
"Selamat siang Tuan," ucap wanita itu pada Tae Jun. Tae Jun tersenyum "Apa kabar Julieta?"
"Selalu baik Tae Jun. Masuklah! aku yakin kau memiliki niat tertentu bukan?"
Tae Jun tersenyum dan berjalan memasuki rumah itu . Hera yang berada di sebelahnya nampak bingung. Tapi dia tetap mengekori Tae Jun di belakang.
"Ini adalah anak dari rekan lamaku Hera." Ucap Tae Jun setelah mereka duduk di sofa. "Dia memang sedikit berbeda, jadi dia tidak pernah sungkan ketika memanggilku dengan nama lengkap. Dia bukan wanita biasa. Kau juga sudah pernah bertemu dengannya bukan?"
Hera menatap Tae Jun dengan kening yang berkerut. "Bagaimana bisa Papa tahu kalau Julieta ini klienku, dan tunggu, kenapa namanya julieta. Bukan kah ketika aku menemuinya kemarin namanya Kang Tae Ri? ada apa ini? rumah ini juga lebih besar dari rumah nya yang kemarin. Siapa sebenernya wanita ini?" batin Hera masih mencoba untuk menerka.
"Julieta Rose adalah nama ku di dalam organisasi Hera. Maaf kemarin aku mengatakan hal yang membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menggoda mu," ucap Julieta sambil tersenyum Pepsodent. Hera hanya mendengarkan. Dia sedang dalam mode menjadi pendengar yang baik.
"Kau tahu Hera, sebenarnya dahulu aku bekerja di sebuah organisasi yang bergerak di dunia hitam. Kami menyediakan jasa untuk membunuh orang-orang yang di targetkan klien kami."
"Singkatnya Dia adalah pembunuh bayaran di masa lalu," ucap Julieta enteng. Berbeda dengan Juliet, Hera kini sudah akan mengeluarkan bola matanya saat mendengar ucapan dua orang yang ada di dekatnya.
Tae Jun tersenyum. Dia kembali melanjutkan kalimatnya. "Karena pekerjaan ini juga, kami bisa merintis usaha dan bisa mengembangkan usaha kami sampai bisa menjadi seperti sekarang ini. Jangan khawatir. Aku sudah pensiun ketika aku memiliki Alexander. Tapi teman-temanku masih menjalankan bisnis ini sampai sekarang."
"Termasuk aku," ucap Julieta cengengesan. Hera meringsut dan menarik tubuhnya untuk lebih menjauh dari Julieta. "Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan membunuh orang tanpa alasan," sarkas Julieta.
"Tapi kau tetap seorang pembunuh," ucap Hera, sambil memincingkan matanya.
"Laki-laki yang ada di sampingmu juga mantan pembunuh seperti ku Hera." Julieta menunjuk Tae Jun dengan dagunya .Hera menolehkan kepalanya. Namun Tae Jun tersenyum lalu mengelus kepala Hera lembut. "Jangan takut sayang! Dia yang akan membantu kita untuk membuat jera Andrew."
Hera mengangguk. "Baiklah aku tidak akan basa basi lagi. Aku ingin menjebak Andrew supaya dia bisa menemuiku. Kita tidak bisa membuatnya masuk ke dalam penjara jika kita hanya menyerahkan bukti kepada pihak yang berwajib. Para polisi itu akan di buat bungkam olehnya. Kita harus mendapatkan video asli Abndrew yang sedang dalam mode psycho nya. Setelah kita mendapatkannya. Kita akan menyebarkan video itu ke internet. Jika sudah seperti itu dia pasti tidak akan bisa mengelak. Biarkan orang di seluruh negri ini tahu kalau Andrew itu adalah laki-laki bejat yang tidak pantas mendapat tempat di depan khalayak publik."
__ADS_1
"Tapi apa kau yakin dengan ini? nama baikmu di pertaruhkan jika kita memakai cara seperti ini. Kenapa kita tidak langsung bunuh saja?"
"Uhukkk... Hera yang sedang menggak air di buat tersedak dengan kata-kata yang keluar dari bibir Julieta.
" Andrew bukan Hewan Juliet. Dia manusia. Dan jika kita membunuhnya langsung,hukuman itu terlalu ringan untuk orang sepertinya. Biarkan dia malu terlebih dahulu. Dia akan mengakhiri hidupnya sendiri jika dia sudah merasa tidak tahan."
Uhukkkk.. Kini giliran Tae Jun yang terbatuk.
"Papa gak papa kan?" Tanya Hera sambil menepuk punggung papa mertuanya.
"Aku pikir kau juga wanita berdarah dingin Hera. Kau lebih kejam dari Julieta," ucap Tae Jun dalam hati.
"Aku baik-baik saja." Tae Jun tersenyum kikuk. Dia tidak mungkin memberitahu Hera kalau dia terkejut dengan ucapan menantunya itu barusan.
"Baiklah, aku mengerti. Jadi apa yang kau butuhkan?" tanya Julieta . Dia menyandarkan punggungnya ke senderan kursi lalu menyilangkan kakinya dengan angkuh.
Julieta Rose-pun mengangguk paham. Dia tentu tahu harus berbuat seperti apa jika menghadapi permasalahan seperti ini. Bukan hal sulit untuknya supaya bisa menjerat cicak nakal seperti Andrew. Ya, Julieta sudah mendapatkan informasi tentang Andrew hanya dengan satu kali klik. Orang-orangnya maupun semua koneksi yang dia miliki tidak memerlukan waktu lama untuk mengorek informasi pribadi sekecil ini.
Seeeetttttt.... "Bawalah ini untuk berjaga-jaga!" Julieta menyodorkan pisau lipat pada Hera. "Jika kau sedang terdesak, jangan ragu untuk melukainya. Orang-orang ku akan mendampingi mu. Kau tidak perlu khawatir. Aku jamin kau akan baik-baik saja."
Hera maupun Tae Jun mengangguk. Tae Jun tentu tahu jika dia bisa mempercayakan semua ini pada Julieta dan organisasinya. "Terimakasih Juliet. Aku berhutang banyak padamu."
"Bukan masalah, kau selalu membantu keluarga Ayah ku ketika kami sedang memerlukan bantuan. Dan aku sangat menyayangkan kau harus berhenti dini dari pekerjaan lamamu."
"Kau akan mengerti setelah kau memiliki keluarga Juliet. Semoga rencana pernikahanmu berjalan dengan lancar."
__ADS_1
***
Dor...
Dor... Suara tembakan terdengar di luar kamar Andrew. Dia sama sekali tidak perduli. Laki-laki itu malah semakin mengencangkan cekikan tangannya di leher Hera.
Bughhh... Bughhh... Brakkkkk... Pintu kamar Andrew langsung ambruk saat seseorang mendobrak pintu itu membabi buta.
Dorrr.... Darah segar langsung muncrat keluar saat sebuah peluru bersarang di bahu Andrew.
Andrew langsung melepaskan cengkraman nya. Tubuhnya ambruk menimpa tubuh Hera yang ada di bawah kungkungan nya. Hera mendorong bahu Andrew dengan sekuat tenaga. Dia menolehkan kepalanya berusaha melihat siapa orang yang telah menembak Andrew Garfield.
"Alex!" gumam Hera saat melihat Alex berjalan mendekatinya.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Hera. Alex tidak menjawab. Dia langsung menarik kerah baju yang di kenakan Andrew lalu menghempaskan laki-laki itu ke lantai. Wajahnya dingin. Matanya berkilat marah, semua otot lehernya sudah mengetat. Entah kenapa dia merasa kalau dia lagi-lagi gagal menjaga istrinya.
Alex membuang pistol yang ada di tangan kirinya. Dia menarik bahu Hera lalu memeluk istri cantiknya itu dengan erat. "Maafkan aku Hera. Maafkan aku," ucap Alex. Hera mengelus punggung suaminya lembut. Dia tahu Alex sedang menangis saat ini. Suara Alex bergetar ketika mengucapkan kata maaf. Tentu saja Hera tahu kalau suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Aku ingin pulang Alex!" ucap Hera lirih. Alex mengangguk lalu berdiri dan membantu istrinya untuk bangun.
Alex berjalan perlahan sambil memapah istrinya. Sementara Andrew masih tergeletak di atas lantai.
Dorrr.... Suara tembakan kembali terdengar di dalam kamar itu.
...To Be Continued....
__ADS_1
...Hai reader jangan lupa like dan komentar nya ya. Thank You.🤗🤗...