
"Hera! Sayang!" teriak seseorang. Hera menoleh saat mendengar suara seseorang yang tidak ingin dia temui memanggilnya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Myung Jin. Dia mempercepat langkahnya saat Hera memalingkan wajahnya dan kembali berjalan tidak menggubrish dirinya sama sekali.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing," ucap Hera tidak ingin lebih lama melihat ayahnya. Myung Jin mengerutkan keningnya. Tidak mungkin Hera mau di rawat di rumah sakit hanya karena merasa pusing saja. Dia sangat tidak menyukai rumah sakit sejak ibunya meninggal.
"Jangan bohong pada ayah Hera! ayah tahu kamu tidak menyukai rumah sakit sejak kecil. Kamu kenapa? sakit apa? kenapa tidak memberi tahu ayah Nak?"
"Cihhh... Untuk apa aku memberitahumu. Bukankah kau sudah memiliki tiga anak perempuan yang sangat kau sayangi? untuk apa masih menggangguku."
Myung Jin menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan. Dia tahu dia tidak akan mendapatkan apapun jika mendebat Hera saat ini, entah apa yang harus dia lakukan supaya Hera mau berbicara dengannya.
Hera pergi meninggalkan Myung Jin yang masih berdiri sambil menatap punggungnya. "Kenapa Ayah ada di sini," batin Hera. Meskipun dia membenci orang tua itu, tapi dia tetap ayah Hera. Tidak mungkin Hera bisa acuh sepenuhnya. Dia juga seorang putri yang lahir dari benih Myung Jin. Hubungan darah tidak bisa di putus begitu saja.
Hera masuk kedalam ruangan Alex. Selain karena suaminya itu sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa, dia juga meminta para medis untuk mengatur kamar rawat Alex supaya dia juga bisa di rawat di sana. Hera sedang melakukan terapi hormon saat ini. Namun, karena dia sempat drop, dokter menyarankan supaya Hera di rawat di rumah sakit untuk beberapa waktu. Ini bukan karena berlebihan, tapi memang beberapa hari ini dokter harus memantau dan memeriksa kestabilan hormon progesteron yang di miliki Hera. Dokter mencurigai Hera sulit hamil karena hormon progesteron nya rendah. Hera sengaja melakukan ini. Dia ingin segera memberikan Alex Kim Junior setelah suaminya sembuh nanti.
"Alex!" pekik Hera saat melihat suaminya kesusahan mengambil air minum di meja yang ada di samping ranjangnya.
Hera berlari dengan segera, dia mengambil air minum dan membantu Alex untuk meminum airnya. "Kau darimana saja Sayang?" tanya Alex. Alex memang sudah lebih baik. Hanya saja dia masih terlalu lemah dan belum bisa bergerak bebas. Semua aktivitas nya di bantu Hera karena dia menolak di bantu perawat. Hera tentu saja tidak keberatan. Selain karena dia lebih berhak atas suaminya, dia juga tidak ingin siapapun melihat dan menyentuh tubuh suaminya.
__ADS_1
"Aku tadi bertemu dengan Ayah. Dia juga ada di lantai yang sama dengan kita."
"Siapa yang sakit?" tanya Alex.
"Aku tidak tahu." Hera mengangkat bahunya acuh. Dia memang tidak menanyakan apapun pada Myung Jin. Alex yang melihat raut tidak enak pada wajah istrinya langsung mengerti. Dia tidak ingin melanjutkan pertanyaannya dan memilih untuk mencari topik lain.
"Apa yang dikatakan dokter kandungan padamu sayang?" ucap Alex mengalihkan pembicaraan. Dia menepuk kasur di sebelahnya menyuruh Hera untuk duduk di sampingnya. Alex sangat merindukan Hera saat ini. Dia tidak ingin Hera menjauh darinya walau hanya beberapa jengkal saja.
Hera menurut. Dia menyibak selimut yang di gunakan Alex lalu mulai menaikan kakinya dan duduk sambil bersandar di ranjang rumah sakit yang memang sudah di naikan sejak tadi.
"Dokter bilang ada kemungkinan hormon progesteron ku rendah Alex. Aku harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi sebelum Dokter bisa memberikan pernyataan yang akurat. Aku janji aku akan berusaha lebih keras Alex. Aku akan memakan makanan yang di sarankan dokter dan akan mulai olahraga rutin bersamamu."
Cup... Sebuah kecupan mendarat di bibir Hera. Alex men jilati bibirnya sambil tersenyum. "Kau memakai lipstick baru hmmm. Rasanya berbeda dari yang sebelumnya," ucap Alex. Hera terkekeh. "Iya, meskipun aku seorang pasien, aku harus tetap cantik karena aku di rawat bersama suamiku. Perawat di sini cantik-cantik semua Alex, aku tidak ingin kau tergoda oleh mereka." Hera mencondongkan badannya lalu memeluk sang suami. Dia masih memberi jarak karena takut menekan luka pada perut suaminya.
"Aku hanya mencintaimu sayang, tidak ada wanita cantik di dunia ini yang bisa mengalahkan kecantikan istriku. Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak pernah melirik mereka." Alex mengelus punggung Hera dengan tangannya yang bebas dari selang infus. "Jadi, kali ini rasa apa?" tanya Alex. Hera menarik tubuhnya lalu menatap sang suami. "Rasa apa?" tanya Hera. Alex menunjuk bibir Hera menggunakan dagunya. "Akhhh ini, strawberry."
"Apa kau tidak salah? aku sepertinya merasakan rasa yang lain."
"Tidak mungkin, ini memang rasa strawberry," ucap Hera masih kekeh dengan pendiriannya. Dia sama sekali tidak tahu kalau Alex hanya sedang menggodanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencobanya sekali lagi." Belum sempat Hera menyela, Alex sudah kembali meraup bibirnya dengan rakus.
"Akh, ini cuma alasan mu saja Alex!" batin Hera.
"Ekhemmmmm," Jessica berdehem saat melihat adegan panas yang sedang di lakukan putra dan juga menantunya. Jessica, Tae Jun dan Angela saling memandang satu sama lain saat kedua orang yang sedang bercumbu itu tidak menghentikan aktivitasnya. Alex malah semakin gencar meng hi sap dan me lu mat bibir istrinya, tangannya juga sudah merayap di balik baju rumah sakit yang Hera kenakan.
"Ekhhhemmmm," kali ini Tae Jun yang berdehem. Hera sontak saja mendorong bahu suaminya membuat Alex meringis merasakan sakit di perutnya. "Kenapa mendorongku ?" tanya Alex masih belum sadar. Hera memutar bola matanya. Dia memberi isyarat untuk Alex supaya laki-laki itu melihat ke arah pintu kamar rawat mereka.
"Papa, Mama, Angel. Sedang apa kalian di sini?" tanya Alex dengan santainya. Ketiga orang yang di panggil Alex tadi memutar bola mata mereka dengan malas. Kenapa Alex harus menanyakan itu. Tentu saja mereka ingin menjenguk Alex.
Hera ingin bergerak namun dia terlalu malu untuk menunjukan wajahnya di depan keluarganya. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Alex yang melihat itu tersenyum . Dia di buat gemas dengan sikap istrinya ketika sedang malu seperti saat ini.
"Ini memang rasa strawberry," bisik Alex di telinga Hera. Hera semakin di buat malu dengan ucapan suaminya. Dia langsung bangun dan berlari ke kamar mandi tanpa melihat ketiga orang yang kini sedang tertawa geli melihat kelakuan pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta itu.
"Kau tidak perlu malu sayang!" teriak Jessica. Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa dengan sangat keras. Setelah semua yang terjadi, mereka bersyukur karena masih bisa di berikan kesempatan untuk bersama dan bercanda seperti saat ini.
"Aku harus minta maaf kepada nya."
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader, jangan lupa like dan komennya ya. Thank you.🤗🤗...