
Angel mendorong tubuh Erick dan segera merapikan pakaian juga penampilannya. Sama hal nya dengan Angel. Erik juga buru-buru mengancingkan kemeja dan merapikan rambutnya yang di buat acak-acakan oleh Angel.
Seeettttttt!!!!. Kaca mobil di turunkan.
"Kak Alex!" gumam Angel saat laki-laki itu menatap horor ke arahnya.
Alex membungkukkan badannya melihat siapa yang ada di balik kursi pengemudi. Laki-laki itu membuka paksa pintu mobil Erick ketika amarah mulai menguasai dirinya.
"Aku tau kalian sudah dewasa. Tapi bukan berarti kalian bisa melakukan hal tidak senonoh di tempat terbuka seperti ini," Alex menarik tangan Angela untuk segera keluar dari mobil itu.
"Ada apa Alex?" tanya Hera keluar dari mobilnya karena Alex tidak kunjung kembali.
Hera berjalan mendekati sang suami dan matanya tertuju kepada Angela yang menundukkan kepalanya takut melihat kemarahan Alex.
Erick turun dari mobil kemudian berjalan mengitari mobilnya dan berhenti tepat di hadapan Alex. Erick merasa takut sekarang. Bukan karena dia tidak punya nyali. Tapi dia sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan. siapapun akan marah jika melihat adik kesayangannya sedang di jamah laki-laki yang belum punya ikatan halal dengannya bukan.
Tapi tunggu!!!. Kaca mobilnya tidak tembus pandang dari luar, jadi Alex tidak mungkin melihat sesuatu.
"Hahaha. Kalian sangat lucu!" Alex tertawa melihat wajah takut Angela dan Erick. "Aku semakin yakin kalian melakukan sesuatu di dalam mobil!" Alex menyeringai menatap Angel dan Erick bergantian.
"Kakak. Aku tidak melakukan apapun," ucap Angel berbohong karena dia baru sadar jika Alex sedang mengerjainya.
"Masuklah ke dalam! jangan berduaan di sini. Nanti ada setan lewat nangessss," Alex Memasukan Angel kembali ke dalam mobil Erick. Mereka memang sudah ada di depan gerbang. Tapi jarak dari gerbang ke rumah masih lumayan jauh jadi daripada capek mending naik mobil bukan.
Erick menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung namun masih mengiyakan apa yang Alex katakan.
__ADS_1
"Aku pikir kau benar-benar marah Alex," Hera menghampiri suaminya masih menatap mobil Erick yang sudah masuk melewati pintu gerbang kediaman keluarga Kim.
"Aku hanya iseng. Tapi aku yakin mereka melakukan sesuatu tadi. Alex menggendong Hera membuat Wanita itu kaget dan dengan cepat mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Alex aku bisa jalan sendiri," Hera merasa malu karena masih ada sopir Alex di antara mereka.
"Kenapa mesti malu. Pak Jang tidak akan melihat apapun. Kalaupun dia melihat sesuatu dia akan pura-pura tidak melihatnya."
"Yakkk! itu sama saja bohong," Hera mengerucutkan bibirnya kesal.
Cup Alex mengecup bibir istrinya sekilas. Dia tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh pak Jang. Alex duduk masih dengan Hera di pangkuannya.
"Alex turunkan aku. Nanti kakimu sakit," Hera meringsut berusaha untuk turun dari paha suaminya.
Alex sebenarnya sudah berhasil menangkap orang suruhan Annya. Tapi sayang laki-laki itu sangat gigih, Alex berusaha melakukan apapun yang dia bisa bahkan dia tidak segan-segan untuk memukuli penjahat itu sampai laki-laki itu terkapar lemas. Jika saja Wohyun tidak menghentikannya saat itu, mungkin Alex sudah ada di balik jeruji besi karena telah melenyapkan nyawa seseorang. Mau tidak mau Alex menyerahkan laki-laki itu kepada pihak yang berwajib. Hukuman penjara adalah yang paling pantas untuknya saat ini.
Di sisi lain.
Gemerlap dunia malam jelas sangat terasa di dalam sebuah klub malam mewah di kota Seoul. Annya menyesap sebatang rokok yang sudah sejak lama menjadi candu untuknya. Merokok membantu dia untuk meredakan stres dan juga lelah yang di rasakannya.
Asap putih terus keluar dari mulutnya . Sesekali dia menyesap wine dan menegaknya dengan perlahan.
"Annya. Ada apa? sepertinya kamu sedang ada masalah besar akhir-akhir ini?" Seorang perempuan duduk di sebelah Annya dan bertanya padanya.
"Tidak apa-apa, maybe i'm so fucked . Biaya rumah sakit ibuku semakin lama semakin besar. Aku sudah bekerja siang dan malam, tapi ibu masih belum mau membuka matanya. Kadang aku berpikir untuk menyerah. Tapi aku sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Aku tidak tau akan seperti apa hidupku jika ibu pergi meninggalkan ku," ucap Annya lalu kembali menyesap rokoknya.
__ADS_1
"Aku harap kau bisa bersabar dan bisa lebih kuat. Aku yakin suatu saat ibumu akan bangun Annya. Aku ada klien di ruang VVIP malam ini. Kau bisa mengambilnya untuk ku. Aku tidak bisa membantumu dengan materi karena aku juga sangat membutuhkan uang," Wanita itu menepuk punggung Annya perlahan.
"Aku mengerti. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah sangat membantuku selama ini. Aku akan bersiap-siap sekarang," Annya mematikan rokoknya kemudian berdiri dan berjalan ke arah toilet untuk membenahi penampilannya.
Hye Mi sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Matanya menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Hanya gemerlap dari lampu-lapu bangunan pencakar langit yang terlihat olehnya.
Entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini, namun sudut bibirnya tertarik ke atas saat ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.
"Ibu!" Hye Mi mengusap tangan sang ibu dengan lembut.
"Ada apa hemmm? Kau sedang memikirkan sesuatu?. Apa laki-laki tampan itu yang sedang di pikirkan putri cantik ibu?" Ye-Seul membalikan tubuh Hye Mi supaya bisa menatap wajah anak kesayangannya itu .
Hye Mi terkekeh. Dia tidak habis pikir, kenapa ibunya bisa menanyakan hal seperti itu padanya. Dia tau bahwa Ye-Seul sangat menyukai Han Bin. Tapi yang menganggu pikirannya saat ini sama sekali bukan laki-laki itu.
"Ibu. Aku cuma penasaran, siapa orang yang mencoba untuk melukai kak Hera. Apa alasannya dan kenapa? Apa ayah punya musuh di dunia bisnisnya? bagaimana jika hal ini terjadi kembali?" Hye Mi menatap wajah Ye-Seul yang sama bingungnya dengan Hye Mi.
"Ibu tidak tau sayang. Ibu sudah berusaha untuk bertanya pada ayahmu. Tapi ayahmu bilang dia sama sekali tidak punya kandidat untuk di jadikan sebagai tersangka atas kecurigaan nya. Ayah sudah menyuruh orang untuk menyelidiki masalah ini kau tidak usah khawatir," Ye-Seul memeluk Hye Mi berusaha untuk menenangkannya.
"Kenapa kau sangat menyayangi kakak mu? setau ibu kalian tidak pernah akur sejak kecil. Hera begitu membenci kita. Kenapa kau masih sangat perduli dan masih sangat menyayangi nya?"
"Ibu, Kak Hera adalah kakak ku. Hye Mi yakin sebenarnya kak Hera itu sangat baik. Hanya saja mungkin masalah yang kita timbulkan di masa lalu membuatnya sangat terluka . Aku kasihan melihat kak Hera. Aku selalu merasa beruntung karna Ayah dan Ibu selalu ada di sampingku dan selalu menjaga ku dengan baik, memanjakan ku dan menyekolahkan ku dengan biaya yang sangat mahal. Sangat berbanding terbalik dengan Kak Hera yang tinggal sendirian di luar sana. Bahkan sekolahpun menempuh jalur beasiswa. Aku sangat berharap kak Hera akan bahagia bersama keluarga barunya," Hye Mi memeluk Ye-Seul semakin erat saat dadanya mulai sesak merasa sedih juga merasa bersalah kepada Hera. Dia sama sekali tidak ingin ini semua terjadi. tapi dia juga tidak bisa memutar kembali waktu dan mencegah ibunya untuk tidak melakukan kesalahan fatal ini.
To Be Continued.
Hai Reader. Jangan lupa like dan komen nya. Saranghae. 🤗🤗🤗
__ADS_1