THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Flashback


__ADS_3

Flashback on...


Di sebuah ruang kerja dengan nuansa hitam dan coklat yang mendominasi, seorang pria sedang duduk sambil menatap layar ponselnya. Iya, ponsel pria itu memang menampakan sosok wanita cantik yang sedang memegang bolpoin di tangannya. Tampilannya sangat sederhana, wanita itu hanya mengenakan kemeja biasa dan membiarkan rambutnya tergerai, kaca mata bulat yang dia gunakan membuat wanita itu tampak semakin cantik.



Alex menarik napasnya dalam lalu menghembuskan-nya perlahan. "Aku sangat merindukan mu Go Hera. Seberapa marah pun aku padamu, aku tetap tidak bisa melupakanmu walau untuk sesaat." Alex mengusap layar ponselnya perlahan, wallpaper yang dia gunakan di ponselnya adalah foto sang istri ketika mereka sedang ada di Melbourne Australia. Saat itu dia dan Hera sedang jalan-jalan sambil membawa sebuah camera. Hera mengatakan kalau dia ingin memotret pemandangan yang bagus. Barangkali itu bisa membuat Hera menemukan tema baru untuk desain pakaian musim selanjutnya. Alex terkekeh. Dia teringat kembali saat dimana dia sedang mencuri foto istrinya saat mereka sedang ada di sebuah cafe di kota tersebut. Hera sedang melamun dan Alex memanfaatkan kesempatan itu untuk memotret istri cantiknya.


"Cantik!" gumam Alex tanpa sadar. Dia berpikir sejenak lalu berdiri dari kursinya dan keluar dari ruangan itu.


Lima menit kemudian, dia sudah ada di ruangan Hera dan timnya.


"Presdir!" panggil Sara ketika melihat Alex masuk ke ruangannya dan hendak naik ke ruang kerja Hera.


"Ada apa Sara?" tanya Alex sambil melirik ruangan Hera.


"Presdir ingin bertemu Kak Ara kan? dia sudah tidak masuk kerja sejak kemarin Tuan. Kak Ara bilang, dia sedang ada urusan di luar. Jadi Kak Ara memintaku untuk mengundur semua jadwal meeting dan juga jadwal pertemuan dengan klien."


Alex mengerutkan keningnya bingung. Setahu dia, Hera tidak memiliki jadwal apapun di luar kantor. Dan lagi istrinya kemarin masih pulang tepat seperti biasanya. "Terimakasih Sara. Kalau dia menghubungimu lagi, kabari saya!"


"Baik Tuan." Sara membungkukkan badannya saat Alex keluar dari ruangan itu. Terlihat beberapa karyawan juga melakukan hal yang sama.


"Kau di mana Go Hera!" gumam Alex. Dia turun menuju lantai satu perusahaannya sambil menelpon beberapa orang yang mungkin mengetahui keberadaan Hera. Alex sudah mencoba untuk menghubungi istrinya. Tapi ponselnya tidak aktif. Dia sudah menelpon Bibi Lim, Paman Bae, Jessica , Angela dan juga Myung Jin. Tapi jawaban mereka sama. Mereka mengatakan kalau Hera tidak bersama mereka saat ini.


"Ini sudah hampir malam. Kenapa dia masih belum pulang. Kemana kamu Hera!"


"Alex!" panggil Wohyun saat melihat tuannya di lobi perusahaan.


"Wohyun bantu aku telpon Papa. Tanyakan Hera ada bersamanya atau tidak! Alex masih menempelkan ponsel di telinganya saat itu. Ya, dia sedang mencoba untuk menghubungi Hye Mi. Dia berharap Hera sedang ada bersama adik iparnya saat ini. Hanya Hye Mi orang terakhir yang mungkin di kunjungi Hera.


"Baik Lex." Wohyun mengerutkan keningnya saat mengingat sesuatu. "Alex cincin Hera!" ucap Wohyun.

__ADS_1


"Sh hit," umpat Alex. Kenapa dia bisa melupakan GPS tracker pada jari manis istrinya. Dia terlalu khawatir sampai otaknya menjadi bodoh sampai ke dasar.


"Ada apa?" tanya Wohyun saat melihat Alex mengerutkan keningnya.


"Hera ada di sebuah villa yang ada di pulau jeju Wohyun. Sedang apa dia di sana?" Alex mendadak khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Terlebih tidak ada satu orangpun yang tahu mengenai kepergian istrinya itu.


"Wohyun. Tetap hubungi Papa! dan bilang pada Pilot helikopter kita untuk melakukan persiapan. Aku akan tiba di pangkalan dalam 20 menit," ucap Akex lalu berlari keluar dari gedung perusahaannya.


Wohyun hanya mengangguk meskipun dia masih sedikit bingung.


Satu setengah jam kemudian. Di Villa yang ada di pulau Jeju. Sebuah helikopter mendekati area villa Baghdad House. Helikopter itu tepat berhenti di ujung halaman villa yang sangat luas.



Wusshhhhhh Wussshhhhhhhh Suara baling-baling helikopter terdengar sangat berisik di sertai angin yang sangat kencang. Alex melompat dari dalam helikopter tersebut. Dia berlari ke arah villa dengan tergesa. Matanya membulat saat melihat Tae Jun berlari mendekatinya. Dia juga bisa melihat ada helikopter lain di ujung halaman villa tersebut.


"Papa!" panggil Alex. "Apa yang Papa lakukan di sini? Papa tahu kalau Hera ada di villa ini juga?"


"Kenapa Papa tidak memberitahuku!" geram Alex marah. Dia ingin masuk ke dalam villa, namun Tae Jun menahan pergelangan tangannya.


"Tunggu Alex! Hera melarang ku untuk memberitahu mu. Dia khawatir kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Tunggulah! Papa sudah membawa beberapa penjaga untuk melindungi Hera."


Alex menatap Tae Jun dengan mata yang berkilat marah. Tae Jun pikir Alex akan menurutinya. Tentu saja tidak."Papa, Papa melarang ku karena ini berbahaya. Lalu, kenapa Papa membiarkan Hera melakukan ini. Alex kecewa Pa. Alex pikir Papa adalah orang yang bijak. Tapi ternyata Alex salah." Alex menepis tangan Tae Jun dan berlari memasuki villa tersebut. Di beberapa ruangan yang dia lewati, Alex melihat banyak laki-laki dengan perawakan yang cukup menakutkan tergeletak di atas lantai.


"Maaf Tuan, Anda siapa?" tanya seorang penjaga dengan setelan serba hitam pada Alex.


"Minggir!" ucap Alex tanpa menjawab.


"Maaf Tuan tapi..." Bughhhhhh.. Alex menghajar wajah penjaga itu dengan tangannya.


Saat seseorang ingin menyerang Alex, dia menghentikan langkahnya dan menekan earphone yang dia pakai.

__ADS_1


"Maafkan kami Tuan!" ucap penjaga itu.


"Di mana Istriku?" teriak Alex.


"Beliau ada di kamar itu Tuan." tunjuk penjaga pada sebuah kamar yang terletak di ujung ruangan.


Alex langsung berlari dan mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut. "Brengsek," umpat Alex saat mengetahui kalau pintunya di kunci dari dalam.


"Bantu aku mendobrak pintunya!" teriak Alex.


Dorrr...


Dorrrr... Alex melepaskan peluru dari pistol yang dia bawa di balik jas yang dia pakai. Seorang penjaga dengan kaos berwarna putih ambruk ke lantai. Ya... Alex melihat orang itu menodongkan pistol ke arah penjaga yang ingin membantunya untuk mendobrak pintu kamar.


Brakkkk.... Pintu kamar itu langsung ambruk saat Alex dan beberapa penjaga berhasil mendobraknya.


Flashback of....


"Alex!... Sadarlah Sayang! aku di sini. Aku baik-baik saja. Kenapa kau masih belum bangun? kau tidak merindukanku hmm? apa hanya aku yang merindukanmu?" Hera menggenggam tangan Alex yang bebas dari selang infus. Dia mengecup tangan suaminya beberapa kali. Alex masih ada di ruang observasi khusus. Saat ini Hera masih mengenakan pakaian rumah sakit. Di tambah dia juga mengenakan pakaian khusus untuk memasuki ruangan Alex. Hanya keluarga initi yang di perbolehkan menjenguk Alex. Itupun hanya boleh satu orang untuk setiap jadwal jam besuk.


"Alex aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Bangunlah! kalau kau tidak bangun juga aku akan kembali ke New York dan tidak akan pernah kembali." Hera membenamkan wajahnya di ranjang yang Alex tempati. Dia kembali menangis saat awan hitam menaungi hatinya.


"Ja.. Ngan...Per ....Gii...," ucap Alex dengan suara pelan dan tersendat-sendat. Hera langsung mengangkat kepalanya dan melihat wajah Alex. Dia ingin memastikan apakah suara yang tadi dia dengar benar-benar suara suaminya atau hanya halusinasi nya saja.


Hera berdiri. Dia memperhatikan wajah suaminya.. "Alex!" panggil Hera lembut. Alex membuka matanya perlahan lalu menatap mata Hera yang kini sedang menatapnya.


"Ya Tuhan, kau benar-benar sudah sadar. Aku harus segera memanggil Dokter," ucapnya lalu berlari keluar dari ruangan rawat suaminya.


...To Be Continued....


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank you.🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2