THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Saling Serang


__ADS_3

"Perkenalkan, ini adalah anak saya Go Annya," ucap Myung Jin pada seluruh petinggi perusahaan di sebuah ruang rapat. Ya.. Myung Jin memutuskan untuk memperkenalkan Annya sebagai anaknya di khalayak publik. Lagipula mau Myung Jin tutupi dengan cara seperti apapun, perlahan semua orang pasti akan tahu jika dia memiliki anak lain selain Hera, Hye Mi dan Min Ji. Lebih baik membukanya sendiri daripada harus di buka orang lain yang mana namanya pasti akan lebih jelek lagi karena membiarkan gosip tidak jelas menyebar di perusahaan nya.


Annya membungkuk sopan. Dia sangat bahagia karena apa yang dia inginkan akhirnya terjadi. Dan ayahnya juga memberikan dia posisi yang sangat menguntungkan dimana dia di tempatkan sebagai Direktur keuangan di perusahaan itu.


"Baiklah, jika ada yang tidak setuju dengan keputusan yang saya ambil silahkan angkat tangan!," ucap Myung Jin. Dia mengedarkan pandangan matanya pada setiap orang yang ada di ruangan tersebut. Tidak ada satu orang pun yang berani menyahut. Mereka hanya akan mengikuti arus dan melihat, apakah keputusan yang Myung Jin ambil ini dapat membuat perusahaan untung atau malah sebaliknya.


"Kalau tidak ada apapun yang ingin kalian sampaikan, rapat kita akhiri sampai di sini saja."


Myung Jin keluar dari ruang rapat di ikuti Annya yang mengekor di belakangnya. Dan pada saat mereka sampai di depan sebuah ruangan yang cukup besar, mereka berhenti. "Ini adalah ruangan mu Annya. Jika ada yang tidak kau mengerti, tanyakan pada sekertaris mu yang sudah ayah siapkan. Dia mengerti dan mengetahui semua hal yang harus kamu kerjakan."


Annya tersenyum. Dia mengulurkan tangannya lalu menarik tangan Myung Jin dan menggenggamnya sesaat. "Terimakasih Ayah. Aku berjanji, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu Ayah. Aku tidak akan melakukan kesalahan apapun," ucap Annya sambil tersenyum Pepsodent pada Myung Jin.


Myung Jin membalas senyuman Annya. Dia mengangkat tangannya lalu mengusap pucuk kepala anaknya lembut. "Belajarlah dengan giat. Ayah yakin suatu saat kau akan menjadi orang hebat. Ayah harus pergi ke ruangan ayah dulu. Kau masuk dan lihatlah ruangan mu."


Annya mengangguk. Setelah Myung Jin pergi, Annya masuk ke dalam ruangannya dengan wajah berbinar dan senyum merekah. Dia mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut ruang kerjanya. Annya sama sekali tidak menyangka kalau dia akan memiliki kesempatan seperti ini. Pasalnya dulu dia sudah sangat menderita. Apa yang dia dapatkan sekarang tidak boleh di rebut oleh siapapun. Apa yang harus menjadi miliknya Annya harus memiliki nya meskipun dia harus menghancurkan hidup orang lain agar semua rencananya terlaksana tanpa hambatan dan gangguan.


"Ini sangat menyenangkan," ucap Annya. Dia duduk di kursinya lalu memutar kursi itu sambil tertawa. "Kenapa tidak dari dulu aku melakukan ini," gumamnya sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Dia mendongakkan wajah nya. Tatapannya lurus ke langit-langit ruang kerjanya yang di dominasi warna putih tulang.

__ADS_1


Tok Tok Tok.


"Masuk!" ujar Annya dari dalam. Pintu ruangannya terbuka. Munculah seorang perempuan dengan setelan rapih. Dia memakai kacamata hitam dan membawa sebuah iPad di tangannya.


"Perkenalkan saya Choi Namra. Saya adalah asisten Ibu. Mohon bantuannya Bu." Namra membungkuk ramah pada Annya. Bosnya itu menatapnya dari atas sampai bawah. Annya tersenyum mengejek. Orang yang ada di hadapannya ini adalah orang terkampung-an yang pernah dia temui. Rambut belah tengahnya. Kaca mata bulat nan tebalnya. Hingga setelan nya yang sangat kuno membuat Annya sakit mata.


"Apa kau tidak bisa merubah penampilan mu?" tanya Annya. Dia menggeser kursinya lalu menautkan jari-jari tangannya dan menjadikan sikunya sebagai tumpuan lengannya yang dia letakan di atas meja.


Namra bingung. "Maaf Bu, saya kurang paham. Maksud Ibu saya harus merubah penampilan saya seperti apa?" tanya Namra.


Annya tersenyum sinis. "Sudah lah. Penampilan sebagus apapun tidak akan bisa merubah penampilan mu. Kau memang sudah di takdirkan untuk menjadi orang udik."


Sementara di tempat lain. Seorang perempuan paruh baya sedang berdiri di samping ranjang rumah sakit seseorang. Dia menatap sendu wanita yang sudah sejak seminggu ini dia pantau. Ye-Seul.....Dia sengaja mengunjungi Ji-Eun tanpa sepengetahuan Annya. Karena kalau sampai Annya tahu, dia pasti tidak akan membiarkan Ye-Seul mendekati ibunya.


"Sebaiknya kau tetap tidur seperti ini wanita sialan. Kalau kau bangun, Myung Jin pasti akan meninggalkan ku dan akan memilihmu untuk menjadikan mu sebagai istrinya yang sah."


Ye-Seul mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia menarik botol infus yang menggantung di sisi ranjang Ji-Eun kemudian menyuntikan sesuatu ke dalam sana. Ye-Seul tersenyum menyeringai sambil menatap wajah pucat Ji-Eun yang kini sudah tidak cantik lagi. Wajah Ji Eun sudah sedikit keriput karena berat badannya yang terus menyusut.

__ADS_1


Krieetttt... Seseorang dengan baju perawat masuk ke dalam ruangan tersebut. Ye-Seul menoleh. Dia berjalan ke luar dari kamar Ji-Euun setelah perawat itu membungkuk hormat padanya.


Ye-Seul menoleh menatap Ji-Eun sekali lagi sebelum dia benar-benar pergi dari ruang rawat itu.


Drtzzzz... Drtzzzz...


"Halo, ada apa?"


"Dia sudah menduduki posisi Direktur keuangan di Go Grup Nyonya. Selanjutnya apa yang harus saya lakukan?" tanya seseorang di balik telepon yang di pegang Ye-Seul.


"Terus awasi anak itu. Laporkan setiap pergerakannya pada saya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan langsung infokan kepada saya. Jangan lengah!" ucap Ye-Seul. Dia menutup panggilan telepon nya kemudian kembali berjalan menuju lift yang akan membawanya ke basement tempat mobilnya berada.


"Aku harus melakukan semua ini demi Hye Mi dan Min Ji. Aku tidak akan tinggal diam lagi. Sudah cukup kedua anak ku dan orang-orang menyalahkan ku dan menyudutkan ku atas kesalahan ku di masa lalu. Menjadi baik tidak selalu memberikan hal baik untuk ku. Aku sudah mencoba untuk berubah dan menerima semua nya selama ini. Tapi jika mereka tidak bisa menghargainya, maka aku akan menjadi orang yang mereka inginkan. Aku akan memperjuangkan setiap hak anak-ankku yang memang harus mereka dapatkan."


Ye-Seul masuk ke dalam mobilnya. Dia terdiam untuk sesaat. Dia sengaja tidak membawa sopir bersamanya. Semakin banyak orang yang tahu akan sangat berbahaya dan beresiko. Dia harus bermain aman supaya semua rencananya berjalan dengan baik. Annya sudah memutuskan untuk menganggu keluarganya. Ye-Seul bertekad untuk membalas semua serangan yang di lakukan Annya . Jika Annya melakukannya secara terang-terangan, maka dia akan melakukannya dengan cara yang cantik.


...To Be Continued....

__ADS_1


...Hai reader jangan lupa like dan komentar nya ya. Thank you....


__ADS_2