
"Silahkan Tuan Kim!" dekan mempersilahkan Alex untuk mulai berbicara.
"Tampan," ujar seorang gadis ketika melihat Alex berdiri di atas panggung. Hye Mi yang saat itu berada di Aula melihat Alex dengan tatapan kagumnya.
"Benar-benar tampan," puji Hye Mi tak henti-hentinya menatap Alex yang sedang berpidato.
"Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan. terimakasih," ucap Alex mengakhiri pidatonya.
Tepuk tangan dan sorakan dari para mahasiswi sangat riuh, apalagi ketika Alex mulai berjalan ke luar ruangan melewati mereka.
"Wohyun, kau tau, mereka benar-benar menjengkelkan, apa aku memang setampan itu sampai mereka bertingkah seperti orang yang hilang akal? tapi kenapa Hera sama sekali tidak menginginkanku Wohyun?" celoteh Alex kepada Wohyun ketika mereka sudah ada di dalam mobil, Alex dan Wohyun berada di kursi belakang, sedangkan yang menyetir adalah sopir Alex.
"Alex, bukan kah itu bagus? itu berarti Hera tidak mudah di taklukan oleh pria manapun, buktinya saja kau yang sudah nyaris sempurna masih tidak bisa menggerakkan hatinya," Wohyun berusaha menenangkan Alex.
"Ralat Wohyun, bukan tidak bisa, tapi belum, aku yakin Hera akan bertekuk lutut padaku suatu hari nanti."
"Jadwal ku hari ini Wohyun?"
"Ahh, kita ada janji dengan klien setelah ini Lex."
"Hmmmm," gumam Alex.
🍓🍓🍓
Hera memarkir mobilnya di depan sebuah rumah yang sangat mewah, hari ini Hera memutuskan untuk datang menemui ayahnya, ya, meskipun Hera tidak ingin, Hera tetap harus mempertahankan perusahaan ibunya.
Para pelayan di kediaman Go mulai berlarian keluar menyambut nona muda mereka. Meskipun Hera sudah lama tidak pulang ke rumah ayahnya, tapi para pelayan itu tahu karena ada beberapa foto Hera yang di pajang di rumah kediaman tuan Go. Mereka sama-sama membungkuk ketika Hera melewati mereka satu demi satu .
"Dimana Ayah Bibi Han? " tanya Hera kepada kepala pelayan di kediaman Go.
"Tuan ada di ruang kerjanya Nona muda," ucap bibi Han ramah.
Hera terus berjalan tanpa menghiraukan para pelayan yang menyapanya.
Brakkkk.. Sura pintu ruang kerja tuan Go di buka kasar oleh Hera .
"Ayah, apa maksud Ayah sebenarnya, kenapa Ayah ingin mengakusisi perusahan Ibu?" tanya Hera dengan amarah yang sudah memuncak di ubun-ubun.
"Apa harus dengan cara seperti ini kamu baru mau pulang ke rumah ini Hera?" tuan Go menatap ke arah Hera, Sangat jelas bahwa Hera sangat marah saat ini.
"Ayah, tidak cukupkah Ayah menyakiti Ibu ketika Ibu masih hidup? dengan tidak beradabnya Ayah menjalin hubungan dengan orang yang sangat Ibu sayangi," Mata Hera mulai berkaca kaca, matanya semakin memanas ketika mengingat bagaimana Ayahnya bersenang senang ketika ibunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Tuan Go berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Hera.
Hera mundur satu langkah ketika tuan Go ingin menyentuhnya.
"Kamu tidak akan mengerti Hera, ayah memang salah saat itu, maafkan ayah, tidak bisakah kamu memaafkan kesalahan ayah di masa lalu? ayah merindukan mu Nak, ayah sangat menyayangi mu," tuan Go berusaha meyakinkan Hera bahwa dia telah menyesal dengan perbuatannya di masa lalu. Meskipun saat itu dia memang bersenang-senang dengan apa yang dilakukannya, tapi saat ini, dia benar-benar telah menyesal.
"Cih Kau menyayangiku? bukankah kau lebih menyayangi wanita murahan dan juga anak haram itu?" Hera berdecih merasa jijik jika mengingat kelakuan ayahnya dulu.
Plakkkk .... Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Hera.
__ADS_1
Tes .
Tes.
Air mata yang sejak tadi di tahan Hera , kini meluncur bebas bak air mengalir dari tetesan air hujan.
"Hah, kau benar-benar menyayangiku Ayah? Go Myung Jin kau sungguh munafik, Hera menyeringai sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Aku tidak yakin kalau aku ini adalah anak kandungmu," lanjut Hera sambil menatap tuan Go.
settttt..
Tangan tuan Go kembali melayang di udara, namun kali ini tidak sampai mendarat di pipi Hera.
"Jaga ucapanmu Hera!" ucap tuan Go , sambil menarik kembali tangannya.
"Apa yang harus aku jaga? buka kah kau ingin memukulku lagi barusan? kenapa berhenti? kenapa kau tidak melanjutkannya, lanjutkan jika kamu memang bukan Ayah kandungku Myung jin," Hera berteriak di hadapan tuan Go. Hera benar-benar marah saat ini, dia tidak menyangka bahwa ayahnya akan begitu tega mengangkat tangan kepadanya. Apa salahnya, sudah jelas , bahwa apa yang di katakan Hera adalah kebenaran, kenapa ayahnya marah.
"Go Hera!!!!....Teriak Tuan Go, "Ayah tidak akan pernah melepaskan perusahaan Ibumu jika sikapmu masih seperti ini," ancam tuan Go dengan amarahnya.
"Cih, kau hanya bisa mengancamku Ayah?" sangat tidak bermoral," Hera berjalan keluar dari ruang kerja tuan Go, tanpa memperdulikan ayahnya yang masih ingin berbicara dengannya saat ini.
"Go Hera!, jika kamu keluar dari rumah ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan perusahaan Ibumu," teriak tuan Go sebelum Hera benar-benar keluar melewati pintu.
Hera terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan ayahnya. Namun bukannya keluar, Hera malah berjalan ke arah sebuah kamar yang terletak agak ujung di lantai atas kediaman ayahnya saat ini, Hera sudah yakin jika hal ini akan terjadi. Hera yang Hendak membuka pintu kamar menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar seseorang berbicara kepadanya
"Hera! kaukah itu sayang?" tanya Yeseul kepada Hera.
Brakkkk... Yeseul terperanjat. " Astaga," ucapnya sambil mengelus dada.
"Ibu ada apa?" tanya Hye Mi yang baru saja pulang dari kampus, dan langsung berjalan menuju lantai dua, hendak pergi ke kamarnya dan malah melihat ibunya di depan kamar yang biasanya kosong.
"Tidak apa-apa sayang," ucap yeseul menghampiri Hye Mi.
"Oh iya Bu, aku tadi liat ada mobil baru di depan rumah, punya siapa?" tanya Hye Mi yang penasaran.
"Itu mobil kakakmu sayang," ucap Yeseul menuntun Hye Mi agar segera menjauhi kamar Hera.
"Kak Hera Bu? Kak Hera udah mau dateng ke sini?" heboh Hye Mi.
"Iya sayang, sekarang dia mungkin lagi istirahat di kamarnya."
"Oh pantesan Ibu barusan berdiri di kamar kosong itu, ternyata ada kak Hera," angguk Hye Mi tanda dia sudah mengerti.
Saat makan malam....
"Ibu kok kak Hera gak turun?" tanya Hye Mi yang sedang makan malam di meja makan bersama dengan tuan Go, Yeseul dan juga Min ji.
"Jangan tanya kan kakakmu itu Hye Mi, mungkin dia lagi capek," ucap tuan Go sambil mengunyah makanannya.
Hye Mi hanya mengangguk anggukan kepalanya berusaha untuk mengerti.
__ADS_1
"Loh kak Hera udah pulang, kok gak ada yang ngasih tau aku?" tanya Min ji menatap semua orang di meja makan bergantian.
"Tadi Ibu mau bilang, tapi Ibu lupa."
"Bibi Han,tolong nanti bawa makanan ke kamar Nona Hera ya!" titah Yeseul kepada bibi Han yang sedang merapikan meja makan bersama para pelayan yang lain.
"Baik nyonya," ucap bibi Han.
Tok.
Tok.
Tok.
"Nona muda, Nona ini bibi Han, bibi bawain makan malam buat Nona Hera, tolong di buka pintunya nona," bibi Han berusaha membujuk Hera. Tentu saja bibi Han tau bagaimana hubungan Nona mudanya dengan keluarga ini. Sudah menjadi rahasia umum , kenapa Hera sangat jarang ke rumah orang tuanya.
Cklekkk.....
Pintu kamarpun terbuka.
"Masuklah Bi!" ucap Hera, sebelum kembali masuk ke kamarnya.
"Taro aja di atas nakas!" lanjut Hera.
"Makasih ya Bi, Bi Hera boleh minta tolong gak?"
"Ada apa Nona?, Nona bilang aja sama Bibi," bibi Han meletakan nampan yang berisi makan malam dan juga air minum untuk Hera di atas nakas.
"Anu Bi, tolong ambilin koper saya di bagasi mobil, saya agak capek, maaf ya Bi ngerepotin." bibi Han memang telah bekerja di Keluarga Go sejak ibu Hera masih ada, jadi wajar kalau Hera merasa lebih akrab dengan beliau dan tidak sungkan atau istilahnya lebih nyaman ketika meminta bantuan.
"Tidak perlu sungkan Nona."
"Ya ampun, pipi Nona kenapa ? di pukul siapa Nona? tanya bibi Han yang tidak aengaja melihat pipi majikannya itu sedikit bengkak dan ada memar di sudut bibir Hera.
"Akhh gak papa kok Bi, besok juga ilang bekasnya." Hera yang memang tidak perduli, tidak mau membahas masalah ini lebih lanjut.
"Ya ampun Nona, itu harus di kompres biar bengkaknya cepet ilang."
"Bibi nanti ambil kompressan sambil bawa koper Nona ke sini ya."
"Iyaa Bi, Makasih," ucap Hera tersenyum.
Drtttt, Drtttt, ponsel Hera yang berada di atas nakass bergetar.
Hera mengambil ponsel itu, lalu melihat layar ponsel yang menyala, pertanda ada panggilan masuk.
"Alex!!.... Gumam Hera Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
To Be Continued...
Hai Readers, apa kabar?? jangan lupa Like, Komen, Vote sama Hadiah nya ya.. jangan lupa Favoritkan juga Novel nya..
__ADS_1
Makasihh semuanya..😘😘