THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Gaun Pengantin


__ADS_3

Kebahagiaan orang itu tidak sama. Tidak selalu harus uang yang menjadi tolak ukur agar semua orang bahagia. Namun kita juga harus memikirkan masa depan orang yang akan mendampingi kita, dia akan bahagia atau tidak itu tergantung kita yang menjadi pasangan mereka. Sebuah rumah yang sesungguhnya bukan terletak pada bangunan itu sendiri. Tapi terletak pada orang yang mengisi rumah itu.


🍓🍓🍓


Alex fokus menatap Hera yang sedang asik memakan ice cream kesukaannya. Hampir semua orang yang ada di restoran itu sedang melihat ke arah mereka. Hera sebenernya tau jika dirinya dan Alex menjadi pusat perhatian seisi restoran. Namun dia memilih untuk tidak perduli karena mungkin kini kemanapun dia pergi akan da mata orang-orang yang memperhatikan mereka. Kalau Alex, dia lebih suka menatap calon istrinya . Dia sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu dari orang-orang yang melihatnya.


Orang-orang melihat Alex dengan kemewahan yang di tunjukannya . Bagi Alex apapun yang dia pakai , apapun yang dia tunjukan dia tidak pernah bermaksud untuk menekan kan kalau dia lebih dari yang lain. Hanya saja. Untuk apa dia memiliki segalanya jika dia tidak bisa menikmati dan memfasilitasi dirinya dengan baik.


"Kau tidak makan?" tanya Hera yang masih asik menyendok kan Ice cream ke mulutnya. "Aku sudah makan di kantor," Jawab Alex yang masih enggan untuk mengalihkan pandangannya dari Hera.


"Mau mencoba ini?" tawar Hera menyodorkan mangkuk yang berisi ice cream kepada Alex. "Bolehkah?"


"Hmmmmm," Hera mengangguk. Alex bangkit dari duduknya dan Cuppp... Laki-laki itu menarik dagu Hera dan ******* sisa ice cream yang tertinggal di bibir gadisnya itu. Dan tentu saja apa yang Alex lakukan membuat Hera melotot tak percaya.


"Manis. Sangat manis," ucap Alex menyapu bibir Hera dengan ibu jarinya lalu menjilatinya membuat Hera geram.


"Alex kau ini keterlaluan. Ini tempat umum. Dan lagi kenapa kau semakin suka menciumiku tanpa persetujuan dariku.


Alex tersenyum puas melihat Hera yang sedang mengerucutkan bibir di hadapannya. "Mau ku cium lagi hmmm?" goda Alex membuat wanita yang ada di hadapannya jengah.


"Kau yang menawarkan ice cream untuk aku cicipi. Kenapa jadi kau yang marah?" Alex menatap lekat bola mata Hera yang sedang berkilat marah menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku. Aku menawarkan yang ada di mangkuk ini," tunjuk Hera pada mangkuk Ice cream yang ada di hadapannya.


"Baiklah. Aku yang salah . Maafkan aku. Sekarang habiskan Ice cream mu lalu kita pesan makan siang," Alex mengelus kepala Hera membuat semua orang yang ada di sana memekik ke girangan. Bagai mana bisa ada Laki-laki tampan kaya juga begitu romantis seperti Alex. Paket lengkap sekali. Pikir mereka.


"Aku juga menginginkannya," ucap salah satu pengunjung wanita di restoran itu.


"Akhh aku harap dia lah yang akan menjadi suamiku," celoteh yang lain.


Hera mendengus mendengar ocehan para wanita di sekitarnya. "Kau sengaja Alexander?" Alex tersenyum menanggapi kemarahan Hera . "Sekali lagi kau tunjukan gigimu di depan mereka, aku akan pulang dan tidak akan mau lagi pergi dengan mu," ancam Hera yang tidak ingin melihat wanita-wanita tadi semakin kegirangan melihat senyum Alex yang menampakan gigi gingsul nya yang imut itu.


Makan siang berjalan dengan lancar. Kini Alex dan Hera sudah ada di dalam salah satu butik terbaik di kota itu. Alex sedang membolak balik majalah yang sedang di bacanya.


Sretttt ... Suara tirai yang di buka oleh para pelayan yang membantu Hera memakai gaun yang sedang di cobanya.


Hening menyelimuti suasana di antara mereka berdua. Tidak ada yang mau membuka suara. Alex sedang sibuk memuja bidadari yang akan menjadi istrinya itu dengan tatapan matanya. Sedangkan Hera sedang berpikir apa Alex menyukainya. Apa harus mencoba yang lain lagi. Oh ayolah. Hera sudah sangat lelah mencoba beberapa gaun yang di rekomendasikan pemilik butik ini.


"Apa kau suka?" tanya Hera yang melihat Alex semakin mendekat dan terus menatapnya tanpa berkedip. Laki-laki itu tersenyum. "Aku sangat menyukainya. sangat cantik. sangat sempurna. Begitu indah dan bersinar," Hera mendengus mendengar penuturan Alex.


"Kau itu dari tadi hanya bilang bagus, bagus, suka dan sangat cantik.kalau semuanya bagus kenapa tidak membeli semuanya dan tidak usah menyuruhku mencobanya satu per satu. Aku.. Belum sempat Hera menyelesaikan ucapannya, Alex sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di bibir Hera. Tangan kirinya meraih dan menarik pinggsng Hera masuk ke dalam pelukannya.Sementara tangan kanannya menahan tengkuk Hera agar ciumannya tidak terlepas dan dia bisa semakin memperdalam ciuman itu.


Ciuman yang sangat lembut , sangat hati-hati seakan laki-laki itu sangat takut melukai bibir sang empunya. Hera terkejut bukan main. Dalam hati dia menggerutu kenapa Alex yang selalu melakukan ini. Apa ini hobi baru calon suaminya. Hera sungguh tidak habis pikir.

__ADS_1


Hera menepuk dada Alex berkali kali berusaha menjauhkan Alex dari tubuhnya dan ingin segera melepaskan ciuman itu.. Hosh. Haah. Hera berusaha bernapas dengan baik ketika Alex melepaskan tautannya. Hera ingin berbicara namun lagi - lagi Alex menempelkan bibirnya di bibir Hera. "Astaga.. Apa ini?" Batin Hera merasa dongkol. Ciuman Alex kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Lebih menuntut dan lebih intens. Lum a tan - lum a tan yang Alex lakukan semakin cepat dan sesekali menye sap bibir Hera yang sudah mulai mati rasa. Hera yang pada awalnya memberontak dan berusaha untuk melepas tautannya kini mulai terbawa suasana. Wanita itu membuka mulutnya ketika lidah Alex berusaha untuk masuk mengabsen deretan gigi Hera.


Hera terbuai dalam cumbuan panas sang makhluk yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Alex mengangkat sedikit pinggang Hera dan menuntunnya untuk bergeser ke sofa panjang yang ada di ruangan itu. Alex mendudukkan Hera dan mendorong bahu Hera ke belakang sampai Hera berbaring dan Alex berada di atas tu buh Hera saat ini.


Alex semakin memperdalam cum buan nya . Tangannya sudah bergerak nakal mengelus punggung dan juga pinggang Hera.


Drttzzz ... Drttzzzz.. Ponsel Alex berdering.


Alex melepaskan tautannya dan segera berdiri meraih ponsel dari saku celana yang dia kenakan kemudian menempelkan ponsel itu di telinga. Alex melirik Hera yang sedang menatapnya. Alex tersenyum melihat wajah Hera yang sudah merah padam bak kepiting rebus di restoran seafood.


Hera menghembuskan napasnya kasar. Entah sudah berapa kali dirinya lepas kendali dan menikmati ciu man Alex. Bukan cuma menikmati tapi juga membalas ciu man itu. Bodoh bukan? . Tapi Hera tidak sadar. Anggaplah dia hilang akal.Otak dan hatinya benar-benar tidak sejalan.


Hera memejamkan bola matanya ketika kantuk secara tiba-tiba datang menghampirinya. Dia sangat lelah. Sampai tidak perduli kalau saat ini dia masih memakai gaun pengantin dan masih berada di dalam butik.


Alex masih berbicara dengan seseorang di sebrang telepon. Matanya melirik Hera yang saat ini sedang terlelap di sofa . Laki-laki menempelkan jari telunjuknya di bibir ketika melihat seorang pelayan yang hendak masuk menghampiri mereka . Matanya melirik Hera seakan memberi tau pelayan itu untuk diam karna Hera sedang tidur.


Alex menutup telponnya ketika sudah selesai berbicara. Dia berjalan menghampiri Hera dan jongkok di sebelah sofa.


"Apa sangat lelah?" bisik Alex mengusap wajah Hera dan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Hera ke belakang telinga tunangannya itu.


To Be Continued .

__ADS_1


Hai readers. jangan lupa like sama komen nya ya. Thank you. 🤗😙


__ADS_2