THE COLD GIRL

THE COLD GIRL
Pernyataan Dokter Pedrik


__ADS_3

Sebuah kepanikan terjadi saat Alex membopong tubuh Hera yang sudah terkulai lemas ke dalam sebuah rumah sakit yang paling dekat dengan rumahnya. Jantungnya sudah berdegup sangat kencang. Dia sangat takut saat ini. Matanya berkaca-kaca, dia terus berteriak meminta bantuan pada dokter dan juga perawat yang ada di rumah sakit itu.


Seorang dokter di IGD dan beberapa perawat menghampiri Alex sambil mendorong sebuah hospital bad. Laki-laki itu membaringkan istrinya dengan segera. Tepat setelah Hera di baringkan, seorang perawat membetulkan posisi Hera lalu memasangkan ambu bag dan memompa kantong berisi udaranya supaya Hera bisa mendapatkan pasokan oksigen ke dalam paru-paru nya.


Pintu ruang IGD tertutup, Alex yang saat ini sangat kalut ingin masuk untuk menemani istrinya. Namun, karena ini keadaan darurat Alex tidak bisa masuk begitu saja. Dia bisa sangat mengganggu konsentrasi dokter yang sedang menangani pasien.


"Pasien tidak bernafas Dok," ucap salah seorang perawat.


Dokter yang kala intu menangani Hera langsung bergerak cepat dengan memasangkan endotracheal tube dari mulut Hera sampai ke pangkal tenggorokannya. Cara ini di lakukan supaya jalan napas pasien terbuka dan dokter bisa dengan leluasa memasang alat bantu napas kepada pasien tersebut.


Alex semakin takut. Dia bisa melihat apa yang sedang dokter dan perawat lakukan untuk membantu istrinya. Hatinya sangat hancur karena lagi-lagi dia harus melihat Hera dalam keadaan seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi, Hera baik-baik saja pagi ini, tidak ada yang salah dengan dirinya. Tapi kenapa dia bisa tiba-tiba drop .


Alex ambruk di atas lantai rumah sakit. Tanpa dia sadari, air matanya sudah lolos dari matanya yang sejak tadi memang sudah berembun. "Maafkan aku Hera," gumamnya.


Drtzzz.... Drtzzzz...


"Ada apa?" tanya Alex tanpa basa basi.


"Tuan, apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Bibi Lim.


"Dokter masih berusaha untuk menyelamatkannya Bi. Sebenarnya apa yang terjadi? dia masih baik-baik saja sebelum sarapan. Bibi masak sesuai dengan yang Dokter ahli gizi sarankan bukan? kenapa ini bisa terjadi?" ucapnya lemah.


"Tuan, Bibi bersumpah.. Nyonya tidak memakan sesuatu yang salah. Bibi berani bertanggung jawab kalau memang Bibi memberikan sesuatu yang bisa membahayakan Nyonya. Bibi sudah menganggap Nyonya Hera seperti anak Bibi sendiri. Bibi tidak mungkin melakukan itu Tuan."


"Saya tahu Bi."


"Tapi Tuan, Nona Min Ji pergi setah Tuan membawa Nyonya Hera ke rumah sakit."


"Min Ji," gumam Alex. Dia langsung berdiri dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar .

__ADS_1


"Ya sudah Bi. Terimakasih infonya."


Tut. Panggilan pun berakhir.


Tut.... Tut.....


"Halo Alex!"


"Wohyun! tolong periksa rekaman cctv di rumah ku. Cepat dan jangan sampai ada yang terlewat!"


"Ada apa Alex? apakah ada sesuatu yang sedang terjadi?"


"Hera masuk rumah sakit. Tolong beritahu keluargaku. Aku tidak sanggup untuk mengatakan apapun pada mereka saat ini."


Setelah menunggu satu jam. Akhirnya dokter yang tadi menangani Hera keluar dari IGD. Mereka juga membawa serta Hera yang masih tidak sadarkan diri.


"Pedrik Hera kenapa?" tanya Alex . " Dia baik-baik saja bukan?"


"Kenapa hal ini bisa terjadi Alex? Istri kamu sebenarnya hanya alergi, tapi karena alergi yang dia derita sangat parah, pemicu alerginya berubah menjadi racun yang sangat mematikan dalam tubuh istrimu. Jika saja dia terlambat di tangani, ini bisa berakibat fatal. Aku belum bisa memberikan diagnosis secara rinci kepada-mu. Masih banyak tes yang harus dilakukan. Lab darahnya juga baru akan keluar setelah tiga jam. Paling tidak nanti sore aku baru akan memberitahukan hasilnya. Jika kau tahu apa yang menyebabkan istrimu seperti ini, beritahukan kepada kami secepatnya."


Alex hanya mengangguk. Dokter Pedrik menepuk bahu Alex beberapa kali. Beruntung karena hari ini dia jaga pagi. Jadi dia bisa membantu Alex saat teman nya itu membutuhkan bantuannya.


Sebenarnya apa yang salah. Tadi pagi Hera tidak memakan makanan yang bisa memicu alerginya. Dan yang paling tidak boleh dia sentuh hanyalah buah persik. Tapi apa mungkin? pasalnya sangat pantang buah persik masuk ke rumahnya. Alex semakin di buat pusing karena memikirkan hal ini.


Dia menggelengkan kepalanya lalu berlari mengikuti arah ke mana para perawat tadi membawa istrinya.


"Anda boleh menemui istri Anda Tuan. Tapi tolong, jangan membuat istri Anda tidak nyaman."


Alex mengangguk saat mendengar ucapan seorang perawat padanya. Setelah perawat itu pergi. Alex masuk ke kamar inap istrinya dengan langkah yang sangat pelan. Matanya kembali basah. Wajahnya mendung saat awan hitam menutup cahaya di dalam hatinya. Sakit, itulah yang Alex rasakan saat ini. Masker oksigen masih membantu pernafasan istri tercintanya. Perlahan dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit. Dia mengulurkan tangannya lalu menarik tangan Hera dan menggenggamnya lembut. Alex melakukannya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Bangunlah Sayang! kau tidak cantik kalau terus diam seperti ini. Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Tapi kenapa hal ini harus terjadi sebelum aku bisa memberikannya padamu. Bangunlah Sayang! jika kau bangun, aku janji, aku tidak akan menunggu hari ulang tahunmu untuk memberikan hadiah spesial yang telah lama aku siapkan." Alex menunduk sambil menciumi tangan istrinya yang terbebas dari selang infus.


Kriieetttt.... Pintu kamar rawat Hera di buka dari luar.


"Alex!" panggil Jessica.


"Ma!" ucap Alex lirih . Dia berdiri dan langsung menghambur ke pelukan Jessica. Angela dan Tae Jun menatap nanar Hera dan Alex. Kenapa rumah tangga mereka selalu di uji dengan cara seperti ini. Apa ini karena kesalahan Tae Jun di masa lampau hingga kini Alex lah yang harus menerima karma dari dosanya. Tae Jun sangat menyesal untuk ini. Andai dulu dia tidak melakukan pekerjaan kotor. Mungkin hidup Alex bisa lebih tenang. Tae jun berjalan mendekati Jessica dan Alex. Dia menepuk-nepuk punggung anaknya perlahan.


"Maafkan ayah Alex," gumam Tae Jun lirih. Alex mendengar apa yang di katakan ayahnya. Namun dia masih nyaman memeluk Jessica sambil menyembunyikan tangis yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.


"Kak. Kakak orang baik. Aku tahu sebaik apa Kakak selama ini. Aku harap Kakak kuat. Orang baik memang selalu di berikan ujian seperti ini. Bukan karena Tuhan tidak menyayangimu. Tapi dia sedang berusaha untuk menaikan derajat Kak Hera dan juga Kak Alex." Angel menyeka air matanya perlahan. Dia sangat sedih karena harus menyaksikan ini. Belum lama ini Alex yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Sekarang Hera yang harus mengalaminya.


Jessica melirik suaminya. Dia tersenyum, entah kenapa Jessica merasa tersentuh mendengar ucapan anak bungsunya. Jessica maupun Tae Jun tidak tahu kalau ternyata anaknya bisa se religius ini.


"Kak Alex... Kakak harus kuat. Kak Hera sedang membutuhkan Kakak saat ini, Kak Hera wanita yang kuat. Ini tidak akan berati apa-apa untuknya." Jessica mengangguk ketika mendengar Angel yang sedang menguatkan Kakaknya.


"Kau itu laki-laki sayang, jagalah sikapmu. Bagaimana kalau Hera tahu jika kau menangis tersedu-sedu seperti ini. Dia pasti akan sangat malu."


Alex buru-buru mengangkat kepalanya. Mamanya benar. Alex tidak boleh lemah. Dia harus kuat demi Hera.


Mereka berempat menoleh saat pintu kamar itu kembali terbuka. Wohyun dan Sara pun masuk.


Angel langsung menarik tangan Sara dan memeluknya erat ketika dia melihat wanita mungil itu mengeluarkan air mata. Iya, Angel tahu kalau Sara juga sangat menyayangi Hera. Dia juga pasti sangat sedih melihat orang yang sangat dia sayangi sedang terbaring lemah seperti saat ini.


"Ada yang harus aku bicarakan Alex," ucap Wohyun. Alex mengikuti Wohyun saat Wohyun mengisyaratkan nya untuk berbicara di luar.


"Langsung saja!" titah Alex saat mereka sudah ada di luar.


"Ini tentang Min Ji."

__ADS_1


...To Be Continued....


...Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank you.. I love u all....


__ADS_2