
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan Author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..😁😘🤗
Happy reading semuanya..
Di sebuah lorong rumah sakit. Alex sedang berusaha untuk membantu istrinya berjalan. Hera mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, sementara Alex memegang erat pinggang ibu hamil itu. Bukan karena apa. Seperti apa yang di katakan Pedrik padanya, otot-otot di tubuh istrinya memang masih kaku. Jadi mereka sedang melatih otot-otot itu supaya lebih fleksibel dan Hera bisa beraktivitas seperti biasa lagi.
"Alex!....... Kau tahu bukan kalau aku tidak mungkin tiba-tiba drop tanpa ada penyebabnya?" tanya Hera. Mata coklatnya menatap lekat mata coklat milik suaminya.
Alex mendengarkan apa yang Hera katakan. Namun meskipun begitu, dia masih melanjutkan kegiatannya yang sedang melatih Hera untuk berjalan. "Apa kau ingin mengetahui faktanya?" tanya Alex.
Hera tentu saja mengangguk. Dia benar-benar sangat penasaran. Sejak dia siuman sampai sekarang, suaminya itu terus menghindari pertanyaan nya yang menyangkut masalah penyebab dia bisa di larikan ke rumah sakit bahkan dia sampai koma selama tiga bulan.
"Kau di racuni. Dan Min Ji yang melakukannya padamu."
Deg.
Hera mematung. Dia menghentikan langkahnya lalu menatap Alex lekat. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa gadis se manis Min Ji melakukan hal seperti ini. Apa dia ingin membunuhnya. Tapi kenapa? bukankah Hera tidak pernah mengusik hidup Min Ji.
"Aku tidak memberitahu mu bukan karena aku ingin menutupi fakta ini darimu. Tadinya aku hanya ingin menunggu sampai keadaan mu stabil Sayang. Sekarang bahkan ada bayi di dalam perutmu. Kau tidak bisa stres atau terlalu banyak pikiran."
Alex memeluk istrinya saat Hera tidak menunjukan reaksi apapun. Istrinya itu masih terbengong di hadapannya.
"Kenapa dia sangat tega melakukan ini padaku Alex. Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai adikku kala itu. Tapi kenapa dia tega melakukan hal se keji ini."
Alex tidak menjawab ucapan istrinya. Dia hanya terus mengelus punggung Hera sambil mengecup kepala istrinya beberapa kali.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian. Hera sudah lebih tenang. Alex membantu Hera untuk duduk di sebuah bangku yang ada di lorong rumah sakit tersebut. "Sayang, sebenarnya ini sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari. Seseorang di balik Min Ji adalah orang jahat sesungguhnya."
Hera menoleh kepada suaminya. Dan Alex tentu mengerti dengan tatapan sang istri padanya.
"Annya. Dia yang merencanakan ini semua. Pada awalnya Min Ji terus mengelak dan mengatakan kalau ini semua adalah rencana wanita ular itu. Tapi entah kenapa, saat di persidangan Min Ji mengatakan hal lain, bahkan dia mengatakan kalau ini adalah murni rencana nya sendiri."
"Annya. Dia pasti mengancamnya," tebak Hera. Alex pun mengangguk. Dia tidak memperdulikan masalah ini. Karena dia tidak memiliki bukti kalau Annya adalah otak dari kejahatan yang di lakukan Min Ji, Alex akan mencari cara lain supaya Annya bisa masuk penjara dan menerima hukuman yang layak.
****
"Ibu!"...... Teriak Annya pada wanita yang kini sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit. Kain putih menutup seluruh tubuh wanita itu dari kepala sampai ke ujung kaki....
Setttt... Annya menyibak kain yang menutupi wajah ibunya. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Myung Jin yang kala itu datang bersamanya berusaha untuk menenangkan Annya.
Hikssss... "Ibu, kenapa Ibu meninggal kan ku. Aku sudah mengusahakan yang terbaik untuk mu. Kenapa kau pergi se cepat ini. Apa salahku padamu Bu? kenapa kau tega meninggalkan ku."
"Sabar Annya. Mungkin Ibumu sudah lelah Sayang, dia akan bahagia di atas sana. Dia juga tidak akan merasa kesakitan lagi," tenang Myung Jin.
Brukkkk... Tubuh Annya ambruk ke bawah saat kesadarannya mulai hilang.
"Annya! Sayang," panggil Myung Jin sambil menepuk-nepuk pipi anak sulungnya. Annya tetap diam. Dia tidak memberikan respon apapun. Annya sudah benar-benar hilang kesadaran.
Myung Jin meminta bantuan pada beberapa perawat yang ada di ruangan rawat Ji Eun. Sementara para perawat itu langsung membopong Annya dan menidurkannya di atas hospital bad.
"Ayah!" gumam Hera saat melihat Myung Jin sedang berlari mengikuti para perawat yang sedang mendorong hospital bad.
Alex menoleh ke arah pandang istrinya. Dia dan Hera memang sedang berjalan-jalan di dalam rumah sakit. Tadinya Alex ingin membawa Hera keluar. Tapi di luar sedang turun hujan. Alhasil mereka hanya bisa keliling di dalam gedung rumah sakit.
__ADS_1
Hera menghampiri pria paruh baya yang memang masih memiliki hubungan darah dengannya. "Ayah," panggil Hera . Myung Jin menoleh saat dia mendengar suara seseorang yang sudah sangat tidak asing di telinganya.
"Hera!" panggil Myung Jin dan langsung memeluk anaknya. "Kapan kau bangun sayang? kenapa kau tidak mengabari ayah?" tanya Myung Jin lagi.
Entah kenapa rasa benci yang dulu Hera rasakan kini tidak sebesar dulu. Dia malah membalas pelukan Myung Jin meskipun Alex sudah memasang wajah tak sukanya. Apa ini adalah bawaan bayinya yang tidak ingin melihat Hera membenci keluarganya sendiri. Apa bayi memang memiliki pengaruh seperti itu?. Entahlah, Hera juga tidak tahu.
"Ayah ada apa?" tanya Hera. Myung Jin melepaskan pelukannya.
"Ibu Annya meninggal," ucap Myung Jin. "Dan barusan Annya pingsan karena terlalu terkejut."
Hera menatap ayahnya dengan tatapan yang sendu. Dia tahu, walaupun Annya bukan orang baik, dia pasti sangat menyayangi ibunya. Hera juga pernah ada di posisi ini. Jadi dia bisa mengerti dan bisa merasakan apa yang di rasakan Annya.
"Kenapa dengan perutmu Nak?" tanya Myung Jin saat dia merasakan perut Hera lebih besar dari sebelumnya.
"Aku hamil Ayah," ucap Hera. "Baby twins," ucap nya lagi sambil tersenyum.
Myung Jin membelalakkan matanya. "Benarkah?. Syukurlah, ayah ikut bahagia mendengarnya Sayang. Aku akan menjadi seorang Kakek," ucap nya dengan wajah yang berbinar.
Ekheeemmm... Alex berdehem saat melihat interaksi yang di lakukan Hera dengan ayah mertuanya. Dia langsung menarik Hera dan memeluk pinggang Hera dengan posesif.
"Maaf Ayah. Tapi Hera harus kembali ke kamar nya. Dia masih harus banyak beristirahat," ucap Alex dingin. Myung Jin mengangguk. Dia bisa mendengar nada dingin Alex saat berbicara padanya. Dia tidak menyalahkan Alex karena ini memang pantas dia dapatkan.
"Pergilah! cepat sembuh Nak! semoga cucu-cucu kakek selalu sehat."
"Tolong jaga mereka Alex," mohon Myung Jin pada menantunya.
"Aku pasti akan melakukannya meskipun kau tidak memintanya Ayah." Alex langsung membawa Hera pergi menjauhi Myung Jin. Alex tidak tahu kalau Hera akan memberikan reaksi seperti ini setelah dia mengetahui fakta yang sesungguhnya. Bukankah tadi dia masih menangis dan menggerutu. Kenapa sekarang malah sebaliknya. Apa perasaan ibu hamil memang bisa berubah-ubah dengan cepat. Alex sungguh di buat pusing dengan ini. Dia harus benar-benar menjaga Hera dan menjauhkannya dari keluarganya.
__ADS_1
...To Be Continued....
...Hai reader. Terimakasih sudah mampir. Ingat, jangan lupa jempolnya supaya othor bisa lebih semangat lagi nulisnya....