Kak Hera sangat cantik, orang-orang pasti tidak akan tau jika dia sudah memiliki suami," Angel sengaja mengompori Alex supaya kakaknya itu kesal dan kembali memarahinya.


Namun, Angel dibuat terbengong karena Alex berjalan melewatinya tanpa menolehkan wajah sedikitpun. Apa jauh dari orang yang kamu cintai sesakit itu? Angela bahkan sudah lama berjauhan dengan Erick tapi dia tidak selemah dan tidak sehancur Alex. Apa dia tidak benar-benar mencintai Erick atau Alex yang terlalu bucin?.


"Kamu itu suka sekali mengganggu kakakmu, kasian dia sayang, ini pasti sangat berat untuknya karena dia baru merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, tapi harus segera berpisah dengan Hera. Kamu tidak akan mengerti , maksud mama, untuk saat ini kamu memang belum mengerti. Tapi mama yakin suatu saat kamu juga akan merasakan apa yang Alex rasakan saat ini," Jessica menepuk pundak Angela dengan pelan.


"Mama akan menyiapkan makan malam untuk Alex. Kamu mau bantu mama atau mau pergi hibur kakakmu yang sedang galau?"


"Angela pergi nemuin kak Alex aja ma, Angela takut dapur akan meledak kalau Angela masuk ke sana," Angel buru-buru pergi dengan langkah yang lebar karena tidak ingin berakhir di dapur dengan mamanya.


Jessica menggeleng gelengkan kepalanya beberapa kali. Dia sudah sangat hapal dengan sifat Angel, tidak mungkin anak manja seperti putrinya itu mau berkutat di dapur dengan segala jenis bumbu yang akan membuat tubuh putrinya itu bau.


Jessica bukan tidak mau mengajari anaknya untuk belajar hidup mandiri, hanya saja, Jessica tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya yang sudah pasti akan membuat putrinya itu merasa tidak nyaman dan tertekan. Tidak apa kalau Angel tidak bisa memasak, toh di jaman sekarang sudah banyak asisten rumah tangga yang pandai memasak juga bersih-bersih, bahkan jika perlu Jessica akan mempekerjakan seorang koki handal kalau nanti anaknya sudah menikah.


"Kak, kakak kenapa sedih sih? kan kak Hera mau terapi di sana. Kakak tau, aku juga sedih karena aku jauh dari Erick saat ini, tapi hidup harus tetap berjalan, kakak gak bisa terus-terusan murung kayak gini," Angel berusaha menghibur Alex karena tidak tega melihat kakak kesayangannya itu terus bersedih.


Alex menoleh saat Angel memeluknya dari belakang. Tangan kekarnya mengelus punggung tangan Angel perlahan. Alex menarik sudut bibirnya ke atas, laki-laki itu tau kalau Angel sangat menyayanginya selama ini. Meskipun mereka sering bertengkar atau sekedar beradu mulut, itu tidak akan membuat hubungan mereka memburuk, cara mereka menunjukan kasih sayang adalah, dengan selalu membuat satu sama lain merasa kesal.


********


Sudah dua minggu sejak Alex pulang dari Amerika, laki-laki itu masih beraktivitas seperti sebelumnya. Hanya saja akhir-akhir ini Alex lebih sering lembur dan akan pulang ketika tengah malam. Jessica maupun Tae Jun sudah sering mengingatkannya untuk tidak bekerja terlalu keras, namun Alex tidak mendengarkan mereka sama sekali. Alex masih tetap kekeh dengan pendiriannya saat ini. Alex hanya ingin menyibukkan diri agar dia tidak terlalu merindukan istrinya. Alex sangat tau apa yang dilakuannya saat ini tidaklah benar, namun dia harus apa agar pikirannya tidak selalu berpusat pada Hera. Bayangan wanita itu selalu berputar di atas kepalanya, seolah dia sedang memutar CD yang sama berulang kali. Tidak pernah berhenti dan terus berputar. Hera yang sedang tersenyum, Hera yang sedang marah, Hera yang sedang menangis, Alex bisa melihat itu semua.

__ADS_1


"Wohyun, kenapa laporannya seperti ini? apa direktur keuangan di kantor kita menjadi semakin bodoh? dia ingin membuat perusahanku bangkrut hah?!"...


Braakkkkk.


Wohyun terperanjat saat Alex membanting sebuah dokumen yang sedang dipegangnya ke atas meja.


"Alex dengarkan aku! mungkin ini hanya kesalahan pencetakan saja, aku yakin jumlah uang yang ditransfer tidak sebanyak ini."


"Lantas aku harus senang kalau ini hanya kesalahan pencetakan saja? pakai otakmu wohyun! kau pikir perusahaanku adalah tempat orang untuk belajar kerja? kalau sudah tidak becus , pecat saja dia!" Alex menatap wohyun dengan tatapan membunuhnya.


Wohyun, laki-laki itu bergidik ngeri melihat tanduk sang raja iblis muncul akhir-akhir ini. Dia ingin sekali pergi meninggalkan pekerjaannya, namun , wohyun tau kalau Alex sedang mencemaskan sesuatu.


"Alex, aku akan pergi sekarang," Wohyun mengambil dokumen yang tadi di banting Alex kemudian pergi dari sana.


"Hera, aku harap kau akan segera pulang, bisa mati aku kalau terus-terusan mendengar suamimu berteriak memarahi semua orang hanya karena kesalahan kecil," Wohyun menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.


*****


"Aku malas mendengar mu memanggilku dengan embel-embel pak. Aku tidak setua itu Sara, Kau sengaja ingin membuatku semakin kesal," Wohyun mendengus mendengar panggilan yang digunakan Sara untuknya. Pasalnya Wohyun merasa panggilan itu terdengar sangat tua.


"Kau adalah asisten pribadinya Tuan Alex , jadi wajar aku memanggilmu begitu," Sara sama sekali tidak perduli dan lebih memilih untuk melahap makan siangnya hari ini.


"Cihhhh, kau sama saja dengan majikanmu Sara!"

__ADS_1


"Apa? memang aku mirip siapa?"


"Majikan kesayanganmu."


"Kak Ara?"


"Hemmmm," Wohyun semakin malas meladeni Sara saat mode hang di otaknya sedang aktif.


"Kak Ara kok masih belum pulang pak? masih lama ya di sana?"


"Kalau lancar mungkin akan kembali ke sini dalam dua minggu, aku juga sudah sangat kewalahan menghadapi Alex yang uring-uringan. Masalah kecil menjadi besar, dan masalah besar menjadi sebuah bom untuk semua karyawan. Kau tau, sudah berapa banyak orang mengeluh tentang bosmu yang menjadi pemarah saat jauh dari pawangnya?"


"Dia bos mu pak, bos ku adalah kak Ara," cengir Sara membuat Wohyun semakin naik darah, dia menyesal karena sudah membahas maslah ini dengan Sara si gadis tulalit yang membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri.


"Aku menyesal telah berbagi cerita denganmu Sara," Wohyun beranjak dari kursinya, meninggalkan Sara yang masih menyantap makan siangnya saat ini.


Wohyun tidak habis pikir, kenapa Sara bisa diterima di perusahan ini. Padahal sudah jelas otaknya itu kadang ada kadang juga tidak ada. Namun kenapa dia masih bertahan? apa yang salah dengan sistem perusahaan saat ini. Apa semua orang yang melamar kerja akan langsung di terima tanpa melihat latar belakangnya sama sekali.


"Akh masa bodoh dengan itu semua, sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya supaya Alex berhenti marah dan berhenti melempar barang seenaknya," Wohyun melanjutkan langkahnya menuju ruangan Alex sang predator yang bangkit dari kubur.


To Be Continued.


Hai readers, jangan lupa like dan komennya ya. Makasih.

__ADS_1



Jangan lupa mampir ke Novel terbarunya Author. Di jamin seru.


__ADS_2