THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Kembali Bekerja


__ADS_3

Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..😁😘🤗


Happy reading semuanya..


"Ayah! apa Ayah tidak ingin membantu Min Ji supaya dia bisa keluar dari penjara? kita harus segera menolongnya Ayah. Karena gangguan mental yang di derita nya belum lama, mungkin jika kita memberikan dokter dan perawatan yang terbaik, Min Ji akan kembali sembuh." Hye Mi sudah berulang kali mengatakan hal ini kepada Myung Jin. Tapi ayah nya itu masih tidak bergeming.


Myung Jin hanya menatapnya sekilas. Bukannya tidak mau membantu atau apa. Min Ji juga anaknya. Sudah jelas kalau Myung Jin juga merasa sangat sedih dan juga bingung. Kalau dia terus mengupayakan untuk mengeluarkan Min Ji, Myung Jin takut Hera akan semakin membencinya. Belum lagi tanggapan orang-orang padanya, orang luar pasti akan berpendapat kalau Myung Jin tidak adil terhadap anak-anaknya.


"Sudahlah Hye Mi," ucap Ye-Seul sambil menggenggam tangan Hye Mi. Ibu juga sudah berusaha sangat keras untuk membujuk Ayah dan juga Alex. Tapi kalau mereka tidak bisa membantu, kita bisa apa. Kita hanya bisa berdoa dan berharap kalau keadaan Min Ji akan semakin membaik."


Hye Mi tersenyum. Dia memegang punggung tangan Ye-Seul lalu mengusapnya perlahan. Sorot mata Ye-Seul memperlihatkan sebuah kesedihan dan juga keputusasaan. Hye Mi tahu kalau ini adalah masalah yang pelik. Dia hanya tidak tega melihat Min Ji dan ibunya menderita seperti ini. Di sisi lain ada Hera yang memang adalah seorang korban, dan di sisi lainnya adalah Min Ji dan Ibunya. Entah apa yang harus dia lakukan supaya keluarganya ini bisa bersama dan menjadi keluarga yang rukun.


"Annya!" panggil Myung Jin saat melihat anak sulungnya menuruni anak tangga.


"Sarapan dulu Nak!" ajak Myung Jin.


Annya tersenyum kecut. " Tidak perlu Ayah. Aku akan makan di kantor. Lagipula aku tahu kalau kalian tidak menginginkan aku ada di meja makan bersama kalian." Annya langsung pergi setelah dia mengucapkan kalimat penutupnya. Dia merasa jengah ketika melihat kebersamaan Myung Jin dan keluarga nya. Kenapa orang-orang di rumah ini terlihat biasa saja. Apa hanya dia yang merasa kehilangan dan sedih ketika ibunya meninggalkan dunia ini untuk selamanya.


Myung Jin menatap punggung Annya dengan tatapan nanar. Annya pasti masih sangat terluka. Dia seharusnya membuat Annya merasa lebih nyaman dengan menghiburnya atau memberikan apapun yang bisa membuat Annya bahagia.

__ADS_1


Satu jam setelah Annya keluar dari dalam rumahnya, dia masih asyik berkendara dengan mobil yang pernah dia ambil dari Min Ji. Hari ini dia tidak langsung ke perusahaan karena dia mau berkeliling untuk menghilangkan penat yang ada di kepalanya.


"Aku sungguh butuh hiburan," ucap Annya.


Dia menghentikan mobilnya saat melihat bangunan pencakar langit tempat dia dulu bekerja. Ya, itu adalah perusahaan Alex. Tertulis dengan jelas di depan gedung itu tulisan Estate Grup. Tiba-tiba saja dia teringat dengan nasib Hera, apa wanita itu sudah sembuh, apa sebaliknya?. Belum sempat dia melajukan kembali mobilnya, dia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan perusahaan dengan beberapa mobil sedan hitam mengikuti mobil mewah itu di belakang.


Alex turun dari dalam mobilnya. Dia mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk sang istri. Tangannya terulur begitu dia berhasil membuka pintu mobil. Hera yang kala itu baru ingin keluar menjabat tangan Alex lalu keluar dari dalam mobil dengan perlahan. Beberapa orang dengan baju setelan hitam ikut ke dalam perusahaan saat Alex dan Hera masuk ke sana.


"Cihhhh, kau mulai memperketat ke amanan mu hah? tapi sayang aku tidak akan pernah menyerah. Tunggu saja, kau atau aku yang akan menang," ucap Annya dengan senyum menyeringai di wajahnya. Dia langsung menancap gas setelah puas memperhatikan orang-orang yang akan menjadi target nya. Orang ini memang benar-benar gila. Bahkan setelah ibunya meninggal, dia masih tidak menyesal dan malah semakin menjadi. Apa otaknya pindah ke dengkul sampai dia tidak bisa berpikir dengan normal...


Hera dan Alex langsung masuk ke dalam lift khusus. Hera menoleh pada suaminya. "Alex!" panggil Hera lembut. "Kenapa kau tidak mengantarku ke ruangan ku? kenapa malah membawaku ke ke kantor mu?" tanya Hera.


"Kalian tunggu saja di luar!" ucap Alex pada empat orang penjaga dengan tubuh tinggi kekar dengan setelan serba hitamnya. Ke empat orang itu membungkuk. Mereka mengatur posisi untuk berjaga di luar kantor Alex, lebih tepatnya di samping pintu ruang kerja Alex.


Sekertaris Alex yang memang sehari-hari bekerja di depan ruangan Alex memperhatikan semua orang yang berdiri di depan pintu ruang kerja bos nya itu. Dia bergidik ngeri ketika melihat betapa kekar tubuh orang-orang yang ada di dekatnya itu.


Dan di dalam ruangan, Hera di buat terperangah saat melihat ruangan Alex kini di sulap menjadi ruangan kerjanya juga. Meja kerja Hera terdapat di sudut ruangan di dekat jendela kaca yang menjulang tinggi. Bahkan semua hiasan meja dan juga barang-barang yang ada di kantornya di pindahkan ke sini.


"Alex!" gumam Hera sambil membekap mulutnya tidak percaya. "Kapan kau memindahkan ini semua?" tanya Hera. Hera sebenarnya merasa ragu kalau Alex yang melakukan semuanya. Pasalnya dari kemarin Alex tidak pernah meninggalkan nya barang sedetikpun.

__ADS_1


Alex mendekat lalu memeluk Hera dari belakang. "Aku menyuruh Wohyun dan Sara menyiapkan ini semua Sayang. Aku tidak ingin membuatmu hilang dari pandangan ku. Dan kau memang akan lebih nyaman jika bekerja di sini, di dalam ada kamar, jadi kalau kau lelah kau bisa tidur dan beristirahat dengan baik."


Hera memutar badannya lalu menangkup wajah Alex. "Tapi kalau aku di sini, kasian Sara, dia pasti harus mondar-mandir hanya untuk melaporkan sesuatu padaku."


"Biarkan saja. Toh ini sudah menjadi pekerjaannya bukan?" Cuppp.... Alex mengecup bibir Hera sekilas. " Ini adalah syarat dariku jika kau masih mau bekerja," ucap Alex sambil mencubit hidung Hera gemas.


Hera akhirnya mengangguk. Kondisinya saat ini memang tidak mengijinkannya untuk menolak setiap perhatian dari Alex. Dia tahu dan dia sadar akan hal itu. Hera tersenyum lalu mengecup bibir suaminya sekilas, dia langsung memeluk suaminya saat rasa mual kembali dia rasakan.


"Kau mual lagi hmm?" tanya Alex saat melihat gelagat aneh istrinya. Ya, Hera memang mulai merasakan mual dan muntah, tapi anehnya, dia akan merasa lebih nyaman setelah Alex memeluknya dan mengusap perut dan juga punggungnya.


"Duduk dulu di sofa! aku akan berbicara pada Baby twins," ucap Alex. Hera menggeleng, dia harus bisa melawan rasa mualnya. Dia ke perusahaan untuk bekerja bukan untuk menempeli suaminya.


Alex melepas pelukannya. Dia berjongkok lalu mengecup perut Hera beberapa kali. "Sayang! anak-anak daddy yang pintar dan baik, bersikap patuh ya sayang! kasian Mommy. Mommy ingin bekerja. Daddy akan sangat berterimakasih kalau kalian mau membantu Mommy dan daddy." Cup... Alex mengecup perut Hera sekali lagi.


"Ayo! aku akan membantumu duduk," ucap Alex saat dia sudah berdiri. Hera tersenyum lalu mengikuti apa yang di ucapkan Alex. Setelah memastikan Hera duduk dengan nyaman, dia kembali ke meja nya untuk mulai bekerja.


"Kau memang suami yang sempurna Alex."


...To Be Continued....

__ADS_1


...Hayo jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih karena selalu membaca novel ini. Semoga kalian sehat selalu. Salam sayang dari author rengginang.....


__ADS_2