THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Cobaan untuk Alex


__ADS_3

"Hera, kau harus baik-baik saja!" ucap Alex mengelus pipi Hera kemudian mengusap kepala wanita cantik itu dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta..


Alex menurunkan pandangannya ke arah luka di lutut Hera. "Ini pasti sangat sakit," ucap Alex memperhatikan luka yang sedikit menganga.


"Aku akan menutupnya dulu dengan plester, setelah kau selesai mandi, aku akan mengobatinya. Tidak masalah? apa mandinya nanti saja, tapi aku takut kau akan sakit jika tidak mandi air hangat sekarang," Alex berceloteh sambil memasangkan plester lalu meniup lutut Hera bergantian.


"kamu mau mandi serang atau nanti?" Alek meletakan kedua tangannya si sisi kiri dan kanan tubuh Hera, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah Hera.


"Sekarang?" tanya Alex lagi ketika tidak mendapat jawaban dari Hera. Hera menganggukkan kepalanya membuat Alex tersenyum. Laki-laki itu menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Hera lalu mengangkatnya membatu Hera untuk turun dari meja wastafel.


"Mandilah! " ucap Alex setelah mematikan keran air di bathub.



"Dan ya.. Jangan keluar menggunakan handuk, Wohyun sedang mencarikan pakaian untukmu, aku akan memberikannya padamu nanti."


Alex benar-benar tidak ingin melihat tampilan menggoda Hera lagi kali ini, akan sangat sulit untuk mengendalikan diri jika sampai itu terjadi.


Krieeettt...Alex menutup rapat pintu kamar mandinya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di luar kamarnya. kamar mandi ini tidak terlalu besar jika di banding kamar mandi yang sedang di pakai Hera saat ini. Namun tidak apa, karena semua bajunya juga basah. Alex harus segera mandi dan berganti pakaian.


Wohyun terus menggerutu kepada Alex yang menyuruhnya untuk membeli pakaian Hera, jika pakaian saja tidak masalah bukan, kenapa harus dengan ********** juga pikir Wohyun.


Wohyun terus mondar mandir di depan toko pakaian dalam khusus wanita.


"Bodoh, bahkan aku tidak tahu ukurannya," gumam Wohyun kepada dirinya sendiri.


"Kau benar-benar menyiksaku Alex," Wohyun masih mondar mandir memikirkan cara agar dia bisa selamat kali ini.


"Ahhh aku tau," Wohyun merogoh ponsel dari saku celana yang di gunakannya. Lalu...


"Halo Pak," suara perempuan di sebrang telpon.


"Ada yang bisa saya bantu," Tanyanya.


"Sara, Kau harus membantuku!" ucap Wohyun membuka suara.


"Kau tau ukuran pakaian dalam Hera kan? Kau sering belajar designer dengan Hera, kau pasti tau ukuran pakaian orang hanya dengan melihat badannya dari luar bukan?"


"Apa?" Pekik Sara kaget."kenapa dengan kak Ara, apa yang bapak lakukan sampai bapak ingin membelikan kak Ara pakaian dalam?" tanya Sara merasa curiga.


"Tidak ada waktu untuk itu Sara, Alex bisa membunuhku kalau aku sampai aku terlambat membawakan pesanannya. Apalagi ini menyangkut Hera. Cepat katakan, berapa ukurannya," pekik Wohyun jengkel karena Sara malah bicara yang tidak-tidak.


"Bapak pikir saya cenayang sampai saya tahu ukuran pakaian dalam orang hanya dengan melihat tubuh luarnya saja?"


"Paling tidak kau bisa menebaknya Sara!" ucap Wohyun semakin jengkel.


"Baiklah, berikan ponsel bapak pada pelayan yang ada di toko, aku akan berbicara sendiri kepadanya.. Takut bapak jadi mesumin kak Ara kalau tau bentukan pakaian dalam yang akan di kenakan kak ara."


"Kau gila Sara!" ucap Wohyun yang tidak terima dengan tuduhan Sara kepadanya.

__ADS_1


"ya sudah kalau tidak mau!" Acuh Sara. Tidak perduli.


"Baiklah, aku akan memberikan ponselnya kepada pelayan!" ucap Wohyun kemudian.


Wohyunpun memberikan ponselnya kepada pelayan toko yang ada di sana.


"Ada orang yang ingin membeli barang!" ucap Wohyun yang melihat pelayan itu hanya menatapnya.


"Ah baiklah," pelayan itu mengambil ponsel dari tangan Wohyun.


Ting nong. Ting nong.


Alex membuka pintu apartemennya, saat mendengar bell berbunyi. Alex sudah berganti pakaian saat ini, sweater polos panjang dengan leher , lengannya dia tarik sampai ke bawah siku dan celana kain yang dia gunakan sangat pas di tubuhnya. Tampilan santai seperti ini memang yang paling nyaman.


Alex terbengong melihat banyaknya jumlah paper bag yang di bawa Wohyun.


"Aku tidak tau mana yang akan cocok dengan Hera. Mangkanya aku beli semuanya," cengir Wohyun menyerahkan semua paper bag itu kepada Alex.


"Pulanglah!" ucap Alex setelah menerima semua paper bagnya "Dan untuk mobil Hera"..


"Aku sudah menyuruh orang untuk mengambilnya, mungkin akan di kirim ke kediaman Go besok pagi" ucap Wohyun yang sudah tau apa yang akan di tanyakan oleh bosnya ini.


"Baiklah.. kau bisa pulang sekarang!" Alex buru-buru menutup pintu tanpa mengucapkan terimakasih apapun lagi pada Wohyun.


Wohyun yang mendapat perlakuan seperti itu dari Alex merasa dongkol, tapi karena Hera sedang terluka saat ini, Wohyun akan membiarkannya.


Tok. Tok. Tok... Hera!... Baju yang di belikan Wohyun sudah aku simpan di atas ranjang. Cepat keluar, sepuluh menit lagi aku akan kembali untuk mengobati lukamu."


10 menit kemudian...


Kriieett... Alex membuka pintu kamar dengan membawa kotak p3k dan susu hangat di tangannya. Alex bersusah payah menelan salivanya ketika melihat Hera sedang berdiri di depan cermin dan menggosok gosokan handuk ke rambutnya yang basah.


Wanita itu mengenakan sweater bulu berwarna baby pink yang agak besar menutup sebagian pahanya menyembunyikan hot pans di balik sweater itu.


"Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi ini?" batin Alex.


Alex menaruh kotak p3k dan gelas yang berisi susu di atas nakas di samping tempat tidurnya.



"Duduklah!" ucap Alex memegang bahu Hera menuntunnya untuk duduk di atas ranjang.


"Minum ini dulu!" Alex menyerahkan susu hangat yang tadi di buatnya untuk Hera.


Hera hanya menurut. Dia meraih gelas dari tangan Alex lalu meneguknya sedikit.


Alex berjongkok untuk membuka plester yang tadi di pasangnya kemudian mulai menempelkan kapas yang sudah di basahi alkohol... "ssssssh," Hera meringis merasakan perih di lututnya.


"Tahan sebentar!" ucap Alex sambil meniup luka Hera.

__ADS_1


Hera memperhatikan Alex yang begitu telaten dengan kegiatannya saat ini. Mengoleskan salep lalu menempelkan plester baru di sana.


"Selesai!" ucap Alex sambil berdiri.


Alex berjalan ke arah lemari untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari itu. Setelah berhasil mengambilnya. Alex kembali ke ranjang mendekati Hera.


"Miringkan tubuhmu!" ucap Alex yang sudah memegang hair dryer di tangannya.


Hera memiringkan tubuhnya sesuai dengan apa yang perintah Alex. Alex duduk di belakang Hera di tepian ranjang. Kegiatan itu begitu lama mereka lakukan, Alex benar-benar laki-laki yang telaten ketika melakukan sesuatu, bahkan dia bisa mengeringkan rambut perempuan.


Hera merasa hangat karna di perlakukan dengan lembut seperti ini oleh Alex. Namun entah kenapa dari tadi bibirnya tidak bisa mengucapkan apapun. Kejadian hari ini benar-benar membuat Hera merasa sangat terpukul.


Alex yang melihat Hera terus diam sebenarnya merasa aneh, tapi Alex takut untuk sekedar bertanya apa yang membuat Hera yang begitu tangguh berubah menjadi rapuh seperti ini. Alex menaruh Hair dryer di atas kasur lalu menarik bahu Hera hingga mereka saling berhadapan, sampai iris mata mereka bertemu.


Alex memandang Hera, tangannya terulur untuk mengelus pipi Hera yang sedikit ada luka lebam di sana.


"kenapa di sini juga ada luka?" ucap Alex lirih. Hatinya sakit melihat orang yang sangat dia cintai harus mengalami hal seperti ini.


Hera yang mendengar Alex bertanya dengan nada kekhawatiran kembali menjatuhkan air matanya.


Alex menangkup kedua pipi Hera dengan tangan besarnya. Dia mengelus pipi Hera lalu mengusap air mata yang kembali meluncur di pipi orang terkasihnya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Alex merengkuh tubuh Hera yang kian bergetar.


Laki-laki itu mengusap punggung Hera lembut.


"Menangislah!, menangis sampai kesedihan/mu habis hari ini, tapi ingat besok tidak boleh mengeluarkan air mata dengan mata cantikmu ini! Kau akan sakit jika terlalu lama larut dalam kesedihan," Alex semakin mengeratkan pelukannya walau pun tidak ada balasan dari Hera.


Hera merasa nyaman, kini dia merasa ada orang yang perduli kepadanya setelah ibunya pergi sejak lama. Setengah jam kemudian sudah tidak terdengar isakan dari bibir Hera.


Alex menjauhkan Hera dari tubuhnya, menangkup wajah pucat itu sekali lagi.


"Kau lapar?" tanya Alex


Hera menggelengkkan kepalanya.


"Habiskan susu ini! , setelah itu tidur. Alex menyodorkan kembali susu yang ada di dalam gelas. Badanmu agak hangat, mungkin nanti malam kau akan demam, aku akan tidur di luar. Jika membutuhkan sesuatu panggil saja aku."


Hera menegak susu itu sampai habis.


"Tidurlah!" ucap Alex membantu Hera untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur. Alex menutupi tubuh Hera dengan selimut sampai ke leher. Hera benar-benar jadi anak penurut kali ini. Membuat Alex begitu gemas ingin menciumnya.


Alex mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang di samping Hera.. Tangannya terulur mengelus rambut di pucuk kepala Hera dengan penuh kasih sayang.


Cup .... Alex mengecup kening wanita itu cukup lama.


"Good Night," ucap Alex sambil berdiri dan membawa gelas kosong keluar dari kamarnya.


Tapi sebelum itu, Alex mematikan lampu utama di kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur.

__ADS_1


To Be Continued ....


Hai Readers.. Jangan lupa like dan komennya. Terima kasih...


__ADS_2