
...Untuk yang tidak membaca karya ini tapi ingin membantu meng highlight nya... Tolong jangan bom like sayang.. Bom like bisa menurunkan performa karya. Terimakasih......
Happy reading semuanya...
Malam hari di kediaman keluarga kecil Alex dan Hera, kedua sejoli itu sedang menonton tayangan televisi di ruang keluarga. Di luar saat ini sedang hujan besar. Alex berbaring namun memiringkan posisinya. Karena Hera berbaring di sofa yang sama, jadi dia harus memberikan banyak ruang untuk sang istri. Keduanya sedang asyik menonton sambil merasakan kehangatan yang timbul dari suhu tubuh masing-masing .
Ting tong...
Ting tong....
Hera berusaha menoleh ke arah pintu. Dia melihat Bibi Lim berjalan dengan tergesa . Namun, detik berikutnya dia kembali berbaring dan semakin menempelkan punggungnya di dada sang suami.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini Alex?" tanya Hera kepada suaminya.
"Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki janji dengan siapapun," jawab Alex singkat.
"Tuan, Nyonya!" panggil Bibi Lim di belakang sofa yang sedang di gunakan kedua majikannya.
"Ada apa Bi?" tanya Hera. Dia melepaskan pelukan Alex lalu duduk dan menoleh ke arah Bibi Lim.
"Itu, di luar ada adiknya Nyonya," ucap Bibi Lim..
Hera mengerutkan keningnya bingung. Adik siapa? dan lagi untuk apa dia menemui Hera malam-malam begini. Di tambah lagi di luar sedang hujan deras.
Hera beranjak dari duduknya. Alex yang melihat istrinya pergi dengan tergesa bergegas untuk mengikuti sang istri.
"Kamu!" ucap Hera saat melihat Min Ji berdiri di depan pintu dengan baju yang sudah basah kuyup. Hera memegang lengan Min Ji. Dia menolehkan kepalanya ke arah terluar rumahnya. Tidak ada siapapun di sana. Lalu untuk apa Min Ji ke sini.
"Kak!" panggil Min Ji dengan suara parau-nya .
Hera hanya menatap Min Ji sekilas. Dia menarik lengan Min Ji kemudian membawanya ke dalam dan mendudukkan Min Ji di sofa.
"Bi, tolong siapkan susu hangat. Dan katakan pada pelayan yang lain untuk mengambil handuk."
Bibi Lim mengangguk. Dia berjalan ke arah dapur untuk membuat susu hangat seperti apa yang telah di perintahkan Nyonya nya. Sementara itu. Para pelayan yang memang sudah stan by memberikan benerapa handuk besar kepada Hera.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Hera sambil menggosokkan handuk di kepala Min Ji. Dia juga menutup tubuh Min Ji dengan handuk yang lain kemudian melapis nya dengan selimut yang tadi dia gunakan.
Alex hanya memperhatikan gerak-gerik istrinya yang sedang mengurus Min Ji. Dia merasa aneh karena Hera mulai mengeluarkan sifat keibuannya ketika melihat orang lain sedang terpuruk meskipun dia sendiri tidak terlalu menyukai orang tersebut.
"Hikssss... Annya Kak.. Wanita ular itu menamparku karena aku tidak mau menuruti semua perintahnya. Aku dan Kak Hye Mi di perlakukan seperti seorang budak oleh Annya. Aku sudah tidak tahan. Jadi aku kabur ke sini. Aku tidak punya tempat tujuan lain Kak. Jangan mengusirku dari sini," ucap Min Ji. Air mata kian meluncur dengan deras dari kelopak matanya yang kini sudah terlihat bengkak.
Hera mengulurkan tangannya. Dia mengelus pipi Min Ji. Memang, ada bekas pukulan di pipi adiknya itu. Min Ji tidak mungkin melukai dirinya sendiri seandainya dia ingin membohongi Hera. "Aku tidak akan mengusir mu. Kau tidak perlu khawatir. Kau aman di sini," ucap Hera. Dia duduk di samping Min Ji kemudian mengambil gelas susu yang tadi sudah di letakan di atas meja oleh Bibi Lim.
"Terimakasih Kak," ucap Min Ji. Dia mengambil gelas yang di sodorkan Hera lalu meminum susu hangatnya perlahan.
"Pelan-pelan," ucap Hera. Min Ji hanya tersenyum kemudian kembali meminum susu nya.
"Kau sudah makan?" tanya Hera.
Min Ji menggeleng.
"Kalau begitu kau mandi dulu. Aku akan meminta Bibi Lim untuk menyiapkan makanan untukmu."
"Clara!" panggil Hera pada salah satu pelayan termuda di rumahnya. Clara langsung berlari ketika namanya di panggil.
"Iya Nyonya!" ucap Clara.
"Baik Nyonya."
Clara menuntun Min Ji menuju kamar yang di maksud Hera. Min Ji hanya mengikutinya dengan patuh.
"Bibi Lim!" panggil Hera ketika dia sudah ada di dapur. "Sup ayam ginseng yang tadi kita makan masih banyak kan?" tanya Hera.
"Masih Nyonya."
"Hangatkan itu saja Bi. Kalau memasak yang baru takutnya Min Ji akan menunggu lama. Saya mau ke atas dulu untuk mengambil beberapa pakaian untuknya."
Hera mulai menaiki anak tangga. Alex yang sejak tadi melihat pergerakan istrinya hanya mengekori Hera di belakang.
Grebbbb.... Alex memeluk istrinya ketika Hera sedang sibuk mengobrak-ngabrik isi lemarinya.
__ADS_1
"Kau baik sekali Sayang. Tapi apa kau yakin kalau dia tidak memiliki niat tertentu?" tanya Alex di dekat telinga Hera.
Hera memutar tubuhnya lalu menatap Alex lekat. "Sekalipun dia memiliki niat tertentu, kita tidak bisa mengabaikannya Alex. Kau juga melihat ke adaan -nya bukan? dia bisa sakit kalau terlalu lama di biarkan di luar."
Alex tersenyum. Dia menempelkan hidungnya di hidung Hera lalu menggosokkan nya perlahan. "Aku tahu. Kau memang tidak akan tega jika harus membiarkannya terlunta-lunta di jalanan bukan?"
Hera tersenyum. Dia mendorong bahu suaminya dengan cukup kuat. "Aku harus mengambil pakaian untuknya Alex. Kau tunggulah di sini. Jika bosan, coba kau periksa gaun rancangan ku yang ada di atas meja," tunjuk Hera dengan dagunya.
Alex mengangguk. Mau tidak mau dia harus mengalah untuk saat ini.
Hera turun ke lantai bawah sambil membawa beberapa pakaian di tangannya. Dia lekas memberikannya kepada Clara. Setelah Clara masuk ke kamar tamu. Hera pergi ke dapur untuk melihat kegiatan Bibi Lim.
"Semuanya sudah siap Bi?" tanya Hera.
"Sudah Nyonya," ucap Bibi Lim. "Nyonya, maaf kalau saya lancang. Apa Bibi boleh menanyakan sesuatu?" tanya Bibi Lim.
"Hmmm... Tanyakan saja Bi," ucap Hera sambil menata makanan di atas meja.
"Apa Nona Min Ji itu benar-benar adik Nyonya?"
Hera terdiam untuk sejenak. "Dia memang adik saya Bi. Tapi beda Ibu. Ibunya keturunan Tionghoa asli. Dan malangnya, beliau meninggal saat melahirkan Min Ji."
"Okhhh... Pantas saja Nona Min Ji tidak mirip dengan Nyonya."
Hera tersenyum. Dia menoleh ke arah lain saat mendengar langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya.
"Duduklah!" ucap Hera . Dia menarik bahu Min Ji kemudian mendudukkan nya di kursi.
"Terimakasih Kak," ucap Min Ji dengan senyum tipis nya.
Hera mengangguk. Dia duduk di sebelah Min Ji. Hera hanya diam sambil melihat Min Ji yang makan dengan begitu lahap. Hatinya memang menyimpan banyak tanya. Tapi dia juga enggan untuk menanyakan hal itu pada Min Ji. Dia takut Min Ji akan tersinggung .
"Makanlah perlahan! tidak akan ada yang berebut makanan dengan mu."
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Terimakasih.....
Siap-siap untuk konflik selanjutnya reader..🤗🤗🤗🤧