THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Kekacauan


__ADS_3

Suasana di luar kamar yang tadinya hening kini mulai riuh. Puluhan orang dengan setelan serba hitam lengkap dengan kacamata dan earphone di telinga mereka mendekat ke arah sumber suara.


Hera ambruk ke lantai saat tubuh suaminya terkulai lemas. Alex, laki-laki itu mendapat sebuah tembakan di pinggangnya. Saat dia dan Hera hendak keluar dari kamar itu, Alex tidak sengaja melihat Andrew dari cermin yang ada di luar kamar. Matanya membulat saat Andrew mengadahkan pistol ke arah istrinya. Dan pada saat Andrew menarik pelatuknya, saat itu juga Alex menarik lengan istrinya kemudian mendekapnya dengan erat. Peluru pertama meleset. Namun peluru kedua sukses mendarat di pinggang Alex. Beberapa orang-orang yang di kirim Julieta masuk ke dalam kamar. Mereka mengambil pistol dari tangan Andrew dan menyeret tubuh yang berlumuran darah itu keluar dari kamar itu.


"Alex! Sayang! dengarkan aku! jangan tutup matamu hmmm... Aku di sini aku akan menolong mu. Kau akan baik-baik saja." Hera memang mengucapkan kalimat itu dengan lancar. Namun, tangan juga suaranya bergetar hebat. Tangan kanannya berusaha untuk menekan luka tembak di pinggang suaminya. Sementara tangan kirinya masih menyangga kepala Alex di pangkuannya.


Alex tersenyum. Meskipun luka tembakan itu membuat semua tubuhnya terasa sakit, dia tetap berusaha untuk terlihat kuat di mata Hera. "Jangan menangis sayang! aku akan baik-baik saja," ucap Alex sambil menyeka air mata Hera. "Aku sudah berjanji kepadamu kalau kita akan memiliki banyak anak dan juga akan hidup sangat lama bukan! Uhukkkk... " Air mata yang keluar dari mata Hera semakin deras saat melihat suami yang sangat dia cintai memuntahkan darah dari mulutnya. Hera menggeleng. Dadanya semakin sesak dan dia semakin kesulitan untuk bernapas. "Jangan bicara lagi. Simpan semua tenaga yang kau miliki untuk mempertahankan kesadaran mu. Hikssss... Aku Sangat mencintaimu Alex!" ucap Hera dengan susah payah." Alex semakin kesulitan untuk membuka matanya. "Aku... Lebihh Men Cin Ta Imu sayang." Tangan Alex yang tadi sedang mengelus pipi istrinya terkulai ke bawah. Matanya terpejam dan pada akhirnya semua kesadarannya hilang.


"Tidakkk..." Teriak Hera. "Jangan tinggalkan aku Alex. Aku janji aku akan lebih baik, aku akan lebih mencintaimu. Aku juga akan menjadi istri yang penurut. Jangan pergi, buka matamu sayang!" Kepala Hera tertunduk saat dirinya berusaha untuk memeluk sang suami.


"Bawa dia sekarang!" titah Tae Jun kepada para medis yang sudah sampai di lokasi. Dia menatap nanar pemandangan yang ada di depan matanya. Anak sulungnya sudah tak sadarkan diri di pangkuan menantunya. Dan Tae Jun juga meringis saat melihat linangan darah di lantai juga di pakaian yang Hera kenakan.


"Papa!" ucap Hera lirih sambil menatap sendu Tae Jun. Laki-laki paruh baya itu mendekati menantunya dan memeluknya erat. "Hiksss... Pa, Alex, Alex Pa...."

__ADS_1


"Iya sayang, papa tahu. Para medis sudah membawanya ke rumah sakit. Dia akan baik-baik saja." Tae Jun merasa sangat terluka melihat menantu kesayangannya menangis tersedu-sedu. Dia tahu kedua orang yang sangat dia sayangi ini sangat membutuhkan satu sama lain. Dia juga khawatir tentang keadaan putranya. Tapi melihat Hera tersiksa seperti ini dia semakin dan lebih terluka lagi.


"Ayo sayang! kita harus ke rumah sakit," ucap Tae Jun sambil memegang kedua bahu menantunya dan membantunya untuk berdiri. Hera bungkam saat Tae Jun memapahnya keluar dari vila milik Andrew. Tatapan nya kosong. Bayangan Alex yang mungkin saja pergi meninggalkannya terus berputar di atas kepalanya sampai dia merasa otaknya mendidih dan akan meledak saat itu juga. Air matanya terus mengalir meski isakan sudah tidak terdengar.


Tae Jun menatap sendu menantunya. Tangannya terulur untuk membersihkan darah yang ada di telapak tangan Hera. "Jangan khawatir sayang, Alex sangat mencintaimu. Dia tidak akan pergi dengan mudah, aku yakin dia akan bertahan. Dia adalah pria yang kuat."


Hera menatap dalam mata mertuanya. Dia sangat berharap kalau apa yang di ucapkan Tae Jun adalah sebuah kebenaran. Dia masih bungkam saat Tae Jun membersihkan darah Alex dengan sapu tangan mertuanya itu. Mereka sedang berada di mobil Tae Jun saat ini. Sedangkan semua orang suruhan Julieta sudah membawa laki-laki brengsek yang membuat Alex celaka ke rumah sakit. Jika kalian berpikir kalau mereka membawa Andrew ke rumah sakit umum. Kalian salah, karena nyatanya, Julieta menyuruh orang-orangnya membawa Andrew ke rumah sakit khusus yang di miliki organisasinya.


Tak


Tak


Tak

__ADS_1


"Hera!" panggil Jessica ketika melihat menantunya sedang tertunduk lemah di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi tersebut. Hera mendongak. "Mama!" panggilnya dengan sura yang lemah. Hera berdiri kemudian memeluk tubuh mama mertuanya dengan erat. "Hikssss... Ma, Alex... Dia terluka karena berusaha untuk melindungi ku. Aku sangat membencinya Ma. Seharusnya dia membiarkan aku yang terluka. Dia.. Hiksssss. Dia sangat bodoh Ma..." Jessica menghela napas panjang ketika mendengar celotehan menantunya. Dia juga sangat takut ketika mendengar Alex di larikan ke rumah sakit.


"Aku tahu sayang, sekarang duduklah! kau pasti sangat lelah hmmm..." Hera menggelengkan kepalanya. Namun, Jessica tetap mendorong bahu menantunya dan mendudukkan Hera kembali. Jessica beralih menatap Tae Jun. Dia berjalan mendekati suaminya lalu...


Plakkkk..... Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Tae Jun. "Dasar bodoh. Kenapa kau membuat anak kita terluka hah? apa kau pikir dengan diamnya kau aku akan memaafkan mu begitu saja. Cihhh.. Jangan harap Tae Jun." Jessica hendak melayangkan kembali tamparannya di pipi Tae Jun. Namun dengan segera Tae Jun menarik tangan Jessica dan memeluknya. "Maafkan aku sayang. Aku tahu aku salah, aku terlalu ceroboh karena membiarkan Alex terluka. Maafkan aku," ucap Tae Jun. Jessica meronta dalam pelukan sang suami. Dia sangat ingin menghajar suaminya saat ini juga. Tapi dia terlalu lemah. Hatinya terluka. Dia juga sangat takut Alex akan pergi meninggalkannya.


Angela yang melihat kekacauan di koridor rumah sakit itu tidak bergeming. Dia sudah tahu segalanya karena Tae Jun sudah memberitahunya saat dia menelpon Jessica satu jam yang lalu. Dia merasa bersalah, semua ini karena kesalahannya yang sudah terlalu egois dan tidak mau mendengarkan ucapan kakak iparnya.


"Kak!" panggil Angela dengan sura yang sangat pelan. Dia terlalu malu untuk memanggil kakak iparnya saat ini. Namun saat dia melihat keadaan Hera yang begitu menyedihkan, dia merasa dia harus meminta pengampunan dari Hera.


Hera mendongakkan kepalanya menatap Angela dengan tatapan yang sendu. Dia tersenyum namun air matanya kembali menetes saat melihat wajah adik iparnya itu.


...To Be Continued....

__ADS_1


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank you..🤗🤗...


__ADS_2