
"Langsung saja!" titah Alex saat mereka sudah ada di luar. Dia sedang tidak ada mood untuk cuap sana cuap sini.
Wohyun menghela nafas panjang sebelum dia menyampaikan apa yang memang ingin dia sampaikan. Ini bukan berita baik. Wohyun merasa tidak enak untuk Alex .
"Cctv di rumah mu menunjukan kalau Min Ji menaruh sesuatu di makanan Hera pagi ini."
Deg.
Tidak mungkin, bagaimana bisa ini terjadi. Kenapa Min-Ji bisa setega ini, padahal Alex melihat sendiri bagaimana perlakuan baik Hera terhadapnya. Air susu dibalas air tuba, seorang adik yang diperlakukan dengan baik oleh kakaknya malah menusuk kakaknya dari belakang. Keluarga macam apa ini, kenapa istrinya memiliki kehidupan yang sangat malang. Setelah ibunya diperlakukan tidak adil dan dikhianati oleh suami dan juga sahabatnya, kini Hera juga harus merasakan penderitaan itu. Kenapa keluarga itu sangat senang menyiksa istrinya, apa salah Hera sampai mereka begitu tega.
Alex mengacak rambutnya frustasi. Min Ji memang adiknya Hera, tapi dia harus menerima hukuman atas apa yang telah dia lakukan. Alex mendongakkan wajahnya, dia menatap Wohyun dengan tatapan yang sangat tajam, Laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja saat ini. "Wohyun! kau sudah mengumpulkan semua buktinya bukan? kita harus pergi ke kantor polisi sekarang. Aku tidak akan bersikap lembut kepada siapa pun yang berani menyentuh Hera, bahkan jika itu adalah keluarganya sendiri aku tidak perduli."
"Baiklah Lex, kau disini saja biar aku yang mengurus semuanya," ucap Wohyun kepada Alex
"Tidak Wohyun, aku ingin melihat Min Ji ditangkap oleh polisi dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak akan membiarkan Myung Jin membelanya dan membuat Min Ji menghindari hukuman yang harus dia terima seperti apa yang pernah Myung Jin lakukan pada Annya."
"Baiklah." Wohyun hanya bisa pasrah. Percuma kalau dia terus ngotot melarang Alex. Majikannya itu tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan. Di dunia ini, perintah yang bisa Alex dengar hanya dua. Kalau tidak dari ibunya. Itu pasti dari Hera. Selain itu, Alex tidak akan pernah menurut meskipun itu titah dari ayahnya sendiri.
Alex bergegas keluar dari rumah sakit. Dia sudah meminta keluarganya untuk menjaga Hera. Dan Alex juga sudah menyuruh semua orang untuk tidak mengatakan ini dulu pada istrinya kalau-kalau Hera siuman.
Blammmm... Alex membanting pintu mobil dengan keras. Wohyun yang pada saat itu baru ingin membuka pintu mobil terperanjat kaget. Hampir saja jantungnya copot. Untung Wohyun masih bisa menahannya.
"Astaga, orang ini kalau sudah marah bikin orang lain merinding," ucap Wohyun sambil bergidik ngeri.
"Masuk!" teriak Alex yang lagi-lagi membuat Wohyun kaget bukan main.
Wohyun langsung membawa mobil Alex melesat pergi dari area rumah sakit. Dia tidak gila untuk membiarkan orang yang sedang kalap itu membawa mobil sendiri. Selain dia takut Alex kenapa-napa, dia juga masih ingin hidup lebih lama.
"Ini," ucap Wohyun menyodorkan sebuah tisu basah kepada Alex. " Di kemeja mu ada darah Alex!"
Alex menunduk. Bukannya mengambil tisu yang di sodorkan Wohyun, dia malah menepisnya dan mengusap noda darah itu perlahan.
__ADS_1
Oke fine. Wohyun tidak akan menyuruh Alex melakukan apapun lagi sekarang.
"Langsung ke rumah orang tua istriku Wohyun!"
"Laporan nya bagaimana?"
"Kau tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Seseorang akan datang dengan membawa surat perintah penangkapan Min Ji nanti. Dia akan tiba ketika kita sudah tiba di sana."
Susana menjadi hening. Wohyun diam, laki-laki yang biasanya suka menjahili Alex kini bungkam. Dia tidak berani menganggu Alex . Keadaan bos nya itu benar-benar sangat memprihatinkan. Wohyun baru sadar kalau selama ini Alex sangat mencintai Go Hera. Wanita itu sangat beruntung karena mendapatkan cinta tulus seorang Alexander.
Kittttt.... Suara ban yang beradu dengan aspal.
Alex mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil saat ada penjaga di gerbang masuk kediaman Go yang menghadang mobilnya ketika mobil Alex ingin lewat.
"Silahkan tuan," ucap penjaga itu sambil membungkuk ramah.
Setelah sampai di depan rumah keluarga Go. Alex langsung turun dari mobilnya dan berlari ke dalam rumah Myung Jin tanpa menunggu orang rumah datang dan membukakan pintu untuknya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang masih bisa di capai indra penglihatan nya.
"Di mana majikan kalian?" tanya Alex pada pelayan yang ada di hadapannya.
"Nyonya ada di kamar nya Tuan," ucap Bibi Han yang baru keluar dari dapur.
"Panggil dia!" ucap Alex. Bibi Han mengangguk. Dia lantas pergi ke lantai atas untuk memanggil majikannya.
Tok Tok Tok
Min Ji semakin ketakutan saat mendengar pintu kamar Ye-Seul di ketuk dari luar. Ye-Seul yang kala itu duduk di tepian ranjang sambil memeluk putrinya semakin mengeratkan pelukannya. Dia sangat sedih melihat Min Ji hancur seperti ini. Dia sudah mendengar semua cerita Min Ji. Kalian bayangkan betapa syok nya Ye-Seul saat mendengar apa yang keluar dari mulut putrinya ini. Min Ji sangat manis. Tapi kenapa dia bisa berubah seperti ini. Ye-Seul mengepalkan kedua tangannya saat mengingat nama Annya di dalam pikirannya.
"Brengsek kau Annya. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada Ibumu. Kau sudah membuat hidup anak-anak ku menderita. Kau juga harus merasakannya."
Tok Tok Tok.. Bibi Han kembali mengetuk pintu kamar Ye-Seul.
__ADS_1
"Biar saya saja Bi!" ucap Alex. Dia sudah menunggu cukup lama di bawah. Tapi orang yang sedang dia tunggu tak kunjung datang. Jadi dengan sangat tergesa dia naik ke lantai atas dan langsung menggebrak pintu kamar yang sejak tadi sudah di ketuk Bibi Han..
Brakkkk..... Brakkkkk... Alex memukul pintu kamar itu dengan sangat keras.
Brakkkk.... "Min Ji! buka pintunya! kalau tidak, aku akan mendobrak pintu ini dan menyeret mu ke kantor polisi dengan tangan ku sendiri.
Di dalam kamar Min Ji semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar, keringat dingin semakin banyak yang berjatuhan dari wajahnya. Dia juga menangis tidak henti sejak tadi.
"Ibu aku takut," gumam Min Ji.
"Tenang saja! ada Ibu di sini," ucap Ye-Seul sambil mendekap tubuh anak bungsunya.
"Aku hitung sampai tiga.. Jika kalian masih tidak membuka pintunya, aku tidak akan sungkan untuk mendobraknya saat ini juga."
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Buhghhhhh... Percobaan pertama gagal.
Bughhhhh... Yang kedua masih sama.
Alex hendak mendobrak pintunya sekali lagi, namun baru saja dia membuat ancang-ancang , seseorang menghentikan nya dengan....
Dorrr .. Dorrr... Dorrr.....
...To Be Continued....
...Hai reader, jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank you. Love u all....
__ADS_1