
Seorang wanita cantik sedang melamun di atas tempat tidur. Wajahnya murung, entah apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini, namun tergambar dengan jelas bahwa wanita itu sedang sedih dan bingung.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki terdengar memasuki kamar dan semakin mendekat ke ranjang . Alex mengerutkan dahinya bingung, saat tidak mendapat respon apapun dari sang istri. Dia awalnya berpikir kalau Hera sudah tidur, tapi semakin dia mendekati istrinya, dia bisa melihat bahwa istrinya masih membuka mata .
"Ada apa sayang? kau kenapa? ada yang sedang kau pikirkan? apa perutmu masih sakit? haruskah aku panggil Dr Kang ke sini?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Alex. Laki-laki itu baru pulang kerja. Sementara Hera libur, karena merasa kurang enak badan. Alex awalnya tidak ingin pergi. Namun, dia memiliki jadwal meeting bersama klien dari Eropa. Mau tidak mau dia harus meninggalkan istrinya seorang diri.
Alex duduk di ranjang, kemudian berbaring dan merengkuh tubuh Hera membawanya kedalam pelukannya yang hangat. "Apa kau sudah makan?" tanyanya lagi.
"Kenapa tidak menjawab ku hmm?"
"Aku baik-baik saja Alex," ucap Hera membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Aku tau ada yang sedang menganggu pikiran mu. Katakanlah! aku ada di sini. Jangan memendamnya sendiri," ucap Alex . Tangannya terulur mengelus rambut Hera dan mengecup pucuk kepalanya beberapa kali.
"Aku sudah memikirkannya. Aku ingin menemuinya Alex. Aku ingin menemui Annya."
Alex langsung melepas pelukannya dan menatap istrinya penuh tanda tanya. Kenapa tiba-tiba Hera ingin menemui Annya. Ada apa?.
"Kau yakin?" tanya Alex masih menatap Hera yang kini sedang menatapnya.
"Aku yakin Alex. Semakin aku memikirkannya, aku semakin penasaran. Aku harus tahu alasan di balik semua perbuatan jahatnya padaku. Sangat mustahil jika dia tidak memiliki alasan apapun. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku."
__ADS_1
"Baikalah. Besok kita akan menemuinya. Tapi aku akan menemanimu," ucap Alex kembali merengkuh tubuh istrinya.
"Kau masih berkeringat, aku akan menyiapkan air mandi untukmu."
Hera hendak berdiri namun, tangannya di cekal oleh Alex. "Tidak usah, aku akan melakukannya sendiri. Kau pergilah keluar. Aku tadi membeli bubur, kau bisa langsung memakannya mumpung masih hangat. Dan ya, setelah buburnya habis, ambil ice cream di dalam lemari pendingin. Aku tau kau sedang ingin memakannya bukan!" Alex tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya sekilas.
"Terimakasih," ucap Hera memeluk suaminya dengan erat.
Alex terkekeh. Dia sangat senang melihat mood istrinya kembali membaik.
Sementara di sisi lain, Hye Mi yang sejak siang menemani Nam Jia A terus tertawa karena mama Han Bin ini sangat lucu. Dia sangat suka bercerita dan sesekali menceritakan kisahnya di masa lalu saat papanya Han Bin mengejar cinta Nam Jia A. Sudah beberapa hari ini Hye Mi selalu mampir ke toko Jia A untuk belajar membuat kue. Hye Mi sangat senang, karena selain dia bisa kursus gratis, Hye Mi juga serasa memiliki teman baru. Han Bin juga sangat baik. Hye Mi sangat nyaman berada di dekat keluarga Han Bin.
"Tante, Hye Mi pulang dulu ya! ibu pasti sudah menunggu. Dia sangat cerewet, kalau sampai aku pulang terlambat dan tidak memberinya kabar, pasti dia akan sangat marah."
"Iya sayang, tidak apa. Tante sudah biasa kok buka toko sampai malam, kan ada Han Bin juga. Ibumu cerewet karena dia sangat menyayangimu Hye Mi. Jangan berbicara seperti itu. Tante juga selalu khawatir kalau Han Bin pulang telat, meskipun dia laki-laki. Tapi dia tetap seorang anak yang mempunyai ibu yang akan selalu menunggunya untuk pulang."
"Iya Tante, Hye Mi tahu. Hye Mi tidak akan mengeluh lagi kalau ibu Hye Mi cerewet. Hye Mi pulang dulu ya Tante," ucap Hye Mi sambil memeluk Jia A sebentar.
"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri. Kau jagalah ibumu! kita akan bertemu lagi besok," ucap Hye Mi tersenyum hangat kepada Han Bin.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati! jangan kebut-kebutan." ucap Han Bin.
Nam Jia A tersenyum melihat kedekatan putra semata wayangnya dengan Hye Mi. Dia sangat senang karena Han Bin tidak memiliki banyak teman setelah dia sibuk kuliah dan membantu dirinya di toko. Jia A sudah pernah melarangnya untuk membantu. Tapi Han Bin tetap kekeh dan tidak mau mendengarkannya sama sekali.
"Han Bin, biarkan Hye Mi pulang Nak! nanti terlalu malam kalau kamu terus mengajaknya bicara!" Jia A bukannya tidak suka Hye Mi berlama-lama di tokonya. Hanya saja dia takut Hye Mi pulang terlalu malam. Meskipun Hye Mi membawa mobil,tapi tidak baik bagi seorang gadis berkendara seorang diri di malam hari.
"Hye Mi pulang tante," ucap Hye Mi melambaikan tangan pada Jia A.
"Hati-hati sayang!" ingat Jia A.
"Iya," jawab Hye Mi.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, Hye Mi memasuki rumahnya dengan langkah yang riang. Bibirnya tidak berhenti tersenyum. Dan dia juga berjalan sambil bersenandung.
"Ekhmmmm.. Yang lagi jatuh cinta, sampai tidak pernah mau pulang bareng lagi, " Min Ji berbicara sambil mengunyah kripik kentang yang sejak tadi menjadi temannya menonton TV.
"Maafkan aku Min-Ji tapi aku bukan sedang jatuh cinta, melainkan sedang kursus membuat kue. Gratis pula, lagian juga Tante Jia A itu sangat lucu tahu, meskipun dia seumuran dengan ibu tapi Tante Jia A itu orangnya sangat humoris."
"Kakak itu punya aku, " teriak Min-Ji saat Hye Mi mengambil keripik kentang yang ada di tangannya.
Hye Mi bukannya mendengar, dia malah berjalan melewati Min Ji dan naik ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat ibunya berdiri di depan pintu kamar, sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Dari mana saja Hye Mi? kenapa akhir-akhir ini kau selalu pulang malam? apa benar kamu lagi dekat dengan keluarganya Han Bin apa kamu benar-benar mencintainya?" tanya Ye-Seul bertubi-tubi.
"Ibu apaan sih, kan Hye Mi sudah pernah bilang kalau Hye Mi sedang kursus bikin kue sama Tante Jia A. Lagipula Tante Jia A baik kok." Hye Mi mengerucutkan bibirnya sedikit kesal karena ibunya malah mengintrogasi dia setelah dia pulang.
"Dengarkan ibu Hye Mi! ibu tidak akan pernah melarang apapun yang kamu lakukan selama kamu menyukainya dan kamu merasa senang denan itu. Tapi ibu hanya minta satu hal, jangan pernah kecewakan ibu dan juga ayahmu. Kau tahu bukan ayahmu menaruh harapan besar padamu. Jangan sampai nilai-nilai kuliahmu turun hanya karena ini. Kau bisa kursus di lain waktu, tapi kuliah? jangan pernah mempermalukan kami Nak!"
"Ibu kok ibu ngomongnya kayak gitu sih, dulu aja ibu ngedukung Hye Mi sama Han Bin. Tapi kenapa sekarang ibu menunjukkan sikap seperti ini? apa karena ibu sudah tahu kalau keluarga Han Bin tidak sekaya keluarga kita? apa karena ibunya hanya memiliki toko kue? dan ayahnya hanya seorang eksekutif di sebuah perusahaan besar?" Hye Mi memasang wajah masam. Dia sungguh kecewa dengan sikap yang di tunjukan ibunya saat ini.
"Hye Mi dengarkan ibu Nak! bukan seperti itu sayang," Yeseul hendak memegang tangan anaknya, namun Hye Mi segera menghindar dan masuk ke dalam kamarnya.
Brakkkkk...
Hye Mi membanting keras pintu kamarnya.
To Be Continued.
Jangan lupa like dan komennya ya readers.
Mampir juga ke karya baru Author. Judulnya The Veil of Eileria.
__ADS_1