
Setelah beberapa hari, akhirnya acara karya wisata perusahaan terealisasi. Tidak banyak yang ikut, hanya beberapa bus besar dan juga sebuah mobil karapan mewah yang ikut dalam iring-iringan.
Mereka melewati pedesaan yang masih sangat asri. Udara di sana sangat sejuk. Karena masih bersih dan jauh dari polusi. Hera, wanita itu menatap ke luar jendela kaca mobil karapan yang membawanya selama hampir 4 jam di perjalanan. Dia tidak merasa lelah karena pemandangan di luar sangat lah indah. Sangat sayang kalau harus di lewatkan.
Mobil mereka melewati padang rumput tempat peternakan domba . Ada juga ladang sayur mayur yang memang menjadi sumber mata pencaharian penduduk desa yang ada di sana.
"Sayang!" panggil Alex lembut. "Kau tidak mau istirahat dulu?" tanya Alex sambil menatap istrinya yang masih betah menatap ke luar jendela.
"Hmmm. Aku masih betah Alex, lagipula bukan kah sebentar lagi kita akan sampai?" tanya Hera tanpa menoleh kan kepalanya.
Alex berdiri kemudian duduk di samping sang istri.
Grebbbb....
Hera tersenyum saat dia merasakan tangan Alex yang kini sedang melingkar dengan apik di perut rampingnya. "Kau lelah?" tanya Hera . Alex menggeleng, dia semakin membenahi posisinya supaya bisa bersandar dengan nyaman di bahu sang istri.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai. Di tempat tujuan. Mobil yang membawa Hera pun berhenti di dekat tepian danau. Sedangkan mobil yang di tumpangi karyawan berhenti di tempat yang sudah di sediakan.
Di sana juga terdapat sebuah vila yang akan di tempati oleh para karyawan. Sedangkan Hera dan Alex akan tidur di mobil karavan. Mereka ingin menikmati suasana desa dengan nyaman.
"Turunlah!" ucap Alex sambil mengulurkan tangannya. Namun, saat Hera hendak meraih tangan itu, Alex malah menarik tangannya dan dengan gerakan cepat dia menggendong Hera dan menurunkannya di atas rerumputan.
"Kau ini Alex! ada banyak pegawaimu di sini. Malu kalau mereka sampai melihat apa yang baru saja kau lakukan." Hera cemberut sambil memperhatikan orang-orang yang kini sedang mengeluarkan barang mereka.
__ADS_1
"Kenapa harus malu hmmm. Kita ini suami istri. Wajar kalau melakukan hal-hal romantis. Tidak dosa bukan?" Alex malah memeluk istrinya dari belakang. Hera , wanita itu sungguh sangat ingin memukul suaminya saat ini juga. Bukan masalah dosa atau tidak dosa. Tapi mempertontonkan kemesraan di depan umum juga bukan hal yang bagus kan.
"Ekhemmmm." Wohyun berdehem ketika melihat kedua bos nya sedang bermesraan. Sara yang ada di sampingnya hanya tersenyum. Dia sangat menyukai pemandangan yang ada di depan matanya. Melihat Alex yang begitu mesra kepada Hera membuatnya membayangkan hal-hal romantis yang mungkin juga akan di alaminya ketika dia memiliki suami di masa depan.
Alex melepas pelukannya. Sementara Hera tersenyum kikuk. Dia memang belum terbiasa bersikap terlalu terbuka di depan banyak orang.
"Ada apa?" tanya Alex kepada asistennya.
"Hari ini kita tidak ada jadwal bersama. Semua orang bebas melakukan apapun yang mereka mau. Aku juga sudah menyiapkan bahan pangan di vila jadi mereka tidak akan ke kekurangan apapun. Dan untuk besok pagi, kita ada jadwal untuk memetik sayur lalu memasaknya bersama-sama. Hitung-hitung acara kekeluargaan supaya kita bisa lebih dekat dengan para karyawan."
"Hmmmm, baiklah. Kau bisa kembali ke vila. Aku akan jalan-jalan dulu di sekitar danau. Kalau ada yang kalian ingin tanyakan, besok saja. Jangan menggangguku ataupun Hera hari ini."
Hera menoleh pada suaminya. Kenapa Alex mengatakan hal seperti itu. Bagaimana kalau Wohyun dan Sara memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Akhhhh, " pekik Alex ketika Hera mencubit kulit perutnya.
"Kak, mereka lucu ya... Yang satu terlalu blak-blakan, dan yang satu sangat pemalu," cicit Sara ketika melihat Alex berlari untuk mengejar sang istri.
"Hmmm... Alex itu sebenarnya adalah orang yang humbel, hanya saja, karena dia sudah di paksa untuk terjun ke dunia bisnis, hidupnya jadi monoton. Selain pekerjaan, Alex tidak pernah menganggap hal yang lain penting. Dulu dia memiliki banyak sekali teman, dia juga mengikuti sebuah club motor terbesar yang ada di kota ini. Namun, aku bersyukur karena sekarang Hera hadir dalam hidupnya. Alex yang sudah jarang menunjukan emosinya, kini mulai terbuka kembali." Sara mengangguk ketika mendengar penjelasan dari Wohyun. Selama ini dia memang selalu beranggapan kalau bos nya itu adalah orang yang dingin dan juga sangat galak. Tapi ternyata, setiap orang memiliki tekanan yang mungkin membetuk sebuah pribadi yang baru pada setiap orang.
Hera terus berjalan tanpa memperdulikan suaminya yang sejak tadi sudah berteriak memanggil namanya. Setelah merasa lelah, dia duduk di sebuah pohon yang sudah lama di tebang. Iya, itu terlihat karena potongan kayunya sudah mulai mengering.
Hera menatap suaminya yang kini berjalan dengan perlahan. Mungkin Alex juga kelelahan karena berjalan terlalu cepat.
__ADS_1
"Capek?" tanya Hera ketika melihat suaminya menunduk sambil berpegangan pada kedua lututnya.
"Kena-pa ti-dak menungguku?" tanya Alex dengan susah payah.
"Kau itu laki-laki masa segitu aja udah capek," ucap Hera dengan wajah mengejeknya.
Bukannya marah, Alex malah tersenyum. Dia berjalan kemudian berhenti tepat di hadapan sang istri. Tangannya terulur merapikan rambut Hera dan mengelus pipi istrinya lembut. "Jangan marah-marah terus, nanti cantiknya hilang," ujar Alex. Hera mendongak kan wajahnya. Dia tersenyum, senyumannya sangat manis, terlampau manis sampai Alex takut terkena diabetes.
"Pemandangan di sini sangat indah Alex, di sini juga ada beberapa tenda, mungkinkah ada orang yang sedang berkemah?" tanya Hera. Alex meraih bahu Hera kemudian merengkuhnya dan memeluknya.
"Mungkin. Semua orang membutuhkan udara seperti ini sesekali. Udara di kota sudah tidak sejuk . Udara di sini sangat bagus untuk penyembuhan diri dan juga untuk merefresh otak supaya tidak jenuh."
Sepasang suami istri itu masih betah dengan posisi mereka saat ini. Alex yang memeluk dan mengusap kepala Hera lembut, dan Hera yang sudah nyaman memeluk pinggang suaminya sambil menikmati angin sore yang sangat segar.
Memanjakan diri untuk sesekali memang harus. Melupakan segala kesibukan dan pekerjaan yang biasa kita lakukan bukanlah sebuah dosa. Jangan mendzolimi diri sendiri dengan melupakan kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri.
Mungkin ada yang pernah mendengar kutipan kalimat ini. Sebelum membuat orang lain bahagia, carilah kebahagiaan mu sendiri! Menjadi egois tidak selalu salah, jika terlalu sulit, pikirkan saja kebahagiaan mu sendiri. Kalian bisa melakukan itu.
Jadi... Bersantai sesekali gak papa para bunda.. Membiarkan rumah berantakan sesekali bukanlah sebuah dosa. Kita juga butuh istirahat. Mental kita harus tetap sehat supaya kita bisa menjaga anak-anak kita dengan pemikiran yang baik.
Semangat buat kita semua. Semangat juga buat para ibu muda yang mungkin masih sangat kesulitan menjalani semua rutinitas sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang ibu. Kalian tidak sendiri kok. Kita akan selalu saling mendukung..
...Mian kalau di part ini aku banyak cakap.. 🙏🙏🙏♥️♥️♥️😘 Salam sehat buat semuanya. Jangan lupa bahagia....
__ADS_1