
Hari yang sudah terang terasa masih sangat gelap bagi Hye Mi, sekuat apapun dia mencoba untuk merelakan Alex, hatinya tidak sejalan dengan isi kepalanya. Dia ingin melepaskan Alex tapi hati kecilnya mengatakan untuk terus berjuang. Apanya yang harus di perjuangkan. Jelas-jelas cintanya layu sebelum berkembang. Hye Mi mungkin terlalu bodoh karena sudah berharap apa yang dia inginkan akan selalu dia dapatkan.
Hye Mi kini termenung di atas tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar yang entah sejak kapan dia melakukan itu.
Hye Mi segera memiringkan tubuhnya membelakangi pintu ketika ada orang yang berusaha untuk masuk ke kamarnya. Dia semakin mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya ketika suara langkah kaki semakin mendekat. Hye Mi sedang ingin sendiri, Hye Mi tidak mau orang lain melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Sayang!" panggil Ye-Seul memegang bahu Hye Mi. "Kenapa tidak turun untuk makan hmmm, Ibu membuatkan makanan kesukaan mu," kini tangan Ye-Seul terulur mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu masih sedih? cerita sama ibu nak, jangan memendamnya sendiri! ibu tahu ini sangat menyakitkan untukmu," Ye-Seul merasa sangat iba melihat anak kesayangannya terpuruk seperti sekarang. Tapi apa yang bisa dia lakukan , Ye-Seul tidak bisa berbuat apa-apa jika memang benar Alex mencintai Hera.
"Hye Mi!" panggil Ye-Seul sekali lagi. Jika kau bersedih seperti ini, ibu akan lebih sedih darimu," Hye Mi yang mendengar itu langsung membalikan badannya untuk melihat wajah Ye-Seul. Hye Mi sedih, tapi dia tidak ingin ibunya ikut bersedih juga.
"Mau ibu ceritakan sesuatu?" tanya Ye-Seul menatap lekat mata anaknya. "Tapi janji, kamu tidak akan marah dan membenci ibu nanti," Ye-Seul tersenyum getir, dia merasa sangat buruk karena harus menceritakan masa lalunya yang mungkin adalah sebuah aib untuk dirinya dan Hye Mi.
Hye Mi memandang wajah Ye-Seul menantikan apa yang akan di ucapkan Ye-Seul selanjutnya.
"Kau selalu bertanya kenapa kakak mu sangat membenci kita kan?" Hye Mi menganggukkan kepalanya.
Ye-Seul melanjutkan ceritanya dari awal sampai akhir, tidak ada yang kurang dan juga tidak ada yang di lebih-lebihkan. Hye Mi membekap mulutnya sendiri ketika mendengar Ye-Seul menceritakan semuanya. Hye Mi menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya. Air matanya menetes, tubuhnya bergetar, bibirnya kelu tidak dapat mengucapkan satu patah katapun.
Ye-Seul yang melihat itu semakin sedih, dia semakin sadar kalau apa yang di lakukannya dulu memang tidak bisa di maafkan. Ye-Seul menyesal, tapi jika waktu dapat berputar kembali, Ye-Seul tidak tau apa dia bisa mengambil keputusan yang berbeda, dia selalu merasa cintanya pada Myung Jin tidak pernah salah, hanya keputusannya untuk menjalani hubungan terlarang di belakang In Ha yang salah.
__ADS_1
"Jadi, Ibu mohon, jangan membenci kakakmu, dia sudah cukup terluka selama ini, biarkan dia mendapatkan apa yang harus dia dapatkan Nak. Kamu tahu selama ini ibu dan ayah selalu memanjakanmu, tapi , sejak umur sepuluh tahun, Hera sudah di tinggal ibunya, dan saat masuk sekolah menengah, dia lebih memilih untuk tinggal di asrama," Ye-Seul berbicara panjang lebar sambil memeluk Hye Mi yang menangis.
"Ibu, aku mengerti. Aku akan merelakannya kali ini, aku tidak akan memaksakan kehendak ku kepada Alex, aku akan membiarkan kakak memilikinya bu. Aku janji," Hye Mi membalas pelukan ibunya tak kalah erat. Hatinya enggan menerima kenyataan memilukan ini , tapi mau di kubur sampai sedalam apapun, tidak mungkin rahasia sebesar ini tidak akan pernah di ketahui nya. Jika bukan dari Hera dia pasti akan mendengarnya dari orang lain.
🍓🍓🍓
Alex masuk ke kamarnya membawa nampan berisi bubur juga air hangat. Matanya tertuju pada gadis yang sedang memejamkan matanya. Namun Alex yakin gadis itu tidak sedang tidur karena dari tadi dia terus bergerak gelisah.
Alex duduk di tepian ranjang kemudian memegang pipi pucat Hera dengan sayang. Alex mengelusnya, "Hera! bangun!, makan bubur dulu, habis itu minum obat, kau akan mengantuk setelah meminum obat itu," Hera membuka matanya perlahan, wajah Alex, wajah yang beberapa hari ini mungkin akan terus di lihatnya siang dan malam, wajah yang telah mengisi kosong di matanya. wajah yang selalu memberikan kehangatan dan rasa nyaman ketika Hera menatapnya.
Alex membantu Hera untuk duduk bersandar di kepala ranjang."Kau makan dulu!" Alex mengambil mangkuk bubur dari atas nakas kemudian mulai menyendoknya sedikit. "Kau tidak alergi seafood kan?" tanya Alex. Hera menggelengkan kepalanya. Alex tersenyum, dia meniup bubur yang ada di sendoknya beberapa kali. "Buka mulutmu!" ucap Alex, Hera menuruti apapun yang Alex katakan kali ini, tidak ada penolakan , tidak ada bantahan. Alex sangat menyukainya. Hera terlihat seperti anak kecil penurut jika terus seperti ini.
"Aku ada meeting siang nanti, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi meeting kali ini sangat penting, klien ku sengaja datang dari kanada hanya untuk menemui ku, akan sangat tidak sopan jika aku tidak menemuinya langsung. Aku tidak akan lama, nanti Sara akan ke sini untuk menemanimu, ada bibi Lim juga, dia akan menjagamu selama aku pergi," Alex terus berbicara sampai mangkuk yang berisi bubur tadi kosong.
Tok. Tok. Tok.. "Masuk!" ucap Alex .
"Ini obat yang tadi kau suruh aku untuk membelinya" ujar Wohyun memberikan kantong berisi obat - obatan Hera.
"Terimakasih wohyun, dan ya.. Sekarang baru jam 9, kau pergi ke kantor dulu, urus semua keperluan untuk meeting kita siang nanti, bilang pada sekertaris Jung untuk mengosongkan jadwalku hari ini dan beberapa hari ke depan!" Wohyun mengangguk menanggapi apa yang Alex titahkan padanya.
"Dan ya, sekalian bawa Sara ke sini ketika kau menjemputku nanti!"
__ADS_1
"Baik Lex. Kalau begitu aku akan pergi sekarang."
"Hmmm," Alex kembali fokus pada Hera yang berada di hadapannya.
Alex menyimpan kantong berisi obat di atas nakas. Lagi - lagi tangannya terulur di tempelkannya di dahi Hera. "Demamnya sudah agak menurun," Alex menatap Hera yang kini sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanya Alex namun Hera hanya menggelengkan kepalanya.
"Minum ini dulu!" ucap Alex menyerahkan obat kepada Hera dan membantunya untuk minum.
"Tidurlah sebentar lagi!" ucap Alex kepada Hera. "kau baru makan, tidak baik jika berbaring sekarang, kau mau menonton tv?" Hera mengangguk.
"Baiklah, kau nonton tv, dan aku akan menyelesaikan pekerjaan ku sebentar di sana," tunjuk Alex pada meja kerja yang ada di dekat dinding kaca di sudut Kamar.
"Pergilah!" ucap Hera lembut.
Alex tersenyum kemudian berdiri setelah mengelus pelan kepala Hera. Alex benar-benar memperlakukan Hera bak anak kecil yang belum bisa apa-apa. Alex begitu menyayangi Hera. Apapun akan di lakukannya untuk membuat Hera bahagia.
Kebucinan nya saat ini bukan tanpa alsan dan tanpa sebab, Alex yang tadinya hanya tau jika Hera adalah gadis yang cuek dan angkuh kini mengetahui sisi rapuh Hera, Alex tidak pernah berpikir Hera akan memiliki sisi rapuh seperti ini, tapi saat Alex mengetahuinya , Alex sadar bahwa dia harus benar-benar menjaga Hera dan membuatnya selalu merasa aman dan nyaman di sisinya.
To Be Continued...
__ADS_1
Hai Readers.. Makasih untuk kalian yang udah, nyempetin Like, komen, dan juga memfavoritkan karya author ini.. semoga kalian selalu sehat, bahagia, dan mendapat rijki yang berlimpah...
Saranghaeyo chingudeul....😘😘😘😘😘 alafyu...🥰