
Hari demi hari terus berlalu, hidup terus berjalan, begitupun dengan kehidupan Hye Mi dan Han Bin, dua insan itu semakin lama semakin dekat. Jangankan di kampus, saat mereka tidak ada jadwal kuliahpun mereka akan berusaha untuk saling menemui satu sama lain.
Hye Mi, gadis yang sejak awal membenteng hatinya itu, semakin lama semakin luluh dengan semua perhatian dan perbuatan baik yang di tunjukan Han Bin padanya. Hye Mi sudah nyaman dengan Han Bin, mungkin sekarang gadis itu juga sudah membuka hati untuk laki-laki yang mencintainya itu.
"Hei Han Bin, tumben dateng siang? biasanya juga dateng paling awal,"
"Aku ada sedikit urusan di rumah, mama sakit, jadi tadi nungguin dulu hasil pemeriksaan dokter," Han Bin, laki-laki itu merangkul bahu Hye Mi , sebuah kebiasaan yang selalu dilakukannya akhir-akhir ini.
"Tante Jia A sakit? sakit apa?"
"Kata dokter, mama cuma kecapean aja, mungkin karena terlalu sibuk mengerjakan pesanan kue dari pelanggannya,"
Hye Mi menganggukkan kepalanya, dia berpikir sejenak, kemudian , "aku ingin menjenguknya Han Bin, bolehkah?"
"Tentu saja, aku akan membawamu menemui mama setelah kelas kita selesai, tidak, kelas mu sudah selesai bukan? ayo kita pergi sekarang!" Han Bin menarik tangan Hye Mi karena terlalu antusias, baginya mendapat kesempatan langka seperti ini lebih bagus daripada mengikuti kelas dosen killer yang akan membuatnya pusing setengah mati.
"Tunggu Han Bin, kelasmu akan segera dimulai. Kenapa kau malah mengajakku menemui tante Jia A sekarang? aku bisa menunggu, pergilah isi absensimu!"
"*Aku bisa mengisinya lain kali, tapi ke*sempatan untuk mempertemukan mu dengan mama, mungkin tidak akan pernah terjadi lagi, kalaupun iya, entah kapan itu akan terjadi,"
"Aku akan meminta ijin pada dosenku nanti, sekarang kita akan menemui mama!"
"Kau yakin?" setau Hye Mi dosen pembimbingnya Han Bin itu, sangat sulit untuk diatasi. Banyak para mahasiswa yang takut nilai akhir mereka jelek, jika sampai melewatkan satu absensi mereka.
"Aku yakin Hye Mi. Masuklah!" Han Bin mendorong Hye Mi untuk masuk kedalam mobilnya. Sebenarnya Hye Mi sudah tau, kalau Han Bin adalah orang berada, meskipun keluarganya tidak sekaya keluarga Hye Mi, tapi paling tidak, ayahnya adalah seorang eksekutif, disebuah perusahaan mobil mewah yang sudah terkenal di Korea, belum lagi ibunya, Nam Jia A, yang memiliki sebuah toko kue dengan pelanggan tetap dari kalangan para elit.
Han Bin juga tau, kalau Hye Mi adalah anak dari seorang pengusaha terkenal, yang namanya sudah melang-lang buana didunia bisnisyang ada di Korea. Bisa dikatakan, kalau Hye Mi ini, adalah konglomerat, calon pewaris kekayaan yang dimiliki keluarganya saat ini. Namun, kenyataan itu tidak pernah membuat Han Bin minder, baginya sebuah kebahagiaan tidak bisa diukur dengan seberapa banyak uang yang kamu miliki. Han Bin bertekad akan melakukan yang terbaik, menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, juga akan menghormati wanita manapun yang kelak akan menjadi istrinya. Kekayaan bisa dicari, namun, sosok yang bertanggung jawab , bagaimana kamu akan mencarinya?.
__ADS_1
"Antar aku untuk membeli buah dulu Han Bin! tidak enak kalau aku tidak membawa apa-apa,"
"Baiklah, sesuai permintaan my Quin ," Hye Mi terkekeh mendengar julukan baru yang Han Bin sematkan untuknya. Han Bin memang sedikit konyol, dia tidak pernah malu menunjukan perhatiannya di depan orang lain, apalagi kalau sedang berdua seperti ini. Hye Mi cuma bisa pasrah melihat kegilaan Han Bin, yang sangat memanjakan dan memperlakukannya seperti seorang ratu.
*****
Disebuah ruang kerja yang cukup besar, terlihat seorang laki-laki sedang berteriak dan memaki beberapa orang yang kini tengah menundukkan kepalanya dalam. Tubuh mereka bergetar, bahkan tangan mereka sudah dingin seperti salju yang sekarang sedang memenuhi permukaan bumi. Keringat besar bercucuran, seiring dengan lengkingan panjang yang keluar dari mulut presdir mereka.
Alex, laki-laki itu semakin hari semakin menakutkan, semakin lama Hera jauh darinya, Alex semakin gila. Mungkin hampir semua kepala bagian di perusahaannya tidak ada yang lolos dari jeratan sang predator. Iya, Alex seperti predator yang memangsa buruannya hanya dengan semburan kemarahan yang keluar dari mulut pedasnya.
"Astaga, sudah berapa lama kalian bekerja di perusahaan ini? kalian sudah bosan hah? sudah mau aku pecat! kenapa semakin lama kalian semakin bodoh! apa kalian tidak bisa meningkatkan kualitas kerja kalian? jangankan di tingkatkan, mengerjakan yang sudah-sudah saja kalian tidak becus.
Prang...
Alex melempar sebuah dokumen dan tepat mengenai gelas yang ada di mejanya. Para karyawan yang melihat kemarahan Alex semakin takut, nyali mereka menciut, nafas mereka tercekat. Alex berjalan mendekati para karyawan yang sudah hampir dibuat ngompol dicelana.
Greppppp...
"Hera!" gumam Alex.
Alex menatap lekat wajah berbinar, yang kini sedang menatapnya dengan senyuman yang sangat indah. Matanya terpaku, menatap bola mata wanita yang sudah tinga minggu ini, mengganggu pikirannya.
Greppppp...
Alex memeluk tubuh sang istri dengan erat, laki-laki itu memeluknya seolah takut Hera akan kembali pergi jauh.
"Aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu,"
__ADS_1
Hera yang sedang berada di pelukan Alex, mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh semua orang untuk pergi dari ruangan itu saat ini juga. Para karyawan langsung melesat pergi , mereka merasa lega karna tidak harus mendengar amukan presdir mereka lebih lama lagi. Wohyun yang juga ada di ruangan itu, bergegas pergi, dia tersenyum, laki-laki itu sangat bersyukur karena Hera telah menyelamatkan dirinya dan yang lain, dari amukan pemangsa yang sedang dibakar api kerinduan.
"Kau membuatku sulit bernafas Alex,"
Alex dengan cepat melepaskan pelukannya.
"Kenapa kau ada disini hemmm? bukankah terapinya akan selesai seminggu lagi? kenapa tidak mengabariku? aku akan menjemputmu ke sana kalau tau kau akan pulang lebih cepat,"
Hera terkekeh mendengar ocehan sang suami yang sudah lama tidak mengusik indra pendengarannya. Wanita itu berjinjit kemudian...
Cuuppp...
Alex memejamkan matanya saat bibir lembut sang istri menyapu semua permukaan bibirnya. Hatinya menghangat, jantungnya berdegup sangat kencang, karena merasa sangat bahagia dengan kehadiran Hera yang tiba-tiba. Nafasnya kian menderu seiring dengan ciuman Hera yang semakin lama semakin dalam dan semakin menuntut. Alex, laki-laki itu, menggiring tubuh istrinya, membawanya kedalam kamar kecil yang ada di dalam ruang kerjanya.
Hera tersenyum di sela-sela ciuman yang dia lakukan saat ini. Hera tau, banyak pertanyaan Alex yang harus dia jawab, namun dia juga tidak egois. Alex mungkin merindukannya, bukan merindukan tubuhnya. Tapi, Hera lebih tau bahwa kemarahan yang ada dalam tubuh sang suami, hanya bisa diredam dengan melakukan hubungan suami istri. Hera harus memadamkan bara api yang sudah sejak lama membakar otak suaminya, baru setelah itu, Hera akan menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan yang ingin ditanyakan Alex padanya.
To Be Continued..
Hai readers. Jangan lupa like dan komennya ya. Makasih semuanya.
Jangan lupa mampir ke karya baru author.
Yang ini baru netas gaes.
__ADS_1