
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Buhghhhhh... Percobaan pertama gagal.
Bughhhhh... Yang kedua masih sama.
Alex hendak mendobrak pintunya sekali lagi, namun seseorang menghentikannya.
"Minggir Alex!" ucap seorang perwira polisi yang datang kala itu.
Dorrr .. Dorrr... Dorrr..... Polisi itu menembak pintunya beberapa kali.
Brakkkkk... Alex menendang pintu itu setelah polisi tadi berhasil merusak kunci pintu kamar Ye-Seul.
Alex tersenyum menyeringai saat melihat Min Ji sedang ketakutan. Dia meringkuk sambil menutup kedua telinganya. Sementara Ye-Seul masih tetap mendekap Min Ji seolah dia tidak ingin membiarkan Min Ji pergi ke manapun.
"Go Min Ji! Anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan seseorang." Polisi itu menunjukan selembar kertas di hadapan Ye-Seul dan Min Ji.
Alex menarik tangan Min Ji saat gadis itu tidak merespon ucapan polisi yang hendak menangkapnya. Min Ji berusaha untuk melawan. Dia tidak ingin di penjara. Dia tidak bermaksud untuk membunuh siapapun, dia hanya ingin membuat perhitungan dengan Hera.
Ye-Seul berusaha melepaskan tangan Alex yang sedang mencengkram erat pergelangan tangan Min Ji. Dia tidak ingin putrinya di bawa siapa pun. Baik itu Alex ataupun polisi itu, Min Jinya tidak boleh pergi.
__ADS_1
"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi. Anda juga di berikan kewenangan untuk memanggil pengacara yang akan membantu Anda di persidangan yang akan datang."
Klakkk... Kriet... Polisi itu memborgol tangan Min Ji. Dia tidak kesulitan karena Alex membantunya. Lagipula Ye-Seul yang sejak tadi berusaha melepas tangan Alex sudah tersungkur ke lantai karena dia di dorong dengan keras oleh laki-laki yang sedang hilang akal itu.
"Jangan! jangan bawa anak saya!" teriak Ye-Seul kepada Polisi yang kini sedang menyeret Min Ji keluar dari kamar nya. Alex hanya menatap nanar punggung orang-orang yang sedang membuat keributan di depannya.
"Nyonya, jika anda terus bersikap seperti ini, Anda akan kami tangkap juga karena tidak kooperatif dan berusaha untuk menyembunyikan tersangka," ucap polisi itu. Dia melempar Min Ji pada anggota polisi yang lain. Ya, dia memang tidak menyukai orang-orang seperti ini. Alex sudah menceritakan semuanya kepadanya. Dia tentu harus memperlakukan Min Ji dengan adil bukan.
"Terimakasih Jonathan," ucap Alex pada orang yang ada di depannya. Jonathan menepuk pundak Alex. Polisi tampan itu adalah teman Alex di sebuah club motor yang sempat di ikutinya dulu. Dan baru akhir-akhir ini mereka kembali berinteraksi. Seorang pembisnis hebat seperti Alex akan sangat aneh jika tidak memiliki kenalan orang-orang dari kalangan atas bukan.
"Aku akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menuntaskan ini. Dia tidak akan bisa lolos dengan mudah. Kejadian sebelumnya tidak akan terjadi lagi. Aku janji," ucap Jhonatan tulus.
Alex tersenyum. Sebenarnya selama ini dia selalu berkonsultasi dengan Jonathan perihal kasus yang menjerat Annya. Dia hanya ingin tahu k kenapa Annya bisa bebas dengan mudah. Dan dugaan Alex benar, Jonathan mengatakan kalau Myung Jin memanfaatkan oknum-oknum penyeleweng di dalam jajaran kepolisian untuk membebaskan Annya. Hukum memang selalu tumpul ke atas bukan. Kalau di tanya yang tajam nya ke mana, jelas saja ke bawah. Orang-orang tidak mampu akan di berikan hukuman yang berat meskipun kesalahan mereka tidak seberapa. Tapi jika orang-orang dari kalangan atas yang melakukan kesalahan, kesalahan sebesar apapun itu tidak ada apa-apa nya. Bahkan banyak di antara mereka yang lepas dari hukuman begitu saja.
Ye-Seul ambruk ke tanah saat dia melihat mobil yang membawa Min Ji sudah melesat jauh dari halaman rumahnya. Dia tidak memperdulikan Alex yang kini sedang menatapnya dengan tatapan benci ran juga jijik.
Brukkkk... Ye-Seul memeluk kaki Alex. "Alex! Ibu mohon jangan lakukan ini pada Min Ji . Dia tidak sengaja Alex, Min Ji masih kecil. Ini hanya akal-akalan Annya yang membuat Min Ji melakukan semuanya. Seharusnya kau menangkap Annya bukan menangkap Min Ji. Dia tidak tahu apapun. Semua ini adalah rencana wanita ular itu."
Alex memijat tulang hidungnya saat mendengar ucapan Ye-Seul. "Putrimu sudah terbukti salah . Aku sudah memiliki semua buktinya. Jika kau ingin membuktikan Min Ji tidak bersalah maka lakukan itu di persidangan yang akan datang. Aku tidak memiliki wewenang untuk hal ini."
Alex berjalan mendekati Wohyun yang masih berdiri di samping mobil Alex. Dia tadi memang mengikuti bos nya ke dalam, namun, saat melihat Jhonatan dan anggotanya datang, Wohyun memutuskan untuk menunggu Alex di luar.
"Antarkan aku ke rumah sakit Wohyun. Setelah itu pergilah ke kantor polisi. Urus semuanya. Dan kalau bisa, bilang kepada pengacara kita untuk menjerat Min Ji dengan hukuman paling berat. Ini bukan ketidak sengajaan. Sudah jelas kalau Min Ji merencanakan ini dari jauh-jauh hari."
"Baik. Aku mengerti."
__ADS_1
Ye-Seul mantap mobil Alex dengan tatapan yang sulit di artikan. Tidak ada yang tahu dia marah atau justru menyesal. Hati seseorang tidak ada yang bisa membacanya bukan. Jangan kan Author, Ye-Seul pun pasti tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini .
Tiga puluh lima menit kemudian, Alex sudah berada di rumah sakit kembali. Dia hendak masuk ke ruang rawat istrinya namun Pedrik menghentikan langkahnya. Dokter itu memanggil Alex dan memintanya untuk mengikuti dia ke ruangan nya saat ini juga. Meskipun bingung, Alex tetap mengikuti Pedrik. Bukannya apa, Pedrik mengatakan kalau hasil pemeriksan Hera baru akan dia sampaikan sore hari. Ini baru 3 jam setelah istrinya di rawat. Apa hasilnya sudah keluar secepat ini.
"Duduklah!" titah Pedrik pada Alex.
"Ada apa Pedrik?" tanya Alex. "Istriku baik-baik saja bukan?" tanya nya lagi.
Pedrik menghela nafasnya kasar. Dia ingin memarahi laki-laki yang ada di hadapannya ini namun dia sangat tidak tega mengingat bagaimana hancurnya Alex saat melihat istrinya hampir meregang nyawa.
"Kau bodoh atau apa Alex!" sarkas Pedrik.
Alex bingung. Dia hanya menatap Pedrik seolah dia ingin mendapatkan penjelasan dari apa yang baru saja di ucapkan dokter itu padanya.
"Kau hampir kehilangan dua nyawa."
Alex mengerutkan keningnya bingung. Apa maksud Pedrik dengan hampir kehilangan dua nyawa. Alex benar-benar tidak mengerti.
"Apa maksudmu Pedrik?" tanya Alex to the point.
Pedrik tersenyum ke arahnya. Dia bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alex."
"Ada Kim junior di dalam rahim istrimu."
...To Be Continued. Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya. ...
__ADS_1
...Ooiya.. Di karenakan sekarang kita sedang melaksanakan ibadah puasa, mulai besok novel ini akan up setiap jam setengah delapan malam. Mohon di tunggu ya... Terimakasih... Salam sayang dari Kim2. Love u all....