
Malam ini turun salju begitu lebat, sekarang masih awal tahun jadi musim dingin masih belum berakhir. Jalanan kota Seoul terlihat sepi, mungkin semua orang lebih memilih untuk tinggal di rumah mereka, Karena suhu di luar ketika malam hari, tidak pernah lebih dari 3 derajat celcius. Namun meskipun begitu masih ada beberapa orang yang yang berlalu lalang di jalanan kota Seoul.
Hera sedang melihat keluar kaca mobil, dengan tatapan yang sangat sendu. Wanita itu kembali teringat masa-masa di mana dia dan mendiang ibunya Bae In Ha, akan bermain di luar rumah ketika salju sedang turun. Hera tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca, dia sangat ingin bertemu dengan ibunya meskipun hanya didalam mimpi. Kepalanya menoleh saat tangan seseorang menggenggam tangannya, dia menarik ujung bibirnya menampakan senyum yang tulus.
"Aku merindukan Ibu Alex," ucap Hera lirih.
Alex menghentikan mobilnya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya menyentuh wajah sang istri. Dia tersenyum, matanya bisa melihat kerinduan, yang ditunjukkan mata Hera saat ini. Jika Alex bisa, Alex akan membawakan apa yang mungkin sedang diinginkan istrinya saat ini. Namun, Alex tahu dia tidak memiliki kehendak untuk itu, Alex hanya manusia biasa, tidak mungkin dia bisa mengembalikan orang yang sudah tiada ke dunia. Namun usahanya tidak berhenti sampai di situ Alex mengelus pipi istrinya penuh sayang.
"Kau mau bermain sebentar? aku akan menemanimu," ucap Alex menatap lekat mata Hera.
"Bolehkah?" tanya Hera dengan mata yang berbinar.
Alex mengangguk, kemudian keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Hera. Tangannya terulur menggenggam tangan istri tercintanya, satu tangannya lagi, dia letakkan di atas kepala Hera takut-takut kalau kepala istrinya itu akan terbentur pinggiran atap mobil.
Hera, wanita cantik itu tersenyum, dia langsung berlari menuju taman yang sudah tertutupi salju tebal malam itu. Dia mendongakan wajahnya, tatapannya kembali sendu tapi tidak sesendu sebelumnya. Lama dia diam dalam posisi seperti itu, sampai akhirnya dia tersenyum.
"Ibu, apakah Ibu sudah bahagia disana? Aku harap ibu bahagia. Hera juga sudah bahagia bu, Hera sekarang mendapatkan keluarga baru, yang sangat menyayangi Hera. Hera juga mendapatkan suami yang begitu baik, pengertian, dan tentunya sangat mencintai Hera. Hera bahagia bu. Hera bersyukur karena Hera berakhir di tempat yang tepat. Hera akan selalu merindukanmu ibu, Hera janji Hera akan menjadi orang yang lebih baik, Hera akan melupakan masa lalu. Hera tidak akan membenci orang-orang yang dulu pernah menyakitimu bu, Hera akan berdamai dengan hati Hera sendiri."
Alex yang sedang berdiri tak jauh dari tempat istrinya berdiri saat ini, tersenyum. Dia senang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Hera. Selama ini memang inilah yang Alex inginkan, Alex tidak ingin istrinya terus berlarut dalam kesedihan, keterpurukan, tekanan, dan juga dendam yang akan membuatnya tidak bahagia. Alex bangga mendengar keputusan yang Hera ambil. Laki-laki itu tahu bahwa ini, bukanlah keputusan yang mudah. Selama belasan tahun Hera memendam ini sendiri, dan sekarang dia memutuskan untuk berhenti. Alex benar-benar merasa bangga dan semakin mencintai istrinya.
Grebbbbb... Alex memeluk Hera dari belakang.
"Aku yakin ibu sudah bahagia sayang. Terima kasih untuk keputusan yang kau ambil, aku tahu itu tidak mudah. Tapi, aku akan membantumu, aku akan selalu berada disisimu, aku tidak akan membuatmu merasakan apa yang mungkin ibumu rasakan dulu. Aku berjanji kau akan bahagia mulai sekarang."
__ADS_1
"Terima kasih Alex. Selama ini kau sudah melakukan banyak hal untukku. Terima kasih karena sudah menjadi suamiku. Terima kasih karena tidak membiarkan wanita lain mendahuluiku. Aku mencintaimu Alex."
Hera membalikan badannya kemudian berjinjit dan mengecup bibir Alex sekilas, dia tersenyum menatap Alex yang kini sedang menatapnya. Dua insan itu saling menatap dengan tatapan memuja mereka. Siapapun yang melihat adegan itu saat ini, pasti akan dibuat iri karena mereka melihat cinta yang begitu tulus diantara keduanya. Sorot mata mereka membuktikan bahwa mereka sangat mencintai dan sangat membutuhkan satu sama lain.
"Aku lebih mencintaimu Sayang, "ucap Alex kemudian mengecup kening Hera lembut dan sedikit lebih lama.
Hera tersenyum, dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Malam ini begitu dingin, tapi entah kenapa hatinya terasa sangat hangat. Cinta yang diberikan Alex untuknya, membuat dia bahagia dan merasa sangat dicintai.
Malam itu begitu indah, pemandangan yang sangat romantis. Dua insan yang sedang berpelukan di taman malam hari, dengan salju yang terjun indah dari atas langit. Membuat suasana malam itu menjadi begitu indah seperti sebuah adegan di dalam drama.
🍓🍓🍓
"Alex!, ini bukan jalan menuju rumah kan? "Hera menolehkan wajahnya, menatap Alex yang kini sedang menyetir.
Hera mengangguk. Wanita itu mengerti dengan apa yang diucapkan Alex.
"Alex!"....
"Hmmmmm, apa sayang?" Alex menolehkan wajahnya sebentar.
"Aku rasa kita sudah cukup lama tinggal bersama keluargamu," Hera sedikit menjeda kalimatnya, "bagaimana kalau sekarang kita pindah ke apartemen. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku ingin belajar membina rumah tangga yang baik denganmu."
Alex tersenyum, laki-laki itu sebenarnya sudah merencanakan ini sejak lama. Namun karena satu dan lain hal, dia belum bisa mengatakan semuanya pada Hera.
__ADS_1
"Kenapa kau sungkan sayang? kau berhak memintaku untuk memberimu rumah yang layak. Seharusnya aku mengatakan ini sejak lama. Tapi karena kau tidak pulang bersamaku saat itu, aku menunda untuk mengatakannya padamu."
Hera mengerutkan keningnya bingung. Memang iya, dia sedikit sungkan, dia takut Alex akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Hera sangat tahu bahwa keluarga Alex memperlakukannya dengan sangat baik, tapi tetap saja , lebih baik punya rumah sendiri, dan belajar membina rumah tangga mereka berdua tanpa ada campur tangan dari keluarga.
Alex terkekeh melihat wajah bingung yang di tunjukan istrinya.
"Aku sudah mempersiapkan rumah untuk kita, sebenarnya aku sudah sangat ingin menunjukannya padamu. Namun, aku belum selesai menata interiornya. Jadi untuk sekarang kita tinggal di apartemenku saja ya?"
Hera hanya tersenyum, dia tau Alex sangat kaya. Tapi sebenernya , kalaupun Hera harus tinggal di apartemennya Alex, itu bukan masalah. Hera sudah bahagia hanya dengan Alex yang selalu ada untuknya. Bagi Hera, bangunan tidaklah penting. Yang penting itu Alex, orang yang menjadi rumah untuknya. Kemanapun dia pergi, dia akan kembali pulang dan tinggal di rumahnya sampai maut memintanya untuk berhenti bernafas.
"Kau tidak harus melakukan itu Alex . Apartemenmu sangat besar. Untuk apa membeli rumah lain!"
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk istriku. Apa itu tidak boleh?"
"Ya sudah, terserah kau saja!" Hera memutuskan untuk tidak memulai perdebatan, dia tidak ingin moodnya meluncur bebas, kalau sampai dia terus beradu pendapat dengan suaminya.
To Be Continued.
Jangan lupa like dan komentar nya reader.. 🤗
__ADS_1