
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..😁😘🤗
Happy reading semuanya..
Hera dan Alex akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Dr. Pedrik pun memberikan surat ijin tanpa mempersulit atau meminta Hera untuk tinggal lebih lama. Selama Alex dan orang-orang di sekitar Hera bisa memperhatikan kondisi dan juga asupan gizi wanita hamil itu, dokter Pedrik mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Begitupun yang di katakan dokter kandungan. Meskipun kandungan Hera ini terbilang cukup sehat tapi karena sebelumnya Hera sempat koma dan asupan makanan nya tidak sebaik jika dia bisa memakan makanan segar langsung, kandungan Hera ini juga rentan dan agak beresiko. Alex mengerti, meskipun Hera sempat sedih mendengar hal itu, tapi Alex berusaha untuk meyakinkan dan menguatkan sang istri.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang. Kau jangan khawatir. Kita memiliki dokter ahli gizi, selain itu juga aku akan mempekerjakan seorang perawat dan juga beberapa bodyguard untukmu. Aku bukan tidak bisa menemanimu tiap waktu, tapi ini adalah hal yang sengaja aku persiapkan untuk melindungi kau dan juga Baby Twins. Kau tidak keberatan bukan?"
Hera mengangguk. Mana mungkin dia keberatan. Dia tahu Alex ingin melindunginya. Karena sejak dulu dia selalu menolak untuk di dampingi oleh pengawal, kali ini dia akan menerimanya dan tidak akan melakukan penolakan lagi. Sudah cukup selama ini dia mendapatkan musibah, Hera akan berusaha agar kedua anak yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja.
"Alex!" panggil Hera lembut. "Kenapa kau tidak mau mengetahui jenis kelamin anak kita?" tanya Hera sambil mengusap punggung tangan besar yang ada di atas perutnya.
"Biarkan semuanya mengalir apa adanya Sayang. Aku ingin mendapatkan kejutan. Tapi kalau kau ingin mengetahui jenis kelamin anak kita tidak apa-apa. Kita akan menanyakannya di jadwal periksa kandungan mu bulan depan."
Hera menggeleng. "Aku juga belum ingin mengetahuinya Alex. Asalkan mereka sehat, laki-laki atau perempuan sama saja," ucap Hera. Alex tersenyum. Dia mengecup pucuk kepala Hera lembut.
Kittttt.... Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak. Alex yang kala itu memang sedang memeluk istrinya makin mempererat pelukannya sambil menyangga perut buncit Hera.
"Apa yang kau lakukan Pak Song. Kau sengaja mau mencelakai anak-anak ku?" geram Alex pada sopirnya.
"Maaf Tuan. Itu, tiba-tiba ada yang menghadang mobil kita."
Hera maupun Alex langsung melihat ke arah depan. Orang gila mana yang akan berbuat gila seperti itu. Tidak masalah kalau orang itu mati terlindas ban mobilnya, tapi kalau sampai istri dan anak-anaknya kenapa-napa, Alex benar-benar tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
"Ye-Seul," ucap Hera ketika melihat wanita di depan mobilnya sekilas. Dia hendak turun namun Alex dengan sigap menahan pergelangan tangannya.
"Biar aku yang keluar," ujar Alex dingin. Mau tidak mau Hera mengangguk. Dia sudah melihat raut tidak suka di wajah suaminya. Dia tidak ingin membuat Alex marah.
Sebenarnya mereka sudah sampai di depan gerbang rumah mereka, namun entah kenapa Ye-Seul mencegat mobil mereka di depan gerbang. Bukankah dia bisa masuk dan menunggu di dalam. Hera hanya memperhatikan suaminya yang kini sudah berhadapan dengan ibu sambungnya itu.
"Ada perlu apa Nyonya Go ke sini? Anda sengaja ingin melukai istriku," sarkas Alex. Tatapan matanya tajam. Aura di sekitar nya menjadi dingin dan tidak bersahabat.
"Alex! tolong Min Ji Nak! dia hanya gadis malang, dia tidak tahu apa-apa. Tolong cabut tuntutan mu."
"Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan pernah bersikap lunak pada siapapun mulai sekarang, andai yang melakukan ini adalah kau atau Ayah mertuaku, aku akan tetap menjebloskan kalian ke penjara. Seharusnya kau bersyukur karena aku membiarkan hukum menanganinya. Andai aku bukan orang yang taat pada hukum di negara ini, aku pasti sudah melakukan hal yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan."
Ye-Seul tertunduk. Dia langsung bersujud di kaki Alex. Alex sudah tidak terkejut ketika Ye-Seul melakukan hal ini, wanita paruh baya ini memang sudah sering bersimpuh di kakinya. Namun yang dia takutkan adalah Hera. Suasana hatinya sedang tidak normal. Alex takut Hera akan marah kalau dia membiarkan Ye-Seul terus bersujud.
Kedua tangan Hera di tempelkan di kaca mobil. Dia menatap lekat Alex yang sedang memegang bahu Ye-Seul. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Hera tidak di izinkan untuk melihat dan mendengar apa yang akan di lakukan dan di bicarakan oleh Alex dan Ye-Seul.
Setttt... Alex melepas cengkraman-nya. "Nyonya tolong. Berhentilah menemui ku atau istriku. Keadaan dia tidak memungkinkan untuk mendapatkan tekanan yang terlalu berat. Min Ji pantas mendapatkan ini semua. Dia itu kriminal. Hera hampir mati di buatnya. Apa kau masih tidak mengerti?" geram Alex.
Ye-Seul menatap Alex sendu. "Min Ji mengalami gangguan psikologis Alex."
Alex menoleh saat mendengar ucapan Ye-Seul. Min Ji gila? kenapa bisa? bukankah dia memang merencanakan sesuatu untuk melenyapkan istrinya, lalu kenapa dia bisa stres. Tidak mungkin kan kalau dia berani berbuat tapi tidak memikirkan konsekuensi yang akan dia dapatkan.
"Apapun alasannya, aku tidak bisa mencabut tuntutan ku. Aku tidak mau membahayakan Hera dan juga calon Anak-anak ku."
__ADS_1
Alex melengos pergi meninggalkan Ye-Seul yang masih mematung di tempatnya. Hera hamil? kenapa Myung Jin tidak memberi tahunya, apa dia memang sudah tidak di anggap oleh laki-laki tua itu.
"Kau benar-benar sudah tidak menganggap ku Myung Jin."
Alex melangkah kan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Sayup-sayup dia mendengar kehebohan di ruang tengah yang ada di rumahnya.
"Nyonya, apa Baby Twins sudah bisa menendang?" tanya Clara salah satu pelayan termuda di rumah Hera. Yang lain hanya memperhatikan sambil menunggu jawaban dari Nyonya nya itu.
"Hmmmm.. Sudah, tapi sekarang aku baru merasakan getarannya saja. Mereka masih sangat kecil jadi pergerakannya masih belum terasa," ucap Hera sambil terkekeh. Dia mengelus lembut perutnya. Para pelayan jelas bisa melihat wajah Nyonya mereka yang lebih bercahaya dari sebelumnya. Hera juga lebih ekspresif dan lebih ceria.
"Bi!" panggil Alex pada Bibi Lim. Dia sudah puas memperhatikan interaksi istri cantiknya dengan semua pelayan. Kini dia harus menghentikan obrolan mereka dan harus memberitahukan peraturan baru yang ada di rumah mereka.
"Iya Tuan," jawab Bibi Lim.
"Mulai besok, Hera akan memiliki perawat. Dia yang akan membantu menyiapkan segala kebutuhan Hera. Bibi fokus saja mengurus kebutuhan ku dan rumah ini."
Bibi Lim mengangguk, begitupun dengan semua pelayan yang lain. Sementara Hera, dia malah mendengus dan berjalan mendekati tangga untuk naik ke lantai atas rumah mereka.
Alex menghela nafasnya. Dia tidak salah. Hera pasti marah kepadanya karena dia tidak mengijinkan Hera untuk menemui Ye-Seul.
"Apa perasaan Ibu hamil memang sensitif ini Bi?" tanya Alex dengan wajah sendunya.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hayo jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih karena selalu membaca novel ini. Semoga kalian sehat selalu. Salam sayang dari author rengginang.....